Tidak ada bunyi langkah berderap maupun seruan pertanda pesta masih dimulai. Semuanya mendadak membisu. Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, dan seperti yang kuduga, dinginnya hampir membunuhku. Mikaela menutup jendela seolah tahu aku mulai menggigil.
Sekarang kami benar-benar tinggal berdua. Seorang vampir dan manusia. Sudah bisa ditebak siapa yang menjadi pemburu dan mangsa. Mataku yang sudah berniat terlelap kembali fokus, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Tangan Mikaela sudah seperti salju di musim dingin, tapi permukaan telapak tangannya lebih halus dibandingkan kain sutra manapun. Bahkan jika dibandingkan, kulitnya seribu kali lebih cantik dibandingkan diriku. Tak kusadari keringat mulai merembes hingga ke telapak tanganku. Napasku mulai tidak beraturan. Jika memang ia hendak meminum darahku, dengan cara apa ia mengambilnya?
Perutku sudah cukup mual tanpa membayangkannya. Apa aku akan berakhir kehabisan darah seperti yang diceritakan orang-orang? Apa aku akan masuk dalam daftar perempuan yang menjadi korban vampir?
Aku menampar pipi sebelahku hingga memerah. Tampaknya hal itu membuat Mikaela ikut terkejut. "Apa yang kau lakukan?"
Oke, untuk sekarang aku harus berpikir rasional. Jangan takut.
Matanya kembali bersinar ketika aku menepis tangannya. "Begini, jika dianalogikan... Bagaimana jika seseorang meminta tanganmu, begitu? Memangnya kau akan memberikannya dengan cuma-cuma?"
Mikaela memutar bola matanya. "Jadi, lagi-lagi kau menginginkan imbalan, ya?"
Kepalaku mengangguk. "Lagian, cita-citaku itu membunuhmu. Kenapa aku harus memberikan darahmu disini?" kataku sambil mengangkat bahu dan memejamkan mata.
Aku merasa ucapanku barusan terdengar sangat keren. Mungkin saja ia akan menepati ucapanku.
Dalam beberapa detik ruangan menjadi sunyi. Kesunyian itu buyar saat ia membersihkan bibir dengan lidahnya. Aku memejamkan mata dan berpaling ke arah lain. Lalu, ia pun mengeluarkan suara tawa yang begitu renyah.
"Ternyata kau memang nggak bisa dibohongi, ya?" Mikaela tertawa begitu manis, layaknya anak kecil yang baru saja dibelikan boneka kesukaannya.
"Iya, iya. Ini semua palsu. Mana mungkin vampir selemah itu menghadapi satu serangan temannya?"
"Hah?" Otomatis bibirku menggangga.
"Ha?" Mulutnya ikut berbunyi diikuti dengan aku yang memalingkan wajah.
"Bukan apa-apa," jawabku tenang.
Jadi dari tadi itu cuma akting? Sejauh mana? Padahal ia benar-benar tersiksa sebelumnya. Bahkan berdiri saja tampaknya bisa membunuhnya. Sekarang... Ia benar-benar sehat seratus persen.
Melihatku panik dengan diriku sendiri, Mikaela meletakkan tangannya di bawah dagu. "Apa? Kau mengira aku sungguhan kesakita--"
Sebuah bantal melayang tepat ke kepalanya, sayangnya ia berhasil menghindarinya dengan santai.
"Ah, aku lupa. Harusnya kau kuberi daging ular busuk saja kesini! Dengan begitu kau pasti tidak bakal menderita!"
"Aduh, pintar sekali perempuan ini, pemikirannya seluas bayi," balas Mikaela sok memuji. "Sebagai hadiahnya, bagaimana jika makanmu besok adalah tikus panggang? Kupastikan kepintaranmu akan naik."
Sudah hendak kulemparkan saja semua yang ada di sekitarku. Mengingat efeknya yang tidak bagus-bagus amat, aku memilih untuk melihat diriku sendiri saja. Entah kenapa tiba-tiba firasatku buruk.
Aku meraba seluruh permukaan tubuhku, rasa sakitnya mulai membakar perlahan-lahan tiap lapisan kulitku. Mataku mulai menyipit kesakitan. Aku mulai menyentuh tengkuk leherku dan akhirnya kusadari apa yang hilang.
Liontinku!
Seolah membaca pikiranku, Mikaela mulai berbicara lagi. "Kau mencari ini?" tanyanya sambil mengeluarkan kalung biruku yang menyala.
Kilauannya yang sewarna biru laut bermandikan cahaya bulan membuat emosiku memuncak. Tanganku dengan cepat bergerak otomatis untuk meraihnya, tapi rasa sakit di dadaku kembali kumat. Aku langsung meringis kesakitan.
"Ke... Kembalikan!" pekikku dengan napas yang tidak beraturan.
Mikaela membalas dengan menjulurkan lidahnya. Lengannya dinaikkan seiring aku berusaha meraih kembali liontin yang dibawanya. "Ih, enak saja. Urus dulu keadaanmu. Lihat, kau bahkan masih gemetar hanya untuk duduk."
Hatiku serasa dihujam batu ketika ia tidak mau memberikan kembali liontin itu. Walau begitu, ucapannya benar. Akulah mangsanya disini. Dan seorang mangsa haruslah menurut pada pemburunya demi sebuah nyawa kecil yang mungkin tidak ada artinya bagi si pemburu.
Mikaela tampak sedih. "Yah, jangan pasang muka seram seperti itu. Suatu saat akan aku kembalikan."
"Suatu saat katamu?" Nadaku meninggi. "Tidak! kembalikan sekarang juga!"
Mikaela tersenyum lebar. "Kalau begitu bagaimana jika begini? Kalau kau menjadi anak baik di sisiku, aku akan mengembalikannya. Tapi jika kau buat onar..." Tangannya memperagakan cengkraman yang kuat. "Tahu maksudku, kan?"
Aku tidak setuju. Aku tidak pernah setuju. Tapi, jika taruhannya kalung itu, aku... Aku harus setuju.
"Anak baik. Malam ini aku tidak akan meminta darahmu. Tapi sebagai gantinya, kau harus menuruti perintahku, oke?"
"Oke," jawabku datar.
"Bagaimana jika kita mulai dari nama panggilan? Barbie sepertinya kurang bagus untuk nama pendamping pangeran vampir." usulnya dengan acak. Aku sudah terlalu pusing hanya untuk memandangnya sehingga aku tidak menjawab. "Benar juga, bagaimana kalau babi?"
"Kau gila." Kepalaku sudah diujung kesakitan.
Mikaela mencengkram kuat kalungku lagi di depannya. Aku menjawab cepat. "Terserahmu."
"Nah, begitu, dong. Mulai sekarang namamu adalah babi." Sialan, candaannya sama sekali tidak lucu. "Bagaimana kalau kau memikirkan nama yang baik untukku juga?"
Aku terdiam agak lama memikirkan nama yang jelek untuknya. Tidak muncul juga nama jelek itu. Akhirnya, setelah menentukan dari puluhan nama teman manusia yang pernah kukenal dan kuanggap paling tidak bagus, sebuah nama perempuan muncul di kepalaku.
"Ella."
Alis Mikaela berjingkit. "Hah? Bisa kau ulang nama kerenku?"
"Kubilang Ella."
"Namanya seperti perempuan. Ganti."
"Aku tidak bisa memikirkan nama lain."
Setelah berpikir agak lama, Mikaela menganggap nama itu bagus-bagus saja. "Ella, ella. Yah, sebenarnya nggak buruk, cuma terlalu feminim tapi nggak masalah. Aduh, lupa lagi aku kalau si babi—maksudku, babi ini manusia."
Dalam hitungan kelima, aku yakin kesadaranku akan menghilang. Aku sudah seperti hendak melayang ke nirwana.
Melihatku yang sudah berusaha keras untuk membuka mata, Mikaela menghembuskan napasnya panjang. "Ya sudah, tidurlah untuk malam ini. Masih banyak yang akan kuurus. Selamat tidur, Ba---"
Entah Barbie atau babi yang diucapkannya, aku sudah tenggelam dalam alam tidur di luar kemauanku. Rasa sakitku semakin menghilang seiring mimpi berjalan, dan untuk sekian lama, mimpiku berubah menjadi bunga tidur indah yang tidak pernah kualami di umur 16 tahun ini.
......................
Sebelum fajar tiba, aku kembali terbangun di dalam kamarku. Tidak ada seorang pun di dalam. Sekelebat pikiran muncul di kepalaku untuk menghirup angin di luar. Maka kuambil mantel untuk menutupi wajahku dan berganti pakaian hanya dengan celana panjang dan atasan, aku pun meluncur ke bawah setelahnya.
Berhasil melewati berbagai lorong, aku terus beberapa kali menyelinap di balik tiang tinggi untuk bersembunyi dari para pelayan. Perjuanganku akhirnya terasa setelah aku mencapai pintu masuk depan. Di saat pintu raksasa masih terbuka lebar, aku mempercepat langkahku tanpa disadari siapapun.
Segera saja angin berhembus kencang ketika aku mencari tempat untuk duduk di atas padang rumput. Buru-buru kutarik kembali mantel tersebut. Samping kiri dan samping kananku aman. Aku bernapas lega. Sendiri di padang rumput rasanya seperti mencicipi surga pribadi.
"Hei, apa yang kau lakukan disini?"
Suara itu mengejutkanku lebih dari apapun. Asalnya dari belakang. Aku mengerling, dan seorang pemuda yang rupawan tersenyum kepadaku.
"Barbie?"
Ia berjalan mendekat dan aku berjengkit mundur. Surai keemasannya berkibar di antara kegelapan yang hendak mencapai fajar. Matanya yang biru selembut angkasa yang memudar, mengingatkanku dengan mata indah Gabriel yang selalu dipuja. Tampaknya ia semakin senang mengetahui aku hendak menjauhi darinya.
"Mikaela memang tidak becus mengurus tunangan, bukan?" katanya, dan ia pun terus melangkah hingga bibirnya hampir menempel di telingaku. Aku hampir membeku.
"Lupakan saja tentang dia, bagaimana kalau kau menikah denganku saja?"
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments