Mataku terbuka di malam buta, tak bisa kembali terpejam. Semua lilin yang ada tertidur, membuatku beberapa kali meraba-raba tembok untuk sampai ke pintu. Telingaku menangkap suara hiruk piruk dari luar kamar.
Pesta para vampir.
"Nona...Wah! Anda sudah bangun ternyata!" Pelayan yang tadi siang membersihkan kamar muncul dari balik pintu. "Kebetulan sekali. Malam ini Pangeran memanggil anda untuk datang ke ruang tamu."
Aku kembali mengucek mata. "Jam berapa sekarang?"
Pelayan itu melihat ke bawah tangga tempat pesta berlangsung. Kamar ini berada di lantai dua kastil. Namun, musik waltz-nya seolah didentingkan di sebelahku. "Mungkin sekitar pukul dua belas malam."
Malam sekali. Pantas mereka bisa terdengar sangat bahagia di sana. Tidak ada matahari yang menghalangi mereka.
Rasa kantuk masih setengah menguasaiku. Di antara kenekatan dan niatku ingin segera menuntaskan permintaan si pangeran sial itu, aku berjalan gontai ke arah lain yang entah kemana akan membawaku ke mana.
"Oh, tunggu! Anda mau kemana?"
"Ke ruangannya sekarang, tentu saja." ucapku bohong. Padahal aku tidak tahu di mana ruangannya.
"Astaga!" Pelayan itu menjatuhkan sapunya. "Apa semua manusia memang seperti nona? Anda bahkan belum mencuci muka dan mengganti pakaian!"
Aku kembali memandang diriku sendiri. Bagian atas gaunku terbuka sebagian kancingnya. Oh, mungkin ini masalahnya. Vampir memang penggila kerapian. Setelah aku menutup kancingku buru-buru, kutanya lagi pelayan itu. "Sudah beres, kan?"
Pelayan itu menghela napas panjang dan membawaku masuk kembali ke dalam kamar.
"Dengar, ya. Bau darah manusia itu sangat mencolok, apalagi sebelum mereka mandi. Tuan pasti tidak mau melihat anda dikeroyok vampir lain... Jadi, anda harus mandi!" Aku buru-buru berbalik badan dan menyembunyikan liontinku. Gerakan pelayan itu setengah kali lebih lambat. Untung liontin tadi sempat kuletakkan di dalam lemari.
Badanku dibersihkan, tentunya dengan sikat yang kasarnya minta ampun. Katanya tubuhku begitu kotor sampai harus disikat berkali-kali. Bedebah. Aku memekik tanpa toleran tiap kali ia menyikat dengan keras di tempat yang sama, tapi ia sama sekali tidak peduli. Apa semua manusia diperlakukan seperti ini oleh kaum vampir?
Untung saja yang digunakannya untuk membasuhku adalah air hangat. Kalau saja ia memandikanku dengan air dingin di jam segini, aku yakin nyawaku sudah melayang sekarang.
Setelah membersihkan badanku, pakaian yang serba biru dipakaikan padaku. Paduan biru laut dan biru langit yang menghiasi gaunku sangat cocok dengan kulitku yang putih kekuningan. Mataku yang berwarna abu-abu menerawang, mengingat masa-masa aku di kerajaan manusia. Aku bahkan tidak punya pakaian yang cocok untuk menyamai kelas para vampir.
Mungkin saja pernikahan ini sebenarnya bisa membuatku sedikit... berbeda.
"Nah, selesai." ujar pelayan itu setelah menata rambutku menjadi kepang sebagian yang rapi. "Anda sekarang sudah sedikit rapi dari sebelumnya."
"Makasih."
"Biar kuantar anda ke tempat tuan. Anda pasti juga belum tahu tempatnya, kan?"
Setengah diriku menganggap gadis muda yang bekerja sebagai pelayan ini tidak sopannya keterlaluan, tapi ucapannya memang benar. Aku bisa kesasar jika ingin menuruti egoku yang sebenarnya tidak ingin dibantu oleh vampir, apalagi perempuan.
"Baiklah. Bukan berarti karena aku tidak tahu. Memang menurutku sudah tugasmu untuk mengantarku, bukan begitu?"
"Oh, ya. Nona benar sekali." jawabnya ringan. "Nona... jangan berbuat macam-macam, ya? Tau sendiri apa yang bisa kami lakukan, bukan?"
Aku meneguk saliva. Akan kugunakan belati yang kusimpan di dalam lemari pada saat yang tepat.
Sebelum keluar ruangan, liontin tadi sudah terpasang erat di dalam gaunku. Gerakan cepatku untung tidak disadarinya. Pangeran itu sudah jelas akan menyerangku, tapi siapa tahu pelayannya yang kelihatan keroco ini juga sama buruknya?
......................
Pangeran itu belum mengikuti pesta seperti yang sekilas aku harapkan. Suara pintu ditutup. Pelayan tadi berdiri di belakangku dengan kedua tangannya yang bersedekap.
Rambut putih pangeran mengkilap cemerlang di bawah sinar bulan yang memantul lewat jendela. Wajahnya yang tidur juga indah dengan proporsi kelopak mata, hidung yang tirus dan lancip, disertai dengan bibirnya yang sesegar tomat. Memang tidak salah ia disebut sebagai pangeran.
Anehnya, aku tidak merasakan sensasi yang sama ketika melihat Fynn. Apa yang membedakan keduanya?
"Permisi, Tuan." Sapaan pelayan perempuan tadi membuat lamunanku buyar. "Putri Barbie sudah hadir di sini."
"Oh," Pangeran vampir itu menjawab pendek usai mengembalikan posisi badannya yang sudah tengkurap di atas meja. Aku tidak menyangka ia bisa bangun dari mimpinya secepat itu. "Kerja bagus, Betty. Keluarlah sebentar, nanti kembalilah untuk menjelaskan beberapa tentang kita."
Betty menunduk hormat. Ia sama sekali tidak begitu padaku. Bertambah sudah orang yang kubenci. "Baik, kalau begitu aku permisi dulu."
Setelah pelayan yang ternyata bernama Betty itu keluar, aku bertanya cepat. "Apa maumu memanggilku tengah malam begini?"
"Aku akan mengenalkanmu sebagai tunanganku malam ini," katanya dengan suara serak. "Tentunya kau tidak masalah, bukan?"
Tentu tidak. Lebih cepat ikatan ini terjalin, lebih cepat aku membunuhmu. "Baiklah. Memang lebih cepat lebih baik."
"Tapi ada tradisi yang biasa kami lakukan ketika mengenalkan tunangan. Aku mau kau melakukannya denganku nanti."
Aku baru pertama kali dengar. Tradisi? Memang tradisi apa yang dimiliki vampir? Jangan-jangan... "Jangan bilang kau akan menggigit di tengah pesta?"
"Tentu tidak manusia bodoh," rutuknya sambil menggeram. "Aku tidak akan menyakitimu di pesta."
Ucapannya sama sekali tidak membuatku tenang. "Lalu apa? Apa aku boleh membunuhmu di situ?"
"Kau masih belum menyerah, ya? Tidak. Tidak ada yang seperti itu. Biar kubilang, ya. Yang akan kita lakukan nanti itu..."
"Betty, kemarilah."
Betty masuk kembali dengan wajah tanpa jengkel. Aku sudah membogem pangeran ini jiga menjadi dirinya.
"Jelaskan pada Barbie tentang tradisi kita nanti."
"Baik, tuan."
Aku bergeming mendengar percakapan mereka. Saat ia meminta sesuatu padaku, rasa ketidakadilan memenuhi kepalaku. "Kalau begitu, kau juga harus penuhi permintaanku juga."
"Apa permintaanmu? Soal membunuhku lagi?"
Aku tertawa, dan ia mengerti.
Ia pun menghela napas panjang sambil menyugar rambutnya setelah mendengar ujaranku. "Terserahmu. Biar terus kukatakan padamu: Kau tidak bisa membunuhku. Mengerti?"
Aku tidak peduli. Aku harus membunuhnya supaya rasa haus ini bisa lenyap.
......................
Lilin ditata begitu banyak hingga pemandangan sekitarku sudah seperti berada di ledakan dalam bintang-bintang. Ini memang pesta, pesta dalam artian sebenarnya.
Di kerajaanku, jarang sekali ada pesta semenjak para vampir sering menculik bangsa kami. Aku pasti butuh waktu lama untuk terbiasa dengan suasana ini.
Semua orang melempar pandangannya ke arah kami setibanya di lantai satu. Seolah melihat pemimpin agung, sama sekali tidak ada yang berani menyapa setelah semuanya menunduk dan mengucapkan hormat pada sang Pangeran. Rasa gugup menjalari seluruh tubuhku.
Beberapa detik setelah hormat dilakukan oleh semua tamu pesta, barulah dua orang berani menyapa si Pangeran. Rambut mereka sama putihnya dengan pangeran vampir.
"Oh, bukannya ini Mikaela?" ujar salah satunya sambil memukul pangeran vampir yang baru kuketahui bernama Mikaela itu.
Perempuan satunya yang bergelombang rambutnya ikut menyapa dengan memukul punggungnya. "Vampir kecil kita akhirnya datang. Kemana saja kau dari tadi?"
Mikaela tertawa garing. "Maaf aku terlambat. Butuh waktu untuk menyelesaikan tugasku."
"Tugas! Dinobatkan menjadi Pangeran Ruby memang beda!" Perempuan pertama tertawa lagi. Sayangnya tawanya sungguh menyiksa telingaku. "Lalu, siapakah perempuan di belakangmu ini?"
"Jangan bilang ini tunanganmu? Perempuan ini?"
Tanganku mengepal. Rasanya aku bisa melempar perempuan ini sampai ke ujung lorong dengan pukulanku. Tapi, tiba-tiba aku teringat kembali rambutnya yang putih. Sekuat apapun pukulanku, belum tentu vampir terpengaruh.
"Oh, iya. Tentu saja perempuan ini tunanganku." Mikaela menjawab tenang, hampir membuat jantungku berhenti.
"Apa?"
Perempuan itu masih tidak percaya dengan ucapan Mikaela barusan. "Kau pasti bercanda, kan, Mika?"
"Tidak Georgia. Ini serius."
Perempuan bernama Georgia mulai serak suaranya seperti hendak menangis, masih tidak terima dengan ucapan Mika barusan. "Kalau begitu buktikan. Aku yakin perempuan itu nggak tahu tradisi kita."
Tanpa aba-aba, aku menarik kerah Mikaela dan melakukan tradisi yang disebutkan oleh Betty sebelumnya. Tidak seperti perkiraanku, pangeran vampir itu juga ikut terkejut. Aku mengerutkan alis. Ada yang tidak benar.
Tangannya mengusap sebelah pipinya berkali-kali, tampak risih. "Ka-kau tolol, ya? Apa yang kau lakukan?"
"Apa maksudmu? Ini yang dimaksud oleh Betty tadi, bukan?"
Manik merahnya tampak resah. "Ma—ah, iya. Sepertinya aku salah memberi informasi."
Georgia tidak mampu menahan keterkejutannya ketika melihat kami melakukan tradisi itu. Ia siap menajamkan cakar-cakarnya ke arahku. Aku mengeluarkan belati yang diberikan Mikaela dari balik gaunku dan mengatur kuda-kuda.
"Kau... Apa yang kau lakukan manusia sialan!"
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
AwanMendung26
Halo kak. Aku mampir, ya!
Semangat untuk update bab terbaru🌻
2023-01-13
0