"Mereka sudah kembali! Alvin, Drian, dan Angel sudah kembali!" teriak salah satu warga desa.
Sesampainya di perbatasan desa, orang-orang langsung menyambut kami untuk alasan yang tidak kuketahui.
"Kenapa mereka ini?" tanyaku.
"Entahlah," balas Drian.
"Untunglah kalian kembali dengan selamat," kata Pak Kepala Desa yang nampak bahagia sekaligus terharu melihat kedatangan kami.
"Ini ada apa sih? Lebay amat." Aku masih keheranan dengan sambutan yang cukup meriah itu.
Paman Gary yang merupakan ayahnya Angel tiba-tiba menghampiriku dan memukul kepalaku.
"Dasar anak nakal! Ke mana saja kau membawa putriku, haaa ...!"
"Eh? Ayah Mer ... maksudku Paman. Tidak perlu khawatir. Aku selalu menjaga Angel dengan segenap jiwa raga." Aku hampir saja kelepasan memanggil Paman Gary dengan sebutan Ayah Mertua.
"Kau barusan bilang apa?" tanya Ayah Mer ... maksudku Paman Gary dengan raut geram.
"Bilang apa? Nggak bilang apa-apa kok. Paman salah denger kali." Aku berusaha mengelak.
Tidak lama berselang, Bibi Septi; ibunya Drian, dan Bibi Nur; ibunya Angel, mereka tiba-tiba datang dan langsung memeluk Drian dan Angel.
"Drian, kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Bibi Septi sambil memeluk erat Drian.
"Tenang aja, Mak. Aman kok," balas Drian.
Drian biasa memanggil ibunya dengan panggilan Emak. Maklum saja, orang desa.
Orang desa kok manggilnya Mama. Kurang lebih itu yang selalu Drian katakan.
Bibi Nur juga terlihat sangat bahagia bercampur haru saat memeluk erat Angel.
Sementara itu, aku hanya bisa melihat momen tersebut dengan raut bahagia bercampur sedih karena tidak ada siapa pun yang akan memelukku seperti mereka.
"Apa kau juga perlu pelukan?" tanya Paman Gary sambil merentangkan kedua tangannya, seperti ingin mengajak pelukan.
"Nggak ... makasih," balasku cuek.
Plak!
Paman Gary tiba-tiba memukul kepalaku.
"Kenapa sih, Paman?" teriakku sambil memegangi bekas pukulan Paman Gary.
"Sia-sia saja aku mengkhawatirkanmu," kata Paman Gary, lalu melanjutkan, "Tapi aku sangat senang kalian bisa kembali dengan selamat. Kalian sudah pergi selama seminggu. Kupikir ada hal buruk yang menimpa kalian."
"Mana mungkin ... apa Paman lupa sekuat apa aku ini?"
"Bagaimanapun juga, orang tua tidak akan pernah bisa melepaskan anaknya ke dunia luar tanpa rasa khawatir, bahkan jika sang anak mampu melawan seluruh dunia sekalipun."
"Anak? Apa itu artinya ..."
"Jangan harap aku memberikan putriku padamu!" Paman Gary langsung memotong, bahkan sebelum aku selesai berbicara.
"Cih ...." Aku menggerutu.
Rupanya, yang membuat warga desa sampai menyambut kepulangan kami dengan sedemikian rupa karena mereka semua mengkhawatirkan kami, mengingat kami belum pulang selama kurang lebih satu minggu sejak pertama kali berangkat ke kota.
Walaupun sebenarnya penduduk desa sudah mengetahui sekuat dan sehebat apa kami dalam bertarung, tapi anehnya mereka tetap saja khawatir.
Mungkin itulah yang disebut dengan kasih sayang orang tua.
"Lalu siapa yang kalian bawa?" Pak Kepala Desa menanyakan soal anak-anak panti yang kami bawa.
"Oh, Pak Kepala Desa, aku berniat mengajak mereka tinggal di sini. Mereka sudah mengalami banyak hal buruk waktu tinggal di kota. Makanya aku ingin mereka bisa hidup lebih tenang di sini," jawabku.
"Jadi begitu," gumam Pak Kepala Desa, lalu mengangguk pada Bu Ratih, si ibu penjaga panti.
Bu Ratih juga mengangguk pada Pak Kepala Desa.
Aku tidak tau kenapa mereka saling menganggukan kepala seperti itu. Mungkin itu sebagai bentuk sapaan atau semacamnya.
Oh, iya. Aku baru tau nama si ibu penjaga panti saat dalam perjalanan kembali ke desa.
Setelah itu, Pak Kepala Desa langsung memerintahkan beberapa orang menebang pohon di hutan untuk membangun rumah yang nantinya ditinggali Bu Ratih dan anak-anak panti.
Selama rumah dibangun, anak-anak panti akan tinggal sementara di rumah Pak Kepala Desa.
...
Keesokan paginya, aku, Drian, dan Angel berserta Paman Gary, Paman Santoso, Bibi Nur, dan Bibi Septi, kami berkunjung ke rumah Pak Kepala Desa untuk membahas beberapa hal.
Paman Santoso adalah ayahnya Drian. Kemarin dia tidak ikut menyambut kepulangan kami karena sedang di kota untuk menjual hasil panen.
"Gimana, Vin?" tanya Bu Kepala Desa sambil menuangkan air ke gelasku.
"Gimana apanya?" tanyaku yang sedang duduk semeja dengan Pak Kepala Desa, Paman Gary, Paman Santoso, dan Drian, sedangkan Angel, Bibi Nur, Bibi Septi, dan Bu Ratna, mereka duduk di kursi berbeda.
"Gimana di kota? Banyak cewek cantik nggak di sana?" tanya Bu Kepala Desa.
"Cewek cantik mah banyak, tapi Angel tetap nomor satu di hati." Aku menjawabnya dengan penuh percaya diri.
Begitu aku mengatakan itu, Angel langsung tersipu malu, sementara Bu Kepala desa, Bibi Nur, Bibi Septi, sampai Bu Ratna hanya tertawa, begitu pula dengan Paman Gary, Pak Kepala Desa, sampai Paman Santoso.
"Sa ae lu, Vin, Vin ...," gumam Drian.
"Yeeee ... gua serius ini. Cuma sayang aja ... cintaku harus bertepuk sebelah tangan."
"Terus aja lu spik-spik mulu." Drian terus mengomentariku.
"Sudah-sudah," kata Pak Kepala Desa, lalu bertanya, "Ini ada apa pada ngumpul di sini?"
Aku kemudian merogoh dan mengeluarkan buku tabungan dari sakuku.
"Pak Kepala Desa, kami mau memberikan ini untuk pengembangan dan pembangunan desa."
"Nggak perlu, Vin. Itukan hasil jeri payah kalian. Kalian yang harus menggunakannya," kata Bu Kepala Desa.
"Yakin nih ...? Banyak lo uangnya," godaku.
Bu Kepala Desa terlihat agak penasaran, begitu pula dengan Pak Kepala Desa.
"Sini coba lihat."
Saat melihat buku tabungan yang kuberikan, Bu Kepala Desa tiba-tiba terdiam sambil ... ah, apa ya, namanya ... melongo ... Bu Kepala Desa tiba-tiba diam sambil melongo.
Uang yang ada di tabunganku berjumlah kurang lebih dua ratus ribu gale.
Uang itu adalah gabungan dari penghasilan kami selama menjalankan misi dan uang milik kelompok Thoriq yang diberikan pada anak-anak panti.
Sebelumnya, Bu Ratna mempercayakan dan memberikan uang kompensasi yang mereka terima dari kelompok Thoriq pada kami.
Awalnya kami berusaha menolak, tapi Bu Ratna tetap ngotot memberikan uang tersebut pada kami.
Bu Ratna mengatakan kalau kamilah yang seharusnya mendapatkan uang tersebut. Mereka merasa sudah sangat bahagia hanya dengan mendapatkan kebaikan kami.
Kami pun akhirnya tidak bisa menolaknya.
"Ini beneran, Vin? Nggak kamu tambahin sendiri kan nolnya?"
"Ya kalik, Bu, tak tambahin sendiri," balasku.
Bu Kepala Desa kemudian saling pandang dengan Pak Kepala Desa.
"Sejak awal, kami sudah berkomitmen untuk menyisihkan sebagian penghasilan kami untuk pembangunan desa. Kami ingin seluruh penduduk desa mendapat kehidupan yang lebih layak. Kami harap uang yang kami dapat sekarang dan seterusnya bisa digunakan untuk membangun desa," kataku berusaha meyakinkan mereka.
Bu Kepala Desa tiba-tiba nampak terharu, begitu pula dengan Pak Kepala Desa.
"Kami juga cukup terkejut saat mereka membicarakan ini dengan kami. Kami sangat bangga karena anak-anak kita sampai memikirkan hal semacam itu. Bukankah sebaiknya tidak menolak kebaikan mereka, Pak Kepala Desa?" kata Paman Gary yang berusaha meyakinkan Pak Kepala Desa.
"Aku tidak tau harus bilang apa, tapi aku sungguh berterima kasih. Aku bangga pada kalian, Alvin, Drian, Angel. Aku sungguh bangga memiliki anak-anak seperti kalian," kata Pak Kepala Desa.
"Saya juga ikut senang, Pak," kataku.
...
Saat usiaku menginjak lima tahun, ayahku meninggal karena kecelakaan sewaktu mengangkut hasil panen dari ladang, lalu ibuku menyusul setahun kemudian karena sakit keras.
Sejak usia enam tahun, aku sudah hidup sendirian.
Aku bisa terus bertahan berkat warga desa yang dengan penuh cinta kasih merawatku.
Merekalah yang memberiku makan setiap hari. Merekalah yang merawatku saat aku sakit. Mereka terus saja mencurahkan perhatian penuh padaku layaknya anak sendiri.
Sejak saat itu, aku bertekat suatu saat nanti harus membalas kebaikan mereka.
Hari demi hari pun kulalui dengan latihan keras, ditemani Drian dan Angel.
Awalnya, mereka hanya ingin sekedar menemaniku berlatih, tapi lama kelamaan hal itu malah menjadi rutinitas.
Karena saat ini aku sudah menjadi prajurit bayaran dan bisa mencari uang sendiri, aku bertekat mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk memajukan desa, berserta seluruh orang di dalamnya. Hal itu kulakukan sebagai balas budiku pada mereka yang sudah dengan penuh cinta kasih merawatku selama ini.
Mari mulai perkenalannya sekali lagi.
Namaku Alvin. Umurku 18 tahun. Aku adalah anak yatim piatu yang tinggal dan besar di desa kecil berpenduduk dua puluh kepala keluarga bernama Florida.
Ini adalah kisahku, sebuah kisah yang membuat namaku diabadikan dalam bingkai sejarah panjang perjalanan umat manusia, dan jalan hidupku dijadikan panutan generasi-generasi selanjutnya.
Ini juga merupakan sebuah kisah yang membuat namaku ditulis dengan tinta emas di puncak tertinggi yang tak akan bisa disejajarkan dengan manusia mana pun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments