Sudah cukup jauh rasanya kami melarikan diri dari perkampungan sebelumnya.
"I-Itu tadi apaan woi!" kataku sambil ngos-ngosan.
"Kan udah gua bilang nggak usah mampir tadi," sahut Drian, juga sambil ngos-ngosan.
"Aku nggak mau ke sana lagi." Angel juga ngos-ngosan.
Saat ini, kami sampai di sebuah padang rumput terbuka yang diapit hutan lebat di setiap sisi.
"Terus malam ini kita tidur di mana?" tanyaku.
"Gimana kalau kita tetap melanjutkan perjalanan? Palingan tiga atau empat jam lagi kita sampai," usul Drian.
"Tapi Angel gimana? Sanggup nggak ...?" tanyaku.
"Nggak masalah kok. Itu lebih baik daripada tidur di sini," jawab Angel.
Karena kami sudah menempuh separuh lebih perjalanan, ditambah seluruh area hutan juga sedang basah akibat guyuran hujan, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan, meskipun hari sudah malam.
Saat berjalan di tengah-tengah hutan belantara tersebut, tiba-tiba ada yang menyerangku dengan lemparan pisau.
Aku sedikit menarik kepalaku ke belakang untuk menghindari lesatan pisau tersebut.
"Siapa itu?" teriakku sambil memasang kewaspadaan tinggi, mengantasipasi kalau ada serangan dadakan.
Drian dan Angel juga memasang kewaspadaan tinggi.
Karena hari sudah malam, ditambah kami juga sedang berada di antara pepohonan rindang dengan sedikit cahaya bulan yang masuk melewati celah-celah daun, kami jadi kesulitan melihat ke area sekitar.
Walaupun begitu, kami tetap bisa mendeteksi datangnya serangan berkat insting yang kami miliki.
Tidak berselang lama, tiba-tiba ada puluhan pisau yang menghujani kami dari segala arah.
Aku dan Drian dengan sigap menangkap salah satu lesatan pisau tersebut dan menggunakannya sebagai senjata untuk menangkis setiap lesatan pisau yang terus-menerus melesat mengincar kami.
"Jangan jadi pengecut! Cepat keluar!" teriakku.
"Lumayan juga kalian ini," kata seorang pria yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, diikuti beberapa orang di sampingnya.
Kini aku bisa melihat mereka karena mereka sekarang berada di bawah guyuran redup cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah pepohonan.
"Siapa kalian?" tanyaku.
Aku tidak tau secara pasti berapa jumlah mereka, tapi yang kulihat hanya ada lima orang, termasuk yang baru saja berbicara.
Orang-orang itu menggunakan baju tertutup serba hitam, sehingga mrmbuatku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas.
"Tinggalkan barang bawaan kalian. Dengan begitu, aku akan membiarkan kalian pergi," imbuhnya.
"Jadi, kalian ini bandit atau semacamnya?" tanyaku.
"Ya, kurang lebih," jawabnya, si pria yang kelihatan seperti pemimpin mereka.
"Cepat tinggalkan barang bawaan kalian atau aku akan menghabisi kalian di sini. Dan juga, tinggalkan gadis itu," imbuhnya.
Gadis yang dia maksud adalah Angel.
"Hoi, Curut Gunung! Lu serius minta gua ninggalin bini gua ...?" tanyaku.
"Bi-Bini ...?" Angel agak syok mendengarnya.
"Aku tidak perduli mau dia itu istrimu atau bukan, tapi kalau kau ingin selamat, tinggalkan semua barang bawaan kalian dan juga gadis itu. Kalau tidak, kami akan mengambilnya secara paksa!" kata pria tersebut, orang yang mungkin saja pemimpin dari gerombolan yang kusebut Curut Gunung.
"Ya udah, maju sini. Ini sudah terlalu malam," kataku.
"Habisi mereka!" seru pria tersebut.
Empat orang yang mungkin saja bawahan pria tersebut tiba-tiba melesat ke arah kami.
"Vin, jangan berlebihan," kata Drian.
"Tenang saja, ini akan berakhir dengan mulus," kataku.
Aku tidak mau menghabiskan terlalu banyak waktu meladeni mereka. Maka dari itu ...
Ice Age!
Aku langsung menurunkan suhu udara di sekitar hingga minus seratus derajat celsius dan membuat segala hal, mulai dari pepohonan, bebatuan, hingga hewan-hewan yang berada dalam radius lima puluh meter dariku seketika membeku, kecuali aku dan teman-temanku.
Aku adalah pemilik atribut suhu. Maka dari itu, aku bisa mengontrol suhu sesuka hati. Menaikkan atau bahkan menurunkan suhu bukan perkara sulit untukku.
"I-Ini sih kelewatan namanya," kata Drian sambil menggigil kedinginan.
"Iya, aku juga setuju." Begitu pula dengan Angel.
"Ya maaf ... ini cara tercepat untuk mengakhiri pertarungan," balasku.
"Kau ternyata jauh lebih hebat dari yang kukira."
Pria yang sebelumnya berbicara denganku, dia ternyata sanggup menahan suhu dingin ekstrim yang kuciptakan, namun tidak dengan keempat bawahannya, tubuh mereka masih mengkristal akibat membeku.
Pria itu kemudian mulai membakar tubuhnya dengan kobaran api menyala, sedangkan aku hanya menatapnya dengan tatapan datar.
"Hoi, siapa namamu?"
"Alvin."
"Sudah lama rasanya aku tidak bertarung serius. Semua orang yang kutemui selalu saja menyerahkan barang bawaan mereka tanpa perlawanan. Ini akan menjadi olahraga yang menarik," kata pria tersebut.
Pria itu tiba-tiba melesat cepat dan bersiap memukul kepalaku dari sisi samping.
Aku sedikit menarik kepalaku ke belakang untuk menghindarinya.
Tidak kusangka, efek pukulan pria itu mampu menciptakan gelombang kejut yang cukup kuat untuk menghancurkan beberapa pohon.
"Hooo ...." Aku cukup kagum melihat dampak serangannya.
"Hahahahaha ... inilah kekuatanku yang sesungguhnya. Kalau kau tidak ingin mati, sebaiknya cepat serahkan semua barang bawaanmu."
Sementara itu, aku masih menatapnya dengan tampang datar.
Pria itupun kembali melesat cepat ke arahku dan bersiap memukul kepalaku, kini dari depan.
Aku sedikit memiringkan kepala ke samping untuk menghindarinya.
Lagi-lagi, efek pukulan pria itu mampu menciptakan gelombang kejut yang cukup kuat untuk menghancurkan beberapa pohon di sekitar.
Hal semacam itupun terus berulang beberapa kali sampai membuat sebagian kecil area hutan tempat kami bertarung luluh lanta dengan tanah.
"Hoi, jangan bercanda! Mau sampai kapan kau terus menghindari seranganku ...! Apa kau tidak tau bagaimana caranya memukul, haaa ...!" seru pria itu geram.
Aku terdiam sejenak dengan tampang datar, lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arahnya dan bersiap memukul kepalanya dari depan.
Pria itu merespon dengan melesatkan pukulan, tapi aku dengan cepat berpindah ke belakangnya dan bersiap melesatkan pukulan terkuatku.
...
Pada saat itu, detik itu juga, Thoriq, pria berusia empat puluh tahun yang hendak merampok kelompok Alvin, dia bisa melihat sebuah bayangan ... 'Kematian' ... dari pukulan Alvin.
...
Sebelum pukulanku benar-benar mendarat ke kepala pria itu, aku langsung menggesernya sedikit ke samping.
Wuusss!
Efek pukulanku menciptakan gelombang kejut besar yang mendorong udara layaknya meriam angin.
"Aku tidak mau membunuhmu, Pria Tua Nakal. Jadi, perbaiki sifatmu dan bertobatlah," kataku, lalu berjalan meninggalkan pria yang masing mematung itu begitu saja.
"Apa sudah selesai?" tanya Drian.
"Ya, ayo pergi," balasku.
...
Saat Alvin dan kedua sahabatnya pergi meninggalkannya begitu saja, Thoriq masih mematung akibat melihat bayangan 'Kematian' dari pukulan Alvin sebelumnya.
Dia kemudian menoleh ke belakang dan mendapati hutan hingga pegunungan di belakangnya telah rata dengan tanah. Bukan hanya itu, awan yang sebelumnya menutupi sinar rembulan juga tersingkap akibat efek tekanan udara yang tercipta dari pukulan Alvin.
"Siapa sebenarnya bocah itu ...?"
...
Setelah menyelesaikan urusan dengan gerombolan bandit gunung yang ingin merampok kami, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Lisbon.
Saat masih dalam perjalanan, tiba-tiba perutku terasa mules.
"Kenapa lu ...?" tanya Drian.
"Perut gua mules, Yan," jawabku sambil memegangi perut.
"Ada-ada aja sih lu," gerutu Drian.
"Vin, itu di sana ada toilet," kata Angel sambil menunjuk sebuah bangunan kumuh dan kotor yang ada di tengah-tengah hutan.
Entah bagaimana ceritanya, secara kebetulan ada toilet umum saat kubutuhkan. Padahal ini ada di tengah hutan. Aneh? Memang.
Karena keadaan memaksa, aku jadi tidak terlalu memperdulikan keanehan tersebut dan buru-buru masuk ke dalam toilet.
Begitu masuk, aku langsung melepas celana. Tidak lupa, pintu juga kututup rapat.
Persiapan sudah beres. Sekarang waktunya menyelesaikan hajatku.
Berhubung sudah tengah malam, ditambah suasananya juga sangat tenang, aku pun bersiul-siul ria untuk sedikit menghidupkan suasana.
Tik ... tok ... tik ... tok ... Waktu terus berjalan.
Belum selesai dengan hajatku, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu toilet yang kugunakan.
Spontan, aku langsung berteriak, "Bentar napa woi! Masih lama ini!"
Aku berpikir yang mengetuk pintu toiletku pastilah Drian. Memangnya siapa lagi kalau bukan dia. Akan tetapi, anehnya ketukan itu masih terus saja terdengar.
"Woi, Yan! Iseng aja lu! Lagi nanggung ini!" teriakku diiringi suara latar cemplang-cemplung.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa cekikikan. Suaranya pelan dan itu jelas suara perempuan.
Huanjir ...!
Walau bulu kuduk sudah berdiri tegak, tapi aku berusaha tetap santai dan tidak merespon.
Kupikir, itu pastilah hanya keisengan Angel yang berkomplot dengan Drian.
Namun, semakin lama suara itu terdengar semakin pelan ... semakin pelan ... dan semakin pelan.
"Nah, pergi dah lu sono ... hahahahaha!"
Waktu asik tertawa, aku langsung terdiam karena merasa ada yang aneh di atasku.
Aku pun menoleh ke atas dan melihat ada yang sedang duduk sambil mengayun ayunkan kaki di atas tembok toilet.
Aku diam dan gantian dia yang tertawa.
"Hihihihihi ... hihihihihi ... hihihihihi!"
Aku kemudian menarik nafas dalam, lalu memberanikan diri untuk ikut tertawa.
"Hahahahaha ... hahahahaha ... hahahahaha!"
Dan benar saja, itu berhasil. Sekarang dia tiba-tiba diam.
Jadi, saat dia tertawa, aku diam, dan saat dia diam, aku tertawa.
Sampai pada akhirnya, dia ... apa sih istilahnya ... menggeram ... iya, jadi dia tiba-tiba menggeram seperti orang marah.
Kebetulan aku juga sudah selesai membereskan hajatku.
Aku pun berdiri perlahan sambil menaikkan celana.
Posisi kepalaku pas dekat sekali dengan kaki si itu Kunti Chan sialan.
Sambil menaikkan celana, aku sudah punya rencana.
Selesai menggunakan celana, aku mulai membuka pintu pelan-pelan, dan sebelum keluar, aku menendang dan menghancurkan tembok tempat si itu Kunti Chan duduk mengayun ayunkan kakinya agar dia jatuh terjengkang ke belakang.
Gubrak!
"Mampus lu ... mampus!" Sambil aku juga lari, takut dikejar.
Aku kemudian menghampiri Angel dan Drian yang menungguku di bawah pohon besar, tidak jauh dari toilet yang kugunakan sebelumnya.
"Udah, Vin?" tanya Angel.
"Lama amat sih lu," kata Drian.
"Yeee ... ini udah cepet kali, Yan!" balasku.
Saat kembali, aku tidak menceritakan apa pun pada Drian dan Angel. Aku tetap berlagak santai seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Agusbambang
bahasa nya
2022-12-15
1