Sore harinya, cuaca tiba-tiba berubah mendung dan turun hujan. Padahal pagi dan siangnya cerah tanpa awan.
Akibatnya, kami pun terpaksa mengakhiri penambangan lebih cepat dan berteduh di dalam tenda.
Kami berteduh di dalam tenda yang cukup besar, setidaknya cukup untuk menampung kami semua di dalamnya. Daripada tenda, mungkin lebih tepat disebut Shalter.
Saat bersantai di dalam tenda, aku menikmati suasana sore itu sambil menyeruput segelas coklat panas.
Suara gemericik air hujan yang jatuh menerpa dedaunan dan aliran sungai, ditambah aroma tanah basah, serta suasana remang-remang di tengah-tengah lembah, kombinasi itu sanggup menciptakan nuansa menenangkan di hati. Setidaknya itu yang kurasakan.
"Ngel, kamu tau nggak, perbedaanku dan hujan?" tanyaku sambil memegang segelas coklat panas.
"Apaan tu?" balas Angel yang sedang menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
"Aku tidak butuh air untuk membuatmu basah!"
"Sa ae lu, Vin, Vin," kata Drian, sementara Angel hanya tersipu malu.
"Apa kalian ini pacaran?" tanya Om Morphin.
Aku pun melirik Angel, bermaksud memancing Angel untuk menjawabnya.
"Kami ini sahabat sejak kecil." Drian tiba-tiba menyahut dan menghancurkan momen itu.
Aku pun merana, sedangkan Angel menahan tawa.
"Gimana, Om? Dapet banyak nggak hari ini?" tanya Angel. Dia bertanya soal emas.
"Ya, lumayan. Kita dapat enam ratus gram cuma dalam satu hari. Ditambah emas yang kalian temukan, totalnya kita dapat lima kilo delapan ratus gram," jawab Om John.
Jadi, setelah ditimbang, bongkahan emas yang kutemukan sebelumnya memiliki berat 5,2 kilogram. Ditambah 600 gram milik Om John dan kelompoknya, total kami berhasil mengumpulkan 5,8 kilogram emas hanya dalam kurun waktu satu hari.
"Tapi itu tetap jadi emasku, kan?" tanyaku.
"Iya, tenang saja. Emas itu tetap menjadi milik kalian. Kami hanya akan meminjamnya sebentar sebagai bukti bahwa kami berhasil menaklukkan lembah ini. Setelah itu kami akan mengembalikannya pada kalian," balas Om John.
"Apa itu berarti, misi ini sudah selesai?" tanya Angel.
"Ya, besok kita bisa kembali. Tidak perlu berlama-lama lagi di sini," jawab Om John.
Aku dan Drian pun langsung bernafas lega mendengarnya.
"Untunglah ... kalau begitu kami tidak perlu lagi berjaga malam ini," gumam Drian sambil mengelus dada.
"Ya, aku tidak mau lagi ketemu sama Si ...."
Belum selesai aku berbicara, Drian tiba-tiba langsung membungkam mulutku sambil memberikan kode untuk diam.
Aku pun langsung mengangguk karena mengerti maksudnya. Hampir saja aku keceplosan.
"Emang kalian ketemu sama siapa?" tanya Angel dengan raut curiga bercampur heran.
Aku dan Drian pun panik dan berusaha untuk mencari alasan.
"Itu ... nggak ... jadi ... semalem ... jadi semalem tu ... kami ... kami ketemu ama ..."
"Serigala!" Drian langsung menambahkan.
"Iya, bener. Semalem kami ketemu ama serigala. Mana serigalanya gede banget lagi," kataku dengan raut gugup, takut Angel tidak percaya.
Angel terus menatap kami dengan sorot mata curiga, dan hal itupun membuatku dan Drian banjir keringat dingin.
"Jangan boong deh. Aku udah lama kenal kalian. Kalo cuma serigala, nggak mungkin kalian sampek kayak gini," kata Angel, masih sambil menatap kami curiga.
"Beneran kok. Kami nggak boong. Kan, Yan?" kataku sambil memberi kode.
"Iya, bener kok," balas Drian.
"Hmmm ...." Angel pun semakin menatap kami dengan raut curiga.
"Kalian semalam bertemu Si Putih kan?" tanya Om Jerni.
Deg!
Aku dan Drian pun seketika terperangah mendengarnya.
"Si Putih?" gumam Angel keheranan.
"Si ... Si Putih ...? Emang Si Putih tu apaan?" Aku berpura-pura tidak tau.
"Semalam aku mendengar suara gemericik air. Waktu keluar tenda, aku lihat kalian sedang jalan ngendap endap ke sungai. Jadinya, aku mengikuti kalian," jawab Om Jerni.
Kalau kuingat ingat lagi, tidak lama setelah melihat penampakan Si Putih, kami melihat Om Jerni tiba-tiba kembali dari arah sungai.
Waktu itu, aku dan Drian tidak menanyakan apa pun pada Om Jerni karena kami masih syok dengan kejadian sebelumnya.
"Vin, Yan, jadi kalian beneran ketemu ama Si Putih?" tanya Angel.
Aku dan Drian pun mengangguk pasrah karena sudah tidak bisa lagi mengelak.
"Oh, pantesan tadi pagi kalian kayak gitu," kata Angel.
"Om Jer." Aku memanggil Om Jerni dengan panggilan Om Jer.
"Om Jer emang nggak takut?" tanyaku.
"Itu udah biasa kok," balas Om Jerni.
"Udah terlalu biasa malahan," imbuh Om Ludensberg.
"Jadi kalian takut sama yang begituan, ya?" tanya Om Lucas.
Aku dan Drian pun mengangguk.
"Kalau menurut kami, hantu itu tidak menakutkan sama sekali. Justru, yang lebih menakutkan adalah iblis," kata Om John.
"Iblis?!" Aku, Drian, dan Angel cukup syok mendengarnya.
"Memang apa bedanya hantu dan iblis?" tanya Drian.
"Ada begitu banyak sosok hantu di dunia ini. Di setiap belahan dunia memiliki wujud hantu yang berbeda-beda. Tau kenapa? Itu karena hantu adalah perwujudan dari rasa takut manusia. Mereka muncul dan terbentuk dari kepercayaan masing-masing orang. Berbeda dari hantu, iblis adalah bentuk nyata dari perwujudan suatu mahluk. Jika hantu hanya bisa menakuti kita, Iblis sanggup melukai kita. Maka dari itu, kami jauh lebih takut dengan iblis daripada hantu," jelas Om John.
"Jadi begitu, ya? Kupikir iblis dan hantu itu sama saja," gumamku.
"Aku juga," gumam Angel.
"Apa kalian belum pernah bertemu iblis secara langsung?" tanya Om Lucas.
"Kalau hantu mah sering, kalau iblis kayaknya belum deh Om," jawabku.
"Sebaiknya jangan pernah bertemu dengan mereka. Itu adalah sebuah pengalaman yang sangat mengerikan," kata Om John.
"Apalagi kalau iblis yang kalian temui adalah iblis kelas atas," imbuh Om Jerni.
"Apa kalian pernah bertemu mereka secara langsung?" tanya Angel.
"Kami pernah bertemu mereka sekali, tepatnya saat kami ingin menaklukkan Great Canyon. Itu adalah pengalaman terburuk yang tidak akan pernah ingin kami alami untuk yang kedua kalinya," jawab Om Ludensberg.
Tidak lama berselang, di saat kami masih sibuk berbincang, tiba-tiba ada sebuah benda yang terbang di atas tenda kami.
"Apa itu?" tanyaku sambil melindungi wajahku dari hempasan angin yang tercipta dari benda terbang tersebut.
"Itu namanya helikopter," jawab Om John.
"Ohh ... jadi itu yang disebut helikopter, ya?" gumamku.
Teknologi dunia ini memang sudah cukup maju untuk menciptakan alat transportasi seperti yang kulihat saat ini. Akan tetapi, jumlahnya masihlah sangat terbatas.
Untuk alat transportasi paling murah saja, yakni motor beroda dua, masih sangat sulit dilihat di sembarang tempat, apalagi helikopter.
Hanya mereka yang memiliki kekayaan tak terbatas yang bisa memiliki alat transportasi semacam itu, mengingat harga dan perawatannya sangat amat mahal.
Dari helikopter tersebut, tiba-tiba ada tiga orang yang melompat turun.
Berhubung aku belum mengenal ketiganya, jadi aku akan menyebut mereka dengan sebutan pria pertama, pria kedua, dan pria ketiga.
Pria pertama dan ketiga berperawakan tinggi kurus, sedangkan pria kedua berperawakan tinggi besar berotot.
Mereka sama-sama berpenampilan menawan bak seorang bangsawan. Umur mereka mungkin sekitar dua puluhan tahun, terlihat dari wajah mereka.
Pria pertama membawa tombak panjang di tangannya, sedangkan pria kedua membawa kapak di punggungnya dengan dilengkapi zirah emas yang menutupi dada, bahu, dan pergelangan kakinya.
Sementara itu, pria ketiga membawa dua pedang yang menyilang di punggungnya.
Di antara ketiganya, menurutku pria ketiga terlihat memiliki tubuh paling proporsional. Pembawaanya juga sangat kalem.
"Untung kami masih sempat," kata pria ketiga saat pertama kali menghampiri kami di dalam tenda.
"Siapa kalian?" tanyaku.
"Ada perlu apa Anda sekalian datang kemari, Tuan Joshua, Tuan Regas, Tuan Kharim?" tanya Om John pada ketiga pria itu.
"Kami diperintahkan Master Guild untuk mengambil alih misi ini," kata pria ketiga.
Ternyata ketiga pria itu bernama Joshua, Regas, dan Kharim. Akan tetapi, karena aku belum tau siapa yang bernama Joshua, Regas, ataupun Kharim, aku akan tetap menyebut mereka pria pertama, kedua, dan ketiga untuk sementara waktu.
"Hoi, apa maksud dari kalian ingin mengambil alih misi ini?" teriakku.
"Apa kau tidak pernah belajar tentang bahasa?" tanya pria pertama.
"Aku tau soal itu. Maksudku ini kan misi kami. Mana bisa kalian mengambil seenaknya!" teriakku geram.
Aku sangat geram karena ketiga pria tak dikenal itu tiba-tiba datang dan mengatakan ingin mengambil alih misi satu juta galeku. Mana mungkin aku akan memberikannya begitu saja.
"Kami minta maaf yang sebesar-besarnya, tapi apa boleh kami tau alasan kenapa kalian ingin mengambil alih misi ini?" tanya Drian dengan sopan.
Drian ini memang anaknya seperti itu. Berbeda dariku yang agak sulit berbicara sopan dengan orang asing, dia ini cenderung sangat sopan kalau harus berhadapan dengan orang asing.
"Ini menyangkut nama baik Guild Fairy," jawab pria ketiga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments