Makan bersama ini pasti akan menyenangkan jika saja para vampir tidak hadir. Benar. Pasti akan seribu kali lipat lebih menyenangkan jika aku makan sendirian.
Melihatku tidak syok, Georgia mendecihkan lidah dan memilih tempat duduk yang lumayan jauh dari kami berdua. Ia pun bergabung dengan vampir lain dan mulai mengobrol biasa. Lucu sekali, dia bernapas dan berbicara normal seolah tidak punya dosa padaku.
Georgia tidak mengambil makanannya, mungkin memilih untuk menunggu yang lain, begitu juga dengan Calvin. Aku yang mengetahui itu akhirnya hanya memilih untuk menyandarkan tubuhku di meja.
Berbeda dengan dua orang tadi, lucunya Ella memilih untuk diam dan ikut tidak mengambil makanan. Jujur saja, sebenarnya aku agak kesal karena ia tidak memilih tempat duduk di sebelahku karena jelas-jelas aku ini tunangannya.
Namun, karena Georgia ini mantan tunangannya—yang pastinya mereka sudah mengenal lebih lama, aku memilih untuk mengalah.
Lagipula, hubungan kami bukanlah hubungan yang romantis seperti cerita dongeng. Tidak akan ada nyanyian merdu untuk merayakan pertemuan kami ataupun akhir bahagia untuk menutup kisahku dan Ella.
Kami hanya terikat demi kepentingan politik, dan sebuah janji yang sama-sama akan mengakhiri hidup kami.
Semakin lama aku memandang wajahnya, entah kenapa raut wajahnya sangat kaku bagai topeng. Bukan berarti aku peduli. Cuma rasanya malas jika dia mengeluarkan alasan yang aneh ketika ketahuan berdua dengan Georgia.
"Tukang selingkuh, bukan?" bisikan Calvin membuatku otomatis menoleh. "Padahal kemarin dia sudah rela melakukan tradisi. Lihat apa yang dilakukannya sekarang?"
Aku mengangkat bahu dan ikut berbisik sambil menutup pergerakan mulutku dari mereka berdua. "Kau benar, sih. Tapi aku lebih terkejut melihatmu seperti sudah memperkirakan hal ini."
Wajah Calvin bersemu merah. "Dengar, ya, Barbie. Aku sudah mengenalnya sejak bayi. Dan memang seperti itu dia!"
"Ew, kukira vampir lebih setia." komentarku sambil menjulurkan lidah. Calvin setengah meringis. "Oh, tentu saja itu aku."
Aku memutar bola mata, masih saja Calvin memamerkan sifatnya yang mulia.
Waktu berjalan agak lama, dan dua kursi di sebelahku dan bagian tengah masihlah kosong. Aku mulai lapar. Aku yakin makanan di depanku sudah mulai dingin, dan sialnya, tidak ada seorang pun yang hendak mengambil makanan.
Instingku mengatakan tidak akan ada yang mengambil makanan jika dua orang ini masih belum datang. Perutku sudah berbunyi, jadi bodo amat. Perlahan tapi pasti, kusambar salah satu roti yang ada di dalam keranjang hias. Namun, sebelum itu, sebuah pisau secepat anak panah melesat di hadapanku, hampir menusuk pergelangan tanganku jika aku tidak menyingkir dengan cepat.
"Barbie!" Calvin menarik tanganku dan menahanku untuk kembali duduk. Georgia menyeringai dengan lipstiknya yang terlalu merah.
"Apa kamu tidak melihat?" ujar Georgia dengan nada mengejek. "Semua orang yang ada di sini juga lapar, tapi mereka semua berusaha menahannya."
Tidak ada yang ikut angkat bicara, bahkan Ella pun juga terdiam walau ia padahal sebelumnya selalu membelaku. Aku menggigit bibir. Tahu begini aku minta sendiri makanan di kamar dan menghabiskannya sendirian.
"Dan kau," sambungnya sambil berdiri dan mengacungkan jarinya padaku. "hanya seorang manusia yang tidak tahu tata krama berani-beraninya mengambil makanan sebelum ratu datang! Sungguh penghinaan besar!"
Semua bertepuk tangan dengan bangga melihat ketegasan Georgia. Aku sama sekali tidak terkesan. Caranya mengingatkanku sama seperti cara manusia mengingatkan ularnya supaya tidak menggigit. Kekerasan.
Aku memilih untuk diam dan pura-pura merasa bersalah. "Maafkan aku."
"Tidak usah minta maaf. Lagipula kau cuma seonggok manusia, mau bagaimana lagi?"
Suara tawa yang kali ini memenuhi ruangan. Mataku berputar melihat siapa saja yang mentertawaiku. Kebanyakan laki-laki, dan perempuan yang hadir lebih memilih untuk menutup mulutnya.
Ugh, rasanya seperti menghadapi anak paling populer di kelas. Sama sekali tidak merasa dirinya salah. Dan bagusnya, semua laki-laki akan mendukungnya, apalagi jika perempuan tadi cantik.
Calvin tidak ikut bertepuk tangan dan tertawa. Ia malah fokus melihat Ella yang menyandarkan tangannya membelakangi kami berdua, membuatku penasaran.
Tanpa peringatan apapun, ia balas melemparkan salah satu pisau tepat ke kepala Ella, tapi serangan itu meleset karena Georgia ikut menepisnya dengan cakarnya. Vampir lain berdiri dari tempat duduknya, berbisik-bisik kenapa Calvin melakukan hal tersebut.
Di lain sisi, Ella tidak berkomentar apapun, yang menurutku sangat mencurigakan. Aku pun bertanya pada Calvin, "Apa yang kau lakukan?"
"Tidakkah kau sadar Barbie?" tatapannya sudah mengalahkan singa hitam sekarang. "Mika tidak seperti biasanya. Jelas sekali itu bukan dirinya."
"Apa maksudmu?"
"Calvin!" Obrolan kami diinterupsi oleh pekikan Georgia. "Apa yang kau lakukan, sialan?!"
Rambut Georgia sudah memerah lagi. Oh, tidak. Aku tidak mau mengulang kejadian tadi malam. Luka di depan dadaku berdenyut. Tentu saja belum pulih.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan, Georgia? Sudah tahu siapa tunangan Mika sekarang bukan?"
"Diam!" Ia menarik lengan Ella yang masih saja tetap tidak berekspresi. "Dia bilang itu cuma setingan. Manusia itu yang memaksanya. Benar begitu bukan?"
Ella yang menoleh padanya mengangguk dan mengiyakan. Dadaku berdenyut sakit.
Terdengar banyak sorakan "Huuuuu!" dari para vampir. Mereka semua membela Georgia dan ikut bersiap-siap di hadapannya. Kusadari bahwa keberadaanku memang sangat dibenci di sini. Aku sendiri padahal memang membenci mereka, dan mereka, yang selalu menjadi mimpi burukku, tidak pantas melakukan hal ini.
Perintah, "Ayo kita bunuh saja!" terdengar jelas di telingaku. Aku menyeringai. Boleh saja kalian membunuhku, aku sama sekali tidak takut. Malahan, aku merasa sangat tertantang dengan hinaan kalian.
Ketika aku sudah siap menyambar semua pisau yang berada di dekatku, suara yang sangat keras menggema di belakangku. "APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Kembali berputar pandanganku ke belakang. Telingaku sangat amat tidak asing dengan suara yang melengking dahsyat dan mengerikan itu. Ya, suara yang sama dengan perempuan menyeramkan dan sama sekali tidak berkutik aku di depannya. Ratu!
"Saat kupikir kita akan makan bersama dengan tenang... Inikah balasanmu, Barbie?"
Seharusnya ratu itu sudah sadar jika aku jelas-jelas kalah jumlah di sini. Tapi namanya juga ratu. Ratu selalu benar. Semua pisau yang kugenggam kuturunkan dan menunduk hormat. "Maafkan saya. Paduka Ratu."
Aku yakin tidak akan ada kata-kata yang lebih ampuh daripada permintaan maaf, apalagi terhadap perempuan tua (maafkan aku). Melihat kejadian kemarin juga, pasti jika aku berusaha mati-matian untuk membela diri, tamparan bukan lagi mimpi untuk diberikan padaku.
"Paduka Ratu. Salam hormat," ucap Calvin seraya menundukkan tubuhnya dan meletakkan tangannya di depan dadanya dan diikuti oleh sisa penghuni ruang makan.
"Ratu..." Georgia berpura-pura menangis. "Baru saja, Barbie hampir saja..."
Sebuah belati melayang tepat ke arah kepala Ella dan membuatnya ambruk. Aku hampir memekik, dan Georgia terkesiap panik. Calvin ikut terkejut dan hanya melebarkan matanya, sedangkan para vampir lain tidak tahu harus bereaksi apa selain membuka lebar mulut mereka.
Tunggu, Ella... Terbunuh?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments