Melangkah dari kamar Mikaela bukanlah hal yang menyenangkan karena Betty menjelaskan apa itu tradisi sambil berjalan sedangkan pangeran tadi sudah berjalan lumayan jauh.
"Dengar, ya, Nona. Saat mengesahkan pertunangan, mempelai wanita biasanya melakukan satu hal yang penting," jelasnya sok asik. Aku pura-pura tertarik dengan mengangguk antusias.
"Sangat menarik. Bisa katakan padaku apa itu?"
Kami sampai di lorong panjang, berhiaskan lilin-lilin berwarna hijau. Aku penasaran apa bedanya dengan lilin biasa. Langkah Betty tetap teratur menggiringku.
"Nona harus menciumnya,"
Nah, ini baru mengerikan. "Uwow."
Betty menyunggingkan senyum yang anehnya membuatku hampir tertawa. "Di bagian sini," ia menyentuh pipinya sendiri dan memajukannya ke arahku. "Anda mengerti?"
Bulu kudukku meremang. "Cuma perasaanku, atau lebih parah dari manusia, sih?"
"Lebih baik." Betty tersenyum puas dengan matanya yang sipit.
Aku memutar bola mata. "Oh, itu tradisi yang mengerikan. Seperti yang kuharapkan dari kaum vampir," timpalku sarkas. "Tapi apa memang arti dari kecupan itu? Em, maksudku, bagi kalian."
Betty menjawab lagi dengan penuh kesabaran. "Sebuah simbol kesetiaan bagi kami. Perempuan yang mengecup laki-laki vampir bahkan dianggap mustahil keberadaanya."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena tanggung jawab untuk melindungi sangatlah sulit bagi mereka, Nona. Karena itulah, jika mereka sudah melakukan tradisi ini, maka akan dianggap tidak ada yang bisa mengganggu gugat cinta mereka."
Aku setuju dengan ucapannya. Melindungi seribu kali lebih susah dibandingkan melukai. Tapi, jika memang sungguh itu yang kulakukan, aku tampak seperti menghina kaum vampir. Rencanaku untuk membunuhnya bukankah sangat terbalik dengan ini?
"Bagaimana? Sepertinya nona nggak cocok, deh..." ujar Betty setengah mengejek.
Aku menjawab pendek setelah jeda yang lumayan panjang, "Baiklah. Ya."
Bibir Betty melengkung selagi melihatku manggut-manggut. Dari balik pakaiannya, ternyata ada belati sepanjang lengan yang hendak diulurkan padaku. "Silahkan pakai ini, Nona."
Sebuah belati yang cukup besar dengan ukiran singa di tengahnya. Sarungnya dihiasi dengan motif etnik yang tidak kuketahui.
Kilauan muncul dari balik sarung pedang, membentuk warna biru, senada dengan warna laut yang super jernih. Tidak pernah aku melihat belati seindah itu. Dan aku yakin, manik abu-abuku pasti berkilauan lebih dari biasanya.
Aku agak ragu menerima barang pemberiannya. Apa tujuannya?
Sebelum aku selesai memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di pesta, Kami bertiga sampai di depan kerumunan. Mikaela mengulurkan tangannya padaku. Uluran tangan pertama yang pernah kuterima seumur hidup.
......................
Surai Georgia berubah warnanya menjadi senada dengan gaunnya. Merah api. Warna maniknya meluntur oranye yang siap untuk menghapuskan keberadaanku di dunia ini. "Manusia busuk! Aku harap kau bisa menghilang dari dunia ini!"
Aku mulai keheranan melihat tingkah Georgia. Apa memang ini yang dituju oleh Mikaela? Mengaduku dengan tunangannya?
Suara tepuk tangan dan bunyi gelas yang ditepukkan mulai bergema keras di dalam ruangan tersebut. Seolah semua orang memang sudah menunggu kejadian ini. Seolah memang inilah hiburan utamanya. Banyak yang menyerukan dukungannya pada Georgia, dan sebagian juga padaku.
"Ayo, manusia belati! Serang perempuan gila itu!" Salah satu orang bersorak, juga kaum vampir.
Entah kenapa aku merasa julukan itu menggelikan sekaligus membuat jantungku berdegup keras.
"Apa hubunganmu dengan Georgia memangnya?" Aku berbisik selagi memasang kuda-kuda. Mikaela menatapku sekilas, lalu berpikir sambil melihat langit-langit.
"Tunanganku—"
Gigiku menggertak keras. "Bedebah. Vampir memang bedebah. Kau memang sengaja mengadu kami, bukan?"
"Dulu. Sekarang kita hanyalah teman tanpa status yang berarti." Mikaela terkekeh setelahnya. "Tentu saja tidak, Barbie. Kenapa aku harus mengadu kalian? Lagian, ini salah—"
Cakar Georgia sudah hampir mencabik wajahku, aku menghindar dengan mundur cepat dan menahan serangannya yang datang lagi secepat angin. Aku menendang sekuat tenaga tubuh Georgia yang ternyata juga sepanas api. Tubuhnya terpental menabrak gelas-gelas dan jamuan yang ada di dalam pesta.
"Aku tidak yakin teman biasa akan menyerang tunangan temannya!" seruku seraya menyatakan kemenangan sementaraku.
Tubuh Georgia bangkit lagi. Dan api kemarahan semakin menyala di matanya. "Diam kau, manusia! Kau hanyalah stok makanan bagi Mika! Kau tidak berarti apa-apa!"
Georgia melayang cepat ke arahku, dan aku berhasil melukai bagian kiri lengannya ketika ia masih di udara. Aku kembali mundur dengan cepat ketika ia sudah berjarak kurang dari dua puluh senti dariku. Dan kami pun kembali beradu serangan.
Serangan Georgia yang sudah seperti gorila liar membuatku kewalahan. Semakin waktu berjalan, cakarannya sempat membuat robek beberapa bagian gaunku. Aku juga membuat dampak yang sepadan dengannya, tapi panas dari rambutnya membuat efek yang buruk padaku. Aku terus berkeringat tanpa melakukan hal yang membuatku lelah.
Ini gawat. Kalau begini bisa-bisa aku kalah.
Selagi berpikir seperti itu, aku kehilangan ritme menahanku. Georgia berhasil menembus pertahanan yang sudah kulatih sendiri selama lima tahun ini dengan mudah. Dan ia pun berhasil merobek bagian depan gaunku, membuat luka yang membuatku memekik keras.
Semua orang berteriak bangga pada Georgia, tidak termasuk Mikaela yang memandang pertarungan kami seolah guru yang mengamati muridnya melakukan ujian akhir. Dia sama sekali tidak bereaksi atas luka yang membuatku terengah-engah.
Liontin perlindungan vampirku terpantul di manik Georgia yang oranye. Aku tidak mengerti mengapa ia berhenti menyerang. Bahkan cakar-cakarnya yang terlumuri oleh darahku tidak diangkatnya lagi.
"A-ayah?" Suara Georgia melembut, seolah ia melihat ayahnya di depan matanya.
Tubuh Georgia jatuh ke lantai, sudah mirip seperti orang yang overdosis meminum obat penenang. Sepertinya kesempatanku untuk menyerang jantungnya terlihat jelas. Maka, aku pun melayangkan seranganku tepat ke arah jantungnya. Sebelum itu terjadi, salah satu perempuan yang menyapa kami menahan tanganku untuk bergerak.
"Yak, berhenti. Sepertinya kami sudah menemukan pemenang di sini."
Mataku melebar. "Apa yang kau lakukan? Dia telah melukaiku! Aku pantas menyerangnya balik!"
Mata merah perempuan itu terarah liontinku sekilas. "Kau benar, sayang. Tapi lihatlah keadaan Georgia sekarang." Perempuan itu kembali memfokuskan pandangannya pada Georgia yang cekikikan. "Dia sudah bukan dirinya lagi."
Ia pun lanjut berbicara. "Bukankah tidak ksatria menyerang musuh yang tidak mampu melawan?" Ucapannya itu menusuk hatiku lebih sakit daripada luka yang menggangga di dadaku. Jadi, aku menjawab. "Lalu, apakah menyerang tunangan seseorang di pesta secara mendadak bisa dikatakan ksatria?"
Perempuan itu terkekeh sambil melepaskan genggamannya. "Sepertinya Mikaela tidak menjelaskan apa-apa padamu, ya?"
"Apa?"
"Memang itulah tujuan tradisi kami. Melindungi. Untuk itulah pria itu memberikan pedangnya padamu. Dan disini... Georgia rela bermain peran antagonis untukmu, walau di kisah sesungguhnya ia sangat ingin melindungi Mikaela. Bukankah itu sudah cukup?"
Aku masih tidak mengerti.
"Kau pasti cukup istimewa bila bisa memegang pedang itu. Georgia sudah menginginkannya sejak lama, tapi Mikaela tidak mengizinkannya." Lagi-lagi, matanya kembali pada kalungku yang memantulkan sedikit cahaya biru laut.
Perempuan itu tersenyum dingin padaku. Aku masih menatapnya keheranan dan melemaskan genggamanku pada belati yang kubawa. Jadi, maksudnya... Aku yang telah merebut Mikaela sehingga aku pantas menerima luka ini? Kesimpulan macam apa itu?
"Ada ribut apa ini?"
Suara itu tidak asing, tapi aku tidak mengenalnya. Semua orang membungkukkan tubuhnya, tak terkecuali Mikaela.
"Wah, ini gawat. Apa yang akan dikatakan ratu jika mengetahui calon menantunya dulu dilukai oleh manusia? Habis sudah riwayatmu."
Aku sudah hendak membentak, tapi orang yang disebut ratu itu sudah sampai di depan kami. Aku membungkuk hormat, ketakutan akan auranya yang membuatku merinding.
Aura membunuh.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments