"Bu, apa Anda bisa memberitahu kami di mana markas kelompok mereka?" tanyaku.
"Apa yang mau kalian lakukan?"
"Kami ingin memberi mereka sedikit pelajaran," jawabku.
"Saya mohon tolong jangan lakukan itu. Tuan Thoriq dan kelompoknya adalah prajurit bayaran rank A. Kalian tidak mungkin bisa mengalahkan mereka."
"Mau rank A kek ... rank S kek ... nggak perduli! Tolong kasih tau di mana markas mereka biar kuhajar mereka," kataku dengan penuh emosi.
"Maaf, tapi saya mohon tolong lupakan saja. Kalau kalian melakukannya, Tuan Thoriq dan kelompoknya akan marah besar pada kami." Si ibu penjaga panti bersujud memohon padaku.
Aku bisa mengerti maksudnya. Ibu itu pasti sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka apabila ketahuan mengadukan hal semacam ini pada kami.
Oleh karena itu ...
"Baiklah, kami akan berpura-pura ini tidak pernah terjadi."
Aku memutuskan untuk melupakan kejadian tersebut dan berpura-pura tidak pernah tau.
"Terima kasih banyak!" kata si ibu penjaga panti.
"Kalau begitu kami pamit pergi dulu."
Aku, Drian, dan Angel pun pergi meninggalkan panti tersebut.
"Vin ..."
Belum selesai Drian berbicara, aku langsung memotong.
"Aku tau. Mana mungkin aku akan membiarkan hal semacam ini begitu saja. Ayo kita hajar kelompok sialan itu!"
Walaupun sebelumnya aku memang berkata akan melupakannya, tapi aku tidak berencana untuk benar-benar melupakannya. Aku mengatakan itu agar ibu penjaga panti tidak khawatir.
Pagi itu juga, aku, Drian, dan Angel langsung mencari informasi tentang Kelompok Thoriq.
...
"Bagaimana kondisi mereka?"
"Mereka baik-baik saja, Bos. Tubuh mereka hanya membeku sementara."
"Oh, jadi ternyata kau pelakunya, ya, Pria Tua Nakal," kataku saat pertama kali memasuki markas kelompok yang kami cari.
Tidak butuh waktu lama, kami bisa langsung mengetahui markas Kelompok Thoriq, kelompok yang sama dengan bandit yang ingin merampok kami sewaktu perjalanan menuju Lisbon.
Di markas tersebut ada cukup banyak orang, mungkin sekitar dua puluh, tapi aku tidak melihat empat orang yang sebelumnya kubekukan di sana. Kemungkinan Pria Tua Nakal itu tidak membawa semua anggotanya saat ingin merampok kami.
"Kenapa kalian datang ke sini?" Pria yang kupanggil Pria Tua Nakal itu nampak cukup panik melihat kedatangan kami.
"Kami ke sini untuk memberi kalian pelajaran," balasku.
"Pelajaran? Memangnya siapa kalian!"
"Berani sekali kalian datang ke sini!"
"Apa kalian datang untuk cari mati!"
"Cukup!" Si Pria Tua Nakal menghentikan ocehan para bawahannya, lalu bertanya pada kami, "Apa yang kalian inginkan?"
"Kalian sudah memanfaatkan anak-anak panti dan menjadikan mereka pengemis. Hebat sekali kalian ini. Tidak kusangka akan ada orang seburuk kalian," kataku sambil memancarkan aura intimidasi.
"Berani sekali kalian seenaknya berbicara!" seru salah satu bawahan si Pria Tua Nakal.
Beberapa dari mereka tiba-tiba melesat ke arah kami, namun Angel dengan sigap mengurung setiap dari mereka dalam barier berbentuk bulat.
Angel memang tidak hebat dalam bertarung, tapi sebagai gantinya, dia punya kemampuan menciptakan barier absolute yang hampir mustahil ditembus, bahkan dengan serangan terkuatku sekalipun.
"Hoi, Pria Tua Nakal. Jelaskan sejelas-jelasnya kenapa kau melakukan hal seperti itu. Kalau tidak ...." Aku menggemertakkan jariku.
"Aku benar-benar minta maaf soal itu. Sebenarnya aku bahkan tidak tau soal apa yang kalian maksud," kata si Pria Tua Nakal.
"Apa kau perlu satu pukulan di kepala untuk membuatmu ingat? Kali ini akan kupastikan aku tidak akan meleset," kataku sambil mengepalkan tangan.
Pria Tua Nakal itu kelihatan semakin panik dan gugup, lalu tiba-tiba bersujud.
"Tolong jangan lakukan itu. Aku sungguh tidak tau apa yang kalian maksud. Mungkin saja itu ulah para bawahanku!"
"Bos!" Puluhan anak buahnya kelihatan heran dan terkejut sewaktu melihat pemimpin mereka tiba-tiba bersujud.
Aku pun berjalan perlahan menghampiri si Pria Tua Nakal yang masih bersujud, lalu mencengkram kepalanya dan mengangkatnya.
"Katakan ... anak buahmu yang mana?" tanyaku dengan tampang marah.
"Kalian semua! Cepat bilang siapa yang sudah membuat anak-anak panti menjadi pengemis!" teriak si Pria Tua Nakal dengan raut ketakutan.
Anak-anak buahnya cuma diam, seolah-olah mereka tidak mau mengakui perbuatan mereka.
"Sebagai seorang pemimpin, kau adalah yang terburuk. Kau bahkan tidak tau apa yang sudah dilakukan anak buahmu di belakangmu." Aku sangat geram saat mengatakan itu.
"Tolong maafkan aku. Aku memang pemimpin yang tidak becus. Tolong maafkan aku, aku punya keluarga. Tolong maafkan aku." Si Pria Tua Nakal itu terus merengek padaku.
"Bos, kenapa kau jadi selembek ini! Padahal dia itu hanya ...."
"Diam!" Si Pria Tua Nakal langsung membentak bawahannya.
Aku kemudian melepaskan cengkramanku sambil berkata, "Aku akan mengampuni kalian dengan dua syarat. Kalian semua harus meminta maaf pada anak-anak panti di depan semua orang. Kalian juga harus memberikan semua uang kalian pada mereka. Kalau tidak ...."
"Baik! Kami akan melakukannya! Kami pasti akan melakukannya!"
...
Selesai urusan dengan Thoriq dan kelompoknya, kami kemudian pergi ke panti asuhan.
"Oh, Tuan, kalian kembali lagi." Si ibu penjaga panti menyambut hangat kedatangan kami.
"Bu, apa Anda bisa mengumpulkan anak-anak sekarang juga?" tanyaku.
"Memangnya ada apa?"
"Kami ingin memberi sedikit kejutan pada kalian," jawab Angel.
"Kejutan?" Si ibu penjaga panti kelihatan agak ragu.
"Tenang saja, Bu. Semuanya akan baik-baik saja." Drian pun berusaha meyakinkan.
Singkat waktu, si ibu penjaga panti mulai mengumpulkan semua anak panti asuhan yang berjumlah kurang lebih dua puluh anak.
Ada yang sudah remaja, ada yang masih bayi, dan ada juga yang masih anak-anak.
Setelah semua anak berkumpul, kami kemudian pergi ke alun-alun kota.
"Kita mau ke mana?" tanya Lusi pada Angel yang menggandeng tangannya.
"Kakak mau memberi sedikit kejutan pada kalian," jawab Angel.
Sesampainya di alun-alun, si ibu penjaga panti nampak keheranan sewaktu melihat Thoriq dan kelompoknya sedang dikerumuni banyak orang.
"Ini sebenarnya ada apa?" tanya si ibu penjaga panti.
"Mereka ingin meminta maaf atas semua yang sudah mereka lakukan pada kalian," jawab Drian, sedangkan aku dan Angel hanya tersenyum.
Si ibu penjaga panti tiba-tiba nampak syok dan berkaca-kaca.
"Silakan, Bu." Aku mempersilakan ibu panti berserta anak-anak asuhannya maju menghadap Thoriq dan kelompoknya.
Dengan mata berkaca-kaca dan raut tak percaya, si ibu penjaga panti pun mulai melangkah ke depan bersama dengan anak-anak asuhannya.
Sementara itu ...
"Tolong maafkan kami! Kami sudah melakukan tindakan yang sangat buruk pada kalian! Kami berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama! Sekali lagi, tolong maafkan kami!"
"Tolong maafkan kami!"
Thoriq diikuti puluhan bawahannya langsung bersujud di hadapan si ibu penjaga panti dan anak-anak asuhannya, ditonton ratusan orang di sekeliling, sementara si ibu penjaga panti nampak sangat terharu hingga berkaca-kaca.
"Tolong angkat kepala kalian. Kalian mungkin sudah berbuat buruk pada kami, tapi berkat kalian, kami jadi aman dari gangguan preman," kata si ibu penjaga panti dengan sesenggukan.
Anak-anak panti yang mengerti momen tersebut pun ikut menangis, sedangkan yang belum mengerti hanya terdiam.
"Sebagai permintaan maaf, kami akan memberikan semua uang kami pada kalian!" Thoriq memberikan buku tabungannya pada si ibu penjaga panti dan si ibu penjaga panti pun menerimanya dengan tangis haru.
Di sisi lain, ratusan orang yang menonton momen tersebut kelihatan bergumam satu sama lain.
"Ini lebih baik bukan ...?" kataku sambil melihat momen itu dengan perasaan haru bercampur bahagia.
"Ya, aku setuju," sahut Drian.
"Rasanya aku mau menangis." Angel terus saja mengusap matanya.
Aku cukup senang karena kami mengambil keputusan tersebut.
Sebelumnya, saat mencaritahu tentang Thoriq dan kelompoknya, kami mendapati beberapa fakta mengejutkan.
Walaupun Thoriq dan kelompoknya cukup terkenal suka memanfaatkan anak-anak panti sebagai pengemis, tapi merekalah yang menjaga anak-anak panti dari gangguan orang luar. Mereka juga selalu mengambil tindakan saat anak-anak panti terkena masalah.
Maka dari itu, kami memutuskan untuk membuat mereka meminta maaf pada anak-anak panti sebagai bentuk penyesalan mereka.
...
Setelah itu, si ibu penjaga panti kemudian menghampiri kami.
"Saya benar-benar berterima kasih atas semua yang sudah kalian lakukan."
"Itu bukan masalah besar, Bu. Lagi pula, kalian memang sudah seharusnya mendapatkannya," balasku.
Aku lalu menyarankan, "Bu, jika bersedia, bagaimana kalau setelah ini kalian pindah ke desa kami? Di sana mungkin hanya pedesaan kecil, tapi kami berani menjamin kalian akan aman di sana. Tidak akan ada lagi yang bisa memperlakukan kalian seperti sebelumnya. Kami mungkin sudah menyelesaikan permasalahan kalian, tapi kita tidak tau akan bertahan sampai berapa lama."
Aku mencoba menawari mereka pindah ke desaku untuk menjamin keamanan mereka dan menyelesaikan masalah hingga ke akar-akarnya.
"Dengan senang hati kami terima tawaran kalian. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih atas semua yang sudah kalian lakukan," kata si ibu penjaga panti dengan penuh emosional.
"Ya, itu bukan masalah. Justru kamilah yang senang karena bisa membantu kalian."
Bagiku, tidak ada kenikmatan terbaik selain melihat senyum kebahagiaan di wajah orang yang memang layak untuk mendapatkannya.
Singkat cerita, setelah anak-anak panti selesai berkemas dan kami juga selesai melaporkan misi sebelumnya, kami langsung berangkat menuju desa kami; Desa Florida.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments