Part 18 - Pelayan Misterius

Bisa kurasakan cahaya matahari kembali menyapu wajahnya yang berkilau bagai satin. Bulu matanya seputih bulu angsa, dan maniknya berpendar bagai api. Rambut putihnya yang hampir mendekati warna perak dipotong sebahu, membuat kepalanya tampak kecil dan menggemaskan.

Benar. Semua kesatuan itulah yang membentuk diri Kate hari ini.

Tapi kenapa mendadak suaranya tidak asing? Apa terlalu lama berdiam diri tanpa melempar pisau-pisauku bisa membuatku gila?

"Kau butuh bantuan lagi, Barbie?"

Aku berpura-pura berpikir. "Untuk saat ini tidak,'' sahutku seraya mengambil koran itu kembali. "Terima kasih sudah membantuku."

"Oh, nggak masalah. Kapanpun kau butuh bantuan, panggil aku, oke?"

Aku mengangguk. Bisa kurasakan rasa hangat menjalar di tanganku ketika Kate mulai menjabat tanganku. Rasa yang berbeda dengan kemarin tergambarkan melalui indraku. Kulitnya lebih kasar.

"Omong-omong kita belum pernah berkenalan dengan benar, ya?" gumannya, masih mempertahankan jabatan tangan kami. "Perkenalkan. Namaku Kate. Pengawal rahasia ratu."

Perkenalan sederhana yang membuat diriku hampir tersentak.

"Kau serius?"

"Apa aku terlihat seperti bercanda?"

Bibirku tidak menjawab. Pantas saja ia selalu ada di tiap kehadiran ratu. Jika memang benar apa yang diucapkannya, aku harus menjaga diri dalam tiap pertemuan kami.

Aku menggoyang balik remasan tangannya yang hangat. "Kalau begitu, izinkan aku memperkenalkan diriku juga. Namaku Barbie. Manusia yang lebih baik dari vampir manapun," ujarku penuh percaya diri dan dibalas oleh gelak tawa dari Kate.

"Mimpi," komentarnya sambil nyengir. "Tapi menurutku, panggilan nona rakus memang cocok untukmu."

Otomatis aku menendang kakinya dan ia bisa menghindar dengan mulus. Masih bertahan saja nama panggilan itu. Aku harap panggilan itu segera musnah saja dari kerajaan ini.

Setelahnya, ia tersenyum lagi seperti sebelumnya. Dan aku sangat yakin jika mataku tidak asing dengan keadaan ini.

...----------------...

Siangnya, aku kembali ke kamar dan bersantai dengan koran yang kubawa.

Ratu memberikan kami waktu seminggu untuk bersantai. Aku yakin maksudnya 'bersantai' bukan seperti yang terlihat. Musuhku pasti sudah menyiapkan berbagai skenario untuk menjebakku.

Selalu kupikirkan jika pelajaran sekolah sama sekali tidak penting. Apalagi ketika diumumkan bahwa aku akan dinikahkan dengan kaum vampir... Semua hal di dalam hidupku tidak terasa penting selain rasa haus akan balas dendam.

Aku menyugar rambutku, kembali fokus pada tulisan-tulisan yang sudah disihir. Tiap hurufnya tidak jauh beda dengan yang dimiliki manusia. Jika boleh kuakui, cara membacanya lumayan ribet. Kenapa harus memakai sihir hanya untuk memakai koran harian?

Kepalaku celingak-celinguk melempar pandangan ke seluruh ruangan. Hanya ada diriku. Maka dengan senang hati aku menyandarkan diri di atas sofa dan mulai membaca:

Berita Mengerikan Khusus Vampir!

Khusus vampir. Lucu sekali, pikirku.

12 Januari

Lagi-lagi, kasus kematian vampir secara misterius bertambah. Korban berjumlahkan satu keluarga itu meninggal secara mendadak tanpa sebab. Tidak ada luka yang ditinggalkan maupun riwayat penyakit. Parahnya, tidak ada jejak yang ditinggalkan pelaku. Polisi mengangap jika pelaku yang melakukan ini adalah orang yang sama dengan sepuluh tahun lalu...

Yah, ini tidak ada bedanya dengan penjelasan ratu. Aku merebahkan tubuhku dan meletakkan kertas itu di atas koran. Mungkin aku harus menyerah dan menyelidiki langsung akademi Rafonia.

Dengan begitu, kedamaian bisa terwujud. Setidaknya, bagiku.

Belum selesai aku berusaha untuk terlelap, ketukan pintu membuyarkan konsentrasiku. Aku melompat dari sofa dan membuka pintu, kudapati wajah pelayan selain Betty menunduk hormat padaku.

"Ada urusan apa kemari?" ucapku datar. Beruntung suaraku masih belum serak seperti orang bangun tidur.

Berbeda dengan Betty, manik vampir ini merah kelam dan datar. "Persiapan anda untuk ke sekolah sudah siap. Apa anda sudah menyiapkan semua barang anda?"

Aku mengernyitkan dahi. Kaum ini memang hobi membuatku heran. Mungkin membuat orang panik sudah menjadi budaya kaum vampir.

Padahal kemarin jelas dikatakan jika debut sekolahku akan dimulai seminggu lagi. Aku penasaran apa yang membuat ratu berubah pikiran.

Masa... Ia nggak ambisius karena ingin segera menyingkirkanku, kan?

"Apa? Bukannya kepindahanku masih seminggu lagi?"

Ada senyap sejenak sebelum pelayan itu mulai berkata lagi. "Nona Georgia sudah mulai berkemas sejak kemarin--"

Mataku menyipit sebelah. "--Dan Georgia atau apalah itu tentu tidak ada hubungannya denganku--"

Nada dingin keluar dari mulutnya. "Anda serius ingin menjadi ratu utama, bukan? Kalau memang begitu, saya sarankan untuk segera berkemas sekarang. Atau jika tidak..."

Aku sudah merasa pelayan di depanku ini kelewat sopan. "Oh, berlagak seperti manajer, ya? Jika tidak, apa memangnya?" balasku sambil menyilangkan tangan.

"Akan kulaporkan jika anda sudah mau menyerah."

"Maka akan kulaporkan balik jika kau sudah menyebarkan berita bohong." Aku tidak takut. Kendati pelayan saja tidak akan membuatku bergidik.

Masih belum menyerah, pelayan itu mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Dengar, ya. Saya paling benci orang seperti anda. Sok ingin seperti ini, seperti itu. Sebenarnya anda ini sangat lemah, anda tahu?"

Aku mendorong tubuhnya, mencoba menyingkirkan semua perasaan dingin yang ditimbulkan dari maksud ucapannya, tapi ia masih bisa bertahan berdiri dengan tegak dan mulai berbicara di depan mataku.

Mata merahnya tampak menyimpan dendam tersendiri padaku. Ia meletakkan telunjuknya di depan dadaku.

"Jangan lupa kalau anda tidak punya rekan di kerajaan ini. Dan anda berharap perkataan anda akan dipercaya? Mustahil. Turuti perkataan saya, dan anda akan selamat."

Tiap kata-katanya seperti ular yang melilitku perlahan-lahan. Aku hampir terjerat jika ia tidak segera memutuskan untuk berhenti mengancamku.

Kakinya melangkah pergi walau terus kuamati gerak-geriknya. Bagus. Pelayan tipe kurang ajar.

Kesimpulan baru muncul di benakku. Apapun yang kurasakan, apapun yang kupikirkan, asalkan itu tidak merugikan tempat ini, seratus persen pasti tidak ada yang mempedulikannya.

Aku menggigit kuku, sangat tidak sabar menunggu waktu aku akan keluar dari kastil gila ini.

...----------------...

Sore tiba dan matahari serasa menusuk seluruh tulangku. Tidak banyak barang yang kusiapkan untuk bersekolah selain belati-belati yang kubawa dari rumah. Dan lagi-lagi, irama ketukan terdengar, dan aku menarik knop dengan malas.

Tanganku tertarik tanpa bisa kutahan, dan angin serasa menembus tiap helai rambutku. Sesuatu membawaku terus berjalan keluar.

Setelah itu, semuanya menjadi malam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!