Kepalaku serasa dihantam palu raksasa. Kilauan bagai galaksi berputar di mataku, memecah kesadaranku berkali-kali. Seluruh bagian tubuhku serasa hendak meledak.
Sebelum semua itu terjadi, mataku terbuka. Dahiku sudah dipenuhi oleh keringat. Napasku tidak beraturan. Langit-langit yang asing membuatku semakin panik. Aku hendak bergerak, tapi tubuhku tidak menurut.
"Akhirnya kau bangun juga."
Pandanganku berputar ke samping kiri. Suara Mikaela. Seiring kakinya melangkah, aku menggerakkan kakiku, hendak menghindar. Namun apa daya, perban yang melapisi dadaku masih belum mengatasi rasa sakit yang menghujam. Aku kembali merintih, dan ia pun berkata dengan nada selembut mungkin. "Jangan bergerak. Lukamu bisa terbuka lagi."
Aku kembali merebahkan tubuhku dan meletakkan tanganku yang juga telah diobati di atas kepala. "Sejak kapan ada vampir yang peduli pada manusia?"
Sunggingan senyum terpancar di bibirnya yang semerah pakaiannya. "Entah. Memangnya ada?"
Sudut bibir kunaikkan sebelah menanggapi candaannya. Napasku pun kembali beraturan setelah kesadaranku kembali agak lama. Baru kusadari dia melihatku dalam keadaan lemah. Sial. Aku tidak pernah menyangka akan terjadi hal seperti ini, bahkan sebelum aku membunuhnya.
"Omong-omong, di mana ini?" Kembali mataku memandang semua furnitur serba merah, dan yang paling membuatku terheran adalah jendela raksasa yang dibiarkan terbuka di samping kiriku. Rasanya keadaan ini tidak asing.
"Kamarku.”
Oke. Aku harus tenang dan tidak boleh tersulut emosi. "Dan bagaimana ceritanya aku bisa sampai ke kamarmu?"
"Ceritanya panjang." Lagi-lagi ia menjawab pendek.
"Ceritakan saja." Kepalanku mengeras mendengar ucapannya yang cuek. "Aku tidak akan membunuhmu."
Mikaela meringis sambil mengalihkan pandangannya. "Sok sekali. Kau sendiri ingat kejadian sebelum pingsan?"
Mulutku menggangga. Tentu saja aku mengingatnya. Bagaimana tidak? Tadi itu adalah saat paling mengerikan yang pernah kualami seumur hidup.
......................
"Kau..."
Kilauan biru terus menyalak, hal yang tidak pernah kulihat sebelumnya karena selama ini aku terus menyembunyikannya di balik pakaianku. Aku berusaha menyembunyikannya, tapi cahayanya menerobos lewat celah jari-jariku.
Ratu menoleh pada perempuan di sampingku. "Kate, jangan bilang ini?"
Yang bernama Kate mengangguk dengan raut wajah yang serius. "Ya. Ratu tidak salah lagi."
Kembali lagi Ratu melempar pandangannya ke mataku. "Darimana kau mendapatkan benda itu?"
Mata kemerahan ratu begitu tenang dan dingin, seolah menyembunyikan semua perasaannya dariku, seorang manusia. Aku pun menjawab dengan tenang atas pertanyaannya. "Aku tidak ingat."
Sebuah tamparan sukses mendarat di pipiku. Badanku terlambat memberi reaksi dan tetap membeku. Kate juga kaget, tapi ia tidak berniat menghentikan ratunya itu.Tiba-tiba saja, seluruh tubuhku kembali gemetar lagi.
"Jawab aku dengan serius. Darimana kau mendapatkannya?" Ratu masih belum puas, dan raut mukanya masih tetap dingin tanpa ekspresi.
Amarah menguasaiku. "Sudah kubilang, aku tidak ingat!"
Tamparan yang sama mendarat di pipiku yang masih memerah. Gila. Dan Kate masih saja membeku di tempatnya. Kenapa bulu kudukku berdiri hanya karena sebuah tamparan?
"Kupikir sudah cukup, bu." Mikaela datang dengan tenang, menahan tangan ibunya untuk melanjutkan aksi menamparnya lagi. "Dia memang sudah tidak ingat."
"Mika... Siapa perempuan ini?” Gigi taring Ratu menampakkan kehadirannya seiring emosinya naik.
"Dia tunanganku. Hari ini putri manusia datang ke kastil. Ibu tidak ingat?"
Semua orang masih belum bergerak dari tempatnya, asik menonton percakapan keluarga kerajaan yang mungkin tidak akan mereka lihat seumur hidup. Aku mengambil langkah mundur dan kembali menyarungkan belatiku. Kulihat darah di dadaku masih belum berhenti menetes. Gawat.
"Perempuan ini? Dia putri?" Nada tingginya seolah mengejekku. "Oh, astaga! Ya. Aku ingat. Hari ini mereka mengirimkan salah satu putrinya pada kita."
Kulitnya yang seputih susu, rambut putih secantik malaikat, dan tubuhnya yang masih langsing tidak membuat rasa merindingku sirna. Aku memang berencana membunuh para vampir, tapi entah dengan yang satu ini. Tubuhku sama sekali tidak mau menurut untuk menusuknya saja.
Georgia yang tadinya tampak menggila, tiba-tiba kembali kesadarannya setelah cahaya dari kalungku berhenti bersinar. Matanya yang kosong kembali menyala, siap menyerangku sekali lagi.
"Sialan! Siap-siap saja kau manusia!"
Si Ratu terkejut seolah ia baru saja melihat Georgia hari ini. "Tunggu, apa yang terjadi dengan Georgia?!"
"Bukannya kau bilang Ratu sangat menyanyangi Georgia?" Aku berbisik pada Kate. Ia tampak terkejut melihatku berani bertanya dengannya di depan Ratu. "Sepertinya liontinmu itu lebih penting daripada Georgia sendiri."
"Memang kau tahu ini apa?"
Kate menggeram. "Sori. Sepertinya ini bukan saat kita untuk berbincang. Aku harus menjaga Georgia untuk menyerangmu lagi."
Bibirku membulat. "Kau? Melindungiku?"
Dengan gerakan cepat, Kate memasang kuda-kuda untuk melindungiku. Georgia nampak syok melihat Kate berada di depannya menghalangi arah serangannya. "Minggir, Kate! Aku harus membunuh perempuan itu!"
Ratu masih panik dengan dunianya sendiri. "Sungguh, apa yang terjadi pada Georgia? Kau mencelakainya!"
Mikaela tidak menjawab pertanyaan dari Ratu dan ia ikut berdiri di sampingku. "Mundurlah. Georgia sudah di ambang batas."
Mataku sempat melirik ke arahnya sekilas, tapi aku tidak bergerak dari tempatku berdiri. Sepertinya kejadian ini di luar perkirannya.
Georgia yang semakin marah menajamkan cakar-cakarnya. Api muncul dari rambut kemerahannya yang menjadi ikal, membuatnya nampak seperti api hidup. Semua tamu mulai berteriak takjub, tidak peduli akan kemungkinan jika Georgia akan menyerang mereka.
Tepat ketika aku mengira Georgia siap melompat untuk menyerang Kate, tubuhnya menghilang cepat. Semua orang tidak terkecuali aku panik, dan kepanikanku memuncak ketika melihat cakarnya sudah hampir merobek wajahku.
"Barbie!"
Hanya teriakan itu yang terakhir kuingat. Setelahnya, semuanya mendadak sunyi dan gelap.
......................
Aku kembali meraba wajahku. Tidak ada luka yang membekas. Kembali aku bernapas lega. Sepertinya kematian masih belum berminat untuk menjemputku.
"Kau payah banget kalau dipasangkan dengan tunanganmu. Kau gila, tapi dia lebih gila."
"Apa iya?" Ia menggaruk canggung rambut putihnya yang mulai basah oleh keringat. Keringat yang baru kusadari setelah bulan tidak bersembunyi di balik awan. "Mungkin perasaanmu saja."
Suaranya yang semakin serak membuat angka kecurigaanku naik. Apa yang terjadi padanya? Dan seolah menjawab pertanyaanku, kali ini ia memuntahkan cairan merah yang sangat kukenal. Aku otomatis berseru, "Kau... Apa yang terjadi?!"
"Sepertinya sudah lama aku tidak menggunakan kekuatanku, beginilah akibatnya," jelasnya, dan jelas, suaranya semakin menyayat telinga karena batuk darah.
Jantungku berdegup tidak karuan. Ini saat yang tepat untuk membunuhnya. Jika aku membunuhnya, rasa pening di kepala ini pastilah segera pergi.
Tanganku sudah mengepal, mengeras, tapi tidak dengan mulutku.
"Hei, bertahanlah!"
Tubuhku sama sekali tidak berhenti bergetar saat hanya duduk diam. Rasa yang aneh menjalar, hampir menguasaiku, dan dengan otomatis sebuah kalimat meluncur dari bibirku.
"Kenapa kau tidak bilang pada pelayan-pelayanmu?!" Tidak, bukan kata-kata ini yang ingin kuucapkan. Ini sama sekali bukan aku.
Sepertinya ia tidak terlalu memperdulikan seruanku. Alih-alih menyetujui, Mikaela mencetuskan ide yang kuanggap paling mengerikan seraya menggenggam tanganku.
"Aku mau darahmu saja."
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments