Tidak terasa, satu bulan telah berlalu dengan begitu cepat.
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, aku, Drian, dan Angel berhasil naik ke rank B dengan torehan dua puluh ribu lebih pencapaian.
Orang-orang mengatakan bahwa itu merupakan sebuah pencapaian yang sangat menakjubkan. Mereka juga mengatakan kalau kami sangat luar biasa, mengingat jarang sekali ada kelompok yang bisa menaikkan ranking secepat kami.
Walaupun begitu, kami justru merasa tidak puas. Kami sebenarnya menargetkan naik sampai ke rank A, tapi karena jumlah misi yang tersedia sangat terbatas, apa boleh buat, kami harus puas hanya naik sampai ke rank B.
Selain berhasil mendapat banyak pencapaian, kami juga berhasil mengumpulkan banyak uang. Total, kami berhasil mengumpulkan kurang lebih seratus ribu gale hanya dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Aku akan sedikit menjelaskan tentang sistem ranking yang diterapkan oleh guild-guild besar dunia, termasuk guild tempatku bernaung.
Rank D: Rank ini dikhususkan untuk prajurit bayaran yang baru bergabung.
Rank C: Butuh setidaknya 1.000 - 10.000 total pencapaian untuk bisa mencapai rank ini.
Rank B: Butuh setidaknya 10.001 - 100.000 total pencapaian untuk bisa mencapai rank ini.
Rank A: Butuh setidaknya 100.001 - 1.000.000 total pencapaian untuk mencapai rank ini.
Rank S: Butuh setidaknya 1.000.001 - tak terbatas untuk mencapai rank ini.
Rank S+: Rank ini dikhususkan untuk para anggota resmi.
Ranking berguna untuk menentukan tingkatan misi yang boleh dan tidak boleh diambil oleh seorang tentara bayaran, sedangkan pencapaian adalah poin yang didapat setelah berhasil menyelesaikan misi.
Semakin tinggi ranking misi yang diambil, maka semakin besar pula pencapaian yang akan didapat.
Biasanya, guild-guild kecil tidak memberlakukan sistem ranking karena biasanya mereka baru atau hanya memiliki sedikit anggota.
Ranking sendiri hanya digunakan oleh guild-guild besar yang memiliki ribuan anggota.
Ada perbedaan besar antara anggota bayaran dan anggota resmi. Mudahnya, anggota bayaran sama seperti pekerja lepas, sedangkan anggota resmi sama seperti pegawai tetap suatu perusahaan. Aku menganalogikannya seperti itu karena pada dasarnya guild sendiri mirip dengan jaringan bisnis.
Aku cukup tau banyak soal itu karena suatu saat nanti aku berniat mendirikan guildku sendiri. Walaupun itu mungkin masih sangat lama, tapi aku harus mulai belajar dari sekarang.
Mendirikan guild membutuhkan banyak uang serta proses yang cukup panjang dan rumit. Biaya pendaftarannya saja membutuhkan setidaknya satu juta gale.
Maka dari itu, aku harus banyak belajar sebelum benar-benar mendirikan guildku sendiri. Aku juga butuh banyak uang.
Tidak akan lucu kalau aku sampai menggunakan uang sebanyak itu hanya untuk dibuang begitu saja. Maksudku kalau aku memutuskan membuat guildku sendiri dan tidak berhasil mendapatkan misi, itu kan sama saja dengan buang-buang uang.
...
Pagi ini, di saat matahari baru menyingsing dari ufuk timur, aku berjalan keliling desa untuk menyegarkan badan sekaligus melihat-lihat kondisi dan perkembangan desa.
"Pagi, Vin! Mau ke mana?"
"Oh, pagi, Pak! Nggak, ini ... cuma mau jalan-jalan aja. Bapak ngapain di sana, Pak?" tanyaku.
"Lagi benerin genteng!" balas Pak Rahman yang sedang nongkrong di atap rumahnya.
"Hati-hati, Pak! Jangan sampai jatoh!" teriakku.
"Tenang aja! Aman kok, Aman!"
Pak Rahman ini adalah salah satu warga desa favoritku karena dia selalu baik padaku. Dia juga punya putri yang sangat cantik, namanya Dewi.
"Kalau gitu saya lanjut jalan, ya, Pak!" teriakku.
"Woke!" balas Pak Rahman.
Aku pun melanjutkan jalan-jalanku.
"Pagi, Bang Vin."
"Pagi, Dek Sarah," balasku.
"Jalan-jalan, Vin?"
"Iya, nih, Bu," balasku.
"Vin, mampir, Vin!"
"Kapan-kapan aja, Bre!" balasku.
Saat berkeliling desa, orang-orang yang kutemui terus saja menyapaku dengan sangat ramah.
Warga desa memang selalu baik dan ramah padaku, tapi biasanya tidak sampai seramah ini.
Jika harus menebak, alasan kenapa mereka bisa sampai seramah itu padaku pastilah karena aku kini menjadi salah satu donatur utama desa.
Kekuatan uang memang tidak bisa bohong.
Aku memilih menyumbangkan hampir seluruh penghasilanku demi keperluan desa dan hanya mengambil sedikit, setidaknya cukup untuk keperluanku makan, karena aku hanya hidup sebatang kara.
Drian dan Angel juga menyumbangkan penghasilan mereka, tapi hanya separuh. Maklum saja, mereka punya keluarga. Jadi, mereka tidak bisa memberi lebih dari itu.
Berkat uang yang kami donasikan, keadaan desa kini jadi jauh lebih berkembang dan sejahtera.
Pak Kepala Desa dan warga desa benar-benar memanfaatkan gelontoran dana kami dengan sangat baik.
Mereka menggunakan uang tersebut untuk merenovasi rumah warga yang sudah tidak layak huni, mencukupi kebutuhan berladang yang sering menjadi permasalahan dan penyebab gagal panen, juga untuk memperbaiki infrastruktur desa.
Kondisi desa memang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi menurutku masih ada banyak hal yang harus segera dibenahi, salah satu yang terpenting adalah pasokan listrik.
Kami belum bisa memenuhi pasokan listrik karena lokasi desa kami sangat jauh dari kota terdekat, yakni Kota Borneo.
Kami sebenarnya bisa saja mengajukan untuk menyalurkan listrik ke desa kami, tapi karena jaraknya yang terlalu jauh, biayanya akan jadi sangat mahal.
Terlepas dari itu semua, aku benar-benar bahagia melihat kondisi desaku yang kini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Pagi, Bang Vin." Iroh tiba-tiba menyapaku.
"Wedeh ... gadis kecilku kayaknya udah makin tumbuh besar nih," kataku.
"Hehehehe ... iya, dong." Iroh agak tersipu malu.
"Iroh itu punyaku, Bang Vin. Jangan pernah merebutnya!" teriak Heri yang tiba-tiba datang dan langsung berdiri di antara aku dan Iroh sambil merentangkan kedua tangannya, seperti tidak ingin membiarkanku mendekati Iroh.
Heri dan Iroh, mereka berdua adalah anak-anak panti yang kuajak tinggal di desa sebulan yang lalu. Heri berusia empat belas tahun, sedangkan Iroh berusia sepuluh tahun.
"Heeee ... Iroh itu punyaku tau ...." Aku berusaha menggoda Heri.
"Tidak! Dia punyaku!" Heri pun berteriak lantang, masih sambil merentangkan kedua tangannya, seperti tidak ingin membiarkanku mendekati Iroh, sementara Iroh nampak bingung.
Heri ini anaknya sangat pemberani dan tidak ragu untuk mengutarakan isi kepalanya.
Meski terkadang hal itu agak menjengkelkan karena setiap ucapan yang keluar dari mulutnya tidak pernah disaring, tapi aku sangat suka padanya karena dia adalah anak yang sangat jujur. Kalau tidak suka, dia akan bilang tidak suka, begitu pula sebaliknya.
Dengan sifatnya yang seperti itu, aku jadi suka sekali menggoda dan menjahilinya.
"Iroh itu punyaku!" Aku masih terus saja menggodanya.
"Tidaaaakkkk! Iroh itu punyaku!" Heri pun semakin histeris, masih sambil merentangkan kedua tangannya, sementara Iroh nampak semakin bingung bercampur panik.
"Vin, lu tu suka banget sih ngegodain bocah," kata Drian yang tiba-tiba muncul di belakangku.
"Hehehehe ... seru kalik, Yan," balasku.
"Anak-Anak, sudah waktunya sarapan!" teriak Bu Ratna dari kejauhan.
"Oh, Mas Alvin, Mas Drian, mau ikut sarapan?" tanya Bu Ratna sambil berjalan mendekat.
"Nggak us ...."
"Boleh, Bu. Kebetulan saya juga belum sarapan." Aku langsung memotong ucapan Drian.
"Ayo kalau begitu," kata Bu Ratna.
Kami pun pergi ke panti asuhan bersama sama.
Saat dalam perjalanan, Heri terus saja menatapku dengan tatapan geram sambil tetap merentangkan kedua tangannya, seolah-olah tidak ingin membiarkanku mendekati Iroh.
Aku pun hanya bisa menahan tawa melihat itu.
"Mas Alvin sama Mas Drian nggak ke kota?" tanya Bu Ratna yang berjalan di depan kami.
"Palingan habis ini, Bu," jawab Drian, sedangkan aku masih terus saja menggoda Heri.
"Grrrrrrr!" Heri pun terus menggeram kesal padaku, sementara Iroh nampak canggung dan Bu Ratna hanya tersenyum.
"Udah napa, Vin." Drian menegurku.
"Hehehehe ... seru lo, Yan," kataku.
"Grrrrrrr!" Heri masih saja menggeram kesal padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments