Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua belas jam, sekitar jam tiga dini hari, kami akhirnya sampai di pusat Kota Lisbon.
Sesampainya di sana, kami langsung berkeliling mencari cabang Guild Fairy yang berada di sana.
Kesan pertamaku pada Kota Lisbon, aku cukup kagum karena kota ini sangat bersih dan tertata rapi.
Ada begitu banyak bangunan yang berjejer indah di sepanjang sisi. Lampu jalanan berwarna kuning juga semakin menambah indah suasana malam di sini.
Walaupun sudah dini hari, tapi suasana di sini masih cukup ramai. Ada begitu banyak pemuda pemudi yang nongkrong di pinggir jalan. Ada pula warung-warung yang masih buka di sepanjang jalan.
Setelah cukup lama mencari dan juga bertanya pada beberapa orang yang kami temui di sepanjang jalan, kami akhirnya menemukan bangunan Guild Fairy cabang Lisbon.
"Wow ... keren." Aku cukup kagum saat pertama kali melihat bangunan guild yang ada di kota ini.
Jika dibandingkan dengan yang ada di Borneo, bangunan di sini kelihatan ... bukan kelihatan juga sih ... tapi memang jauh lebih besar dari yang ada di Borneo.
Arsitekturnya juga sangat indah dengan cukup banyak aksen patung manusia, lengkap dengan taman yang menghampar luas di halaman depan. Sebuah air mancur besar yang berada di bagian depan juga semakin menambah indah kesan bangunan tersebut.
Kukira hanya bagian luarnya saja yang keren, ternyata bagian dalamnya juga sangat menawan.
Area dalamnya, terutama aula utama tempat biasa para prajurit bayaran berkumpul, terlihat sangat bersih dan wangi.
Itu adalah sebuah pengalaman menarik bagiku mendatangi Guild Fairy cabang Lisbon.
"Permisi! Yuuhuuuu! Permisi!" Aku berteriak untuk memanggil mbak-mbak yang biasanya berjaga di meja depan.
"Sudah tutup kali ya ...?" gumam Drian.
"Guild kan biasanya buka dua puluh empat jam," sahut Angel.
Tidak lama kemudian, ada mbak-mbak cantik yang keluar dari bagian dalam.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya si mbaknya.
"Mbak, kami dari cabang Borneo. Kami sedang menjalankan misi, tapi kami kesulitan mencari penginapan malam ini. Apa kami boleh menginap di sini semalam?" Itulah yang kukatakan. Padahal sebenarnya kami hanya ingin menghemat biaya penginapan.
"Boleh saya lihat lisensi kalian?" tanya si mbaknya.
Kami pun memberikan kartu yang dimaksud.
Setelah memeriksa lisensi kami, si mbaknya berkata, "Silakan pergi ke sana. Kalian bisa menggunakan ruangan B."
Tidak lupa, mbaknya juga memberi kami sebuah kunci.
"Ok, terima kasih, Mbak," balasku.
Awalnya, kami hanya ingin menumpang tidur di ruang tunggu, mengingat cabang Borneo tidak memiliki fasilitas penginapan, tapi secara tak terduga, kami malah diberi sebuah kamar khusus.
Aku cukup takjub, sangat takjub bahkan, karena cabang Lisbon sampai memikirkan hal semacam itu.
Sungguh pengalaman yang cukup menakjubkan datang ke cabang Lisbon.
Karena hanya ada satu kasur di kamar tersebut, kami memutuskan untuk membiarkan Angel yang tidur di kasur, sedangkan aku dan Drian akan tidur di lantai.
...
Keesokan harinya, mungkin sekitar jam tujuh pagi, kami mulai meninggalkan kamar yang kami gunakan sebelumnya dan pergi ke ruang utama guild untuk mengembalikan kunci kamar yang sudah kami gunakan semalam.
"Buset rame amat."
Saat hendak mengembalikan kunci kamar yang kami gunakan semalam, aku cukup terkejut karena melihat begitu banyak orang yang sedang berkumpul di dalam bangunan guild.
"Apa mereka semua tentara bayaran?" tanya Angel.
"Mungkin ...," balas Drian.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Weh, Mbak! Ngagetin aja!" Aku cukup terkejut karena si mbak penjaga meja depan tiba-tiba muncul dari belakang.
"Ini, kami mau ngembaliin kunci," kataku.
"Mbak, ngomong-ngomong ini kok rame amat. Ada apa?" tanyaku.
"Di sini memang selalu ramai. Mereka semua sedang menunggu pembukaan papan misi," jawab si mbaknya.
"Emang papan misinya dibatesin?" tanyaku.
"Itu karena misi yang masuk setiap harinya cukup terbatas. Jadi, untuk yang ingin mengambil misi harian, mereka harus gerak cepat. Kalau tidak, ya, tidak akan kebagian," jawab si mbaknya.
"Papan misi dibuka!" teriak seorang pria yang berdiri di dekat papan misi.
Orang-orang kemudian langsung berebut mengambil misi yang dipajang di papan misi.
Aku cukup kagum melihat pemandangan tersebut. Berbeda dari cabang Borneo yang misinya seolah-olah tidak laku, misi di sini benar-benar diperebutkan banyak orang.
Suatu saat nanti, aku ingin mendirikan guildku sendiri. Pengelolaan dan fasilitas yang ada di Guild Fairy cabang Lisbon bisa menjadi contoh yang baik. Setidaknya itu yang kupikirkan.
...
Singkat cerita, kami mulai beranjak pergi meninggalkan guild menuju balai kota untuk segera menyelesaikan misi kami, misi mengantar kotak kepada Wali Kota Lisbon.
Kami sempat tidak diperbolehkan memasuki balai kota karena alasan tidak memiliki izin, tapi setelah menjelaskan dan menunjukkan dokumen misi kami kepada petugas yang berjaga, kami akhirnya diizinkan memasuki balai kota.
"Jadi, Tuan Luis Amstrong sendiri yang mengutus kalian?" tanya si Wali Kota.
"Ya, begitulah," jawabku.
"Kalau begitu, aku akan menandatangani dokumen misi kalian," kata si Wali Kota.
Dengan begitu, misi kami pun selesai.
Kok mudah sekali? Ya, aku juga tidak mengerti.
Sebelum kembali ke guild untuk melaporkan misi, kami singgah sejenak di warung pinggir jalan untuk sarapan.
"Bukannya misi ini terlalu mudah untuk dihargai sepuluh ribu gale?" tanyaku.
"Ya, aku juga mikir gitu," kata Drian.
"Apa mungkin orang yang bernama Luis Amstrong itu cuma mau menyantuni kita?" tanya Angel.
"Masuk akal," kata Drian.
"Ya kali dia menyantuni kita ...," gumamku.
Saat kami sedang asik berbincang sambil menunggu makanan datang ...
"Mas, sedekahnya."
Tiba-tiba ada dua bocah kecil yang menghampiri kami. Yang satu perempuan dan yang satunya laki-laki. Perkiraanku, umur mereka mungkin baru sekitar tujuh atau delapan tahun.
Penampilan mereka sangat lusuh seperti tidak pernah diurus. Bau menyengat juga tercium dari tubuh mereka.
"Kalian udah makan belum?" tanyaku.
Keduanya menggelengkan kepala.
"Ya udah. Sini duduk. Abang traktir makan sepuasnya," kataku.
Keduanya saling pandang untuk sesaat, seperti ragu untuk menerima tawaranku.
"Nggak perlu takut. Abang baik kok. Nggak gigit," kataku berusaha meyakinkan mereka.
Dengan ragu-ragu, mereka akhirnya menerima tawaranku.
Ada dua hal yang paling membuatku iba, melihat orang tua yang rela berjuang keras demi sesuap nasi dan melihat anak kecil yang harus berjuang demi hidup mereka.
"Nama kalian siapa?" tanya Angel yang sedang memangku si bocah perempuan.
"Namaku Lusi," jawab si bocah perempuan dengan takut-takut.
"Kalau kamu?" Angel bertanya pada si bocah laki-laki yang duduk di antara aku dan Drian.
"Namaku Ahmad," jawabnya sambil meminum teh hangat yang kami pesan untuknya.
Angel ini tipikal orang yang sangat menyayangi anak-anak. Setiap bertemu dengan anak kecil, entah kenapa, aura ke-ibu-an selalu terpancar dari wajah dan sikapnya.
Itu adalah salah satu hal yang membuatku jatuh hati padanya dan ingin menjadikannya sebagai ibu dari anak-anakku kelak, tapi sayangnya itu hanya sekedar impian semata. Ah, sungguh tragis.
"Kalian kok ngemis? Orang tua kalian ke mana?" tanya Angel.
"Kami tidak punya orang tua," jawab si anak bernama Ahmad.
"Terus kalian tinggal di mana?" tanya Angel lagi.
"Di panti," jawab Ahmad.
Angel langsung memasang tampang miris setelah mendengar jawaban anak tersebut.
Aku bisa mengerti perasaanya hanya dengan melihat tampangnya.
Melihat anak kecil seperti mereka harus mengemis demi mempertahankan hidup, itu jelas merupakan pemandangan yang sungguh tragis.
"Habis ini anterin Abang ke panti kalian, ya," kataku.
Kedua bocah itu kelihatan gugup, seperti takut akan sesuatu.
"Abang cuma mau lihat panti kalian kok. Jadi, nggak usah takut." Aku berusaha menenangkan mereka.
Mereka kemudian mengangguk.
Saat makanan datang, kedua bocah itu makan dengan sangat lahap, seolah-olah mereka sudah lama tidak merasakan nikmatnya makanan lezat.
Sementara aku, Drian, dan Angel hanya menatap mereka yang sedang lahap menyantap makanan dengan raut bahagia.
"Ngel, kapan nih?" tanyaku.
"Kapan apanya?" tanya Angel.
"Kapan kita punya yang beginian?" Yang kumaksud adalah anak-anak.
Angel pun melengos, sedangkan Drian menceloteh, "Ngarep aja lu."
"Yeeee ... ngarep boleh kali, Yan," kataku sambil tersenyum.
...
Selesai makan, kami langsung pergi ke panti asuhan tempat mereka tinggal.
Sesampainya di depan bangunan panti ...
"Ahmad, Lusi! Apa kalian membuat masalah? Tuan, tolong maafkan mereka! Silakan hukum saya sebagai gantinya!"
Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang menghampiri kami dengan raut panik.
Kutebak, ibu-ibu itu pasti adalah pengurus panti, mengingat dia menggunakan semacam baju seragam.
"Oh, nggak kok. Mereka nggak ngelakuin salah sama sekali. Kami ke sini karena ingin melihat kondisi panti," kataku.
"Syukurlah kalau begitu," gumam si ibu itu sambil mengelus dada.
Dari kesan pertamaku, aku menyimpulkan bahwa anak-anak panti sepertinya cukup sering membuat masalah, tapi aku tidak bisa menyimpulkan apakah mereka memang benar-benar pembuat masalah atau mereka hanya dijadikan sebagai pembuat masalah.
"Bu, apa kami boleh lihat-lihat sebentar?" tanya Drian.
"Tentu saja. Silakan masuk." Si ibu penjaga panti itu mempersilahkan kami masuk dengan cukup ramah, sangat ramah bahkan.
Sewaktu pertama kali memasuki bangunan panti, aku merasa cukup miris.
Bangunan itu sudah tidak layak huni. Atapnya sudah banyak berlubang. Temboknya kelihatan kusam dan keropos. Bahkan lantainya juga hanya beralaskan tanah.
"Maaf karena tidak bisa memberikan kalian suguhan," kata si ibu penjaga panti.
"Nggak masalah kok, Bu," balas Drian.
"Bu, kalau malam anak-anak tidur di mana?" tanya Angel.
"Kami semua tidur di sini."
Tempat yang ibu itu maksud adalah lantai yang berupa tanah.
"Di sini?" Drian agak syok begitu mendengarnya, pula denganku dan Angel.
"Terus kalau hujan gimana?" tanyaku.
Aku menanyakan itu karena melihat kondisi atap yang sudah banyak berlubang. Dengan kondisi semacam itu, kalau hujan itu berarti tanah tempat mereka tidur akan basah.
"Kalau hujan, kami terpaksa begadang," jawab si ibu penjaga panti.
"Lalu kenapa Ibu membiarkan anak sekecil mereka mengemis di jalanan?" tanya Angel.
Si ibu penjaga panti tiba-tiba tertunduk sambil berlinang air mata.
"Saya juga tidak ingin membuat mereka mengemis di jalanan, tapi kami juga tidak bisa melawan ... kami tidak punya pilihan," jawab si ibu penjaga panti sambil sesenggukan.
"Tidak bisa melawan? Apa maksudnya?" tanyaku yang merasa cukup terkejut mendengarnya.
"Panti ini dikuasai Tuan Thoriq dan kelompoknya. Mereka memaksa anak-anak mengemis dan harus memberikan setoran setiap hari. Kalau kami tidak memberikan setoran, mereka akan memukuli kami. Makanya, kami tidak punya pilihan," jawab si ibu penjaga panti, masih sambil sesenggukan.
Aku pun langsung menegangkan otot rahangku karena geram setelah mendengar penjelasan si ibu penjaga panti.
"Vin ...." Drian menatapku dengan tampang emosi.
"Ya, aku mengerti," balasku.
"Bu, apa Anda bisa memberitahu kami di mana markas kelompok mereka?" tanyaku.
"Apa yang mau kalian lakukan?"
"Kami ingin memberi mereka sedikit pelajaran!" jawabku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments