Adalah hari ke sepuluh Ratria bekerja dengan status pegawai magang di PT Telkom. Dengan hitungan masa kerja yang sudah mencapai selama dua minggu. Sebab terpotong dua hari libur di tiap minggunya.
Merasa jenuh dan bosan, di minggu sore yang cerah, Ratria menyetrika beberapa baju rumah serta baju kerjanya. Rumah sedang sepi, mbak Lusi pergi mengikuti pengajian rutin tiap ahad sore di Musholla perumahan dinas bawah sana. Yang terkadang juga diikuti Ratria, namun lebih sering lagi tidak ikut. Terbentur dengan kegiatan kuliah serta terhalang rasa lelah. Mungkin lebih tepat lagi dibuai rasa malas.
Juga merasa tidak semangat, beberapa teman seperjuangan yang baginya cukup rapat telah berhamburan dan hilang. Sebagian telah berumah tangga, sebagian bekerja jauh di luar kota bahkan juga di luar negara, dan sebagian masih bersekolah yang belum kelar juga.
Ratria merasa terkucil tanpa teman dengan statusnya yang ternoda. Status yang sudah menikah tapi tidak jelas. Merasa telah dikawin gantung dua kali oleh orang yang sama. Serta tak berdaya menolaknya. Sebab ancaman serta rasa iba pada kelanjutan hidup orang-orang di pabrik dan perkebunan.
Hanya satu-satunya penghibur bagi Ratria adalah, rumah dinas kenangan yang sudah menjadi miliknya hingga kapan pun. Sebab pengacara Haris telah menyerahkan sertifikat kepemilikan rumah seminggu yang lalu dan sudah tertulis atas namanya.
Ratria merasa pengorbanan besarnya serta sang ayah, tidaklah sia-sia. Meski orang-orang tidak banyak yang mengetahuinya. Bahkan mungkin tidak ada yang tahu akan pengorbanan dirinya di Sirah Kencong.
🎶🎶🎶🎶🎶🎶
🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Ponsel Ratria berbunyi, ada panggilan masuk untuknya.
"Assalamu'alaikum. Halloo," sapa Ratria sambil sebelah tangan menyetrika. Gadis cantik itu nampak terdiam dan fokus menyimak.
"Iya betul, mas. Ini aku, Ratria," jawabnya sambil mengangguk. Dan diam menyimak, yang kemudian menggeleng tersenyum.
"Enggaak. Di rumah terus kok, mas," Ratria tersenyum. Dan kembali menggeleng.
"Nggak. Nggak ada pacar. Belum ada yang mau,," kembali tersenyum.
"Nggak. Siapa juga yang marah, mas. Aman," jawab Ratria, tanpa senyum. Mungkin sedang ada yang mengganjal. Dan lanjut menyimak kembali.
"Akuu,? Benarkah, mas,?!" tanya seru Ratria sambil menunjuk dirinya. Terdiam lanjut menyimak.
"Kerja dinas ke Surabaya? Berapa hari ya, mas,?" tanya Ratria dang wajah cerah berbinar. Sepertinya, penelepon itu sedang memberinya kabar menyenangkan.
"Dua hari... Nginepnya di mana, mas,?" tanya Ratria dengan wajah yang semakin sumringah.
"Oh, di asrama bandara,,," gumam Ratria merespon orang di seberang. Sepotong baju yang disetrika dengan tangan sebelah itu telah siap dan terlipat cukup rapi.
"Iya, mas. Aku senang.." sahut Ratria dengan menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Iya, mas. Terimakasih. Wa'alaikumsalam," sambut Ratria di akhir perbincangan. Ponsel itu dimatikan dan diletak ke tempat semula di meja. Melanjutkan setrika dengan sangat bersemangat. Sesekali tersenyum dengan wajah cerahnya.
🍃🍃🍃
Mbak Lusi terheran dengan tingkah gadis asuhnya yang nampak sibuk memadu padankan baju bergonta-ganti cukup banyak.
"Kamu mau ke mana, Rat,?" mbak Lusi mendekat ke ranjang Ratria. Duduk dan lanjut mengamati.
"Eh, mbak.. Sudah pulang? Tumben nggak ngucap salam,," sapa Ratria memandang mbak Lusi sekilas dan sibuk lagi berkaca mengamati baju padan di tubuhnya.
"Mbak, aku ditawari sama bossku, ngambil peluang kerja dinas ke Surabaya. Gantiin satu orang yang tiba-tiba kensel," terang Ratria dengan wajah gembiranya.
"Kok bisa, Rat,? Kamu kan anak baru,?" mbak Lusi jelas terheran.
"Sekali lagi aku hoki, mbak. Ya itu tadi, aku cuma pengganti, mbak," terang Ratria.
"Kamu hati-hati lho, Rat. Jaga diri.. Kamu dah pegang uang cukup belum,?" tanya mbak Lusi perhatian.
"Sudah, mbak. Sisa uang kuliah dulu masih cukup. Kalo kepepet, uang yang dikasih Syahdan dalam amplop itu ya kupakai saja lah, mbak," ucap Ratria dengan tersenyum. Ingat jika Syahdan telah memberinya uang tunai melalui mbak Lusi pagi itu.
"Ya kalo nggak dipakai buat apa, Rat. Jangan lupa dimasukin tas. Nanti jika pak Syahdan datang, kamu juga pasti dikasih lagi. Eh, Rat, kalo ketemu orangnya langsung, jangan panggil nama saja, kasih sebut pak atau mas, nggak sopan, dia jauh lebih tua dari kamu," mbak Lusi mengingatkan.
"Iya, mbak," jawab Ratria dengan akur, sadar akan tugas dan posisi mbak Lusi.
"Rat, kamu bilang pak Syahdan apa tidak?" tanya mbak Lusi. Dibantunya Ratria menata kembali beberapa baju di dalam tas hingga lebih ringkas dan jauh lebih rapi.
"Bilang jika aku otewe ke Surabaya, mbak? Ya enggaklah, mbak. Kayak akrab saja. Buat apa juga bilang-bilang. Aku ini bebas mbak,,dia kan sudah bilang," jelas Ratria dengan wajah yang masam. Mbak Lusi pun mengangguk dengan ekspresi yang gamang.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Kota Surabaya, kota Buaya.. Kota Surabaya, kota pahlawan.
Sarapan bersama di sebuah meja makan yang luas, pagi itu nampak hambar. Kelima orang yang sedang duduk itu nampak bertekuk wajah dan tegang. Sepertinya mereka baru saja bersitegang.
"Ingat Syahdan, jika kamu menyukai Judith, jangan kau gantung-gantung. Cepat beri kepastian pada gadis itu. Lagipula dia sudah tau jika kamu sudah menikahi Ratria. Dan kamu sudah janji akan mengenalkan Ratria pada kami." ujar lelaki paling tua. Dia adalah ayah Syahdan, pak Adam, menantu kakek yakub yang pernah diselamatkan ayah Ratria saat sakit belasan tahun yang lalu.
"Aku usahakan sebelum kalian berangkat, akan kubawa gadis itu kepada kalian," kata Syahdan memandang wanita setengah baya serta pada ayahnya.
"Dan kamu Khairy, jangan mendekati Judith lagi. Dia calon kakak iparmu." pandang pak Adam pada lelaki muda yang duduk menunduk dan acuh.
"Mas Syahdan belum ada ikatan apapun dengan Judith, pa," bela lelaki muda dengan nama Khairy.
"Tapi Judith suka dengan kakakmu dan kakakmu juga suka. Makanya papa suruh cepat saja. Kamu cari gadis lain saja Khairy." Pak Adam nampak lelah.
"Kamu juga Kahfi. Kuliah nggak habis-habis. Sudah berapa tahun nggak tamat-tamat. Perempuan saja yang di kepalamu. Papa sampai bosan ngasih duit,!" gerutu pak Adam pada putra bungsunya yang playboy kelewatan.
"Yang penting kan aku ogah menghamili anak orang, pa,!" sanggah Kahfi dengan santainya.
"Betul..! Mas Syahdan tuh yang parah, pa! Serakah! Sudah pedekate sama Judith, malah kawin sama gadis Blitar itu, eh masih juga nggak mau nglepasin Judith. Demi warisan konon,," protes Khairy pada pak Adam, yang baginya hanya berat ke Syahdan.
Pak Adam terdiam. Dipandanginya ketiga anak lelaki itu bergantian.
"Papa hanya tidak ingin memaksa. Kalian laki-laki, bertanggung jawablah pada pilihan dan putusan kalian sendiri. Papa dan mamamu ini hanya bisa mengarahkan dan mendoakan. Dan kalianlah yang menjalani. Bukannya papa memihak pada salah satu dari kalian," terang pak Adam dengan terus memandangi ketiga anak lelakinya bergantian.
Pak Adam, asal kota Malang, menikahi bu Anisa, putri tunggal kakek Yakub dari Blitar. Mempunyai empat orang anak lelaki dengan urutan Syahdan, Farhan, Khairy dan Kahfi. Mereka semua masih lajang dengan sifat uniknya masing-masing. Kecuali Farhan, anak lelaki kedua yang sudah berumah tangga dan hidup bahagia di kota Jakarta.
Pak Adam sendiri tidak tinggal di pulau Jawa. Tapi tinggal di kota Bontang, Kalimantan Timur untuk sementara. Yang tetap bermimpi untuk menghabiskan masa tua rentanya kelak dengan kembali ke pulau Jawa. Berkumpul kembali dengan anak-anaknya.
Pak Adam adalah seorang pengusaha swasta di bidang pertambangan batubara. Terpaksa menolak keinginan mertua untuk melanjutkan roda pabrik dan kebun teh di Blitar. Sebab sudah terlanjur mencintai usaha batu baranya sendiri. Dan memasrahkan pengaturan pabrik dan kebun itu kepada ayah mertua bagaiman baiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Mom Dee🥰🥰
pak adam... dr bontang jln² ke samarinda kita ngopi 🤭🤭
2023-07-20
0
M akhwan Firjatullah
Thor aku mo komen tp males nulis...
2023-01-10
1
aning purwasih
wes,, gak seneng Syahdan aku😠😠😠. Ratria gk butuh lelaki plin plan, banyak laki yg daftar buat jadi suami😒😒😒
2023-01-06
1