Sesampainya di panti yang baru selesai dibangun sekitar satu minggu yang lalu, anak-anak langsung berlarian memelukku dan Drian.
"Bang Vin mau sarapan bareng?" tanya Ahmad.
Masih ingat soal Ahmad? Dia ini bocah yang kutraktir sebelumnya.
"Iya," balasku singkat.
"Kak Angel mana? Kok nggak ikut?" tanya Lusi.
Lusi ini adiknya Ahmad.
"Palingan Kak Angel masih tidur. Biasalah ... perawan mah sukanya ngorok," jawabku.
"Enak aja ngorok!" Angel tiba-tiba datang dan menegurku dengan raut geram.
"Eh, Ngel? Kok ... kok ... kok tiba-tiba ...?" Aku cukup terkejut melihat kedatangan Angel.
"Aku tadi lihat kalian. Jadi, aku ikutin," kata Angel.
"Kak Angel!" Lusi langsung memeluk Angel.
"Lusi Sayang." Angel pun balas memeluk.
"Oh, kukira kamu masih ngorok. Biasanya kamu kan selalu gitu, nggak akan bangun sebelum mendapat ciuman pangeran tampan berkuda pu ...."
Pletak!
Angel tiba-tiba memukul kepalaku.
"Jadi kamu biasa nyiumin aku waktu aku tidur ...?" Angel kelihatan marah.
"Hehehehehe ... pisssss!" Aku langsung nyengir sambil mengacungkan jari tengah dan jari telunjuk, sementara Drian hanya menghela nafas.
"Alviiiiiiiiiin!!!" Angel berteriak keras, lalu mulai memukuliku.
Pletak! Pletok! Gubrak!
"Apa Bang Alvin baik-baik aja?" tanya Lusi.
"Dia pasti mati ... dia pasti mati," balas Heri.
...
Setelah insiden kecil tersebut, kini kami duduk di meja makan bersama-sama.
"Lu baik-baik aja, Bang?" tanya Heri yang duduk tepat di sampingku.
Aku cuma diam dengan wajah babak belur.
Angel kelihatan masih marah, Drian hanya menghela nafas, sementara anak-anak panti kelihatan miris padaku.
"Silakan dimakan," kata Bu Ratna.
Kami kemudian mulai menyantap hidangan yang sudah disediakan di atas meja dengan sangat lahap.
Aku bahkan sempat beberapa kali bertengkar dan berebut makanan dengan Heri yang duduk tepat di sampingku.
...
Selesai makan, anak-anak langsung berlarian keluar untuk bermain.
"Jangan main jauh-jauh!" teriak Bu Ratna.
"Ya!" balas mereka.
"Gimana, Bu? Apa kalian nyaman tinggal di sini?" tanyaku yang masih duduk semeja dengan Drian, Angel, dan Bu Ratna.
"Ya, kami benar-benar bersyukur bisa tinggal di sini. Semenjak di sini, anak-anak jadi bisa tertawa dan bermain setiap hari tanpa beban. Sudah sangat lama rasanya aku tidak melihat pemandangan seperti ini," jawab Bu Ratna.
"Saya juga ikut senang kalau begitu."
Aku benar-benar senang bisa melihat tawa kebahagiaan terukir di wajah anak-anak.
Awalnya, kukira mereka mungkin akan kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di desa, mengingat di desaku tidak ada listrik maupun hiburan seperti yang ada di kota, tapi ternyata anggapanku salah. Mereka justru kelihatan sangat senang bermain di alam.
"Kalau begitu, kami pamit pergi dulu, Bu. Maaf nggak bisa bantu nyuci piring," kataku.
"Oh, nggak masalah kok. Itu memang sudah tugas saya," balas Bu Ratih.
Singkat cerita, kami pun pergi meninggalkan panti.
"Kita berangkat kapan nih?" tanya Drian.
"Sekarang aja gimana? Mumpung masih pagi," balasku.
"Kalo gitu aku siap-siap dulu," kata Angel.
Hari ini, kami berencana pergi ke Kota Borneo untuk kembali menjalankan misi.
Sebelum berangkat, kami menyiapkan perbekalan terlebih dahulu, mulai dari makanan sampai pakaian.
Sebelum kami benar-benar berangkat, seluruh warga desa berkumpul di perbatasan desa untuk melepas keberangkatan kami.
Mereka selalu saja melakukan hal semacam itu setiap kami pulang ataupun pergi dari desa.
"Hati-hati dalam menjalankan misi. Jangan mengambil misi yang sulit," kata Bu Nur, ibunya Angel.
"Vin, jaga putriku baik-baik. Jangan sampai lecet," kata Paman Gary sambil menatapku tajam.
"Apaan sih, Pak. Aku bisa jaga diri kok," kata Angel.
"Tenang aja, Paman. Aman kok ... aman. Nggak bakalan lecet sedikit pun," kataku.
Puas berpamitan dengan seluruh warga desa, kami pun mulai berangkat menuju Kota Borneo.
"Capek juga kalau setiap pulang pergi mesti kayak gini," kataku.
"Itu berarti mereka sayang dan khawatir sama kita, Vin," kata Angel.
"Yakinnnnnn ...? Bukan karena uang kita?" tanyaku.
"Yah ... soal itu ...." Angel pun tidak bisa menjawab.
"Udahlah," kata Drian.
...
Setelah menempuh perjalanan selama lima jam, kami akhirnya sampai di Kota Borneo.
Kami langsung menuju guild begitu sampai di sana.
"Ah, itu mereka."
Baru saja memasuki guild, tiba-tiba Mbak Shelly, mbak petugas guild, langsung menunjuk ke arah kami.
"Ada apa?" tanyaku keheranan.
"Vin, orang-orang ini mau kau dan kelompokmu menjalankan misi eksklusif untuk mereka," kata Mbak Shelly begitu kami sampai di depan mejanya.
Orang-orang yang Mbak Shelly maksud adalah lima pria kekar berjanggut dan berkumis lebat yang terlihat sangat sangar.
Kutebak mereka ini adalah tipe orang yang sanggup bertahan hidup di pedalaman hutan.
Kenapa? Karena tampang mereka menggambarkan segalanya.
"Misi eksklusif? Kenapa harus kami?" tanyaku.
"Kudengar kalian adalah kelompok terbaik di cabang ini. Jadi, kami ingin kalian menjalankan misi eksklusif untuk kami," jawab salah satu dari mereka.
"Tau dari mana?" tanyaku.
"Me!" sela Mbak Shelly sambil memasang pose sok imut.
Aku susah bagaimana menjelaskannya. Jadi, kugambarkan dengan pose sok imut saja.
"Ah, tentu saja ... memangnya siapa lagi ...," gumamku.
"Memang apa misinya?" tanya Drian.
"Tidak sulit. Kalian hanya perlu mengawal dan melindungi kami saat menambang," jawab salah satu dari mereka.
Binggo! Mereka adalah penambang. Maka dari itu, wajar kalau penampilan mereka terlihat sangat sangar.
"Kenapa kalian butuh pengawalan kami saat menambang?" tanya Drian.
Awalnya kelima pria itu tampak ragu untuk menjawab, tapi pada akhirnya salah satu dari mereka angkat bicara.
"Kami ingin menambang di Lembah Yan. Makanya, kami butuh pengawalan kalian."
Aku, Drian, dan Angel pun seketika tersentak setelah mendengar nama Lembah Yan.
Lembah Yan biasa dijuluki sebagai Surganya Para Penambang karena sangat amat mudah untuk mencari permata maupun emas di sana.
Akan tetapi, Lembah Yan juga memiliki julukan lain, yakni Lembah Kematian. Julukan itu bisa sampai disematkan pada Lembah Yan karena lembah tersebut terkenal sangat mematikan.
Dari sepuluh penambang yang datang ke sana, delapan di antaranya kembali tinggal nama, sedangkan dua sisanya biasanya gila.
Selain itu, Lembah Yan juga sangat terkenal memiliki mitos Si Putih yang menjadi sosok penunggu lembah tersebut.
Siapa itu Si Putih? Aku juga tidak tau, tapi menurut rumor yang beredar, Si Putihlah yang menyebabkan Lembah Yan sampai dijuluki Lembah Kematian. Dialah yang menjadi penyebab kematian dan hancurnya mental orang-orang yang berani memasuki lembah tersebut.
"Apa kalian serius ingin menambang di sana?" tanya Drian.
"Memang tidak ada tempat lain apa?" gerutuku.
"Kami tau apa maksud kalian, tapi kami ingin sekali menambang di sana karena beberapa alasan, salah satunya karena kami ingin menjadi yang pertama menaklukkan lembah itu," kata salah satu dari mereka.
"Ah, dasar orang-orang gabut. Buat apa coba membahayakan nyawa cuma demi hal konyol kayak gitu," gerutuku.
"Kami akan membayar satu juta gale kalau misi ini sampai berhasil," kata salah satu dari mereka.
"Baiklah, kami terima!" Aku langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang setelah mendengar imbalannya satu juta gale.
"Eh, tapi, Vin ...." Drian dan Angel kelihatan cukup ragu.
"Satu juta lo ... satu juta." Aku pun berusaha meyakinkan mereka.
"Serah lu aja dah," kata Drian.
"Ngikut aja," kata Angel.
Mereka pun akhirnya luluh, atau mungkin lebih tepatnya pasrah.
"Kan ... sudah kubilang mereka pasti akan menerimanya kalau diberi bayaran besar," kata Mbak Shelly pada kelima pria tersebut.
"Ya ...." Kelima pria tersebut nampak keheranan.
Mereka mungkin heran karena kami yang sebelumnya seperti ingin menolak misi dari mereka tiba-tiba berubah pikiran setelah mendengar imbalan yang dijanjikan.
"Kalau begitu, kapan kita berangkat?" tanyaku.
"Kalau bisa sekarang juga," jawab salah satu dari mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments