Part 2 - Musim Panas 2

Aku mengusap mataku cepat-cepat. Membiarkan ingusku yang mbeler terusap di lenganku. Mataku tidak langsung mengenali orang yang menyapaku barusan, tapi telingaku mampu.

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

Dari semua orang, aku harus bertemu dengan Fynn yang paling peka sedunia.

"Aku nggak papa." jawabku datar. Sial. Sepertinya senyumanku kembali terselip jauh di dalam hatiku.

Masih belum puas, ia melanjutkan lagi. "Serius?"

Sangat ingin ku berkata tidak, tolol. Namun, kata-kata itu seolah tertinggal di suatu tempat di dalam hatiku, dan aku tidak mau mengeluarkannya. Tidak di tempat seperti ini.

Bel berbunyi, segera saja senyumku bangkit kembali seperti fajar. "Ah, duluan, oke? Sebagai perwakilan sekolah, aku nggak boleh terlambat."

Tidak tahu aku ngomong apa, yang penting semuanya tercerocos begitu saja tiap kali aku selesai terisak. Fynn tampaknya hapal kebiasaan ini, dan melambaikan tangannya padaku.

......................

Kami berdua—bertiga bersama dengan adikku adalah teman masa kecil.

Fynn adalah teman pertama yang kudapatkan saat kecil. Ayahnya adalah kaki tangan raja yang otomatis membuatnya bisa berselancar tanpa dosa di dalam istana kerajaan. Aku tidak pernah peduli dengan keadaan sekitar, tapi tidak dengan hidungku. Dalam sekejap, aku tahu jika ada satu keberadaan tidak diundang yang berkeliaran dalam istana.

Tepat di depan patung-patung ksatria yang terpajang di lantai dua lorong dekat ruang harta, Fynn menampakkan batang hidungnya. Kacamatanya yang bulat masih tetap terpasang di wajahnya sama seperti hari ini.

"Kau... Siapa?"

Suaraku parau dan penuh gemetar. Anak laki-laki seumuranku berdiri di depanku. Matanya yang berwarna hijau zamrud berkilauan, menyambutku dengan hangat.

"Kau anak raja, ya?" Ia berhenti untuk melempar pandangan ke rambutku sekilas. "Atau bukan?"

"Bukan anak siapa-siapa," jawabku pendek. Ayah pernah bilang penculik bisa saja berkolaborasi dengan anak kecil untuk menculik anak raja. "Kau belum jawab pertanyaanku. Kau siapa?"

Ia menunjuk dirinya sendiri kebingungan. "Aku?" Rambut emasnya menarik perhatianku. Aku ingin mencabutnya saja dan menjadikannya milikku. "Oh, ya. Maaf. Aku belum kenalin diri."

Kepalanya pun membungkuk padaku lengkap dengan lengan kanan yang mengepal di depan dada kiri, "Perkenalkan. Namaku Fynn Alexander, putra dari Zack Alexander."

"Oh, ternyata. Kirain siapa."

"Kamu sendiri nggak sopan." Alisnya mulai berkedut, matanya tampak kesal. "Jadi kamu anak raja atau bukan?"

"Namaku itu ya—"

"Kakak!"

Timing yang sangat sempurna. Gabriel akan menjelaskan semua identitasku dengan ciri khas bangsawannya yang lengkap. Tanpa ragu, ia memelukku dari belakang dan melongo melihat bocah laki-laki yang ada di depanku.

"Lho, kak Fynn?" Pertanyaan itu membuat hatiku hampir melompat. "Kamu kenal?"

Gabriel menguraikan pelukannya. "Tentu saja! Kan kita sering main bareng!"

Senyumannya sudah mengalahkan malaikat. Super manis. Dan tentu saja, Fynn yang melihat ini langsung tersipu merah. Mataku tidak pernah salah mengenali perasaan. Ini selalu terjadi pada tiap anak lelaki yang menatap Gabriel.

Perasaan aneh menghujam dadaku. Aku berusaha untuk mengabaikannya.

"Jadi... Kamu kakaknya?" Fynn menggaruk pipinya canggung.

"Emang kenapa?"

"Em, nggak mirip."

Aku nggak bisa membantah. Kami memang tidak mirip dari segi manapun selain gender.

"Aku mirip, kok! Mirip sama kakak!"

"Enggak, kalian nggak mirip."

"Mirip!"

Percakapan tak berguna ini berulang beberapa kali. Aku mulai jenuh.

Entah bagaimana caranya, akhirnya Gabriel menemukan solusi untuk permasalahan tidak pentingnya ini dengan bermain petak umpet. Kami pun bermain bersama. Istana menjadi penjara yang terasa lebar dan menyenangkan hingga sore menjemputnya untuk pulang.

Keesokan harinya, kami juga bermain petak umpet kembali, hingga akhirnya kami terus bersama, dan keduanya terasa bagai harta karun bagiku, harta karun yang terasa sesak ketika kulihat keduanya bersebelahan.

Aku duduk di bangku yang paling dekat dengan jendela, merasakan angin-angin membasuh rambutku dengan kesegaran yang terasa memuakkan. Angin musim panas memang tidak pernah baik hati. Suhu yang mereka berikan selalu terasa nanggung.

Belum banyak anak yang hadir di dalam kelas walau bel sudah berbunyi sedari tadi. Aku mengeluarkan buku sebelum guru melangkah masuk, dan sebuah tangan menampar mejaku keras-keras sebelum aku sempat menoleh.

"Hallo, Barbie."

Ugh. Aku menelan ludah.

Apa dosaku mengundang kedatangan grup Karen, kelompok paling memuakkan yang ada di sekolah? Ditambah, kedatangan geng-geng sisanya sungguh membuatku tidak enak hati. Aku mendecikkan lidah.

"Apa maumu?"

"Sepuluh emas dan kita damai." Tangannya telulur seolah kita bernegoisasi dengan cara yang benar.

Teman-teman di belakangnya terkikik bahagia. Kejadian ini memang sudah jajan mereka sehari-hari. Pemalakan yang tidak masuk akal. Mungkin ini maksud ayah mengapa aku dan Gabriel harus tampil sederhana.

"Aku nggak bawa uang," jawabku sambil memalingkan muka. Wajah mereka sudah cukup menjijikan untuk membuatku mual.

"Nggak usah bohong." Matanya menyala, sudah seperti preman ulung di tepi jalan. "Kami tahu kau bawa uang untuk jajan menu paling mahal di kantin."

Memang hakku untuk memilih makanan paling mahal di kantin. Lagipula, aku punya alergi pada makanan murah, entah apa yang mereka masukkan ke dalamnya. Memang keterbalikkan dari prinsip ayah untuk hidup hemat. Tapi mau bagaimana lagi? Kupikir, aksiku untuk menggaruk-garuk hasil alergi di kantin bukanlah aksi yang indah untuk seengok maskot?

Sial. Aku nggak mau memberikan uangku. Makan sudah suatu keharusan bagiku. Aku juga tidak bisa menghajar mereka di lingkungan sekolah, nilaiku bisa-bisa dikurangi. Padahal nilaiku sudah cukup buruk dalam kehidupanku sehari-hari.

"Tolong, deh." pintaku semelas mungkin. "Aku bener-bener nggak punya uang. Lepasin aku hari ini."

Kikikan mereka lebih keras dari sebelumnya. Karen lanjut berbicara dengan giginya yang runcing seperti rubah. "Kalau begitu, seperti biasa, datang ke toilet perempuan seusai pelajaran. Tahu apa yang bakal terjadi kalau kau abaikan kami, bukan?"

"Iya, pasti, kok." jawabku. Untungnya, guru segera datang dan mereka mendaratkan pantat mereka di atas bangku masing-masing.

Aku sangat ingin menghindar. Tapi jika aku menghindar, Gabriel menjadi taruhannya.

Pelajaran hari ini sama sekali tidak bisa kucerna. Keringat dingin sudah membasahi rambutku. Sejarah vampir lewat saja melewati telingaku, hanya kuingat jika vampir hobi menyerang manusia yang ketakutan.

Tubuhku menggigil. Lebih baik aku diserang vampir saat ini, dibandingkan murid yang dibela mati-matian, oleh ayahku sendiri.

...----------------...

.

Bel istirahat berbunyi, begitu juga dengan bel penghukumanku.

"Ahaha! Lihat ini! Menjijikan sekali!"

Bau pel, jus, makanan busuk, semuanya bercampur menjadi satu, menyelimuti tubuhku dengan semua keburukan yang ada.

Tendangan melayang lagi ke perutku, memperparah rasa laparku. Aku ingin menusukkan pisau-pisauku pada mereka, tapi tidak bisa. Ayah tidak mengizinkan siapapun terluka di sekolah ini, meskipun mereka adalah sosok yang sama dengan orang yang bakal membunuhku.

“Ingat, jangan melakukan apapun yang mencurigakan.”

Jika kau melihat kejadian ini, masihkah ia akan mencurigaiku?

Mikir apa aku, sepertinya aku sudah mulai gila.

Gema tawa memenuhi ruangan. Ruangan ini sudah seperti ruangan iblis yang menghukum manusia yang salah. Kepalaku pusing. Kenapa mereka memilih ini dibandingkan sepuluh keping emas?

"Ah, rambutnya tadi pagi menjijikan banget, mengkilap sudah seperti kereta kuda." Salah satunya menjambak rambutku. Aku tidak boleh melawan. Target selanjutnya Gabriel jika aku melawan. "Ayo kita siram dengan air dingin biasa kali ini. Memandikan setan dimulai!"

Dan air dingin membasuh seluruh tubuhku, menyobek semua perasaan hangatku. Aku sungguh ingin membunuh mereka. Sangat, sangat, sangat.

"Anak bodoh."

Suara ayah bergema di telingaku, memanggil namaku, nama panggilan kesukaannya. Aku membiarkan mereka melakukan sesukanya, dan berakhir seperti tikus got di kamar mandi. Sangat menjijikan hingga mereka yang melakukannya padaku terpaksa menyingkir.

Kesadaranku mengabur ketika bau busuk sudah mengusaiku. Aku harus menyingkir... Aku harus membersihkan semua ini...

Percuma. Semuanya mendadak menjadi gelap.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!