Part 6 - Pernikahan!

Aku terus mencari alasanku membenci vampir, tanpa henti, tanpa diminta. Liburan musim panas, suhu setengah dingin musim gugur, terlewat begitu saja tanpa ada perasaan khusus yang timbul di dalam hatiku. Tanpa sadar, musim salju ikut lewat begitu saja. 

Salju turun dengan deras mencairkan wajahku yang sudah sepanas api. Di tengah dingin hutan dan tumpukan halus berwarna putih, aku berusaha melewati hawa yang menusuk dengan melempar pisau di tiap batang pohon.

"Sepertinya kau memang berbakat menjadi petarung, kak," kata adikku yang sudah hampir menyerupai tomat ujung hidungnya. "Bahkan, melempar sepuluh pisau di saat bersamaan bukan masalah untukmu."

Aku memandang sekilas Gabriel dan kembali fokus pada kilauan pisau-pisauku yang melambung cepat di udara. "Impianku adalah membunuh semua vampir, Gabriel. Karena mereka kita benar-benar miskin."

"Tapi, bukannya sudah ada solusinya? Salah satu dari kita akan dinikahkan dengan kaum vampir nanti."

Mataku melebar. Malah itu pilihan yang kutunggu-tunggu. Darahku mendesir panas.

"Mungkin bakal terjadi, sih," kataku sambil menahan seringai.

"Hmm, kalau memang terjadi, aku tidak mau menikah, kak. Apalagi dengan mereka. Mengingat masa laluku saja sudah cukup membuatku merinding."

Sekilas, pikiranku menerawang ke masa lalu. Teringat dengan kejadian yang hampir membunuh Gabriel, aku langsung menepis pikiran itu cepat-cepat. "Kamu ada benarnya."

Aku bergeming dan kembali fokus pada lemparan pisauku. Beberapa kali meleset, dan akhirnya pikiran yang melanda di kepala hampir membuatku meledak. Hasratku serasa tak bisa dibendung.

Aku memutuskan untuk kembali ke dalam kastil. Pikiranku pun jadi agak tenang sebelum salah satu pelayan berkata pada kami, "Putri Barbie dan Putri Gabriel, kalian berdua dipanggil oleh Raja. Datanglah ke ruangannya."

Aku menelan ludah. Ini saatnya.

......................

"Kenapa kami dipanggil kemari, Ayah?"

Keriput ayah semakin bertambah, surainya yang memutih juga sudah tidak bisa kuhitung. Jakunnya naik turun ketika pandangannya bertemu dengan mataku. "Barbie," panggilnya dengan penuh tekanan. "Maukah kau mengabulkan permintaan ayah?"

"Apapun itu jika memang bermanfaat bagi kita semua." Basi. Aku bisa mencium bau kebohongan dalam ucapanku sendiri. Gabriel sudah mulai mencengkram erat gaunnya di belakangku. Ia sepertinya tahu apa yang akan terjadi.

"Aku ingin..." Ayah menghentikan ucapannya dan melanjutkannya setelah satu napas panjang. "Kau menikah dengan pangeran Kerajaan Ruby."

Mendengarkan permintaan ayah rasanya seperti menelan gula manis dalam bentuk bongkahan raksasa. Rasa terancam jelas menaungi seluruh aliran darahku, sekaligus juga rasa kepuasan. Akhirnya... akhirnya aku bisa bertemu dengan mereka!

Terlebih, tidak ada yang tidak mengenal nama kerajaan Ruby di sini. Nama kerajaan itu melambung tinggi ketika aku masih berusia belia. Dan setahuku mereka tidak memiliki putra.

Seolah tahu isi pikiranku, ayah mulai berbicara lagi. "Anak simpanan si raja, bukan rahasia umum vampir memiliki anak dimana-mana. Dan pengangkatannya menjadi pangeran telah dilakukan sekarang."

Anak simpanan, kebetulan sekali. Bukannya keadaannya sangat mirip denganku? Bedanya, tidak ada bukti konkrit dalam keluarga ini yang membuktikan jika aku anak haram.

Andai saja sudah ada buktinya, aku sudah menyingkir hidup sendiri, dengan cara apapun juga.

"Kita harus menuruti hukum vampir, Barbie. Jika tidak mau mereka menculik anak biasa untuk diambil darahnya, maka harus ada salah satu dari kalian yang berkorban."

"Jadi ayah akhirnya menjualku," lirihku sinis, pura-pura terluka atas keadaan ini. Gabriel memucat. "Bagus."

"Kak, tenanglah!" Gabriel ikut memekik, tapi aku tidak peduli. Pandanganku sudah berkabut. "Ayah juga, bukankah ayah sudah berjanji untuk tidak berhubungan dengan vampir?"

"Ini demi perdamaian manusia, anak-anak."

Perdamaian?

"Selalu begitu. Ayah selalu bilang demi perdamaian. Lalu, tindakan ayah yang selama ini tidak memperhatikanku apakah juga perdamaian?"

Pernyataan itu meluncur saja dari pikiranku tanpa pernah berlabuh lama. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.

Ayah tidak menjawab, tidak juga menatap mataku. Darahku semakin memanas.

"Aku setuju saja. Siapa tahu kerajaan vampir yang busuk itu akan memberiku ayah yang lebih baik?"

"Dasar anak tolol!"

Wajah ayah sudah memerah. Tangannya mengepal, pertanda ia siap memukulku, atau lebih parahnya ikut memukul Gabriel yang tidak bersalah. Aku memutuskan untuk mengakhiri sandiwara bodoh ini. "Baiklah. Terserah Ayah. Akan kuterima pernikahan ini. Tapi, aku punya syarat untuk ini."

Ayah mendengarkan permintaanku, dan ia pun mengangguk dengan acuh. "Lakukan apa maumu. Lagipula, permintaanmu itu merupakan hal yang mustahil."

Itu saat terakhir aku berbicara dengan ayah. Setelah berpamitan dan keluar dari ruangannya, kami berdua bertemu dengan ibu yang sudah siap memeluk kami. Ibu juga sudah tau segalanya dan mencoba meminta maaf padaku dengan tangisan yang berlebihan. Aku mencoba menenangkannya, bukan karena aku kasihan, melainkan aku merasa seharusnya air mataku yang tumpah di sini. 

Tapi lucunya, air mataku tidak bisa tumpah. Malahan, rasa haus darahku semakin membara.

Aku tertawa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!