Tidak lama berselang, si Iblis Sersius yang sebelumnya kupukul mundur, sekarang kembali menghampiri kami dengan raut marah sambil memancarkan aura pekat yang terasa sangat menekan.
Setiap iblis itu melangkah, tanah yang dia pijak langsung memerah seperti terbakar.
"Aku juga bisa melakukan yang seperti itu," gumamku.
"Ini bukan waktunya bersaing, Vin." Drian pun menegurku.
"Lawan kita adalah iblis kelas atas. Aku tidak tau sekuat apa kalian, tapi jangan sampai lengah," kata Bang Regas sambil terus waspada.
"Kalau tau gini, harusnya kita membawa senjata," gumamku.
"Kita juga nggak nyangka kalau bakalan ketemu ama yang beginian," balas Drian.
Aku dan Drian sebenarnya adalah pengguna katana. Kami akan jauh lebih hebat kalau bertarung menggunakan katana, meski kami juga cukup hebat walau harus bertarung dengan tangan kosong.
Alasan kenapa kami tidak membawa senjata karena kami merasa kalau misi yang kami jalani tidak menuntut kami untuk setiap saat membawa senjata.
Akan sangat merepotkan kalau harus ke mana-mana sambil menenteng senjata, lebih baik tinggalkan saja. Itulah yang kami pikirkan.
...
Si Iblis Sersius yang sebelumnya berjalan santai menghampiri kami, tiba-tiba mempercepat langkahnya dan bersiap menyerang Drian dengan pukulan berlapis kobaran api menyala.
Drian pun dengan sigap memiringkan kepalanya untuk menghindari pukulan iblis tersebut, sedangkan aku langsung bersiap memukul kepala iblis tersebut dari sisi samping dengan pukulan berlapis suhu panas.
Boom!
Pukulanku pun berhasil membuat kepala si Iblis Sersius hancur berkeping-keping.
Namun, hanya dalam hitungan detik, kepala iblis itu kembali pulih seperti semula, seakan-akan tidak pernah terluka sama sekali.
"Ah, gua lupa ... harusnya kan hancurin jantungnya," gumamku.
"Vin, awas!" Drian mencoba memperingatkanku akan datangnya serangan dadakan.
Aku pun menoleh dan mendapati si Iblis Sersius sedang bersiap menyerangku dengan cakarnya.
Aku tidak berniat menghindar ataupun menangkis serangan dadakan tersebut karena suatu alasan.
Sebelum cakar iblis itu mendarat ke tubuhku ...
Slash!
Bang Regas dengan sigap menebas tangan si Iblis Sersius itu.
"Jangan lengah! Kita sedang dalam pertarungan," tegur Bang Regas.
"Maaf," balasku sambil tersenyum.
Aku, Drian, dan Bang Regas kemudian mulai mengkombinasikan serangan dan silih berganti mendaratkan serangan telak ke tubuh iblis itu.
Bukannya tanpa perlawanan, iblis itu juga sempat beberapa kali membuat kami kerepotan dengan pergerakannya yang sangat amat cepat, belum lagi dampak pukulan dan cakarannya yang seakan-akan mampu merobek udara.
Kami memang berhasil mendaratkan cukup banyak serangan telak ke tubuh iblis tersebut. Akan tetapi, semua serangan kami seolah-olah tidak berdampak sama sekali di hadapan mahluk yang bahkan tidak bisa merasakan sakit.
Iblis itu terus saja beregenerasi dan beregenerasi setiap bagian tubuhnya hancur atau terpotong.
Aku, Drian, dan Bang Regas sebenarnya sudah berusaha menargetkan bagian jantung iblis itu, tapi karena iblis itu sanggup melindungi area jantungnya dengan sangat baik, kami jadi kesulitan menghancurkan jantungnya.
"Bang, di belakangmu!" teriakku, berusaha memperingatkan Bang Regas akan datangnya serangan dadakan.
Bang Regas sepertinya tidak sempat untuk menghindari serangan dadakan iblis itu.
Beruntungnya, Angel yang terus-terusan menjaga kami dari belakang berhasil dengan sigap membuat barier yang menyelubungi tubuh Bang Regas, sehingga membuat Bang Regas selamat dari serangan dadakan iblis tersebut.
"Terima kasih!" teriak Bang Regas.
"Sama-sama," balas Angel sambil terus menjaga konsentrasinya.
"That's my girl!" gumamku.
Jika iblis itu punya kemampuan regenerasi tingkat tinggi yang membuatnya tidak perlu mengkhawatirkan setiap serangan yang kami lancarkan, kami punya Angel yang membuat kami tidak perlu mengkhawatirkan setiap serangan yang iblis itu lancarkan.
Gagal menyerang Bang Regas, iblis itu tiba-tiba melesat cepat mengincar Angel. Dia seperti tau bahwa orang pertama yang harus dia tumbangkan adalah Angel.
Melihat itu, tentu saja aku tidak tinggal diam.
Aku pun langsung melesat mengejar iblis itu dengan kecepatan tinggi.
"Jangan berani-beraninya ... kau melirik calon istriku!" gumamku sambil bersiap melesatkan satu pukulan kuat.
Boom!
Aku berhasil mendaratkan satu pukulan telak yang membuat kepala iblis itu hancur lebur, tapi tidak butuh waktu lama, lagi dan lagi, kepala iblis itu kembali beregenerasi.
Saat kepalanya sudah kembali seperti semula, iblis tersebut tiba-tiba membakar tubuhnya sendiri dan menciptakan semacam pancaran suhu panas yang cukup ekstrim. Dia sepertinya sangat marah.
"Ma-nu-sia ...! A-kan ku-bu-nuh ... ma-nu-sia!" Ucapan iblis itu tidak jelas, tapi masih bisa kumengerti.
Awalnya, aku memang menikmati pertarungan tersebut, tapi lama kelamaan, aku mulai bosan.
"Akan kuakhiri dengan pukulan terkuatku," gumamku sambil melemaskan pergelangan tangan kananku.
Aku pun mulai berancang-ancang, lalu melesat cepat menghampiri iblis itu sambil bersiap melesatkan pukulan terkuatku.
Iblis itu berniat meladeni pukulanku, tapi aku tidak memperdulikannya.
Hanya dalam satu pukulan ...
Boom!
Tubuh iblis itu seketika lenyap tanpa bekas.
Bukan hanya tubuh iblis itu, tapi hutan, gunung, dan segala hal yang berada dalam lintasan pukulanku juga ikut lenyap akibat tekanan udara yang tercipta dari efek pukulanku.
Awan mendung yang sebelumnya menutupi langit malam juga bahkan ikut tersingkap hingga memunculkan bulan sabit berserta bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Hujan yang sebelumnya terus mengguyur deras juga seketika lenyap.
"Ah, apa aku terlalu berlebihan ...?" gumamku saat masih dalam poseku, pose setelah memukul.
Drian hanya menghela nafas, Angel tersenyum kecut, sedangkan Bang Regas nampak terkejut bercapur rasa tak percaya menanggapi ucapanku.
"Siapa kalian yang sebenarnya?" tanya Bang Regas dengan raut keheranan bercampur tak percaya.
"Eh ...? Bukannya sudah kami bilang ...? Kami ini cuma anak desa yang mau mencari penghasilan," balasku.
Jawabanku sepertinya tidak membuat Bang Regas puas karena dia tetap terlihat keheranan bercampur rasa tak percaya.
Tidak lama berselang, tiba-tiba Bang Khamim dan Bang Joshua datang menghampiri kami.
"Apa yang barusan terjadi?" tanya Bang Khamim.
"Dari mana datangnya serangan itu?" tanya Bang Joshua.
Bang Regas pun menunjukku.
"Ah, maaf, aku cuma terlalu bersemangat." Aku mencoba beralasan.
"Kau ...?" Bang Joshua dan Bang Khamim nampak terkejut sekaligus tak percaya.
"Bagaimana dengan pertarungan kalian?" tanya Bang Regas yang sedang duduk di atas batang pohon tumbang.
"Kami sudah selesai. Gara-gara dampak serangan itu, iblis yang kami hadapi ikut musnah," jawab Bang Khamim.
"Untung saja kami sempat menghindar. Kalau tidak, kami juga pasti akan ikut lenyap!" gerutu Bang Joshua.
"Hoi, Bocah! Apa benar-benar kau yang baru saja melepaskan serangan itu?" tanya Bang Khamim.
"Ya, maaf soal itu," jawabku.
...
Singkat cerita, kami pun mulai meninggalkan bekas medan pertarungan dan menghampiri Om John berserta kelompoknya yang menunggu di atas tebing lembah.
"Apa yang barusan terjadi? Dari mana datangnya serangan itu?" tanya Om Jerni saat pertama kali melihat kedatangan kami.
Tanpa banyak bicara, Drian dan Bang Regas langsung menunjukku.
Om Jerni, Om John, Om Morphin, Om Lucas, bahkan sampai Om Ludensberg pun langsung menatapku dengan raut heran bercampur tak percaya. Lagi-lagi, ekspresi yang sama.
Sementara itu, aku hanya mengalihkan pandangan. Aku merasa cukup bersalah karena sudah melenyapkan sebagian besar lembah tersebut.
"Apa itu benar-benar ulahmu?" tanya Om Jerni.
Aku pun langsung menundukkan kepala hingga membentur tanah sambil berteriak, "Om, aku benar-benar minta maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, tolong maafkan aku!"
Om John dan kelompoknya saling pandang untuk sesaat. Mereka sepertinya tidak mengerti kenapa aku sampai bertingkah seperti itu.
Dengan musnahnya ketiga iblis yang merupakan ancaman utama yang mengintai Lembah Yan, itu artinya julukan Lembah Kematian tidak akan lagi tersemat pada lembah tersebut.
Kalau julukan itu sampai menghilang, itu artinya Lembah Yan tidak lagi berbahaya.
Kalau Lembah Yan tidak lagi berbahaya, maka ekspedisi penaklukkan Lembah Yan juga tidak akan bermakna.
Kalau ekspedisi itu tidak bermakna, itu berarti misi kami gagal.
Kalau misi kami sampai gagal, itu artinya kami tidak akan mendapat bayaran yang sudah dijanjikan.
Itulah yang menjadi kekhawatiran terbesarku.
"Sebenarnya kami sedang mengkhawatirkan misi ini. Dengan musnahnya ketiga iblis yang menjadi ancaman utama yang mengintai lembah ini, maka itu berarti julukan Lembah Kematian tidak akan lagi tersemat pada lembah ini. Apa itu tidak masalah?" tanya Drian.
"Oh, jadi soal itu ... tenang saja, kami tidak akan membatalkan misi ini. Malahan sebaliknya, kami menganggap misi ini sukses besar," jawab Om John.
"Entah bagaimanapun nasib lembah ini ke depannya, kami tetap akan dikenal sebagai kelompok pertama yang berhasil menaklukkan lembah ini," imbuh Om Lucas.
"Justru, ini malah lebih baik. Dengan hilangnya ancaman utama yang mengintai lembah ini, semua orang akan bisa menambang di sini tanpa rasa khawatir," imbuh Om Jerni.
"Dan kami juga akan dikenal sebagai kelompok ekspedisi yang berhasil menghilangkan ancaman di lembah ini, meski sebenarnya kami bahkan tidak berkontribusi sama sekali," imbuh Om Ludensberg.
"Bisa dibilang, ekspedisi ini sukses besar. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," imbuh Om Morphin.
"Benarkah ...? Apa kalian benar-benar tidak akan membatalkannya ...?" tanyaku sambil sedikit mendongak ke atas.
"Ya, tentu saja," jawab Om John.
Hatiku pun langsung berbunga-bunga setelah mendengarnya.
Dengan begitu, satu juta gale sudah pasti di tangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments