Part 17 - Koran Ajaib

Calvin memutuskan untuk kembali ke rumahnya setelah pamit padaku dengan cara yang dramatis. Georgia, hm, dia gadis yang cukup menyebalkan jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Ella sendiri tidak memberitahuku kemana dia akan pergi, dan aku juga tidak terlalu peduli. Dan Kate, ia memutuskan untuk tetap tinggal di kastil.

Di malam harinya pun juga begitu, tidak ada pesta berisik seperti yang terjadi di malam-malam sebelumnya.

Aku sempat bertanya pada Betty mengenai kasus pembasmian vampir. Dia sendiri ternyata juga angkat tangan masalah itu. Rumornya, tidak ada luka di bagian tubuh pelakunya, tapi korban dengan penyebab kematian yang sama terus berjatuhan... Eh, tapi ini bukan penyakit! Karena buktinya semua korban tidak memiliki kaitan penyakit yang sama!

Selama 16 tahun, aku terbiasa hidup melempar pisau alih-alih menjadi detektif. Dan demi mencapai tujuanku, aku harus menemukan pelaku kejahatan yang kaum vampir sendiri tidak bisa menangkapnya. Ini, sih, namanya bukan persyaratan, ini namanya penyiksaan.

Hari baru tiba tanpa kusangka. Matahari sudah menjadi kutukan baru bagiku, sepertinya aku sudah setengah menjadi kaum vampir. Karena tiap paginya, tidak ada yang sarapan seperti hari-hari kemarin.

Mungkin sarapan memang hal yang sangat sakral bagi mereka semua.

Pagi itu dimulai dengan sarapan yang dibawa oleh Betty, semangkuk sup daging dan segelas susu sapi. Rasanya lebih enak dari yang kuharapkan. Aku menelannya tanpa sisa, dan tampaknya membuat Betty senang.

"Bagus sekali nona rakus bisa makan," celetuknya sambil mengambil mangkuk dan botolku yang sudah kosong. Aku mengernyitkan dahi. Tampaknya ia semakin senang melihatku kesal. "Makan yang banyak, ya, nona. Supaya bisa berlagak keren dengan sempurna kalau-kalau ada pertemuan lagi."

Semenjak kejadian kemarin, semua orang menyangka aku adalah tukang makan, sehingga panggilan baruku adalah 'putri rakus' atau juga 'nona rakus' dan asal kalian tahu: aku tidak menyukai nama panggilan ini sama sekali!

"Oh, ya." kata Betty, sekarang sambil menyanding sapu besar. "Bagaimana persiapan nona untuk ke sekolah?"

Aku mendelik. Posisi ku di sofa depan ini menandakan aku sudah siap untuk tidur. Akibatnya, aku harus bangkit lagi untuk menanggapi, "Bisa tidak, sih, kau tidak mengingatkanku hal itu?"

"Sekolah vampir, nona! Sekolah vampir! Saya selalu memimpikan masuk ke sekolah itu sejak dulu!" ujarnya kegirangan. "Kabarnya, banyak anak tampan yang sekolah di sana! Wah, rasanya semua mimpi saya sudah menjadi nyata jika bisa setahun saja menjadi murid di sana..."

Betty memejamkan matanya sambil bernyanyi-nyanyi. Aku hanya bisa memandangnya datar.

Bukan berarti aku tidak baper mendengar kata-kata yang mengiming-imingkan sekolah vampir adalah sekolah impian. Hanya saja, aku masuk ke sana karena persyaratan ini... Dan jujur, sekarang rasa penyesalan terasa merayap di hatiku, karena dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa tidak mampu.

"Dan sekolah vampir mana yang akan nona masuki?"

"Sekolah Rafonia--"

"Akademi Rafonia yang terkenal itu?" potong Betty histeris, "Wah, wah! Para cowok-cowok tampan! Ah, apakah yang di sana juga bisa disandingkan dengan pangeran kerajaan "

Kali ini aku yakin batas kewarasannya sudah menghilang. Terserah. Aku kembali mengambil buletin yang terletak di meja makan, membaca berita-berita yang mungkin akan membantuku mencari kabar terkini.

Dan aku butuh waktu lima menit untuk menyadari bahwa hurufnya sama sekali tidak ada yang bisa kubaca.

...----------------...

"Kau, butuh bantuanku?"

Kebetulan yang luar biasa terjadi saat aku keluar dari kamar. Mataku menangkap langkah gadis berambut putih pendek yang tidak asing di mataku. Tidak salah lagi itu pasti Kate. Dan dari semua orang, firasatku mengatakan jika hanya dirinya yang bisa membantuku.

"Bisa kau bacakan koran ini? Tolong!" pintaku memelas. "Aku tidak tahu harus minta pada siapa lagi!"

Kate terdiam barang lima menit, menimbang-nimbang sambil melempar pandangan ke kanan dan kiri. "Kenapa kau tidak meminta bantuan Mika?"

"Kau gila? Kemarin saja ia hampir membunuhku karena kasus Georgia! Lukaku saja belum sembuh!"

"... Dia belum menyembuhkanmu?" Pertanyaan yang sama dengan kemarin-kemarin kudengar lagi, seolah-olah Ella adalah dokter yang berbaik hati menyembuhkan banyak orang. "Bagaimana dengan Calvin?"

"Pilihan yang lebih gila lagi," komentarku sambil menggoyang-goyangkan koran dengan gemas. "Dia pasti akan menawariku untuk menikah dengannya atau apalah, tidak, Kate! Aku tidak mau menikah dengan yang--"

Kate mengangkat alisnya, aku cepat-cepat mengoreksi. "Maksudku, sudahlah cukup masalah yang kulalui ini. Aku tidak mau ada masalah lain!"

"Hm, tapi memilih aku dari semua orang itu... Pilihan yang lumayan aneh." Setelah menimbang-nimbang lagi, akhirnya kata 'oke' keluar dari mulutnya. Aku bersuka ria dan memeluknya tanpa sadar, dan Kate sama sekali tidak menolak pelukanku.

Ia pun membawaku pada perpustakaan yang ada di kastil. Perpustakaannya tidak jauh berbeda dengan yang kumiliki di kastil Kerajaan Zamrud. Sayangnya, aku bukanlah gadis yang hobi membaca. Jadi, aku tidak mengerti apa perbedaan dan nilai tiap buku yang ada.

Tidak banyak orang yang hadir di dalam perpustakaan kecuali vampir-vampir berseragam khusus. Aku memandang mereka hati-hati, berjaga-jaga salah satu dari mereka melayang dan menggigit leherku.

"Imajinasimu terlalu liar, tahu?" Kate tiba-tiba berbicara setelah duduk. Aku menarik kursi dan menjawab, "Imajinasi apa?"

Kate menatapku yang meletakkan koran sambil menghela napas. "Kau membayangkan vampir menggigitmu mendadak atau sejenisnya, bukan?"

"Da-darimana kau tahu?"

"Semua orang juga tahu kalau kau celingak-celinguk begitu." tuturnya seraya membenarkan posisi kursinya. "Ayo berikan kertasmu, biar kulihat."

Dengan konsentrasi yang luar biasa, ia membaca koran itu dengan seksama. Aku belum pernah melihat seseorang membaca koran dengan penuh konsentrasi seperti itu. Apa memang koran dunia vampir harus dibaca sebegitu susahnya?

"Nah, ini, sih... Begini." Kate menarik tanganku untuk diletakkan di atas koran tersebut. "Tulisan ini bukan sembarang tulisan. Mungkin nanti akan kau pelajari di sekolah juga. Kau harus menggunakan sihir untuk bisa membacanya."

Aku manggut-manggut memahami ujarannya dan melakukan perintahnya. Setelah itu, Kate segera mengucapkan jampi-jampi yang belum pernah kudengar.

Kabut besar muncul setelah bibir Kate tak lagi mengucapkan jampi-jampi. Di antara kami, awan-awan gelap terbentuk dan menelan semua cahaya matahari siang yang ada di dalam ruangan. Bisa kurasakan angin melewati tiap helai rambutku, membuatku harus memegang erat kepalaku supaya angin yang membentuk tornado mini tidak ikut menyesap rambutku.

"Apa ini? Sebuah sihir kaum vampir?" seruku dengan suara yang dimaksimalkan, Kate mengikuti. "Semacam itu! Dengan begini kau bisa membaca apa yang ada di atas kertas yang kau baca!"

Setelah beberapa menit berlangsung, bunyi gemuruh muncul Awan-awan itu lanjut memberikan kilat kecil pada koran yang kubawa, dan cahaya bagai bintang raksasa muncul. Aku menyipitkan mata.

Saat kubuka mata, keadaan magis tadi menghilang, menyisakan koran yang tampaknya sudah disihir. Aku mengambil lembaran itu, dan benar saja, tulisan itu sudah bisa kubaca.

"Uwoooh!" seruku seperti orang gila. Vampir lain menoleh ke arahku dan dengan segera Kate menutup mulutku seraya berbisik, "Kita sedang di perpustakaan!"

Aku memelankan suaraku dan menunduk, "Oh, kau benar. Omong-omong, makasih. Aku jadi bisa membacanya."

"Sama-sama."

Entah ini hanya perasaanku saja, bibir Kate yang melengkung terasa sehangat matahari. Dan perasaanku mengatakan:

Senyuman itu, terlalu tampan untuk senyuman perempuan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!