Syahdan menahan nafas tanpa sadar, saat pengacara Haris selesai memberitahukan point-point penting, dari keinginan almarhum pak Yakub pada Ratria. Menunggu reaksi gadis berkerudung modis itu menanggapi. Tapi bibir indahnya masih saja merapat.
Merasa tidak sabar menunggu jawaban Ratria lebih lama lagi. Syahdan sudah mengambil keputusan untuk setuju dengan wasiat sang kakek demi memiliki perkebunan dan pabrik sebesar tujuh puluh persen. Dan ingin menyelesaikan secepat mungkin, sebab waktunya di Blitar sangat sempit.
Jika sudah menikah dengan Ratria, otomatis pabrik akan berubah atas nama miliknya. Semua sistem kerja di pabrik berjalan normal kembali. Sebagaimana kinerja sang kakek, yang segala urusan pabrik dapat diwakil namakan pada para bawahan di tiap bidangnya. Tidak repot lagi dengan tumpukan bermacam berkas untuk disignkannya satu-satu. Syahdan merasa hal seperti itu sangatlah merepotkan.
"Bagaimana pendapat kamu, Ratria? Bukankah ini kesempatan bagus untukmu?" tanya Syahdan mendesak dengan nada yang tajam. Tidak sabar dan merasa resah sendiri andai Ratria menolak isi wacana kawin gantung.
"Terimakasih pada mas Haris yang membacakan dengan jelas untuk saya. Tapi untuk pak Syahdan, maksudnya kesempatan baik yang bagaimana ya,?" tanya Ratria merasa tidak puas dengan ucapan Syahdan padanya.
"Kesempatanmu untuk memiliki rumah dinas atas nama kamu sendiri. Kamu hanya perlu berstatus istriku. Maka kamu juga akan terus menerima uang dari pabrik serta memiliki rumah dinas untuk kamu tinggali selamanya. Setelah menikah, kamu masih bebas menentukan kehidupanmu. Aku pun sama seperti kamu." terang Syahdan sangat gamblang. Pengacara Haris juga terus menyimak.
"Maaf, pak Syahdan. Tapi saya baru selesai bersekolah. Saya ingin bebas sejenak. Saya benar-benar belum ingin menikah, pak," tegas Ratria menolak tawaran Syahdan padanya.
"Setelah menikah, anggap saja dirimu tidak pernah menikah. Kita saling bebas. Sebab aku juga akan kembali ke Surabaya," bujuk Syahdan.
"Jika suatu saat aku menemukan calon suami, apa aku harus jadi janda dulu,?" tanya Ratria bingung dan merasa agak kesal.
Syahdan nampak gelagapan, Ratria memberi pertanyaan yang terlalu jauh untuknya. Memandang ke arah pengacara Haris mengharap pertimbangan.
"Itu akan kita bincangkan kemudian, Ratria. Apa diam-diam kamu sudah punya pacar? Atau calon suami,?" tanya pengacara Haris dengan nada hangat pada Ratria. Gadis itu tercekat dengan pertanyaan pengacara Haris yang pribadi.
"Iyya,, mas Haris. Saya sudah punya calon suami sendiri," jawab Ratria cepat namun nampak gugup.
"Jangan bohong, Ratria. Mbak Lusi tidak mungkin memberi informasi yang salah padaku," sela Syahdan dangan tajam. Menatap lekat Ratria yang nampak jelas salah tingkah.
"Buktikan rasa terimaksihmu pada kakekku. Yang telah banyak mengeluarkan biaya untukmu," ucap Syahdan agak sinis.
Ratria berkerut dahi memandang Syahdan sangat kesal.
"Jika tahu akan seperti ini, lebih baik saya tidak usah pernah bersekolah. Setelah susah-susah sekolah, ternyata untuk menikah." Ratria membalasnya dengan sinis.
"Dan apa pak Syahdan tidak paham, bahwa ayahku telah menyelamatkan orang tuamu dari sakit mematikan? Bahkan aku terpaksa kehilangan ayahku setelah itu. Apa pak Syahdan tidak ingin berterimakasih padaku? Berterimakasihlah, pak Syahdan. Bebaskan aku dari kawin gantungmu,!" sengit Ratria dengan dingin.
Tidak peduli dengan siapa Syahdan di perkebunan. Tidak peduli apa posisi Syahdan, bahwa pria itu adalah boss pengendali ekonomi di perkebunan!
"Permisi, pak Syahdan. Aku akan pulang,!" pamit Ratria tergesa dan berdiri. Abai dengan raut wajah Syahdan yang kini berubah merah padam.
Gadis berkerudung anggun itu berjalan cepat menuju pintu vila. Namun langkahnya tertahan sebab seseorang menyambar lengan tangannya tiba-tiba.
Ternyata Syahdan menyusul dan menahan tangannya. Mata tajam itu memandang dingin pada Ratria dengan sangat dekat.
"Aku memintamu baik-baik, Ratria. Jangan terkejut jika aku akan memaksa dan sekaligus terpaksa melakukan sesuatu padamu," ucap Syahdan dengan tatapan sangat dingin. Ditariknya Ratria lebih mendekat.
"Pak Syahdan, mau appaa,??!" panik Ratria. Berusaha mundur dan menjauhkan dirinya dari Syahdan.
"Kau paham? Jika seperti ini, tak akan ada yang menolongmu. Aku bisa menahanmu di vila berhari-hari. Tapi tentu saja caraku tidak sebodoh itu, Ratria. Kamu penasaran? Tunggu saja di rumahmu," Syahdan menatap dalam di manik indah Ratria yang bergoyang sebab rasa panik dan resah.
"Ehem, pak Syahdan,! Sepertinya saya akan turun sekarang. Biarkan saya yang mengantar Ratria ke bawah,!" pengacara Haris telah berdiri di dekat pintu vila. Memandang terang-terangan pada tangan Syahdan yang masih erat menahan lengan kecil Ratria.
"Ingat, pak Syahdan,,, Istighfar,,!" tiba-tiba Haris berkata sambil menjauh melewati mereka. Berjalan cepat menuju latar parkir di pabrik.
Ratria manarik kuat tangannya dan segera terlepas. Tangan Syahdan telah mendadak melonggar.
Tidak lagi memandang lelaki berhati keras di belakangnya. Ratria berjalan cepat, setengah berlari kecil menuju gerbang pabrik dan vila. Terus berjalan menyusuri jalan aspal setapak di Sirah Kencong.
Tin...!
Sebuah mobil melewati pelan di samping Ratria setelah membunyikan klakson satu kalinya. Tapi kemudian berhenti tidak terlalu jauh di depan Ratria. Keluar lelaki muda berjas rapi dari pintu yang terbuka.
"Ratria, aku antar. Naiklah denganku,,!" seru lelaki itu yang ternyata adalah pengacara Haris. Ratria berjalan mendekat.
"Terimakasih, mas Haris. Tapi aku ada perlu dengan temanku di blok sana. Jadi aku akan melewati jalan di gang perumahan. Lebih dekat, mas,!" Ratria beralasan sambil menunjuk sebuah jalan gang yang memang ada di kiri jalan. Haris pun mengangguk.
"Oke, Ratria. Hati-hati. Semangatlah,!" seru Haris mundur dan mendekati mobilnya. Ratria sedikit tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih, mas. Mari,!" sapa Ratria sebelum masuk membelok di jalan gang. Haris masih terlihat mengangguk.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Tok,,,!! Tok,,,!! Tok,,!!
Pengetuk pintu selepas adzan ashar itu lagi-lagi diterima oleh mbak Lusi. Bukan lagi pak Andi, melainkan ayah tiri serta sang ibu kandung.
Ratria telah duduk berhadapan dengan tegang menerima maksud dan tujuan kedatangan mereka mencarinya. Ratria dan sang ibu sedang sama-sama menangis saat ini.
"Lalu, aku ini harus bagaimana, buk,,?" rintih Ratria di sela tangisnya.
"Ibu pun bingung, Rat. Tapi juga tidak tega maksa kamu,," jawab ibu Fatimah dengan sisa tangis dan ingusnya.
Ayah tiri, pak Edi memandang frustasi pada istri dan anak tirinya yang sedang saling menangisi.
Mereka menemui Ratria setelah orang penting dari pabrik, pak Andi, datang atas suruhan boss pabrik baru, boss Syahdan.
Memberi pilihan pada orang tua Ratria. Membujuk putrinya untuk bersedia dinikahi, melanjutkan perjodohan kawin gantung dari sang kakek.
Atau jika Ratria tetap kukuh menolak. Pabrik akan ditutup total. Sebab pak Syahdan akan kembali ke Surabaya dan tidak berminat meneruskan pengoperasian pabrik dan perkebunan. Bahkan berencana juga untuk melempar pabrik dan perkebunan kepada perhutani dan pemerintah kembali. Yang pasti memerlukan waktu lama dalam proses akuisisinya.
Dan semua itu membawa dampak buruk yang pasti. Pengangguran serta melemahnya ekonomi bagi warga serta pekerja perkebunan dan pabrik.
Terutama ayah Edi dan ibunya Ratria sendiri. Mereka terancam kehilangan pekerjaan sekaligus penghasilan. Bahkan, bisa juga rumah dinas! Andai benar, mereka akan ke mana?!
Ratria sedang dilanda galau hebat tingkat dewa..!!
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Vote me, please..😘
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Bundanya Syahdan
btw thor, nama anaakku juga syahdan lho ☺️
2024-07-21
0
M akhwan Firjatullah
koyok e si syahdan wes jatuh cinta sama si ratria ...gedubrak ada yg jatuhhhhh....cinta...
2023-01-10
1
Siti aulia syifa Az_zahra
Syahdan suka sama Ratria nih,,
lah,, tapi kan udah punya cewek atau istri mungkin???. Klo gitu jangan mau Ratria,,!!, yg antri banyak,, milih yg setia ,sholeh dan tanggung jawab walau sederhana yg penting damai, tapi klo jodoh nya juga kaya lebih bagus sih,, 😁😁😁😁😁
2023-01-06
1