Part 13 - Calvin

Setengah tersadar, aku merasa seorang malaikat akhirnya datang mencabut nyawaku. Tapi malaikat itu tersenyum manis sekali padaku.

Saat kukira aku masih berhalusinasi, sosok itu masih tersenyum padaku, hingga aku hampir menganggap kejadian ini mimpi jika saja rasa sakit tidak mencubitku sedikit demi sedikit.

Oh, apa yang kuharapkan. Tentu saja jika yang ada di depanku ini bukan manusia, pasti jelas vampir.

Tentunya, aku tidak ambil diam. Kuambil ancang-ancang dan kucekik lehernya, mengunci pergerakannya tepat di atas tumpukan salju (sebelumnya ia sempat berteriak, "Hei, apa yang kamu lakukan?" tapi sama sekali tidak kukubris.), membuat para burung yang bermain memilih untuk menyingkir terbang.

Tubuhnya terhantam dengan suara yang mantap tanpa perlawanan. Ia baru menceletuk setelah melihatku beraksi. "Sepertinya benar apa yang dikatakan Mika, ya? Perempuan ini memang sudah benar-benar gila..."

Aku mempererat kuncianku tadi, rintihannya semakin meninggi, dan aku semakin terasa puas. Namun, melihat paras cantiknya tersakiti, entah kenapa dadaku jadi agak sakit.

"Siapa kau?"

Laki-laki itu menggeram, mata birunya sudah ternoda oleh kekesalan. "Oh, bisakah kita duduk biasa dulu dan berbincang? Kalian para manusia memang nggak pernah diajar tata krama, ya?"

Perasaanku mengatakan dirinya lebih lemah dibandingkan Ella, jadi aku melepaskan tanganku dari tubuhnya. Laki-laki itu mengibaskan rompinya seolah baru saja masuk ke dalam kambing domba yang kotor.

Oh, ya. Aku tidak memperhatikannya sebelumnya. Pakaiannya ternyata sama mewah dengan pakaian Ella semalam. Sudah jelas pasti jika ia merupakan anak bangsawan.

Hanya saja... Dia bukan vampir jika tidak berambut putih. Ini membuatku agak bingung.

Setelah ia selesai membersihkan dirinya dan bangkit, kami berdiri berhadapan, membuat dirinya canggung dengan berdeham dan mengambil langkah mundur. Kami pun berdiri berhadapan agak jauh sekarang.

Jika aku bandingkan dengan Ella, tinggi badan mereka tentu berbanding jauh. Ella seorang vampir yang jangkung, dan aku yakin banyak perempuan yang bisa dengan mudah tergaet dengan pesonanya, ditambah dengan parasnya yang tampan dan suara seraknya yang menarik. Namun, laki-laki di depanku ini juga tidak kalah menarik, terutama senyumannya. Dia pasti juga tidak kalah populer.

"Nah, biarkan aku memperkenalkan diriku," katanya sambil meletakkan tangannya di depan dada kiri lalu membungkuk. "Namaku Calvin, adik sepupu dari Mikaela. Aku harap kita bisa akrab."

Maniknya yang seindah angkasa bersinar bersamaan dengan bangkitnya fajar. Begitu cantik dan manis.

Belum sempat aku bereaksi, seorang pelayan perempuan mendekati kami sambil membawa keranjang yang super besar. "Nona Barbie! Sudah kuduga nona akan pergi dari kamar seenaknya!"

Seruannya mendadak berhenti ketika matanya berpandangan dengan Calvin. Keranjang pakaiannya hampir saja jatuh, dan dengan sigap Calvin menangkapnya.

"Ah, kamu nggak papa?"

Betty mendadak gagap, "Pa-pangeran Calvin! Ke-kenapa anda di sini?"

"Ah, ya. Aku ada urusan dengan Barbie sedikit," kata Calvin tidak lupa dengan senyuman. Serangannya sangat ampuh terhadap pelayan seperti Betty.

Betty meletakkan keranjang raksasanya dan memainkan rambutnya gusar. "Ah, tapi kalau begitu..."

Aku melipat tangan di depan dada. "Memangnya kita ada urusan?" potongku cepat. Aku tidak yakin Betty bisa berbicara lebih cepat dari sekarang.

"Tentu saja, ini mengenai pertunanganmu. Akan ada pengumuman mengejutkan ketika kau datang ke ruang makan nanti."

Mataku mengedip beberapa kali. "Pengumuman?"

"Yeah, ini menentukan apakah kau berniat melanjutkan pertunangan ini atau tidak—ups, aku mengatakannya." Calvin meletakkan tangannya di depan bibir dengan sok panik.

Sebuah pengumuman? Ella pasti sengaja tidak memberitahuku supaya aku tidak datang dan keadaan terus runyam. Jujur saja, sampai sekarang aku tidak mengerti apa yang ada di kepalanya. Pasti otak sok rasionalnya berkata aku hanyalah sekedar bidak yang bisa dipakai dan dibuang saja.

"Kenapa kau memberitahukan ini padaku?" tanyaku lagi.

"Tentu saja karena aku juga salah satu orang yang tertarik padamu, Barbie. Menurutku, jika kau ingin membatalkan pertunanganmu, lebih cepat lebih baik dihadapi di depanmu sendiri, bukan?"

"Kau ada benarnya." Aku tersenyum. "Tapi asal kau tahu saja, aku tidak akan membatalkan pertunangan ini. Aku yang akan menghentikan perburuan pangeran vampir pada manusia. Untuk itu..."

Bibir Calvin menyimpulkan senyuman yang lebar hingga membuatku berhenti berucap. "Baiklah. Terserahmu. Kita lihat saja nanti."

Aku menyeringai. Memang benar apa yang dikatakannya, kita lihat saja nanti.

"Nona, mungkin sekarang saatnya masuk. Kulitku sudah mulai..."

Kulit Betty tiba-tiba hendak mengelupas seperti sirip ikan kering. Efek sinar matahari. Aku mengerling pada Calvin, "Aku juga setuju. Aku sendiri butuh mandi," katanya.

Tapi aku tidak melihat kulitnya mengelupas sama sekali.

Kami bertiga pun melangkah masuk kembali ke dalam kastil. Para pelayan banyak yang berteriak histeris saat ujung hidung Calvin terlihat dari kejauhan. Aku yang tidak menyukai situasi ini menarik tangan Betty dengan cepat untuk segera masuk ke dalam kamar di lantai atas. Ia pun segera bersiap untuk membersihkan badanku (dengan mengomel sedikit karena aku mengambil waktunya dengan Calvin).

Di luar dugaan, Betty mengganti perbanku dan membersihkan badanku lebih lembut dari kemarin. Luka yang menganga di depan dadaku lucunya sudah mulai mengering. Walau begitu, rasa sakitnya masih tetap menyiksa batinku perlahan demi perlahan. Aku mencoba tenang dan menganggap rasa sakit ini cuma sekedar halusinasiku semata.

......................

"Wah, kau lebih baik dari sebelumnya," komentar Calvin, tangannya menempel di dagunya seolah-olah siap meneliti tiap bagian penampilanku. "Kau memang suka warna biru, ya? Seingatku gaunmu barusan juga berwarna biru."

"Entah. Betty yang memberikan pakaian ini padaku. Lagian, aku nggak punya warna favorit." Aku memainkan rambutku sepanjang bahu yang masih setengah basah. Rasanya kepalaku setengah sakit terkena air hangat yang tidak segera dikeringkan di rambut.

"Oh, maafkan aku. Sepertinya hidup sebagai manusia sangat membosankan sampai kau tidak punya warna favorit." timpal Calvin sesopan mungkin.

Bola mataku berputar. "Sudahlah."

Kami pun berjalan melewati lorong-lorong kastil yang berjendelakan kaca raksasa setinggi dua meter. Sinar keemasan matahari yang masuk lewat jendela membuat pandanganku silau. Aku menutup mata dengan lenganku.

Dari luar jendela, pohon-pohon sudah mulai memamerkan daunnya dibantu dengan sinar matahari yang keemasan. Musim dingin masih bergemuruh. Bermain salju bukan pilihan yang tepat.

"Oh, soal tadi. Bagaimana kalau kau pertimbangkan perkataanku?" Pertanyaan Calvin membuat lamunanku buyar, aku mengerling padanya sambil mengernyitkan dahi.

"Sepertinya kau salah paham tentang satu hal," jawabku datar. "Kami tunangan bukan karena saling membutuhkan atau saling mencintai. Jadi tentu nggak akan mudah untuk mengajakku membatalkan pernikahan ini."

"Aku tahu, kau sudah bilang tadi. Ini semua demi kaummu, bukan?" Calvin memelankan langkahnya agar sejajar denganku. "Sudah rahasia umum kalau pernikahan antara manusia dengan vampir tidak ada yang berawal atas nama cinta."

Masih belum puas, Calvin melanjutkan promosi mengenai dirinya lagi. "Aku bisa menyembuhkanmu, bisa memberimu perhatian lebih, kurang apalagi?"

"Kalau begitu saja, bukannya Ella juga bisa?" sergahku jengkel.

Calvin mendecih. "Kau menyamakan diriku ini dengan dirinya? Oh! Jelas saja kami berdua berbeda! Kelasku sebagai vampir lebih tinggi dibanding dia!"

"Kalau begitu," kataku tajam, "Sebenarnya kau ini apa? Kenapa perawakanmu beda dengan vampir murni?"

Calvin menyimpulkan senyuman di bibirnya yang merekah bagai delima. Tidak menjawab dan terus melangkah sejajar denganku. Aku ikut terdiam.

......................

Setibanya di ruang makan, berbagai hidangan disiapkan di atas meja. Kalkun, sapi panggang, buah-buahan, dessert, anggur, semuanya berbaris rapi di tiap depan kursi yang mungkin jumlahnya belasan.

Sudah ada beberapa vampir yang duduk di meja makan, dan tentu saja, tidak ada satupun wajah yang kukenal. Tiap-tiap mata merah mereka mengikuti pergerakanku dengan tajam, seolah aku ini penjahat nomor satu di kerajaan.

Aku yang tidak nyaman memilih untuk duduk di kursi yang paling pojok, tepat di sebelah Calvin berada. Calvin yang mengetahui aku duduk di sebelahnya sudah ge-er, dan aku berusaha untuk tidak memperhatikannya dengan memainkan rambutku.

Selang beberapa saat, para pelayan membawa makanan lagi seolah belum puas dengan hidangan yang ada. Dan di saat yang sama aku melihat Ella melangkah.

Dan ia tidak sendirian.

Georgia yang tampak kasmaran dengan wajah Ella merangkul tangannya dengan mesra. Matanya sama sekali tidak beralih dari Ella hingga mereka berdua hampir sampai di meja makan. Kebahagiannya surut ketika manik merahnya berpas-pasan denganku.

"A-aah! ...Manusia ini lagi!"

Aku cuma bisa tersenyum tipis.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!