Saat kami sedang berunding ...
Splash!
Tiba-tiba ada suara percikan besar dari tengah tengah danau.
Aku dan Drian pun langsung menoleh.
"Buruan, Vin!" teriak Drian.
"Ya!" balasku.
Tanpa pikir panjang, aku dan Drian langsung menceburkan diri ke dalam danau karena berpikir kalau percikan tersebut disebabkan oleh hewan buruan kami.
Sesampainya di tengah-tengah danau, kami berdua akhirnya menemukan penyebab dari percikan sebelumnya, tapi karena hari sudah hampir malam, ditambah kami juga sedang menyelam di dalam air, kami jadi kesulitan melihat.
Kami mencoba semakin mendekat, dan saat kami bisa melihat lebih jelas, kami seketika mematung karena melihat sesosok mahluk raksasa mirip ular yang sedang melilit tubuh buaya besar.
Drian lalu memberiku aba-aba kembali ke daratan dengan tangannya, sementara aku langsung mengangguk, tanda mengerti.
Kami berenang kembali ke tepian danau dengan sekuat tenaga, namun juga setenang mungkin agar tidak menarik perhatian mahluk tersebut.
"Huanjir ... itu tadi apaan woi ...!" Aku cukup histeris sesampainya di tepian danau.
"Baru kali ini gua ngelihat yang kayak begitu." Drian juga cukup histeris.
"Kenapa?" tanya Angel yang menghampiri kami dengan raut bingung.
Splash!
Tiba-tiba mahluk yang kami lihat sebelumnya muncul ke permukaan danau.
"Huanjir!" Aku semakin histeris setelah melihat wujud mahluk tersebut.
Sebelumnya, aku hanya bisa melihat wujudnya samar-samar karena kurangnya cahaya, tapi sekarang aku bisa melihat wujudnya dengan jelas.
Mahluk tersebut mirip ular, tapi punya kepala mirip singa dan punya tanduk mirip banteng. Tubuhnya bersisik hitam legam.
Ukurannya sangat panjang dan besar, cukup panjang untuk melilit seekor buaya besar.
Mahluk tersebut melihat ke arah kami dari kejauhan.
"Ayo, buruan pergi!" kata Drian.
"Ya!"
Kami berniat bergegas meninggalkan danau tersebut. Akan tetapi, baru beberapa langkah, aku langsung berhenti karena suatu alasan, sedangkan Drian dan Angel tetap berlari menjauh.
"Manusia ... tidak perlu takut. Aku tidak akan melukai kalian." Aku berhenti karena mendengar suara monster tersebut terasa seperti masuk ke dalam otakku.
"Apa kau baru saja mengatakan tidak akan melukai kami?" tanyaku pada monster tersebut.
"Apa kau bisa mendengar suaraku?" Suara monster itu terdengar seperti terkejut dan tidak percaya.
"Ya, aku bisa mendengarmu," balasku.
"Vin, cepat lari! Kenapa malah diam di sana?" teriak Drian.
Karena Drian dan Angel kelihatan sangat panik, aku jadi berasumsi kalau mereka tidak mendengar apa yang baru saja monster itu katakan.
"Yan, Ngel, nggak perlu lari. Katanya dia nggak bakal ngelukai kita," kataku.
"Haaaa?! Ngomong apa sih lu ...? Monster itu kan mahluk buas! Mana mungkin dia cuma sekadar lewat!" teriak Drian.
"Sepertinya, kalian para manusia salah paham dengan kami. Kami, para monster sebenarnya tidak suka bertarung dan melukai manusia. Kami hanya akan bertarung saat benar-benar terpaksa." Lagi-lagi, ucapan mahluk tersebut terasa langsung masuk ke dalam otakku.
Aku cukup tersentak mendengar kalimat yang baru saja diucapkan monster tersebut.
Seperti yang Drian katakan, monster di dunia ini dikenal cukup beringas dan suka melukai manusia, tapi entah kenapa, monster yang ada di hadapanku saat ini malah mengatakan yang sebaliknya.
Aku tidak tau mana yang bisa dipercaya, tapi menurut penilaianku, sepertinya benar apa yang dikatakan monster di hadapanku ini.
Setelah mengatakan itu, monster tersebut langsung menyelam kembali ke dalam danau.
Aku cukup lega karena monster tersebut hanya sekadar lewat.
Bukannya apa-apa, kalau harus bertarung sekalipun, aku yakin satu juta persen aku pasti menang. Yang jadi permasalahannya adalah, aku ini orangnya gelian dengan binatang melata. Maka dari itu, aku sangat lega karena tidak perlu bertarung dengan monster tersebut.
Namun, karena pertemuan tersebut, aku jadi penasaran akan kalimat yang monster itu katakan, tentang monster yang tidak suka melukai manusia.
"Kenapa, Vin?" tanya Angel.
"Lu baik-baik aja kan?" tanya Drian.
"Nggak, tadi ...."
Aku ingin menjelaskan soal yang sebelumnya, soal kalimat yang monster itu katakan, tapi entah kenapa, aku malah mengurungkannya.
"Nggak ... bukan apa-apa kok."
Tidak lama berselang setelah monster tersebut menyelam kembali ke dalam danau, hewan buruan yang kami cari tiba-tiba terlempar ke tepian danau, seperti sengaja dilempar dari dalam danau.
Kami benar-benar keheranan akan peristiwa aneh yang baru saja kami alami.
"Ayo lupakan kejadian ini. Anggap aja kejadian ini nggak pernah ada," kata Drian.
"Ya." Aku dan Angel menyetujuinya.
...
Malam itu juga, kami langsung membawa hewan buruan kami ke Guild Fairy untuk ditukar dengan imbalan yang sudah dijanjikan.
"Ini imbalan kalian, 500 gale."
"Terima kasih banyak," balasku.
Setelah itu, kami langsung pergi meninggalkan guild dan berkeliling kota untuk mencari makan.
"Mau makan apa kita malam ini?" tanya Drian yang berjalan di sampingku.
"Gimana kalau sate? Kayaknya enak," jawabku sambil menunjuk warung sate di pinggir jalan.
"Aku pingin makan kebab," kata Angel.
"Wah ... boleh tu. Kebab kayaknya enak," kata Drian.
"Sate, woi ... sate ... gua nggak doyan kebab," gerutuku.
"Ya udah dah, sate. Nggak papa kan, Ngel ...?" tanya Drian.
"Iya, nggak masalah kok."
Singkat cerita, malam ini kami memutuskan makan sate di warung pinggir jalan.
Sambil menunggu pesanan datang, kami mulai membicarakan tentang kejadian di danau tadi.
"Vin, tadi lu kenapa ...?" tanya Drian.
"Aku juga penasaran," imbuh Angel.
"Oh, soal itu ...."
Awalnya aku agak ragu untuk menjelaskan, tapi karena mereka adalah sahabat dan orang yang paling bisa kupercayai, aku pun menjelaskan.
"Tadi tu ... gua ngerasa kalau suara monster itu masuk langsung ke otak gua. Kayak semacam telepati gitu lah. Dia bilang kalau para monster sebenernya nggak suka ngelukai manusia."
Drian dan Angel kelihatan cukup syok dan terkejut setelah mendengar penjelasanku.
"Kok gua nggak denger ya?" tanya Drian.
"Ya, gua juga nggak tau. Makanya itu, gua bingung," balasku.
"Vin, jangan-jangan ...."
"Jangan-jangan ...?" Aku cukup penasaran akan apa yang ingin Drian katakan.
"Apa jangan-jangan ... lu ini ...."
"Ngomong yang bener, woi! Jangan bikin penasaran!" bentakku.
"Vin, mungkin lu itu sebangsa ama mereka. Makanya lu bisa denger suara mereka," kata Drian.
"Ngaco lu ...."
"Iya, mana mungkin Alvin sebangsa ama mereka," kata Angel.
"Yeeee ... kan gua bilang juga mungkin," kata Drian.
Saat kami sedang sibuk berbincang, tiba-tiba ...
"Hei, Manis, mau nemenin Abang nggak malam ini?"
Tiba-tiba ada segerombolan orang tidak jelas yang mencoba menggoda Angel.
"Hoi, Karung Beras, siapa lu ...? Dateng-dateng ngegodain bini gua!" Sarkastik adalah jalan ninjaku.
"Ka-Karung Beras ...?" Si Karung Beras kelihatan kesal.
"Kenapa ...? Nggak terima? Ngaca sono ngaca!"
Ucapanku mungkin kasar, tapi aku juga tidak akan sampai mengatakan hal semacam itu kalau orang ini, iya, si Karung Beras, dia tidak sampai mencari gara-gara lebih dulu.
"Udah, Vin, udah. Nggak perlu diladenin," kata Angel, sedangkan Drian hanya bersantai sambil meminum segelas teh panasnya, seolah-olah dia ingin menyuruhku meladeni si Karung Beras dengan cara sopan.
"Hoi ... ikut gua," kata si Karung Beras sambil memberi kode mengajakku keluar dari warung tersebut.
Sebagai pria jantan yang tak gentar membela yang benar, aku pun meladeni kemauannya.
Kami kemudian keluar dari warung tersebut.
"Lu tadi bilang gua Karung Beras, kan?"
"Kenapa ...? Masih nggak terima?" balasku.
"Gua habisin lu di sini," kata si Karung Beras.
"Oh ... gitu ... ok."
Aku kemudian membuka baju.
"Kenapa lu malah buka baju?" tanya si Karung Beras.
"Gua nggak mau aja baju gua kotor kena darah lu," balasku.
"Yan, pegangin bentar, Yan." Aku memberikan bajuku pada Drian.
"Buruan. Maju sini. Perut gua udah laper ni," kataku.
Setelah aku membuka bajuku, si Karung Beras tiba-tiba diam seribu bahasa.
"Kenapa ...? Katanya mau nyikat gua ...?"
"Bang, maaf, Bang. Tadi gua hilaf."
Si Karung Beras yang awalnya sok keras, tiba-tiba lembek seperti kertas.
"Ayo, cabut." Si Karung Beras dan kelompoknya tiba-tiba pergi begitu saja.
"Dasar aneh. Tadi katanya mau ngajak ribut," gumamku keheranan.
"Mana berani dia liat tubuh lu," kata Drian.
"Emang kenapa ama tubuh gua?" tanyaku.
"Liat noh," kata Drian sambil memberikan kode untuk melihat sekitar.
Aku pun melihat ke sekitar dan mendapati banyak orang sedang melihat ke arahku.
Aku memiliki tubuh ramping, tapi kekar berotot dipenuhi begitu banyak luka sayatan yang masih membekas.
Semua luka itu kudapat dari latihanku selama ini bersama Drian dan juga luka-luka dari sayatan cakar hewan buas seperti singa hingga serigala yang sering kujadikan bahan latihan.
Baru setelah itu, aku akhirnya menyadari kalau orang-orang mungkin takut setelah melihat tubuhku.
Aku pun kembali memakai bajuku, lalu kembali ke dalam warung sate.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments