Sore itu juga, kami langsung berangkat menuju Lembah Yan yang berjarak sekitar kurang lebih satu jam perjalanan dari pusat Kota Borneo.
Rute yang kami lalui adalah rute hutan belantara tanpa jalur setapak karena hanya rute itu yang tersedia. Maklum saja, sangat jarang ada yang ingin pergi ke lembah itu.
"Kita belum memperkenalkan diri. Namaku Alvin, dan mereka ini adalah sahabatku, Drian dan Angel."
"Halo," kata Angel, sementara Drian hanya mengangkat satu tangannya saat aku memperkenalkan mereka.
"Namaku John, ini Lucas, Morphin, Ludensberg, dan yang di sana Jerni."
"Halo," kata Om Jerni, sedangkan Om Lucas hanya mengangkat satu tangannya, Om Morphin melambaikan tangannya, dan Om Ludensberg hanya tersenyum kecil saat Om John memperkenalkan mereka pada kami.
Aku memanggil mereka dengan panggilan Om karena mereka terlihat jauh lebih tua dariku.
Akan kujelaskan sedikit tentang ciri-ciri mereka.
Om John, Om Morphin, dan Om Ludensberg, mereka terlihat seperti pria paruh baya berumur sekitar lima puluhan tahun.
Walaupun sudah berumur, namun postur tubuh mereka masih tetap terjaga dengan sangat baik. Mereka punya banyak otot yang membuat penampilan mereka terlihat sangat gagah. Mereka juga punya janggut dan kumis lebat yang menambah kegagahan mereka.
Sementara itu, Om Lucas dan Om Jerni terlihat lebih muda dari yang lainnya.
Perkiraanku, umur mereka mungkin baru kepala tiga, mengingat penampilan keduanya yang terlihat seperti model tampan dengan wajah dan kulit putih bersih disertai tubuh ramping namun kekar berotot.
"Nama dan wajah kalian agak asing untuk kami. Apa kalian berasal dari negara lain?" tanyaku.
"Ya, kami berasal dari Sweden," jawab Om John.
Benar dugaanku. Mereka berasal dari luar negeri. Sejak awal, aku memang sudah curiga kalau mereka tidak berasal dari Negara Tenes, negara asalku, karena logat, postur tubuh, hingga kontur wajah mereka cukup asing bagiku.
"Sweden ...? Kudengar itu adalah negara yang sangat indah. Aku ingin sekali berkunjung ke sana suatu saat nanti," kata Angel.
"Ya, kalian bisa datang kapan pun," sahut Om Morphin.
"Kalau tidak salah, Negara Sweden itu juga terkenal memiliki cukup banyak pandai besi dan kelompok ekspedisi hebat, kan?" tanya Drian.
"Ya, kami cukup bangga soal itu," balas Om John.
"Kenapa kalian sampai datang jauh-jauh ke sini cuma untuk menaklukkan Lembah Yan?" tanyaku.
"Bagi petarung seperti kalian, menjadi yang terkuat adalah impian semua orang, bukan? Tapi bagi kelompok ekspedisi seperti kami, bisa menaklukkan tempat-tempat berbahaya seperti Lembah Yan adalah impian semua orang," jawab Om John.
"Ohhh ... jadi itu semacam prestasi tersendiri untuk kalian, ya?" tanyaku.
"Ya, begitulah," balas Om John.
"Tunggu dulu ... tadi kalian bilang kelompok ekspedisi ...? Jadi, kalian ini bukan kelompok penambang?" tanyaku.
"Kami memang datang ke Lembah Yan untuk menambang, tapi kami bukan kelompok penambang," jawab Om John.
"Kami ingin menambang di sana sebanyak mungkin dan pulang dengan selamat sebagai bukti bahwa kami telah berhasil menaklukkan lembah tersebut," imbuh Om Ludensberg.
"Ah, jadi gitu, ya," gumamku.
Awalnya, kupikir mereka adalah kelompok penambang yang ingin mencari keuntungan di Lembah Yan karena sebelumnya mereka bilang ingin menambang di sana, tapi ternyata dugaanku salah. Mereka ternyata adalah kelompok ekspedisi yang ingin menaklukkan Lembah Yan.
...
Singkat cerita, setelah cukup lama berjalan melalui rute hutan lebat, kami akhirnya sampai di sebuah desa kecil yang berbatasan langsung dengan Lembah Yan. Desa itu bernama Desa Goro.
Sewaktu berjalan di jalanan desa tersebut, orang-orang di sana terus menatap kami untuk alasan yang tidak kuketahui.
Melihat raut wajah mereka, kemungkinan mereka tidak suka dengan kedatangan kami.
Walaupun begitu, kami tidak ingin terlalu memperdulikan tatapan mereka dan tetap melanjutkan perjalanan.
"Apa kalian ingin pergi ke Lembah Yan?"
Tiba-tiba langkah kami dihentikan oleh seorang kakek-kakek berambut dan berjanggut putih yang menggunakan semacam baju adat didampingi cukup banyak orang di sampingnya.
Kutebak, kakek itu mungkin semacam tetua desa atau orang yang dituakan di sana, mengingat orang-orang di sekelilingnya kelihatan menaruh hormat padanya.
"Iya, kami ingin memasuki Lembah Yan," jawabku.
"Sebaiknya urungkan saja niat kalian. Itu demi kebaikan kalian sendiri," kata si Kakek itu.
"Maaf, Kek, tapi kami tidak punya niatan untuk kembali," balasku.
Tentu saja kami tidak akan kembali. Mana mungkin aku akan membuang misi satu juta gale begitu saja.
"Aku hanya memperingatkan kalian, tapi kalau kalian menolak, bersiaplah menerima akibatnya," kata si Kakek itu, lalu memberi kami jalan.
Aku cukup keheranan karena awalnya kupikir si Kakek itu akan melarang kami memasuki Lembah Yan dan akan memaksa kami kembali jika kami menolak, tapi ternyata tidak. Dia malah mempersilakan kami melanjutkan perjalanan.
Dengan raut bingung bercampur heran, kami pun melanjutkan perjalanan melewati orang-orang desa yang terus-menerus menatap kami.
Ini adalah desa yang sangat aneh. Itulah yang ku ... atau mungkin kami pikirkan sewaktu berjalan melewati orang-orang desa tersebut.
...
Singkat cerita, kami akhirnya sampai di tempat tujuan, Lembah Yan, lembah besar yang diapit dua tebing menjulang tinggi.
"Jadi, ini kah Lembah Yan?" Aku cukup kagum, sangat kagum bahkan, aku kagum sewaktu berdiri di atas tebing tinggi sambil melihat pemandangan sungai panjang dan berliku yang membelah pepohonan rindang, diapit dua tebing tinggi yang terhampar di hadapanku.
"Kupikir Lembah Yan itu seperti area tandus dengan banyak tengkorak berserakan," kata Drian.
"Itu kayaknya agak berlebihan deh, Yan," kata Angel.
"Apa kalian juga baru pertama kali ke sini?" tanya Om John.
"Ya, ini adalah pengalaman pertama kami datang ke sini," balasku, masih sambil mengagumi pemandangan menakjubkan yang terhampar di hadapanku.
Kami sampai di sana saat sore hari menjelang malam. Itu adalah saat terbaik untuk melihat matahari tenggelam.
Pemandangan matahari tenggelam yang kulihat dari tebing tinggi tempat kami berdiri sungguh membuatku terpukau. Suasana dan pesonanya seolah-olah sanggup membuat hatiku tenang.
Akan tetapi, sayang itu hanya kesan pertama. Di balik keindahan tersebut, ternyata menyimpan sesuatu yang sangat mengerikan.
...
Kami pun mulai menuruni tebing dan menyusuri lembah untuk mencari tempat terbaik mendirikan tenda.
Sampai pada akhirnya, kami memutuskan mendirikan tenda dan bermalam di pinggiran sungai yang membelah lembah tersebut.
Selesai mendirikan tenda, kami semua duduk bersantai bersama di samping api unggun.
"Apa cuma aku atau memang suasana malam di sini rasanya lebih dingin dari biasanya?" tanya Drian sambil meniupi teh hangat di tangannya.
"Aku juga mikir gitu," kata Angel yang sedang menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
"Perasaan sama aja deh," kataku sambil mengorek-ngorek api unggun menggunakan ranting kayu.
"Apa kalian tidak biasa berkemah?" tanya Om John yang sedang memegang segelas teh panas.
"Nggak juga. Kami sudah biasa tidur di hutan. Kami ini dulunya penebang pohon," jawabku.
"Bagaimana dengan kalian? Apa ini pertama kalinya kalian berencana menaklukkan tempat-tempat berbahaya?" tanya Drian.
"Apa kalian pernah dengar kelompok ekspedisi Charlin sebelumnya?" tanya Om Jerni.
"Aku sering sekali mendengarnya. Aku juga sudah membaca buku dokumentasi perjalanan mereka," kata Angel dengan penuh antusias.
"Kalau tidak salah, Kelompok Charlin itu kelompok ekspedisi terbaik sepanjang sejarah, kan?" tanya Drian.
"Kamilah Kelompok Charline," balas Om Jerni.
"Eh ...?!" Aku, Drian, dan Angel pun seketika melongo. Kami benar-benar terkejut setengah mati karena tidak menyangka akan bertemu dengan kelompok seterkenal mereka secara langsung.
"Hahahahahaha! Aku suka ekspresi kalian," kata Om Jerni sambil tertawa lepas.
Om John, Om Lucas, Om Morphin, dan Om Ludensberg juga tertawa, tapi lebih santai.
Seperti yang Angel katakan, kelompok ekspedisi Charlin adalah kelompok yang sangat amat terkenal dan tersohor di seluruh dunia berkat segudang prestasi yang telah mereka torehkan. Mereka bahkan sering disebut sebagai Kelompok Ekspedisi Terbaik Sepanjang Sejarah.
Beberapa prestasi besar yang pernah mereka torehkan di antaranya adalah Penaklukkan Gunung Verves yang merupakan gunung tertinggi di muka bumi sekaligus gunung yang terkenal sangat mematikan karena gunung tersebut selalu diselimuti es abadi dan memiliki suhu dingin ekstrim.
Kemudian Penaklukkan Great Canyon, lembah paling terjal di muka bumi yang terkenal sangat mematikan dan sudah merenggut banyak nyawa para penantangnya.
Lalu yang terbaik di antara semuanya adalah Penaklukkan Palung Maryland yang merupakan palung terdalam di muka bumi, palung yang dikatakan nyaris mustahil ditaklukkan manusia bahkan sanggup mereka taklukkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments