Setelah cukup lama menatap wajah tampan nan rupawan sang Master Guild Fairy, aku akhirnya menyadari sesuatu.
Aku menoleh ke samping dan mendapati Angel sedang terpana pada pesona sang Master Guild Fairy.
Aku pun langsung menutup matanya dengan telapak tanganku.
"Kenapa sih, Vin!"
"Liatnya nggak usah lama-lama. Ntar kamu naksir."
"Ih, apaan sih," seru Angel sambil memukulku.
"Alvin, Angel, Drian, beliau ini datang jauh-jauh kemari cuma untuk menemui kalian." Orang yang Pak Warto maksud adalah Adrian, sang Master Guild Fairy.
"Apa ini soal misi ekspedisi kemarin?" tanya Drian.
Sang Master Guild Fairy mulai berjalan perlahan mendekati kami.
"Aku sudah mendengar cerita lengkapnya dari Regas. Kudengar, kalian juga menolak tawaran menjadi anggota resmi. Aku menyempatkan datang jauh-jauh ke sini karena ingin mendengar langsung alasan kalian."
Aku, Drian, dan Angel saling pandang untuk sesaat setelah mendengarnya.
Sebelumnya, kami memang menolak tawaran Bang Regas, Bang Joshua, dan Bang Khamim, tapi kami tidak menyebutkan alasannya.
Kami sebenarnya enggan untuk menjelaskan alasan kenapa kami menolak tawaran tersebut karena merasa itu tidak perlu, tapi berhubung kini yang bertanya adalah sang master guild itu sendiri, ditambah dia juga sudah datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mendengar alasan kami, kami pun jadi tidak enak hati kalau sampai tidak menjelaskannya.
"Sebenarnya ... kami berniat mendirikan guild kami sendiri suatu saat nanti. Kami lebih nyaman menjadi prajurit bayaran karena tidak perlu terikat dengan pihak mana pun," jelas Drian.
"Begitu rupanya ... jadi, kalian menjadi prajurit bayaran di guildku cuma demi mengumpulkan uang?"
Setelah mendengar alasan kami, sang Master Guild Fairy malah terlihat cukup senang.
Itu berbeda dari yang kami perkirakan. Awalnya, kami mengira dia akan marah karena secara tidak langsung, kami hanya memanfaatkan guildnya sebagai batu loncatan, tapi ternyata anggapan kami keliru.
"Apa kau tidak marah?" tanyaku.
"Kenapa juga aku harus marah?" balasnya.
"Kau tau, kan ...? Kami cuma memanfaatkan pekerjaan ini sebagai batu loncatan," kataku.
"Itu sudah biasa. Aku justru malah senang, karena dengan begini, aku bisa berhubungan langsung dengan calon guild besar masa depan," balasnya.
"Hehehehehe ... calon guild besar? Bisa aja." Aku cukup senang mendengar pujian tersebut, meski sebenarnya aku tau itu hanya basa-basi belaka.
"Baiklah, karena kalian menolak menjadi anggota resmi, aku akan memberi kalian tambahan bonus sepuluh juta gale. Anggap itu sebagai kompensasi atas prestasi kalian yang kami akui."
"Se-Sepuluh juta gale?" Aku, Drian, dan Angel hampir mati terkejut mendengarnya.
Sebagai informasi, sepuluh juta gale sama dengan sepuluh juta dolar Amerika. Jika dirupiahkan, itu setara dengan kurang lebih seratus lima puluh milyar rupiah.
"A-Apa tidak masalah memberi kami bonus sebanyak itu?" tanyaku dengan perasaan gugup bercampur tak percaya.
"Kenapa? Apa kalian juga mau menolaknya?"
"Ya nggak mungkin lah! Gila kali nolak uang sebanyak itu!" gumamku.
"Kalian bisa menggunakan uang itu untuk keperluan pendirian guild kalian," imbuh sang Master Guild Fairy.
"Maaf, tapi sebenarnya kami belum berencana mendirikan guild kami sendiri dalam waktu dekat. Apa boleh kami tetap menjadi tentara bayaran di Guild Fairy?" tanyaku.
Aku menanyakan itu karena di telingaku, ucapan sang Master Guild tersebut terdengar seperti 'ambil uang ini dan pergi dari guildku'.
Kami sudah naik menjadi rank S, di mana kami bisa menjalankan misi yang lebih tinggi dengan bayaran yang lebih tinggi pula. Akan sangat disayangkan kalau kami sampai diusir begitu saja hanya karena kami mengatakan ingin mendirikan guild kami sendiri dan menjadikan pekerjaan ini sebagai batu loncatan.
"Ya, itu bukan masalah sama sekali. Kalian bisa tetap menjalankan misi seperti biasa, tapi kenapa kalian menundanya? Bukankah kalian sudah punya cukup kemampuan?" tanya sang Master Guild Fairy.
"Saat ini, kami sedang fokus membangun desa kami. Suatu saat kami ingin mendirikan markas utama di sana. Jadi, sebelum itu kami harus membangun desa kami terlebih dahulu. Lagi pula, kami juga belum yakin bisa bersaing dengan guild-guild besar yang ada," jawabku.
"Memangnya apa yang sedang desa kalian butuhkan?" tanya sang Master Guild Fairy.
"Listrik ... kami sedang mencari orang yang bisa membangun pembangkit listrik untuk desa kami." Mumpung ada kesempatan, aku tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja.
Sang Master Guild itu terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Orang yang bisa membangun pembangkit listrik adalah salah satu harta berharga milik negara. Bahkan jika aku mau, aku tetap tidak akan bisa membantu kalian."
"Begitu, ya ...." gumamku.
Memang sangat disayangkan, tapi kami juga tidak bisa berharap lebih.
"Tapi ..." Sang Master Guild itu tiba-tiba menambahkan. "Aku tau seseorang yang mungkin bisa membantu kalian."
"Siapa?" Aku dan Drian pun dengan sigap bertanya.
"Namanya Javier. Dia adalah ilmuan yang sangat jenius. Kejeniusannya bahkan sudah diakui dunia, tapi ...."
"Tapi ....?" Aku, Drian, dan Angel cukup penasaran akan apa yang ingin dikatakan sang Master Guild Fairy.
"Dia dianggap gila."
"Dianggap gila ...? Kenapa?" tanya Drian.
"Karena dia terlalu terobsesi pada teori gilanya, Teori Quantum."
"Teori Quantum? Apa itu?" tanyaku.
"Aku juga tidak terlalu mengerti soal detailnya karena aku bukan ilmuan, tapi dari apa yang kudengar, Teori Quantum adalah teori yang mengkaji tentang partikel atom dan subatomik. Dikatakan, itu adalah material yang menyusun alam ini."
"Bukankah itu adalah hal yang sangat penting? Lalu kenapa dia malah dianggap gila hanya karena mendalami teori tersebut?" tanyaku.
Sang Master Guild pun mulai menjelaskan.
"Di satu sisi, teori yang Javier ajukan memang dianggap sebagai penemuan terbesar abad ini, tapi di sisi lain, teori tersebut dianggap terlalu rumit dan dipenuhi ketidak pastian yang menimbulkan kebingungan dan perdebatan besar di antara para ilmuan. Beberapa ilmuan bahkan mengatakan bahwa teori tersebut hampir sama seperti mencampuri urusan Tuhan."
"Mencampuri urusan Tuhan?" Aku cukup syok mendengarnya.
"Teori yang Javier kemukakan bersinggungan langsung dengan dunia atom dan subatom yang merupakan ranah yang dipenuhi ketidak-pastian, ranah yang dikatakan oleh beberapa ilmuan sebagai batas antara dunia fisik dan metafisik, ranah di mana semua hal tidak bisa diprediksi."
Aku terdiam sejenak setelah mendengar itu.
Setahuku, apa yang disebut dunia metafisik adalah kata lain dari dunia astral, dunia gaib, dan lain semacamnya.
Jika Javier benar-benar mendalami dunia semacam itu, dia mungkin saja sedang mencari sesuatu, entah apa itu.
"Kalau boleh tau, di mana dia tinggal?" tanyaku.
"Dari informasi terakhir yang kudengar, dia tinggal di sebuah desa kecil bernama Grasia."
"Grasia ...?!" Aku, Drian, dan Angel pun seketika terkejut mendengarnya.
"Kenapa? Apa kalian tau sesuatu?" tanya sang Master Guild Fairy.
"Grasia itu desa tetangga kami," jawab Angel.
"Letaknya emang agak jauh dari desa kami, tapi kami tau soal desa itu," imbuhku.
"Kalau begitu, itu bagus untuk kalian." Sang Master Guild itu tampak senang untuk alasan yang tidak kami ketahui.
"Tapi kenapa ...? Kenapa kau sangat baik pada kami? Kau memberi kami bonus sepuluh juta gale. Kau bahkan memberitahu kami soal Javier," tanyaku.
"Aku hanya berpikir ini juga akan berguna untukku di masa depan kalau kalian benar-benar berhasil membangun guild kalian sendiri."
Aku pun tersenyum mendengarnya.
"Kupikir yang sebelumnya itu cuma omong kosong, tapi sepertinya kau benar-benar mempercayai kami dan ingin membuat kami berhutang, ya?"
Sang Guild Master itupun balas tersenyum, senyum yang seakan-akan menyiratkan banyak hal.
"Kalau begitu, urusanku di sini sudah selesai."
"Mari saya antar," kata Pak Warto.
"Tidak perlu," balas sang Master Guild Fairy, lalu mulai meninggalkan ruangan, bersama dengan kedua pengawalnya.
Saat sang Master Guild berserta kedua pengawalnya sudah pergi meninggalkan ruangan tempat kami berkumpul, Pak Warto tiba-tiba bertanya, "Kalian bertiga, kenapa kalian bisa tetap santai di hadapan Master Guild?"
"Apa maksudnya?" tanyaku yang tidak mengerti maksud ucapan Pak Warto.
"Apa kalian tidak merasakannya? Dari tadi, Master Guild terus memancarkan aura intimidasinya. Aku saja sampai kesulitan menahannya."
"Eh? Yang bener? Emang lu ngrasain, Yan, Ngel?" tanyaku.
Angel dan Drian menggelengkan kepala mereka.
"Perasaan aja kali, Pak. Orang dari tadi rasanya biasa aja," kataku.
Pak Warto pun langsung tersenyum kecut sambil bergumam, "Sekuat apa sih kalian ini sampai nggak terpengaruh aura intimidasi milik Master Guild?"
"Btw ... Master Guild itu umurnya berapa sih, Pak? Tampangnya kok kayaknya masih muda banget," tanyaku.
"Empat puluh lima tahun," jawab Pak Warto.
"Eh ...?!" Aku hampir mati terkejut mendengarnya, begitu pula dengan Angel dan Drian.
Bagaimana bisa, seorang yang tampangnya bahkan tidak lebih tua dariku ternyata umurnya sudah empat puluh lima tahun.
"Jangan boong deh, Pak. Masa tampang kayak gitu udah om-om? Bapak yang masih umur tiga puluhan aja udah kayak gini."
"Maksudnya apa, Vin? Ngeledek saya?" seru Pak Warto.
"Becanda kok, Pak! Pissss ...."
Pak Warto sebenarnya baru berumur tiga puluhan tahun, tapi karena tampangnya sangat boros, dia jadi terlihat seperti om-om berusia lanjut.
Tampang jauh di bawah standart, kulit kusam, perut buncit, tubuh pendek, pokoknya semua paket lengkap kejelekan ada di Pak Warto.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments