07. Bersua

Teguran Mbak Lusi membuat Ratria memandangi dirinya. Baju yang ditarik dari belakang telah mencetak jelas bentuk bukit di dada. Gadis itu tersenyum dan menahan tawa merasa malu sendiri.

"Aduh ... ilfil aku, Mbak. Bisa menjatuhkan pasaran, aku akan dikira cewek sarap kali, mbak. Hi ... hi ...," ucap Ratria tertawa, masih dengan mode bisik.

"Tukar baju yang baik. Tunjukkan pesona kamu, Rat. Pak Syahdan itu sangat tampan," bisik Mbak Lusi penuh maksud.

"Aku belum minat nikahan, Mbak." Ratria berbisik di telinga mbak Lusi yang berkerudung lebar.

"Dekat-dekat dulu saja. Nanti lama-lama suka. Lambat laun kawin juga," balas bisik Mbak Lusi.

"Duh, Mbak ... Mbak." Ratria menggedik bahu, tidak bisa berkata lagi. Berbalik badan dan laju masuk ke dalam kamarnya kembali.

Mbak Lusi tersenyum kecil sambil menarik pintu dan menutupkan pintu kamar. Berjalan ke dapur untuk mengambilkan minum dan cemilan.

Di ruang tamu....

Pria setengah tua berkacamata sedang meletak sebuah file di meja. Terlihat fokus dan serius. Di sebelahnya duduk pria muda sedang menyandar santai di sofa. Dengan kepala berpaling mengikuti pergerakan tangan pria tua di sampingnya.

Kelebat badan disertai harum wangi mengusik kedua pria di ruang tamu. Mereka menoleh hampir bersamaan. Dua orang perempuan sedang berjalan menghampiri sofa tamu dengan beriringan.

Yang pria muda itu paham, Mbak Lusi sedang membawa nampan berisi teko teh dari kaca serta empat buah cangkir. Sedang perempuan muda di belakang Mbak Lusi itulah yang membuat Syahdan tertegun sejenak. Gadis itukah yang akan dijumpainya?

Ratria tampak fresh dan cerah dengan rambut ovale panjang sepunggung yang bergaya curly di ujung. Rambut tebalnya begitu hitam hingga terlihat berkilat dan sehat. Wajah suntuk tadi telah lenyap tersapu lipstik tipis di bibir manisnya. Mata berbinar serasi dengan alis alami yang indah.

Kini baju tidur telah ditukar dengan baju yang melekat sopan di badan idealnya. Celana jeans hitam sebatas betis dengan sweater hangat warna coklat. Serasi dengan kulitnya yang cerah.

Penampilan gadis cantik itu sungguh tampak sportif dan anggun. Ratria adalah cerminan gadis gunung yang berwawasan serta berjiwa kekinian. Perempuan perbukitan yang berpenampakan milenial.

"Monggo diminum teh panasnya, Pak Syahdan. Pak Andi, monggo," tawar Mbak Lusi pada nampan yang baru dilandaskannya di meja.

"Monggo bapak-bapak.... Silahkan dicoba juga keripiknya," ucap Ratria pun menimpali. Langsung beramah tamah dan menawari sajian meniru Mbak Lusi.

Menyembunyikan degub di dada yang tiba-tiba datang dirasa. Sekilas memandang lelaki yang duduk di samping Pak Andi, hatinya terkesiap. Merasa tak asing dengan wajah dingin tapi tampan yang juga sedang menatap menyelidik dirinya.

Ratria tergesa menunduk, coba memastikan bahwa lelaki itu adalah yang pernah dilihat. Yaitu pemilik mobil yang ditumpangi Ratria saat pulang maghrib tadi. Ah, sempit sekali kebun teh ini!

"Ratria." Adalah sapaan dari Pak Andi. Pria agak tua itu tengah membetulkan letak kacamata di telinga.

"Iya, Pak Andi," sambut Ratria. Ingin bersikap hangat sebelum ke inti perbincangan.

"Perkenalkan, beliau ini adalah Pak Syahdan. Lelaki yang saat kalian kecil telah disebut kawin oleh almarhum pemilik pabrik, Pak Yakub, kakeknya. Untuk menikah kembali denganmu di masa depan, Ratria," terang pak Andi memandang lurus pada Ratria serius.

Ratria menggeser mata dari Pak Andi kepada lelaki di sebelah yang juga sedang memandangnya. Lelaki itu menaikkan alis saat pandangan mereka beradu. Mata berkilatnya memicing penuh maksud seperti akan ada yang ingin dikatakan pada Ratria.

Gadis cantik berhidung lancip itu kembali berdebar. Merasa jika Syahdan sudah mengenali dirinya. Kian tak tenang saat senyum sinisnya tercetak kemudian. Niat untuk mengulur tangan diurungkan. Lelaki itu sedang akan berbicara.

"Pak Andi, apa di lingkungan sini sudah biasa untuk para gadis meminta tumpangan kepada setiap orang?" tanya lelaki itu dan memandang Ratria dengan sinis.

"Emmh, jika terdesak, hal itu sudah umum dilakukan oleh setiap warga perkebunan sini. Tidak terkecuali semua wanita dan gadis. Kenapa, Pak Syahdan?" pak Andi tampak bingung dan heran.

"Apa mereka tidak khawatir dengan orang yang berniat jahat?" lanjut Syahdan bertanya pada pak Andi. Kali ini mengalihkan matanya dari wajah Ratria. Sebab Pak Andi merasa bingung dan tidak lagi cepat menyahut.

"Hai, Pak Syahdan," suara ringan dan lembut Ratria tiba-tiba menyahut. Bukan hanya pemilik nama yang terkejut. Tapi mereka bertiga sama-sama menoleh.

"Kenalkan, nama saya Ratria. Saya adalah contoh gadis perkebunan yang sangat gemar menumpang. Itu adalah hal yang terasa sangat menyenangkan. Bagi saya, dijahati orang di tengah hutan tanpa berusaha mendapat tumpangan, adalah hal yang lebih menakutkan. Demikian pendapat saya. Maaf jika saya lancang menjawabkan untuk Pak Andi," terang Ratria menjelaskan.

Syahdan memandang lekat wajah cantik alami itu. Merapatkan bibir dan tidak lagi ingin membukanya. Mengakui kebenaran perkataan Ratria. Lelaki itu menoleh pada pak Andi.

"Pak Andi. Sudah malam. Segera katakan tujuan kita ke sini," arah Syahdan memandang Pak Andi. Asisten warisan agak tua itu cepat-cepat mengangguk.

"Ratria," panggil Pak Andi meminta perhatian. Ratria memandang menyimak lalu mengangguk agar pria tua itu melanjutkan penjelasannya.

"Ratria, Pak Syahdan ingin mengundangmu untuk bekerja di pabrik. Bekerja sebagai asisten beliau. Sebab pak Syahdan masih berstatus sebagai salah satu pemimpin perusahaan di Maskapai Penerbangan Air Asia untuk cabang Surabaya. Jadi, kamu dibutuhkan untuk mewakili setiap tanda tangan yang berkaitan dengan pabrik, jika Pak Syahdan sedang ada kerja di Surabaya." jelas Pak Andi. Membetulkan kacamatanya sambil memandang Ratria.

Penjelasan pak Andi, tentu sangat mengejutkan Ratria. Tak ada petir, tak ada mendung, tiba-tiba hujan turun deras. Seperti itulah kira-kira..

"Kenapa mesti saya yang harus jadi asistennya, pak?!" tanya Ratria dengan melirik pada Syahdan.

"Sebab kamu sudah ditunjuk oleh kakek Yakub Achmad, pemilik kebun dan pabrik teh. Namamu sudah ada di tangan pengacara beliau, Ratria. Percayalah, semua bertujuan untuk membalas budi pada ayahmu dan untuk kebaikan kamu sendiri." Pak Andi menerangkan.

Ratria tetap tidak tergerak. Kepalanya menggeleng dengan cepat.

"Maaf, pak Andi. Saya keberatan dan sangat tidak sanggup. Saya sama sekali tidak berminat untuk bekerja di pabrik teh. Jujur saya sangat jenuh dengan daerah saya sendiri. Saya juga merasa bosan. Dan ingin mendapat pengalaman bekerja di kota. Dengan tidak jauh dari perkebunan. Dan saya telah diterima bekerja di PT Telkom kota Wlingi. Mohon pahamilah mimpi saya, Pak." Ratria berkata cepat menahan kesal di dada.

"Jika kau bersedia bekerja di pabrik, selain mendapat gaji, kau juga bebas tinggal di rumah ini dengan gratis, Ratria," ucap Syahdan menyela tiba-tiba.

"Maksudmu?!" tanya heran Ratria. Matanya berkilat menatap lekat pada Syahdan.

"Kau tahu, siapa pemilik rumah ini? Aku," sambung Syahdan menerangkan dengan tenang. Memandang tajam pada wajah cantik yang selalu cerah berbinar, kini berubah jadi pucat. Bibirnya tampak rapat terbungkam.

"Kau sudah dengar? Pekerja pabrik sedang mogok? Mereka belum mendapat gaji bulan ini. Kenapa? Sebab gaji bulan ini, pihak bank pencair dana memerlukan tanda tangan kamu," terang Syahdan kembali. Merasa puas dengan raut kejut di wajah Ratria.

"Apa kau tega, membiarkan mereka terhimpit ekonomi saat ini?" lanjut Syahdan tanpa memberi kesempatan Ratria untuk menanggapi.

"Jadi tolonglah kesulitan mereka. Hanya tanda tanganmu yang bisa mencaikan gaji mereka. Bulan ini ... dan bulan-bulan selanjutnya," ucap Syahdan dengan maksud memberi tekanan pada Ratria.

"Untuk kebenaran ucapanku ini, bisa kau buktikan pada ayah tirimu. Bukankah ayahmu jadi mandor petik teh di perkebunan, Ratria?" tanya Syahdan kian menekan.

"Kutunggu datangmu di vila pabrik besok pagi pukul tujuh. Jangan terlambat, Ratria. Gaji mereka ada di tanganmu. Atau ingin ke vila malam ini dengan menumpang di mobilku?" terang Syahdan, berakhir dengan tanya berisi sinndiran.

Syahdan tidak lagi berbicara. Pria rupawan itu memalingkan wajah dari Ratria. Memandang Pak Andi dan berbicara. Pak Andi mengangguk. Mereka hampir bersamaan mengambil cangkir teh dan meminumnya hingga habis. Pak Andi menoleh pada Mbak Lusi dan Ratria.

"Karena sudah malam. Perbincangan ini terpaksa kami cukupkan. Ratria, datanglah pagi-pagi ke vila. Masih ada banyak hal yang belum kamu tahu. Kami sangat menunggu kedatanganmu. Mohon bantuanmu, Ratria," ucap pak Andi hangat pada Ratria. Berharap gadis yang tampak termenung-menung itu terpatah niat kukuhnya. Tergerak untuk bekerja di pabrik teh perkebunan sebagai asisten baru untuk boss baru di pabrik, yakni Pak Syahdan!

🫒🫒🫒🫒

Terpopuler

Comments

M akhwan Firjatullah

M akhwan Firjatullah

gemesssss ...ma si syahdan...pengen tak jenggut ae...

2023-01-10

1

As Lamiah

As Lamiah

kak bikin tuh syahdan kebingungan menundukkan hati Ratria yang mungkin kedepan bakal banyak penggemar kalo jadi kerja di Telkom bakal serunih 🤭🤭🤭 semangat tour 💪😘

2022-12-10

0

Ety Destha

Ety Destha

duaaa...makasiiih...semangaat up kk

2022-12-10

0

lihat semua
Episodes
1 01. Tamu Asing
2 02. Telah Dikawin Gantung
3 03. Boss Baru
4 04. Ibu Kandung
5 05. Kakak Tiri
6 06. Menumpang
7 07. Bersua
8 08. Memastikan
9 09. Menuju Vila
10 10. Di Vila
11 11. Paksaan
12 12. Dibawa Ke Vila
13 13. Sah..!!!
14 14. Malam di Vila
15 8. First Day of Work
16 16. Surabaya
17 17. Otewe Dinas
18 18. Nampak Syahdan
19 19. Manager Pemaksa
20 20. Bersepakat
21 21. Terlambat Datang
22 22. Ikut Syahdan
23 23. Berjumpa Ibu Mertua
24 24. Di Tunjungan
25 25. Vario
26 26. Tamu Berlainan
27 27. Langsing dan Muda
28 28. Ditolak Bareng
29 29. Pilihlah
30 30. Perubahan Data
31 31. Dipecat
32 32. Bertemu Ratria.
33 33. Otewe Pulkam
34 34. Dibawa Syahdan
35 35. Sekamar Sementara
36 36. Saling Janji
37 37. Terancam Amputasi
38 38. Akur
39 39. Judith
40 40. Vario's Story
41 41. Serba Ungu
42 42. Gelap Nyaman
43 43. Hasrat Pagi
44 44. Kupu Malam
45 45. Pandang Saja
46 46. Begadang
47 47. Baju Tidak Sopan
48 48. Kedatangan Kahfi
49 49. Hadiah
50 50. Bermesra
51 51. Di Macau
52 52. Surabaya Zoo KBS
53 53. Izin Pulang
54 54. Panas dan Gelap
55 55. Bye...
56 56. Pulang
57 57. Masuk Angin
58 58. Guncang Pesawat
59 59. Guncangan Yang Lama
60 60. Buah Siwalan
61 61. Bertemu Di Vila
62 62. Saling Menerima
63 63. Senang-Senang 18+
64 64. Pagi di Vila
65 65. Nasi Goreng
66 66. PT Greenfields
67 67. Otewe
68 68. Singgah Di Kakung
69 69. Mengantar
70 70. Naik Jabatan
71 71. Menguati Benteng
72 72. Semeja Berempat
73 73. Ngeri-Ngeri Sedap
74 74. Tamu Mendadak
75 75. Hadiah Melimpah
76 76. Beristri Dua
77 77. Istri Pembawa Harta
78 78. Undur Diri
79 79. Bersama Berdua
80 80. Perjodohan
81 81. Kebohongan Bersama
82 82. Kalian Menikahlah
83 83. Ayo Menikah
84 84. Sah!!
85 85 Lelaki Patah Hati
86 86. Hidup Bersama
87 87. Orang Tua Pengganti
88 88. Berasyik Masyuk
89 89. Saling Ingin
90 90. Bahagia Bersama
Episodes

Updated 90 Episodes

1
01. Tamu Asing
2
02. Telah Dikawin Gantung
3
03. Boss Baru
4
04. Ibu Kandung
5
05. Kakak Tiri
6
06. Menumpang
7
07. Bersua
8
08. Memastikan
9
09. Menuju Vila
10
10. Di Vila
11
11. Paksaan
12
12. Dibawa Ke Vila
13
13. Sah..!!!
14
14. Malam di Vila
15
8. First Day of Work
16
16. Surabaya
17
17. Otewe Dinas
18
18. Nampak Syahdan
19
19. Manager Pemaksa
20
20. Bersepakat
21
21. Terlambat Datang
22
22. Ikut Syahdan
23
23. Berjumpa Ibu Mertua
24
24. Di Tunjungan
25
25. Vario
26
26. Tamu Berlainan
27
27. Langsing dan Muda
28
28. Ditolak Bareng
29
29. Pilihlah
30
30. Perubahan Data
31
31. Dipecat
32
32. Bertemu Ratria.
33
33. Otewe Pulkam
34
34. Dibawa Syahdan
35
35. Sekamar Sementara
36
36. Saling Janji
37
37. Terancam Amputasi
38
38. Akur
39
39. Judith
40
40. Vario's Story
41
41. Serba Ungu
42
42. Gelap Nyaman
43
43. Hasrat Pagi
44
44. Kupu Malam
45
45. Pandang Saja
46
46. Begadang
47
47. Baju Tidak Sopan
48
48. Kedatangan Kahfi
49
49. Hadiah
50
50. Bermesra
51
51. Di Macau
52
52. Surabaya Zoo KBS
53
53. Izin Pulang
54
54. Panas dan Gelap
55
55. Bye...
56
56. Pulang
57
57. Masuk Angin
58
58. Guncang Pesawat
59
59. Guncangan Yang Lama
60
60. Buah Siwalan
61
61. Bertemu Di Vila
62
62. Saling Menerima
63
63. Senang-Senang 18+
64
64. Pagi di Vila
65
65. Nasi Goreng
66
66. PT Greenfields
67
67. Otewe
68
68. Singgah Di Kakung
69
69. Mengantar
70
70. Naik Jabatan
71
71. Menguati Benteng
72
72. Semeja Berempat
73
73. Ngeri-Ngeri Sedap
74
74. Tamu Mendadak
75
75. Hadiah Melimpah
76
76. Beristri Dua
77
77. Istri Pembawa Harta
78
78. Undur Diri
79
79. Bersama Berdua
80
80. Perjodohan
81
81. Kebohongan Bersama
82
82. Kalian Menikahlah
83
83. Ayo Menikah
84
84. Sah!!
85
85 Lelaki Patah Hati
86
86. Hidup Bersama
87
87. Orang Tua Pengganti
88
88. Berasyik Masyuk
89
89. Saling Ingin
90
90. Bahagia Bersama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!