Semua orang tahu, jika keluarga bangsawan punya ciri khas yang sama; surai senada emas, mata seolah gelombang laut, dan kulit sejernih porselen. Dan semua orang juga tahu jika aku tidak punya salah satu dari itu. Mata biru.
Tidak pernah kuyakini kapan pastinya, topik ini selalu hadir seperti minyak panas di atas panci yang siap menyembur ke arahku sejak kecil. Perbedaan warna rambutku yang mencolok seringkali dianggap bahwa aku bukanlah anak bangsawan.
Kebalikannya, Gabriel punya itu semua.
Ditambah, ia juga punya otak yang encer dalam semua pelajaran. Siapa guru yang tidak pernah menebaknya sebagai anak raja? Entahlah, jariku sudah lelah menghitung. Namun, aku yakin Gabriel yang cendikiawan itu bisa menghitung jumlah pujian yang sampai pada telinganya.
Aku tidak peduli. Aku berusaha untuk tidak peduli.
Senyum sudah cukup untuk menghapus kerisauan yang merusuh di hatiku, menurutku.
......................
Musim panas dimulai lagi tahun ini, dan kami berdua memutuskan untuk kembali bersekolah. Manusia tidak mau kalah dengan vampir tentunya. Mereka membangun institusi pendidikan yang lebih ‘merakyat’ katanya. Aku dan Gabriel adalah maskot baru mereka.
Memang konyol, sungguh. Aku berani berteriak di tengah untuk bersumpah jika aku tidak cocok menjadi maskot. Aku tidak punya bakat dalam bidang akademis.
Tapi mau tidak mau aku harus menerimanya, karena aku ini 'anak raja'.
“Ingat, jangan melakukan apapun yang mencurigakan.”
Seingatku, ayah tetap duduk sombong di atas meja kerjanya, tak henti-hentinya memandangku seolah aku adalah buronan paling top di kerajaan. Seragamnya yang berwarna hijau zamrud membuatku gerah. Padahal gaun yang kupakai ini sudah yang paling tipis.
Gabriel memicingkan matanya dan menyundul bahuku. “Mencurigakan katanya, kak.” Senyuman kecil tersirat di bibirnya. Senyuman nakal. “Sangat mencerminkan kakak.”
“Mencerminkan bibirmu.” Aku ikut mencibir, dan tatapan super dingin langsung bisa kucicipi dengan kulitku yang berkeringat.
“Kau mengerti, tidak?” Ayah memotong.
Sial. Lagi-lagi hanya aku yang kena. Kenapa ayah tidak pernah komentar jika Gabriel yang berbicara?
“Sekali lagi kuperingatkan: Jangan melakukan hal yang mencurigakan.” ulangnya, memberi garis bawah pada kata ‘mencurigakan’. “Awas saja kalau sampai ditemukan anak babak belur—”
Segera kututup telinga dan berseru sekeras mungkin. “Aduh! Nggak dengar!” Kembali kubuka tanganku dan menarik lengan Gabriel seusai berbalik. “Ayo, Gabriel. Urusan kita sudah selesai.”
Masih berlagak bingung, Gabriel menoleh dan menunduk pada ayah seraya mengucapkan, “Permisi, Ayah.”
Aku tak ikut menanggapi. Tidak pernah sekalipun aku memberi hormat pada ayah, seseorang yang paling tinggi di kerajaan ini, seseorang yang pernah menjadi sosok yang pernah kukagumi, dan berakhir meninggalkan emosi kebencian berwujud api yang membakar hati.
Ruangan itu pun segera sunyi kembali, dan suara pena segera menyusul keheningan itu, seperti yang kuharapkan.
......................
Aku meregangkan tubuh. Seragam musim panas sudah tiba di kamarku. Rok bermotif kotak-kotak berwarna hijau tua dan seragam yang dilengkapi rompi yang sewarna. Logo bergambar bunga matahari kuning muda tersemat di bagian dada kiri, lengkap dengan tulisan Z.A—Zamrud Academy.
Nama yang lumayan konyol. Aku penasaran apakah vampir juga menggunakan nama kerajaan untuk sekolah mereka. Mungkin saja iya.
Terdengar suara dari arah pintu yang diketuk dua kali. Tanpa perlu dijawab, aku tahu jika itu pelayan yang akan mengurus semua perlengkapan sekolahku. Pintu pun terbuka, menyelipkan aroma lezat kue kering yang dibawa pelayan. Aku menelan liur.
"Nona, ini perlengkapan anda untuk hari ini." katanya dengan nada selembut mungkin. Kue kering tadi diletakkan di atas meja. Salah satu lengannya masih tampak menggenggam sesuatu.
Aku membuka mulut. Tas kotak yang mirip dengan milik pekerja kantor terbuka dari untaian tangannya. Berbagai buku pelajaran mengisi penuh tas tersebut. Rasa mual memenuhi kepalaku.
"Aku mau sekolah di rumah saja," celetukku dengan bunyi sekecil mungkin, dan tidak kusangka pelayan ini mendengar suaraku.
"Tidak akan ada yang menarik jika nona terus sekolah di rumah, lho?" Benar-benar, deh. Suaranya memang selembut nenek-nenek yang sudah lanjut usia mengemong cucunya.
"Tolong kemari, nona. Biar saya tata rambutnya."
Aku berusaha menegakkan badan dan duduk di depan cermin raksasa sebesar setengah tubuhku. Di situ, aku melihat diriku sendiri, diriku yang sudah membenci segalanya dan rapuh dalam kehangatan tangan pelayan yang menata rambutku dengan perlahan-lahan, membuat perasaan siapa saja nyaman dan hampir membuatku terlelap.
......................
Jam delapan pagi. Jam yang sempurna untuk memulai kelas. Rambutku yang terurai indah membuat rasa percaya diri meraup seluruh wajahku, tidak ada senyuman yang terselip dalam hatiku, semuanya tumpah keluar.
Berjalan turun dari kereta menjadi pemandangan yang lumrah di akademi ini. Tidak ada anak yang datang dengan berjalan kaki tentunya. Semakin mewah kereta kudamu, semakin bergaya kau ketika turun dari kereta dengan wajah kusir yang normalnya super menjengkelkan.
Sentuhan yang sempurna diberikan pada kami, anak putrinya raja. Kesederhanaan harus tertanam sejak dini, entah slogan palsunya itu harusnya dicerminkan pada siapa. Pada akhirnya, kami yang dikorbankan, harus menjadi rakyat biasa di antara anak-anak yang mengaku konglomerat. Membuatku jengkel.
Langit terlalu cerah untuk membuat hatiku muram. Ini adalah hari musim panas pertamaku, dan aku tidak boleh menyerah untuk tampil bahagia.
Kami pun berjalan masuk ke dalam gerbang yang disambut dengan tulisan yang diukir di depan batu raksasa di depan bertuliskan nama sekolah kami, ZAMRUD ACADEMY. Keren. Sekolahku dulu tidak ada batu raksasa yang punya tulisan seperti ini.
"Rambut yang bagus, kak. Sepertinya pakai minyak khusus, ya?"
Aku memandang Gabriel sekilas. Wajahnya cantik tanpa cela. Hari ini ia lebih cantik dengan pipinya yang bisa merona dengan alami. Lesung hidungnya lurus, dan bibirnya sesegar buah delima. Dan itu semua terpancar ketika topinya masih terpasang di kepalanya. Kapan aku bisa secantik dirinya?
Bibirku sedikit merengut. "Hmm, yah."
"Aku juga pakai, kak Lili yang memberikannya padaku. Lihat, bersinar, bukan?" Gabriel berkata lagi sambil membuka topinya dan menyibakkan rambutnya. Lurus dan bersinar layaknya emas sungguhan. Aku termangu.
"Rambutmu cantik sekali memang, aku selalu iri." ungkapku sejujur mungkin. Semoga bisa menghentikan aksi Gabriel.
Dari jarak yang lumayan jauh, seseorang menyapa kami. "Gabriel!"
Atau lebih tepatnya, menyambut Gabriel seorang.
Kerumunan menjadi sibuk dalam sekejap. Banyak perempuan yang berkumpul demi memandang kecantikan Gabriel yang bak dewi turun dari surga. Aku turun tangan, segera saja melangkah menyingkir.
"Rambut yang indah sekali. Hari ini kamu memakai minyak rambut dari merek apa?" Salah satu dari mereka datang dengan mata berbinar, yang lain tidak mau kalah. "Apakah itu merek Margareth? Atau merek lokal Zizy?"
Gabriel tidak segera menjawab, sekitarnya penuh dengan anak-anak perempuan bertopi. Hari ini memang panas. Mungkin karena itu, dadaku menjadi semakin sesak.
Aku segera berlari dan masuk ke dalam lorong, menyembunyikan diriku dari balik bayangan matahari. Diam-diam menghela napas panjang dan mengalirkan sesuatu yang seharusnya tidak kutumpahkan. Kemarahan yang tertutup dengan air mata.
Siapa menyangka seseorang menyapaku dalam keadaan yang mengenaskan seperti itu.
"Kamu baik-baik saja?"
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
shirozaki
ayahnya jahad si 🌝
2023-01-16
0
Pucukbiru
waduh kenapa bisa berubah gitu inii
2023-01-15
0