Part 5.5 - Bencilah Vampir

Kalau diingat-ingat, kenapa hari itu aku menyerang Karen? 

Aku tidak menemukan jawabannya, apapun yang kulakukan. Rasanya sama seperti hendak menggaruk rambut yang gatal. Aku langsung ingin menerkamnya begitu saja begitu dirinya hendak memasuki kelas. 

Gadis yang berlumur lumpur dan kehujanan dengan gadis yang tampak teladan satu sekolah. Perpaduan yang bagus untuk dijadikan berita ekslusif di sekolah ini. Karen mengira, teman-temannya akan membantunya untuk menangkapku ketika aku sudah menjambak rambutnya. Sayang sekali, tebakannya salah. 

Tidak ada yang berani membantu walau aku sudah memukul wajahnya berkali-kali. Tatapan ngeri yang sama dilemparkan pada kami. Aku terus menyerangnya tanpa henti, sudah seperti memukul samsak tak bernyawa. Rasanya sangat menyenangkan. 

Pukulanku berhenti ketika Fynn menahanku dengan kedua tangannya. Mataku seolah kembali terfokus dari pandangan yang benar-benar blur seperti kaca kereta kuda yang kehujanan. 

Mata biru Karen mengeluarkan air mata ketakutan. 

“Tolong… aku… brengsek…” 

Karen jatuh pingsan, dan pandanganku berputar pada anak satu kelas. 

Tidak ada tepuk tangan. 

......................

“Jadi… Selama ini kamu merupakan korban?” Janggut guru yang putih itu membuatku jengkel ketika naik turun. “Tapi, yah, bagaimana… Walaupun kamu anak raja, yah…” 

Duduk di ruangan bersofa dan disediakan kue-kue kering tidak membuat keadaan menjadi manis. Orang di depanku ini adalah guru konseling yang harusnya bertugas mengurus anak bermasalah seperti Karen. Berhubung dirinya sedang pingsan, aku, yang seharusnya menjadi korban benar-benar dikorbankan untuk membuat laporan di ruang konseling bersama guru busuk ini. 

Fynn ikut menemaniku, entah mungkin karena punya rasa bersalah terhadapku, aku tidak tahu. Tidak, aku sudah tidak mau tahu. 

“Tapi, Pak. Barbie tidak punya salah! Sungguh, saya yang melihat sendiri akibat perbuatan mereka kemarin, Barbie benar-benar dibuat babak belur—” 

“Nak Fynn, apapun yang kamu katakan, kalau Barbie tidak hendak bicara, ya sudah.” Rokok tersumut di bibirnya yang abu-abu. Asap mengepul dalam satu ruangan, membuatku muak. 

“Nak Barbie. Kau ini sudah menjadi gambaran sekolah… Kalau bisa jangan membuat onar di hari kedua sekolahmu. Ah, dasar, anak bangsawan, sih.” Ia menaruh rokoknya di antara dua jarinya dan mengepulkan asap sekali lagi. 

Rasa yang aneh menjalar padaku sejak terbangun dari hutan. Aku harus menjambak semuanya, aku ingin membunuh semua yang kulihat. 

Tanpa sadar, tanganku sudah hendak mencabut salah satu rambut guru konseling itu. Untung Fynn menahan tanganku. Matanya sama sepertiku. Sama-sama terkejut. 

Guru konseling itu menyingkir. “Benar-benar anak pembuat onar. Tulis laporanmu setelah ini. Akan kutanggapi atau tidak, tergantung tulisanmu.” 

......................

Kami berdua berjalan di lorong setelah menyelesaikan penulisan laporan. Keheningan menyelimuti langkah-langkah kami. Fynn tampak tak nyaman dengan kesunyian ini, ia pun merobek kesunyian dengan pertanyaan. 

“Apa yang terjadi padamu, Barbie?” 

Aku menggaruk leherku yang tidak gatal. Perasaan canggung yang aneh. “Aku merasa… Aku harus membunuhnya tadi.” 

“Nggak boleh begitu!” Fynn memegang bahuku, memegangnya erat-erat seolah aku memang hendak runtuh. “Dengar, ya, Barbie. Aku tahu kau ini kuat… Tapi kekuatanmu bukan digunakan untuk itu!” 

“Lalu, harus kugunakan untuk apa?” 

Mata hijau Fynn menyala. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Tampak sama menariknya dengan mata violet milik orang yang kutemui saat hujan tadi. Aku tenggelam dalam tatapannya. “Gunakan untuk membunuh vampir. Bencilah vampir. Kalau begitu, bisa, kan?” 

“Membenci vampir…” ulangku. “Membenci vampir…” 

“Benar. Bencilah vampir. Jangan manusia. Kau bisa Barbie. Kita sudah membenci mereka sedari dahulu, oke?”

Senyuman terbit di bibirku. Tanpa kusadari, aku sudah terkekeh sambil memegang kepala. Ia benar. Kemana perasaan itu selama ini? Kenapa aku harus membunuh Karen jika mereka bisa kubunuh?

“Kau benar. Aku benci vampir. Membunuh mereka… Bukan ide yang buruk.” 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!