Teguran Mbak Lusi membuat Ratria memandangi dirinya. Baju yang ditarik dari belakang telah mencetak jelas bentuk bukit di dada. Gadis itu tersenyum dan menahan tawa merasa malu sendiri.
"Aduh ... ilfil aku, Mbak. Bisa menjatuhkan pasaran, aku akan dikira cewek sarap kali, mbak. Hi ... hi ...," ucap Ratria tertawa, masih dengan mode bisik.
"Tukar baju yang baik. Tunjukkan pesona kamu, Rat. Pak Syahdan itu sangat tampan," bisik Mbak Lusi penuh maksud.
"Aku belum minat nikahan, Mbak." Ratria berbisik di telinga mbak Lusi yang berkerudung lebar.
"Dekat-dekat dulu saja. Nanti lama-lama suka. Lambat laun kawin juga," balas bisik Mbak Lusi.
"Duh, Mbak ... Mbak." Ratria menggedik bahu, tidak bisa berkata lagi. Berbalik badan dan laju masuk ke dalam kamarnya kembali.
Mbak Lusi tersenyum kecil sambil menarik pintu dan menutupkan pintu kamar. Berjalan ke dapur untuk mengambilkan minum dan cemilan.
Di ruang tamu....
Pria setengah tua berkacamata sedang meletak sebuah file di meja. Terlihat fokus dan serius. Di sebelahnya duduk pria muda sedang menyandar santai di sofa. Dengan kepala berpaling mengikuti pergerakan tangan pria tua di sampingnya.
Kelebat badan disertai harum wangi mengusik kedua pria di ruang tamu. Mereka menoleh hampir bersamaan. Dua orang perempuan sedang berjalan menghampiri sofa tamu dengan beriringan.
Yang pria muda itu paham, Mbak Lusi sedang membawa nampan berisi teko teh dari kaca serta empat buah cangkir. Sedang perempuan muda di belakang Mbak Lusi itulah yang membuat Syahdan tertegun sejenak. Gadis itukah yang akan dijumpainya?
Ratria tampak fresh dan cerah dengan rambut ovale panjang sepunggung yang bergaya curly di ujung. Rambut tebalnya begitu hitam hingga terlihat berkilat dan sehat. Wajah suntuk tadi telah lenyap tersapu lipstik tipis di bibir manisnya. Mata berbinar serasi dengan alis alami yang indah.
Kini baju tidur telah ditukar dengan baju yang melekat sopan di badan idealnya. Celana jeans hitam sebatas betis dengan sweater hangat warna coklat. Serasi dengan kulitnya yang cerah.
Penampilan gadis cantik itu sungguh tampak sportif dan anggun. Ratria adalah cerminan gadis gunung yang berwawasan serta berjiwa kekinian. Perempuan perbukitan yang berpenampakan milenial.
"Monggo diminum teh panasnya, Pak Syahdan. Pak Andi, monggo," tawar Mbak Lusi pada nampan yang baru dilandaskannya di meja.
"Monggo bapak-bapak.... Silahkan dicoba juga keripiknya," ucap Ratria pun menimpali. Langsung beramah tamah dan menawari sajian meniru Mbak Lusi.
Menyembunyikan degub di dada yang tiba-tiba datang dirasa. Sekilas memandang lelaki yang duduk di samping Pak Andi, hatinya terkesiap. Merasa tak asing dengan wajah dingin tapi tampan yang juga sedang menatap menyelidik dirinya.
Ratria tergesa menunduk, coba memastikan bahwa lelaki itu adalah yang pernah dilihat. Yaitu pemilik mobil yang ditumpangi Ratria saat pulang maghrib tadi. Ah, sempit sekali kebun teh ini!
"Ratria." Adalah sapaan dari Pak Andi. Pria agak tua itu tengah membetulkan letak kacamata di telinga.
"Iya, Pak Andi," sambut Ratria. Ingin bersikap hangat sebelum ke inti perbincangan.
"Perkenalkan, beliau ini adalah Pak Syahdan. Lelaki yang saat kalian kecil telah disebut kawin oleh almarhum pemilik pabrik, Pak Yakub, kakeknya. Untuk menikah kembali denganmu di masa depan, Ratria," terang pak Andi memandang lurus pada Ratria serius.
Ratria menggeser mata dari Pak Andi kepada lelaki di sebelah yang juga sedang memandangnya. Lelaki itu menaikkan alis saat pandangan mereka beradu. Mata berkilatnya memicing penuh maksud seperti akan ada yang ingin dikatakan pada Ratria.
Gadis cantik berhidung lancip itu kembali berdebar. Merasa jika Syahdan sudah mengenali dirinya. Kian tak tenang saat senyum sinisnya tercetak kemudian. Niat untuk mengulur tangan diurungkan. Lelaki itu sedang akan berbicara.
"Pak Andi, apa di lingkungan sini sudah biasa untuk para gadis meminta tumpangan kepada setiap orang?" tanya lelaki itu dan memandang Ratria dengan sinis.
"Emmh, jika terdesak, hal itu sudah umum dilakukan oleh setiap warga perkebunan sini. Tidak terkecuali semua wanita dan gadis. Kenapa, Pak Syahdan?" pak Andi tampak bingung dan heran.
"Apa mereka tidak khawatir dengan orang yang berniat jahat?" lanjut Syahdan bertanya pada pak Andi. Kali ini mengalihkan matanya dari wajah Ratria. Sebab Pak Andi merasa bingung dan tidak lagi cepat menyahut.
"Hai, Pak Syahdan," suara ringan dan lembut Ratria tiba-tiba menyahut. Bukan hanya pemilik nama yang terkejut. Tapi mereka bertiga sama-sama menoleh.
"Kenalkan, nama saya Ratria. Saya adalah contoh gadis perkebunan yang sangat gemar menumpang. Itu adalah hal yang terasa sangat menyenangkan. Bagi saya, dijahati orang di tengah hutan tanpa berusaha mendapat tumpangan, adalah hal yang lebih menakutkan. Demikian pendapat saya. Maaf jika saya lancang menjawabkan untuk Pak Andi," terang Ratria menjelaskan.
Syahdan memandang lekat wajah cantik alami itu. Merapatkan bibir dan tidak lagi ingin membukanya. Mengakui kebenaran perkataan Ratria. Lelaki itu menoleh pada pak Andi.
"Pak Andi. Sudah malam. Segera katakan tujuan kita ke sini," arah Syahdan memandang Pak Andi. Asisten warisan agak tua itu cepat-cepat mengangguk.
"Ratria," panggil Pak Andi meminta perhatian. Ratria memandang menyimak lalu mengangguk agar pria tua itu melanjutkan penjelasannya.
"Ratria, Pak Syahdan ingin mengundangmu untuk bekerja di pabrik. Bekerja sebagai asisten beliau. Sebab pak Syahdan masih berstatus sebagai salah satu pemimpin perusahaan di Maskapai Penerbangan Air Asia untuk cabang Surabaya. Jadi, kamu dibutuhkan untuk mewakili setiap tanda tangan yang berkaitan dengan pabrik, jika Pak Syahdan sedang ada kerja di Surabaya." jelas Pak Andi. Membetulkan kacamatanya sambil memandang Ratria.
Penjelasan pak Andi, tentu sangat mengejutkan Ratria. Tak ada petir, tak ada mendung, tiba-tiba hujan turun deras. Seperti itulah kira-kira..
"Kenapa mesti saya yang harus jadi asistennya, pak?!" tanya Ratria dengan melirik pada Syahdan.
"Sebab kamu sudah ditunjuk oleh kakek Yakub Achmad, pemilik kebun dan pabrik teh. Namamu sudah ada di tangan pengacara beliau, Ratria. Percayalah, semua bertujuan untuk membalas budi pada ayahmu dan untuk kebaikan kamu sendiri." Pak Andi menerangkan.
Ratria tetap tidak tergerak. Kepalanya menggeleng dengan cepat.
"Maaf, pak Andi. Saya keberatan dan sangat tidak sanggup. Saya sama sekali tidak berminat untuk bekerja di pabrik teh. Jujur saya sangat jenuh dengan daerah saya sendiri. Saya juga merasa bosan. Dan ingin mendapat pengalaman bekerja di kota. Dengan tidak jauh dari perkebunan. Dan saya telah diterima bekerja di PT Telkom kota Wlingi. Mohon pahamilah mimpi saya, Pak." Ratria berkata cepat menahan kesal di dada.
"Jika kau bersedia bekerja di pabrik, selain mendapat gaji, kau juga bebas tinggal di rumah ini dengan gratis, Ratria," ucap Syahdan menyela tiba-tiba.
"Maksudmu?!" tanya heran Ratria. Matanya berkilat menatap lekat pada Syahdan.
"Kau tahu, siapa pemilik rumah ini? Aku," sambung Syahdan menerangkan dengan tenang. Memandang tajam pada wajah cantik yang selalu cerah berbinar, kini berubah jadi pucat. Bibirnya tampak rapat terbungkam.
"Kau sudah dengar? Pekerja pabrik sedang mogok? Mereka belum mendapat gaji bulan ini. Kenapa? Sebab gaji bulan ini, pihak bank pencair dana memerlukan tanda tangan kamu," terang Syahdan kembali. Merasa puas dengan raut kejut di wajah Ratria.
"Apa kau tega, membiarkan mereka terhimpit ekonomi saat ini?" lanjut Syahdan tanpa memberi kesempatan Ratria untuk menanggapi.
"Jadi tolonglah kesulitan mereka. Hanya tanda tanganmu yang bisa mencaikan gaji mereka. Bulan ini ... dan bulan-bulan selanjutnya," ucap Syahdan dengan maksud memberi tekanan pada Ratria.
"Untuk kebenaran ucapanku ini, bisa kau buktikan pada ayah tirimu. Bukankah ayahmu jadi mandor petik teh di perkebunan, Ratria?" tanya Syahdan kian menekan.
"Kutunggu datangmu di vila pabrik besok pagi pukul tujuh. Jangan terlambat, Ratria. Gaji mereka ada di tanganmu. Atau ingin ke vila malam ini dengan menumpang di mobilku?" terang Syahdan, berakhir dengan tanya berisi sinndiran.
Syahdan tidak lagi berbicara. Pria rupawan itu memalingkan wajah dari Ratria. Memandang Pak Andi dan berbicara. Pak Andi mengangguk. Mereka hampir bersamaan mengambil cangkir teh dan meminumnya hingga habis. Pak Andi menoleh pada Mbak Lusi dan Ratria.
"Karena sudah malam. Perbincangan ini terpaksa kami cukupkan. Ratria, datanglah pagi-pagi ke vila. Masih ada banyak hal yang belum kamu tahu. Kami sangat menunggu kedatanganmu. Mohon bantuanmu, Ratria," ucap pak Andi hangat pada Ratria. Berharap gadis yang tampak termenung-menung itu terpatah niat kukuhnya. Tergerak untuk bekerja di pabrik teh perkebunan sebagai asisten baru untuk boss baru di pabrik, yakni Pak Syahdan!
🫒🫒🫒🫒
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
gemesssss ...ma si syahdan...pengen tak jenggut ae...
2023-01-10
1
As Lamiah
kak bikin tuh syahdan kebingungan menundukkan hati Ratria yang mungkin kedepan bakal banyak penggemar kalo jadi kerja di Telkom bakal serunih 🤭🤭🤭 semangat tour 💪😘
2022-12-10
0
Ety Destha
duaaa...makasiiih...semangaat up kk
2022-12-10
0