Ibu, entah mengapa selalu membenci Gabriel sejak ia sebesar burung hantu. Padahal tidak ada yang aneh dari anak itu, semua kesempurnaannya membuat ia mudah dicintai banyak orang. Namun, di saat yang sama kesempurnaan itu tampak cacat di mata ibu.
Ibu bukan orang yang sempurna. Semua garis wajahnya menurun padaku. Mungkin itu yang membuat dirinya memiliki perasaan khusus padaku—keterkaitan.
Walau begitu, sesekali ia juga pernah meluangkan pujian pada Gabriel. Saat itu terjadi, hatiku benar-benar pecah.
Karena dari lubuk hatiku terdalam, aku tahu. Satu-satunya yang mencintaiku di dunia ini hanyalah ibu. Satu-satunya orang yang tidak peduli apa warna mataku, bagaimana suraiku bisa segelap malam, ataupun pelajaranku yang seharusnya tertinggal jauh.
Terkadang sempat terlintas jika aku sudah terjangkit penyakit mother complex.
Perlahan, aku melihat punggung ibuku berjalan menjauh dalam kegelapan. Satu-satunya lentera di bawa ibu, tetapi ia tidak berangsur mendekat dan terus melangkah, tidak melirik ke belakang sedikitpun.
Kakiku gemetar, aku melawannya sekuat tenaga dan berlari ke arah ibuku, dalam kegelapan tanpa bintang lain. Aku terus berlari, dan kegelapan terus menelanku hingga aku tenggelam dalam lautan hitam yang memaksaku untuk memekik.
......................
.
"Ibu!"
Tanpa sadar, aku mengulurkan tangan ke arah langit-langit yang tidak kukenal. Seorang perempuan dengan pakaian perawat bebarengan muncul di depan pandanganku. "Oh, kamu sudah bangun?"
Wajahku memanas. Apakah ia mendengar aku memanggil ibu barusan?
Aku bangkit dan memposisikan diri dalam duduk ternyaman. Memakai selimut saat musim panas bukanlah pilihan terbaik, dan membuat amukan musim panas menggigit tiap bagian kulitku.
Aku membuka selimut. Pakaianku berganti menjadi jersey dan celana olahraga panjang. Bukan milikku. Seseorang mengganti pakaianku. Apa UKS punya seragam khusus untuk siswanya?
"Kamu sebelumnya pingsan, ya? Ada anak laki-laki yang membawamu sebelumnya." Setelah ia menyelesaikan kalimatnya, ia menambahkan lagi dengan cepat. "Ah, tenang saja. Yang mengganti pakaianmu itu aku."
Aku bernapas lega.
"Tapi anak laki-laki itu juga yang meminjamkan pakaiannya."
"Tu—Kenapa bisa? Siapa orangnya?" Aku sontak mengeluarkan nada yang aneh, marah bercampur malu. Siapa anak laki-laki yang rela meminjamkan pakaiannya yang bersih pada tikus got sepertiku sebelumnya?
"Sebentar lagi dia juga datang, kok. Oh, itu dia anaknya."
Aku gatal ingin memuji kemampuan orang ini dalam mengamati langkah kaki orang. Padahal kami berada di dalam tirai ruang UKS, tapi ia tahu jika yang membawaku tadi dengan orang yang datang ini adalah sosok yang sama.
Tirai dibuka, membuatku terkesiap.
"Sudah kukira ada yang aneh, ternyata kamu memang dibully, ya?"
Ya. Pengguna kacamata bulat dan mata hijau ini tidak salah lagi, Fynn. Aku setengah lega karena yang menolongku adalah dirinya sehingga aku tidak perlu membalasnya macam-macam.
Masalahnya, topik yang dibawanya inilah yang berat.
"Katakan, Barbie. Siapa yang melakukan ini?"
Perawat tadi beralih ruangan, membiarkan kami berbicara empat mata. Aku mengeraskan buku-buku lenganku sampai memutih. Jika kubilang, apakah solusinya akan muncul? Atau malah semuanya akan menjadi buruk?
Sudahlah, lagipula kita tidak sejauh itu. Ia pasti bisa mengerti jika kubilang pelakunya.
Aku mengelap keringat. Bibirku terasa kelu. "...Anak kelasku." Akhirnya aku menjawab.
"Siapa?"
Aku menelan ludah. Mengucap namanya sudah terasa seperti mengunyah pil pahit. "Karen..." gumanku sebisa mungkin, "... Dan gengnya."
Fynn mencoba memahami ucapanku sedikit demi sedikit. Aku yakin ia meragukan ucapanku. Pasalnya, Karen adalah anak yang memiliki nilai paling unggul di sekolah, ditambah, parasnya rupawan. Siapa yang berani membuktikan bahwa dirinya ternyata adalah perundung?
Jika mereka butuh kambing hitam, maka akulah orangnya. Aku sangat cocok untuk menjadi pelaku kejahatan apapun, sampai-sampai ayahku sendiri mencurigai aku melakukan hal yang aneh-aneh.
Fynn meletakkan tangannya di bawah dagu. "Oke. Baiklah. Tapi, memangnya apa yang kau lakukan hingga mereka bisa seperti itu?"
"Itu..."
......................
Kejadiannya setahun lalu. Karen mengaku jika dirinya menemukan cowok paling ganteng di sekolah ini dan menyebutkan nama Fynn.
"Tapi, kau tahu nggak, sih? Di dekatnya itu selalu ada cewek namanya Gabriel?" Salah satu temannya mengeluh.
"Ah, iya. Cewek gatel. Semua cowok didekatinya."
Aku nggak setuju dengan opini itu. Cowok-cowok yang seenaknya mendekat pada Gabriel seperti untaian lebah pada bunga mawar.
"Kalau begitu, keroyok di toilet. Siapa setuju?"
Tiba-tiba Karen memulai voting seenaknya dengan topik yang nyeleneh. Semua temannya mengangkat tangan kegirangan sambil tertawa mirip tikus kelaparan. Aku tidak bisa ambil diam.
Apapun yang terjadi, Gabriel tidak boleh kotor, lain dengan namaku. Jika itu benar-benar terjadi, aku tidak tahu akan masa depannya nanti, karena mentalnya super lemah.
"Tunggu." kataku memecah perhatian mereka semua yang duduk di atas kursi. "Jangan pernah kalian mengganggu Gabriel."
Mereka semua tertawa dan melihatku dengan pandangan mengkritik. "Oh, bukannya ini Barbie? Anak haram raja?"
"Kau, jaga mulutmu!" Aku menggeram, tapi ia sama sekali tidak takut.
"Aku dengar nilaimu benar-benar buruk di bagian apapun. Kau bahkan tidak pernah ikut kelas dengan baik dan seringkali membolos. Aku benar, kan?"
Tiap kata yang keluar dari mulutnya mengiris perasaanku setajam silet. Perlahan, kecil, dan lebih perih. Semakin menusuk ketika aku tidak bisa menyangkalnya.
"Kalau begitu, bagaimana tiap istirahat kau berikan kami sepuluh keping emas? Dengan begitu, aku tidak akan menganggu Gabriel."
Dengan polosnya, aku memberikan uang itu, dan parahnya mereka tetap mengincar Gabriel, di depanku. Depan telingaku. Mereka pun mulai memukulku di kamar mandi jika aku tidak membawa uang. Lalu, entah bagaimana caranya tiap harinya aku diharuskan membawa uang dan menerima hukuman.
Peristiwa ini pun terus terulang, dan mereka mengulang aksinya tanpa rasa bersalah, rasa penyesalan, yang tersisa tiap akhir sesi dari kegiatan mereka adalah: kepuasan dan keputusasaan dari diriku.
Aku pernah sekali menyerang mereka, dan tahu apa yang terjadi? Aku yang diskors! Benar-benar fantastis! Kepribadian psikopat mereka memang sangat terlatih. Oleh sebab itu, aku tidak punya jalan lain selain menuruti mereka.
...----------------...
"Kenapa, Barbie? Katakan saja. Aku akan mendengarkan."
Fynn meremas tanganku hangat. Aku bisa merasakan ketulusan dari tangannya yang selalu membuatku merasa kembali ke rumah, rumah maya yang seribu kali lebih nyaman dari rumah asliku.
Namun, cerita itu terkubur jauh di dalam kerongkonganku. Menolak keluar apapun yang terjadi. Aku menggigit bibir, tentunya mencari pembicaraan lain.
"Entahlah," kataku murung. "Selalu begitu, bukan? Cewek seperti mereka tiba-tiba datang dan menyiksamu dengan cara yang katanya ringan, tanpa alasan."
Mata Fynn menatapku dalam agak lama, mencari-cari jawaban pada mataku yang tampaknya terselip kebohongan. Aku berkata sejujurnya, alasan mereka hendak menyerang Gabriel sangatlah abstrak. Semoga saja ia memakluminya.
Jam pelajaran berbunyi lagi, memecah situasi tenang antara kami berdua. Fynn membuka remasan tangannya, dan mulai mengacak rambutku.
"Istirahat yang cukup, Barbie. Nanti akan kuantar ke gerbang supaya kau aman, oke?"
Aku tidak butuh pengawalan pria, sebenarnya. Aku bisa membunuh mereka dengan cepat.
Namun, tindakan Fynn yang mengacak rambutku rupanya tidak hanya mengacak perasaanku, tapi juga logikaku.
Mendadak aku membatin, keadaan ini tidak buruk juga.
"Terima kasih."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Pucukbiru
ih jahat amat omongannya :((
2023-01-15
0