Seusai sekolah, Fynn mengantarku ke gerbang sekolah sesuai janji sebelumnya. Berkat itu, sama sekali tidak kutemukan batang hidung Karen dan kawan-kawannya. Aku bernapas lega.
“Kakak, baik-baik saja?” Gabriel bertanya selagi memandang baju olahragaku. Pakaian ini memang mengundang banyak pertanyaan, tapi Gabriel tidak menanya satupun pertanyaan. Aku sedikit berterima kasih padanya.
Bebas dari teman-teman yang mengaguminya sepertinya super berat bagi Gabriel. Buktinya, ia memerlukan waktu setengah jam hingga akhirnya bergabung bersama kami untuk pulang. Apa sekiranya yang sebenarnya mereka bicarakan?
“Aku baik-baik saja, sungguh.”
Keduanya menatapku tidak yakin. Namun, aku sudah tidak berniat untuk menjawab atau menanggapi lebih lanjut. Kubiarkan langkah kami sunyi dalam kecanggunggan. Aku tidak mau kekhawatiran ini berbelok menjadi masalah yang lebih besar.
Awan menutup semua bagian biru di langit. Baru awal musim panas, hujan sudah mau tumpah. Kami semua melangkah dengan langkah cepat. Di negeri ini, tidak hanya hujan yang akan menganggumu ketika mendung. Bakal ada sesuatu yang lebih mengerikan. Vampir.
......................
Esok datang merobek waktu tidurku. Tidak seperti biasanya, ayah tiba untuk sarapan bersama kami. Kejanggalan ini untungnya tidak menganggu waktu makanku. Sebelum ia menemukanku sampai di depan gerbang kastil, namaku disebut.
“Kenapa, yah?” ucapku sedatar mungkin.
Ayah, yang selama hidupnya tidak pernah menemaniku makan maupun belajar tiba-tiba datang di pagi hariku yang tenang ini bukanlah pertanda yang menyenangkan. Aku menunggunnya berbicara. Namun, pada akhirnya, ia mengurungkan niatannya.
“Belajar yang benar.”
Gabriel yang berada di sebelahku tertawa, kuharap sekedar formalitas.
“Kami berangkat, yah!” Gabriel pamit dengan ceria. Aku cuma mengangguk canggung.
Untuk pertama kalinya, ayah tersenyum dan melambai pada kami. Bulu kudukku meremang. Langsung saja aku berbalik badan dan menaiki kereta kuda. Matahari sudah melumbung tinggi, aku tidak salah lihat. Ia masih melambai pada kami dengan bibir tersungging ke atas.
Apa? Apa?
Keringatku mengalir. Bukan ini seharusnya yang terjadi.
Apa yang dia rencanakan kali ini?
......................
Sesampainya di sekolah, aku berpisah dengan Gabriel sesaat ia dikerubung oleh massa. Terkadang aku bisa merasakan tatapan aneh dari mereka semua, terutama yang benar-benar dekat dengan adikku itu. Rasa kecurigaan terkadang muncul di benakku tanpa bisa kukontrol.
Depan kelas ramai dikerubung oleh murid-murid yang saling berbisik. Aku mencoba membelah masuk. Beberapa di antara mereka menatapku dengan tatapan yang beragam; kasihan, syok, dan risih. Dan kutemukan apa penyebabnya: Mejaku.
Buah tomat yang penyok dicoret-coretkan di atas meja kayuku yang bersih. IKUT KAMI SEKARANG JUGA. Tulisan itu kuusap sedikit. Lengket dan berbau busuk. Pasti susah menghapusnya jika begini.
Karen dan gengnya menatapku dengan geram. Ekor mata anak-anak seolah menggiringku ke sana, memintaku untuk menyelesaikan masalah ini sekarang juga. Sudah banyak dari mereka tahu jika aku dirundung oleh mereka. Namun, tidak ada yang berani menolongku. Aku tahu. Aku tahu aku ini putri raja, tapi tahukah mereka aku tidak punya kebebasan berpendapat di keluargaku sendiri?
Salah satu dari mereka mengenggam tanganku ketika kakiku sudah berada di depan daun pintu. “Kau harusnya melawan, tahu!” ucapnya geram, setengah gemetar. “Dengan begitu, mereka bakal tau kalau mem-bully itu perbuatan yang salah—”
“Makasih,” potongku sesopan mungkin dan segera menyingkir.
Sayup-sayup, aku bisa menangkap pembicaraaan anak-anak yang menyebutkan namaku. “Kelakuannya pas dibela saja seperti itu, pantas dia kena karma!”
Ingin kurobek mulut mereka. Sekarang juga.
......................
Sekolah kami punya hutan khusus yang terletak di belakang gedung. Hutan yang sebenarnya merupakan tempat angker, diseting menjadi tempat latihan khusus untuk anak-anak klub memanah dan berkemah. Dan, ada satu hal lagi yang bisa digunakan dalam hutan ini dengan semaksimal mungkin.
Menyamsak orang.
“Puas, kau, huh?” Satu tendangan sampai pada wajahku hingga membuatku tersungkur. Sepatunya bootnya benar-benar keras. Aku tidak yakin ia menggunakannya hanya untuk berjalan.
Karen menyodorkan kertas yang kukenal. “Aku dengar kau melaporkan ke ruang guru tentang kelakuanku kemarin.” Akhirnya kini ia mengaku dan mendekatkan tatapannya ke wajahku. “Berkat kau, aku dapat hukuman dari papa!”
Teman-teman lainnya juga ikut menendang punggungku, membuatku hampir memuntahkan sarapanku. Cemooh datang bergiliran, tidak membiarkan mentalku tetap tenang. Darahku memanas. Aku tidak lemah. Aku bisa melawan mereka. Aku bisa membunuh mereka.
Tapi aku tidak bisa mengotori namaku sendiri, apapun taruhannya. Jika tidak, ayahku yang akan lebih menodainya. Lebih baik mati daripada hal tersebut terjadi.
“Hei, anak ini… sudah mau pingsan.” Keringat mengalir dari dahinya. Ia khawatir melihatku yang sudah mulai linglung.
Karen menyeringai. “Oh, bagus! Kenapa kita tidak bunuh sekalian saja?”
“Karen! Kau gila!”
“Tidak ada yang tahu jika kita membuatnya pingsan di sini!”
Langit sudah segelap pandanganku. Mereka pun berlari. Bel masuk sekolah mengiringi langkah mereka. Tenggorokanku terlalu perih untuk mengucapkan kata tunggu. Badanku mati rasa, dan sekarang menggigil karena terkena air hujan yang mendadak tumpah dari awan.
Sial. Apa ada satu hari saja aku bisa menikmati sekolah dengan santai?
"Agh..."
Kesadaranku sudah mulai memudar. Siapa yang peduli dengan langit gelap sekarang? Aku sungguh ingin tidur, untuk selamanya.
Setengah sadar, aku melihat warna ungu yang sama dengan yang kulihat kemarin. Melihatku dalam, menutup wajahku dari hujan.
“Anak yang malang,” bisiknya, berjongkok di depanku sudah cukup untuk memastikan mataku bahwa ia laki-laki. “kenapa kau tidak melawan?”
Mungkin sekarang aku sudah dalam dunia mimpi. Entahlah. Aku penasaran, apakah warna ungu matanya memang nyata? Adakah warna yang bisa menghisapku dalam untuk menatapnya lekat-lekat lagi?
“Aku tidak mau melukai adikku, kau tahu?”
“Walau adikmu itu sebenarnya menipumu selama ini?”
Hujan semakin deras. Pandanganku semakin buram. “Jangan bilang begitu. Semua orang sering bilang begitu, tapi aku tidak percaya.”
“Kau bukannya tidak percaya. Kau tidak mau percaya.”
Jika bisa berdiri, aku sudah memukulnya sekarang.
“Apa maumu?”
“Tidak ada. Melihat potensi dalam dirimu membuatku kemari.” katanya.
Ia pun mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah liontin. Sebiru lautan, penuh perasaan kesepian. Warnanya punya cara yang sama untuk menarikku memandangnya, sama seperti matanya.
“Akan kuberikan ini. Dengan ini, aku harap kau bisa menjadi dirimu sendiri.”
Hujan turun semakin deras. Kesadaranku perlahan lenyap ditelan suara gemericik hujan. Ia pun berjalan semakin jauh dariku, tidak menolong, tapi juga tidak berbuat jahat padaku. Siapa dia?
......................
“Fynn! Kau harus menghentikan Barbie! Kau dekat dengannya, bukan?!”
“Menghentikannya? Dari apa?”
“Barbie sudah gila! Ia mau membunuh Karen!”
Fynn yang sibuk dengan bukunya meninggalkan bacannya dan berlari menuju lorong kelas yang mengarah pada lorong 2-1. Barbie yang mengalah, bermata suram dan suka tersenyum canggung sudah tidak ditemuinya lagi hari ini.
Ia sudah berubah menjadi binatang buas. Monster.
"Kalian semua! Kenapa diam saja? Kalian juga terlibat!"
Di tengah suara pukulan dan benturan kepala berkali-kali, Karen tidak menyangka tidak ada yang menyanggupi permintaannya.
Walaupun ia sudah mengeluarkan air mata yang diharapkan Barbie selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments