Tiga hari setelah keberhasilan misi ekspedisi Lembah Yan, ada beberapa hal yang terjadi.
Pertama, pihak negara mengumumkan bahwa Lembah Yan kini telah resmi menjadi tambang milik negara. Bagi siapa pun yang menambang di sana tanpa izin akan dikenakan hukuman.
Kedua, Kelompok Charlin dan Guild Fairy mendapat penghargaan besar berkat kontribusi serta pencapaian mereka dalam misi penaklukkan Lembah Yan.
Nama kami sendiri tidak dicantumkan dalam daftar orang-orang yang turut berkontribusi dalam penaklukkan lembah tersebut karena beberapa alasan, salah satunya karena perjanjian yang sudah kami sepakati di awal, perjanjian yang menyatakan bahwa prestasi seorang prajurit bayaran adalah hak sepenuhnya milik guild dan pihak guild bebas mengakui prestasi seorang prajurit bayaran tanpa persetujuan prajurit bayaran yang bersangkutan.
Kami sebenarnya cukup kesal, sangat kesal bahkan, tapi kami juga tidak bisa protes.
Sebelumnya, saat dalam perjalanan pulang dari Lembah Yan, Bang Joshua, Bang Regas, bahkan sampai Bang Khamim sempat menawari kami untuk ikut ke markas utama yang berada di ibu kota. Mereka mengatakan bahwa kami akan dipromosikan menjadi anggota resmi.
Dengan begitu, nama kami bisa turut dicantumkan dalam daftar orang-orang yang ikut berkontribusi dalam penaklukkan Lembah Yan, mengingat pihak guild tidak bisa turut mencantumkan nama prajurit bayaran yang notabenenya belum terikat kontrak resmi dengan mereka.
Akan tetapi, kami langsung menolak tawaran mereka setelah mendengar salah satu persyaratan untuk menjadi anggota resmi.
Mereka mengatakan bahwa kami harus menandatangani kontrak sepuluh tahun. Dengan kata lain, kami tidak diperbolehkan bergabung ke guild lain, apalagi mendirikan guild sendiri saat dalam masa kontrak.
Karena suatu saat kami berniat mendirikan guild kami sendiri, kami pun langsung menolak tawaran itu mentah-mentah.
Itu memang sangat disayangkan. Padahal, jika saja nama kami ikut dicantumkan dalam daftar keikut sertaan misi ekspedisi tersebut, itu akan sangat berguna bagi kami di masa depan.
Untungnya, kami mendapat beberapa hal sebagai gantinya.
Pertama, kami mendapat tambahan satu juta pencapaian yang otomatis membuat kami naik menjadi rank S. Dengan begitu, kami bisa menjalankan misi yang lebih tinggi dan mendapat penghasilan yang lebih tinggi pula.
Kedua, kami mendapat tambahan bonus satu juta gale. Bonus itu diberikan sebagai kompensasi atas nama kami yang tidak ikut dicantumkan dalam daftar orang-orang yang turut serta dalam misi penaklukkan Lembah Yan. Dengan begitu, total kami berhasil mendapatkan dua juta gale, satu juta dari bonus, dan satu juta lagi dari imbalan misi.
Berkat itu, kami jadi tidak terlalu dirugikan, meski nama kami tidak disertakan dalam misi ekspedisi Lembah Yan.
...
Pagi ini, aku, Drian, dan Angel berniat pergi ke guild untuk memeriksa apakah uang bonus dan imbalan dari misi ekspedisi kemarin sudah masuk ke tabungan kami atau belum.
Namun, sebelum itu kami mampir dulu ke warung langganan tempat kami biasa sarapan.
"Bang, pecel tiga! Biasa ...."
"Woke! Pakek ekstra tempe kan, Vin?"
"Yoi, Bang!"
Sambil menunggu pesanan datang, kami pun mulai berbincang.
"Kira-kira uangnya udah masuk belum, ya ...?" tanyaku sambil mengunyak kerupuk.
"Harusnya sih udah. Biasanya kan juga cuma dua sampai tiga hari," sahut Drian, juga sambil mengunyah kerupuk.
"Ntar, kira-kira uangnya kita pakai buat apa, ya? Pasokan dan dana desa udah aman. Kita juga belum siap buat guild sendiri," tanyaku, masih sambil mengunyah kerupuk.
"Gimana kalau uangnya kita gunain buat nyalurin listrik ke desa? Dua juta harusnya cukup, kan?" Angel mengusulkan idenya.
"Tapi agak beresiko nggak sih? Kalau mesti nyalurin listrik dari sini ke desa? Desa kita kan jauh banget dari sini. Gimana ntar kalau ada yang nyuri listriknya, atau kabelnya nggak sengaja putus? Itu kan bisa nambah biaya. Lagi pula, biaya bulanannya juga nggak murah. Dengan penghasilan warga desa yang sekarang, emang mereka bakalan sanggup bayar biaya bulanannya?" tanyaku, masih sambil mengunyah kerupuk.
"Iya juga sih ... terus gimana dong?" tanya Angel.
"Gimana kalau kita buat pembangkit listrik sendiri di desa?" usul Drian.
"Caranya?" Aku dan Angel bertanya dengan kompak.
"Eh, kita kompakan, Ngel. Jangan-jangan kita jodoh nih ...?" Aku mencoba menggoda Angel.
"Itu sih maunya kamu," balas Angel.
"Hehehehe ... ngarep boleh kali ...."
"Ini jadi bahas listrik nggak?" tanya Drian dengan tampang datarnya.
"Oh, maaf, Yan. Sampai mana tadi?"
"Buat pembangkit listrik sendiri," balas Drian.
"Iya, itu ... emangnya lu tau gimana cara buatnya?" tanyaku.
"Ya ngapain mesti kita? Kan bisa bayar orang?" balas Drian.
"Hmm ... jadi kita bayar orang untuk ngebuatin pembangkit listrik, gitu?" tanyaku.
"Iya," balas Drian.
"Ide bagus tu ... aku setuju," kata Angel.
"Terus masalahnya siapa orang yang bisa buat pembangkit listrik? Emang lu kenal?" tanyaku.
"Nah, itu dia ... gua juga nggak tau."
"Yeeee ... kalo gitu mah sama aja boong, Yan."
Karena tidak kunjung menemukan solusi atas permasalahan yang sedang kami hadapi, kami pun memilih menunda perencanaan penyaluran listrik ke desa.
Listrik memang penting, tapi kami juga tidak bisa sembarangan mengambil langkah.
"Nih, pesenan kalian. Silakan dimakan."
...
Puas sarapan, kami pun langsung meluncur menuju guild.
Sesampainya di guild ...
"Wedeh ... pahlawan tanpa tanda jasa it's in the house, yooo," kata Bang Deri.
"Vin, bonus lu dah cair, kan? Bagi-bagi napa!" kata Bang Kris.
"Iya, minimal traktiran kek," imbuh Bang Dodi.
Sesampainya di guild, rekan-rekan sesama prajurit bayaran langsung menyambut kedatangan kami seperti pahlawan.
Wajar jika mereka memperlakukan kami seperti itu, mengingat mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran di balik penaklukkan Lembah Yan.
"Tenang aja! Malam ini kalian bebas minum di bar sepuasnya! Gua yang traktir!" teriakku.
"Nah, gitu dong!" kata Bang Kris.
"Yoyoi ... akhirnya gua bisa minum-minum sepuasnya!" kata Bang Dodi.
"Air putih tapi," imbuhku.
"Yeeee ... itu mah sama aja boong! Bubar, bubar!" kata Bang Kris.
"Hahahahahahaha!" Aku pun langsung tertawa puas.
"Lu tu ya ... suka banget ngerjain orang. Untung nggak dilempar meja lu!" gerutu Drian.
"Hahahahahaha ...." Aku pun hanya menanggapinya dengan tawa menggelegar.
Setelah sambutan kecil tersebut, kami langsung menghampiri Mbak Shelly yang berjaga di meja depan.
"Gimana, Mbak? Udah cair belum?" tanyaku.
"Udah nih ... baru aja masuk," jawab Mbak Shelly.
"Dua juta kan?" tanyaku.
"Iya, dua juta," balas Mbak Shelly.
"Eh, kalian ditunggu ama Pak Warto di ruangannya tuh," imbuh Mbak Shelly.
"Emangnya ada apa? Jangan bilang Pak Warto mau minta jatah juga?" tanyaku keheranan.
"Ya nggak mungkin lah ... udah buruan gih. Kalian udah ditungguin dari tadi," balas Mbak Shelly.
Kami pun pergi ke ruangan Pak Warto yang berada di lantai tiga, lantai paling atas.
Kami berjalan menaiki tangga sambil berbincang.
"Kira-kira ada apa, ya? Tumben-tumbenan Pak Warto manggil kita," gumamku.
"Apa jangan-jangan kita mau dikasih bonus tambahan ...?" kata Angel.
"Ya nggak mungkin lah ... kayak nggak kenal Pak Warto aja," balas Drian.
Sesampainya di depan pintu ruangan Pak Warto ...
Tok, tok, tok.
"Permisi, Pak."
Aku pun langsung mengetuk pintu.
"Iya, masuk," jawab Pak Warto dari dalam ruangannya.
Saat pertama kali memasuki ruangan Pak Warto, kami cukup terkejut karena ternyata Pak Warto tidak sendirian. Ada tiga orang pria yang menemani Pak Warto. Dua orang berdiri di samping sofa, sedangkan yang satunya duduk di sofa yang membelakangi kami.
"Jadi, kalianlah yang sudah berkontribusi besar pada misi penaklukkan Lembah Yan?" Pria yang sebelumnya duduk di sofa tunggal yang membelakangi kami tiba-tiba mulai berdiri menghadap kami.
Saat pertama kali melihat rupa pria tersebut, aku pun seketika mematung, begitu pula dengan Angel dan Drian.
Pria itu menggunakan pakaian khas seorang bangsawan abad sembilan belas. Jaket hitam, celana hitam, lengkap dengan kemeja putih yang dia gunakan membuatnya tampak sangat elegan.
Tampang pria itu juga nampak sangat rupawan, saking rupawannya sampai membuatnya seolah-olah memancarkan cahaya berkilau di mataku.
Selain itu, pembawaanya juga sangat kalem dan berwibawa.
Di mataku, dia tampak seperti pria idaman seluruh wanita normal di dunia.
"Perkenalkan, namaku Adrian. Aku adalah Master Guild Fairy."
"Ma-Master Guild Fairy?" Aku, Drian, dan Angel pun tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutan kami.
Awalnya, kukira Master Guild Fairy, seorang yang memegang kuasa tertinggi di guild, adalah pria tua bangka dan berengsek. Sebelas dua belas dengan Pak Warto, tapi ternyata anggapanku salah.
Sungguh tak terduga. Seorang pria tampan nan rupawan yang terlihat masih berusia dua puluhan tahun yang berdiri di hadapan kami ternyata adalah sang Master Guild Fairy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments