Keesokan harinya, aku, Drian, dan Angel pergi ke guild untuk mengambil misi.
"Masih belum ada misi baru, kah?" Aku agak kecewa saat melihat daftar misi yang ada.
"Sementara ayo ambil misi yang ada dulu," kata Drian.
Karena misi yang tersedia hanyalah misi-misi receh dan mudah, kami memutuskan untuk membagi kelompok menjadi dua agar bisa mengambil dan menyelesaikan lebih banyak misi dalam waktu singkat.
Aku akan menjalankan misi bersama Angel, sedangkan Drian sendirian.
Kamim mulai mengambil banyak misi, mulai dari misi pengawalan hingga misi perburuan, kami ambil semuanya.
Hanya dalam kurun waktu tiga hari, kami berhasil menyelesaikan banyak misi dan mendapatkan total penghasilan sebesar kurang lebih sepuluh ribu gale.
Kami hanya mengambil misi yang memiliki hadiah di atas seratus gale dan mengabaikan misi receh. Alasannya karena kami tidak mau membuang banyak waktu hanya untuk menjalankan misi receh seperti mencari kucing hilang, mencari herbal, ataupun berburu ayam hutan. Misi-misi semacam itu hanya akan menguras banyak waktu dengan imbalan tak sepadan.
Selain mendapat banyak uang, kami juga berhasil mendapat cukup banyak pencapaian.
Total, kami berhasil mengumpulkan 670 poin pencapaian. Butuh 330 poin lagi untuk bisa naik ke rank C, mengingat untuk bisa naik ke rank C setidaknya membutuhkan total 1.000 poin pencapaian.
...
"Masih belum ada misi baru kah?" Lagi-lagi, aku kecewa karena misi yang ada hanya itu-itu saja.
"Apa lebih baik kita pulang dulu ke desa sambil menunggu misi baru?" tanya Angel.
"Ya, kita pulang saja dulu ke desa. Tetap tinggal di kota cuma akan menguras lebih banyak uang," kata Drian.
"Kalian ini kelompok yang sudah menyapu banyak misi rank D, kan?" Tiba-tiba ada pria tampan nan rupawan yang menegur kami dari belakang.
Perkiraanku, umurnya mungkin sekitar tiga puluhan tahun.
"Siapa lu?" tanyaku.
"Sopan dikit napa woi!" Drian menegurku.
"Hahaha ... tidak masalah. Maaf karena tiba-tiba menegur kalian. Namaku Luis Amstrong."
"Namaku Drian, ini sahabatku, Alvin, dan yang ini Angel." Drian memperkenalkan kami pada pria bernama Luis Amstrong itu.
"Kalau boleh tau, ada perlu apa Anda menemui kami?" tanya Drian.
"Aku sudah mendengar beberapa hal tentang kalian. Aku ingin memberi kalian misi ekslusif, itupun kalau kalian bersedia."
"Berapa imbalannya?" tanyaku.
"Seratus ribu gale."
"Se-Seratus ribu gale ...?!" Aku, Drian, dan Angel syok mendengarnya.
"Kenapa Anda memberikan misi semahal itu pada kami? Bukannya misi semahal itu seharusnya diberikan pada rank B atau bahkan rank A?" tanya Drian.
"Kudengar, kalian adalah kelompok paling efisien dalam menyelesaikan misi. Kalian juga berhasil mendapat hasil tes tertinggi. Jadi, aku ingin memberikan misi ini pada kalian secara langsung, tapi kalau kalian tidak bersedia, aku juga tidak akan memaksa."
"Tunggu ... apa misinya?" tanyaku.
"Mengantar kotak sebuah ke Wali Kota Lisbon."
"Cuma itu?" tanyaku.
"Ya, cuma itu ... tapi kalian tidak boleh sampai menghilangkan ataupun membuka isi kotaknya ... apa pun yang terjadi." Pria itu sedikit memberi penekanan pada ucapannya.
"Apa yang terjadi kalau kami sampai gagal?" tanya Drian.
Pria itu tersenyum, lalu menjawab, "Kepala kalian yang akan menjadi bayarannya!"
Glup! Aku dan Drian seketika menelan ludah.
Drian tiba-tiba merangkulku dan Angel.
"Kayaknya misi ini aneh banget deh," bisik Drian.
"Aku juga berpikir begitu," bisik Angel.
"Tapi hadiahnya lumayan lo," bisikku.
"Jadi kita ambil nggak?" tanya Drian.
"Ambil aja udah," bisikku.
"Ngikut aja dah," bisik Angel.
Kami mengakhiri perundingan kami setelah bersepakat.
"Jadi bagaimana?" tanya si pria bernama Luis.
"Baiklah, setelah melakukan perdebatan dan perundingan panjang, kami memutuskan untuk mengambil misi dari Anda," jawab Drian.
"Kalau begitu, aku akan mendaftarkan misinya lebih dulu. Kalian bisa tunggu di sini sebentar."
"Baik," balas Drian.
Alasan kenapa misi harus didaftarkan agar prajurit bayaran yang mengambil misi tersebut mendapat pencapaian.
Tanpa peningkatan pencapaian, seorang atau sekelompok prajurit bayaran tidak akan bisa naik ke rank yang lebih tinggi.
Setelah menunggu cukup lama, si pria bernama Luis itu akhirnya kembali sambil membawa kotak kecil di tangannya, cukup kecil untuk digenggam dengan satu tangan.
"Antarkan kotak ini pada Wali Kota Lisbon. Dengan begitu, misi kalian selesai."
"Cuma itu ...?" tanyaku yang masih belum percaya kalau misi semudah itu punya imbalan semahal itu. Seratus ribu gale, itu bukan jumlah yang sedikit.
"Ya, cuma itu," jawabnya sambil tersenyum.
Entah kenapa, perasaanku langsung tidak enak saat melihat senyum pria bernama Luis itu.
...
Singkat cerita, kami memulai perjalanan menuju Kota Lisbon yang berjarak kurang lebih sekitar sepuluh jam perjalanan dari Kota Borneo.
"Apa sih yang ada di dalam sini? Kok harganya bisa sampai semahal itu?" gumamku sambil melihat setiap sisi kotak yang kupegang.
"Mungkin isinya berlian atau semacamnya ...?" sahut Angel.
"Atau mungkin juga surat penting ...?" imbuh Drian.
"Kalau cuma itu, kenapa nggak dibawa sendiri aja? Emang mereka nggak takut benda ini kita bawa kabur apa?" tanyaku.
"Mungkin karena rute menuju Lisbon agak seram. Dari tadi aja kita cuma ngelewatin hutan belantara," kata Drian.
Sesuai yang Drian katakan, rute dari Kota Borneo menuju Kota Lisbon memang cukup seram karena rute ini melewati hutan belantara dan pegunungan.
Maklum saja, Kota Borneo ini terletak cukup terpencil jika dibandingkan dengan kota-kota yang lain. Maka dari itu, rutenya juga susah dilewati.
Selain itu, rute ini juga cukup terkenal menakutkan karena biasa digunakan para bandit untuk mencari mangsa.
...
Setelah menempuh lima jam perjalanan, kami akhirnya sampai di sebuah perkampungan.
Kampung tersebut tidak terlalu besar. Hanya ada beberapa rumah yang terlihat berjejer satu sama lain. Gaya bangunannya juga agak kuno. Mungkin karena rumah-rumah di sana terbuat dari kayu.
"Istirahat bentaran yuk ... gua capek banget nih," kata Drian.
"Iya, gua juga," balasku.
Berhubung hari sudah menjelang malam, ditambah kami juga cukup kelelahan, kami memutuskan untuk singgah sebentar di perkampungan tersebut.
"Kampung ini kok rasanya aneh banget, ya ...?" kata Angel sambil celingak-celinguk ke sekitar waktu pertama kali memasuki perkampungan tersebut.
"Aneh gimana?" tanyaku.
"Liat aja ... muka orang-orang di sini kayak pucat semua," jawab Angel.
Waktu kuperhatikan lebih teliti, aku baru menyadari maksud ucapan Angel. Benar saja, wajah para penduduk kampung ini terlihat pucat dan tanpa ekspresi.
"Kayaknya kita lanjut aja deh. Perasaan gua nggak enak banget," usul Drian.
"Tapi ini udah hampir malem lo," kataku.
"Aku setuju sama Drian. Kayaknya kita mesti lanjut aja deh," imbuh Angel.
"Kalian ini kenapa sih ...?"
"Vin ... kayaknya ...."
Belum selesai Drian berbicara, tiba-tiba ada yang menegur kami dari belakang.
"Nak, kalian bukan orang sini, ya ...?"
Yang menegur kami adalah seorang kakek-kakek berambut dan berjanggut putih. Kakek itu juga menggunakan baju bergaya lama.
"Oh, iya, Kek. Niatnya kami pingin istirahat sebentar di sini," jawabku.
"Kalau mau, kalian bisa istirahat di rumah Kakek."
"Emang boleh, Kek?" tanyaku.
"Boleh," jawab si Kakek.
"Vin ..." Drian tiba-tiba menarik ujung bajuku sambil menggelengkan kepala, seolah-olah memintaku untuk menolak tawaran si Kakek.
Angel juga melakukan hal yang sama.
"Maaf, Kek. Kayaknya kami nggak jadi istirahat. Temen-temen saya ngajak lanjut." Dengan berat hati, aku menolak tawaran si Kakek.
Baru saja aku berkata seperti itu, tiba-tiba turun hujan lebat disertai angin kencang. Sungguh sebuah kebetulan yang sangat aneh.
"Hujan lo, Nak ... kalian yakin mau tetap lanjut?" tanya si Kakek.
Karena keadaan memaksa, aku, Drian, dan Angel pun akhirnya menerima tawaran si Kakek.
Kami kemudian diajak ke rumah si Kakek.
"Silakan duduk, Nak! Sebentar saya buatkan minum," kata si Kakek, lalu masuk ke bagian dalam rumahnya, sedangkan kami hanya duduk di kursi kayu. Mungkin itu adalah ruang tamunya.
Rumah si Kakek ini terbuat dari kayu, mirip dengan rumah-rumah tempo dulu.
Sambil menunggu si Kakek membuatkan minum, kami hanya santai-santai sambil meluruskan kaki.
Gubrak!
"Huanjir! Apaan tuh ...?" Drian tiba-tiba berteriak keras.
"Itu jendela belakang lu ketiup angin, belom ditutup noh," kataku.
"Etdah ... kirain apaan."
Sewaktu berteduh di rumah si Kakek, entah apa yang mereka pikirkan, Drian dan Angel terlihat sangat gelisah.
"Lu kenapa sih, Yan?" tanyaku.
"Kayaknya kita mesti buruan pergi deh, Vin. Perasaan gua nggak enak banget," jawab Drian.
"Iya, aku juga sama," imbuh Angel.
"Tapi ini masih hujan lo," kataku.
"Mending ujan-ujanan dah daripada di sini," kata Drian, sedangkan Angel hanya mengangguk.
"Kalian ini kenapa sih ...? Ya udah dah. Kalo gitu ayo pamit dulu ama si Kakek," kataku.
Kami pun masuk ke bagian dalam rumah untuk mencari si Kakek, tapi anehnya ... tidak ada siapa pun di sana. Di sana hanya ada ruangan gelap dan kosong.
"Kok gelap banget, ya ...? Si Kakek mana?" tanyaku.
"Vin, buruan, Vin! Ada yang nggak beres ini!" Drian tiba-tiba menarik ujung bajuku, begitu pula dengan Angel.
Mereka seperti ingin mengajakku buru-buru keluar dari rumah si Kakek.
Aku pun menurut dan kami buru-buru keluar dari rumah si Kakek.
Tau apa yang terjadi saat kami baru saja keluar dari rumah si Kakek? Tiba-tiba perkampungan yang kami lihat sebelumnya menghilang. Yang ada hanya hutan belantara. Rumah si Kakek juga ikut hilang entah ke mana.
"Bener kan perasaan gua ... ini si Kakek pasti bukan manusia!" kata Drian.
"Gimana ini?" Angel kelihatan panik.
Pada saat itu, aku hanya mematung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Vin ... woi, lu kenapa?" tanya Drian sambil menepuk-nepuk pipiku.
"Vin ..." Sementara Angel kelihatan panik.
"Yan, Ngel ... jadi ... ini tu ... ini tu kampung hantu, ya ...?" tanyaku dengan ekspresi tertegun.
Drian dan Angel diam sejenak, lalu ...
"Hiaaaaaaaaa ...!"
Mereka terkejut karena melihatku tiba-tiba lari sambil berteriak lantang.
"Tunggu gua, Vin!"
"Vin, tunggu!"
Mereka kemudian mengejarku dari belakang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments