Setelah mengetahui bahwa aku adalah putri bangsawan manusia, pria itu menuntunku untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang tertutup dari cahaya, kecuali dari lilin-lilin kecil yang membara di tiap ruangan. Suasana di kamar itu membuatku merinding. Aku berusaha tenang sambil terus meremas gaunku.
Pria itu duduk di atas sofa yang ada di ruangan sambil menyilangkan kakinya. "Duduklah. Aku tidak enak melihatmu berdiri sendirian." katanya sopan.
Aku pun duduk. Walau sofa tersebut tampak sangat tua, nyatanya benda ini sangat nyaman kududuki. Diam-diam berpikir berapa jumlah uang yang dihabiskan untuk sofa ini, pasti cukup untuk hidupku sebulan.
Pangeran vampir yang tampaknya menunggu aku untuk percakapan terlebih dahulu akhirnya mulai bicara duluan, "Omong-omong, aku mendapat surat dari ayahmu sebelumnya."
Degup jantungku serasa berhenti. "Surat?" tanyaku mencoba tenang. Ini pertama kalinya aku mendengar ayah mengirimkan surat.
Ia tidak menanggapi pertanyaanku dan mulai menjelaskan lagi. ”Isinya adalah, Putri Barbie bersedia menikahi pangeran vampir bila ia diperbolehkan untuk membunuhnya tiap kali ada kesempatan."
Aku hampir saja mau menepuk dahi. Gila! Kenapa ayah malah menyampaikan hal tersebut secara terang-terangan? Harusnya ia diam saja supaya aku bisa menjalankan keinginanku ini dengan lancar!
Tanpa sadar keringat merembes dari dahiku. Tanganku mengepal keras. Aku tidak boleh mengaku di sini. "Itu--"
"Yah, sebenarnya aku tidak masalah."
Aku membatu segera setelah ujarannya itu.
Pria itu memanjangkan tubuhnya di atas sofa. "Kau tahu sendiri, aku sangat bosan! Aku tidak peduli jika manusia bakal membunuhku suatu hari nanti."
Aku tidak menyangka pria ini punya dendam tersendiri dalam hidup atau bagaimana. Yang penting, sekarang kelakuannya benar-benar mirip dengan om-om usia 30-an yang hobi mengeluh tentang kehidupan. Dan jujur saja, itu membuatku semakin bingung untuk menanggapinya.
"Tapi, yah," lanjutnya sambil menyeringai dan duduk tegak kembali. "Aku nggak pernah punya pikiran manusia biasa bakal bisa membunuhku."
Mataku menyala. Dia meremehkanku. "Mau mencobanya?"
......................
"Selamat siang Nona Barbie. Biarkan aku membersihkan kamar nona dulu, ya."
Tidak ada simpul senyuman sama sekali dari belah bibirku. Hatiku memanas dengan keadaan yang barusan terjadi. Di tambah, luka di bagian leherku membuat segalanya semakin runyam.
Kesadaranku kembali ketika perempuan itu mengambil sapunya.
"Apa? Kenapa kau tidak membersihkannya sebelumnya?"
Pelayan itu cemberut menatapku. "Andai anda tahu, ya! Pangeran tidak memberitahu kami soal kedatangan nona! Jahat sekali, bukan? Padahal ini jelas hari liburan saya, tapi malah diberi pekerjaan seperti ini!" keluhnya super panjang. Aku jadi kehilangan minat untuk bertanya lebih lanjut. "Ah, omong-omong bagaimana nona bisa sampai ke sini? Saya tidak akan mengeluh lagi kalau diceritakan kisah perjalanan nona ke Kerajaan Ruby!"
Aku cuma tersenyum manyun.
......................
Kakiku menaiki meja di depan kami secepat angin, diikuti dengan tebasan panjang ke arah lehernya yang tidak ditutupi apapun. Suara daging terbelah sudah menggema di telingaku. Di saat aku hendak menyeringai atas keberhasilanku melukainya, tidak ada darah yang mengucur dari lehernya. Malahan, kulitnya sama sekali tidak terluka.
"Wah, cepat sekali pergerakanmu," guman Mikaela masih dengan posisi duduknya. "Jarang ada perempuan secepat dirimu."
Aku mengelak mundur. Ini tidak mungkin. Aku yakin sekali sudah membelah tungkai lehernya.
Mata pangeran itu menyala merah, membuat bulu kudukku berdiri. "Tapi kau masih terlalu bodoh untuk menyerang. Biar kuberitahu apa perbedaan kami dan kaummu."
Ia bangkit dari duduknya dan memukulku keras dengan satu kepalan yang kuat. Aku sudah menahannya dengan belatiku, tapi hasilnya naas. Tubuhku melayang sampai mampu mendorong sofa yang ada di belakangku. Belum sempat aku merintih kesakitan, tangannya berhasil mencekikku tepat di atas permukaan lantai. Aku mencoba bangkit, tapi tentu jelas apa hasilnya.
Kekuatan yang tidak masuk akal sama sekali. Manusia bahkan tidak mampu menerbangkan orang hanya dengan satu pukulan seperti itu. Kecuali mereka punya sesuatu yang tidak kami punya. Sihir.
"Le...lepaskan!"
Masih dengan tatapan dingin, ia mulai menawarkan hal lain padaku. " Hey, bagaimana jika aku juga meminta satu hal?"
Mataku sudah berair. Aku hampir mau muntah.
"Jika ada hari di mana kau mencintaiku, mengkhawatirkanku barang sedikit saja," Ia menekan dalam nada ujaran selanjutnya. "Aku akan membunuhmu."
Aku tidak yakin ada hari di mana aku bakal menyukai vampir yang hampir mencekikku sampai hampir mati. Saat ada kesempatan, aku mendorong tangannya, dan ia tidak melawan. Napasku ngos-ngosan. Aku tampil sangat memalukan.
"Terserah," kataku geram, "Aku yakin kau yang akan mati duluan di tanganku."
Ia tersenyum puas, sedangkan aku hanya bisa terdiam.
...----------------...
Ya, benar sekali Barbie. Kau harus membencinya untuk bertahan hidup.
Sambil menunggu kamarku dibersihkan, aku berdiri sambil mengusap belati kecilku. Jika ini tidak bisa menusuknya, maka selamanya aku tidak akan bisa membunuhnya. Pasti ada cara lain, dan aku harus menemukannya secepat mungkin.
Aku tidak menghitung sudah berapa lama aku mengusap belati kecilku di depan kamar yang dibersihkan oleh pelayan tadi. Jangan-jangan ia menipuku supaya aku terus berdiri di depan kamar seperti orang bodoh.
"Nah, selesai," ujar perempuan berpakaian pelayan dengan puas. Ia mengusap keringat dari dahinya yang seputih susu. "Silahkan, nona. Anda pasti lelah sekali."
"Terima kasih."
Pelayan itu mengamati leherku. Aku waspada ia akan menggigitku. "Oh! Ada luka di leher anda! Apa sekalian saya oleskan salep supaya agak mereda—"
Ingatan tentang aku yang dicekik hingga hampir kehabisan napas terputar di benakku.
"Tidak usah. Biar aku obati sendiri."
"Tapi, nona—"
Suara pintu yang kututup berbunyi sangat keras. Pelayan tadi langsung menghela napas berat. "Padahal aku mengkhawatirkannya! Manusia memang tidak bisa diuntung!"
...----------------...
Keparat. Aku tidak menyangka membunuh vampir akan semakin susah.
Aku setuju dengan pernikahan ini, asalkan Gabriel yang disayangi ayah bisa hidup tenang. Agar para vampir tidak menculik manusia sekali lagi. Agar... Aku bisa hidup dengan tenang.
Dengan keadaanku yang seperti sekarang, sepertinya aku tidak akan hidup tenang.
Maka aku mencoba berpikir jernih, kembali ke kenyataan dan mulai mengamati kamar baruku dan memikirkan apa yang bisa kulakukan di sini.
Kamarku yang baru ini lebih mewah dibandingkan kamarku di kerajaan manusia. Semua ornamennya berwarna merah tua, termasuk gorden raksasa yang menghiasi kasur yang berwarna merah muda dengan cahaya matahari. Ada ruang tamu dengan deretan sofa yang dijejer rapi di bagian depan. Kamar mandi dengan bak yang besar dan sabun bermerk juga ada di kamarku. Semuanya sempurna.
Aku segera merebahkan tubuhku di atas kasur tanpa berganti pakaian. Kulepas liontin yang kukenakan di leher. Biar kuberitahu: liontin ini yang melindungiku dari vampir-vampir keroco. Manusia biasa memang tidak bisa mencapai kerajaan vampir dengan aman karena bau darah manusia yang mencolok. Maka, jika aku memakai kalung ini, tidak akan ada vampir keroco yang bisa melukaiku.
Itu menurut pengalamanku, sih. Aku nggak tahu kenyataannya. Nyatanya, aku nggak ingat darimana bisa mendapatkan barang ini. Apa dari musim panas kemarin, ya? Entahlah.
Liontin itu berbentuk seperti batu alami, atau mungkin lebih mirip dengan berlian. Warna birunya mengingatkanku dengan manik Gabriel yang sebiru langit. Mataku saja tidak seindah itu, warnaku penuh abu. Seharusnya kalung ini diberikan saja pada Gabriel alih-alih diriku.
Yah, lupakan semua itu, Barbie, batinku keras-keras. Asal liontin ini bisa sedikit berguna, aku akan menghargai siapapun yang telah memberikannya.
Selang beberapa menit memandang kalung itu, aku terlelap dengan nyenyak. Kulupakan satu hal yang begitu penting untuk kehidupanku: Tidur dari siang bolong sampai tengah malam bukanlah hal yang baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
menarik
2023-01-16
0