"Kalian, cepat pergi dari sini. Biar kami yang menangani mereka," kata Bang Regas.
"Apa kalian yakin? Kami bisa membantu kalau kalian mau," balasku.
"Kalian cuma akan menjadi beban kalau ikut bertarung. Kami tidak mau bertarung sambil melindungi orang lain," kata Bang Khamim.
"Beban ...?!" Aku dan Drian agak kesal bercampur jengkel saat mendengar kalimat tersebut.
Kami memang belum terlalu mengenal Bang Khamim, tapi menurutku, dia ini adalah tipe orang yang cuek dan bermulut pedas.
Akan tetapi, kami juga tidak bisa menyalahkannya, mengingat dia belum mengetahui kekuatan kami yang sebenarnya.
Aku, Drian, Angel, dan Om John berserta kelompoknya pun memutuskan pergi menjauh meninggalkan tempat itu, sedangkan Bang Regas, Bang Joshua, dan Bang Khamim akan menghadapi ketiga iblis bawahan Balpeghor.
Saat kami ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba salah satu iblis melesat cepat ke arah kami. Dia seperti tidak ingin membiarkan kami pergi begitu saja.
Akan tetapi, sebelum iblis tersebut berhasil mencapai kami ...
Slash!
Bang Khamim dengan sigap menghadang pergerakan iblis tersebut dengan menebas salah satu lengan iblis tersebut.
"Cepat pergi dari sini," kata Bang Khamim.
Sambil berjalan menjauh, aku melirik ke arah iblis yang barusan ditebas oleh Bang Khamim dan mendapati tangannya yang baru saja terpotong tiba-tiba kembali sembuh seperti semula tanpa meninggalkan bekas.
Aku cukup heran sekaligus takjub melihat hal itu, mengingat itu adalah pertama kalinya aku mendapati yang seperti itu.
Yang jadi pertanyaanku adalah, bagaimana cara mengalahkan para iblis itu kalau mereka memiliki kemampuan regenerasi semacam itu.
...
Sesampainya di tebing lembah, aku langsung duduk di tebing tersebut sambil berkata, "Kita di sini saja dulu."
"Eh, kenapa?" tanya Om Ludensberg.
"Hoi, jangan bilang lu mau nontonin pertarungan mereka," kata Drian.
"Emang kapan lagi kita bisa melihat pertarungan semacam ini?" balasku.
"Lagi pula, gua agak penasaran ... gimana caranya ngalahin iblis yang punya regenerasi tingkat tinggi," imbuhku.
Drian, Angel, dan Om John berserta kelompoknya hanya diam. Mereka seperti ingin protes, tapi mulut mereka terkunci.
"Ok lah kalau itu maumu," kata Drian, lalu duduk di tepi jurang bersamaku.
"Tapi apa kalian yakin ingin tetap di sini?" tanya Om John.
"Tenang aja, Om. Nggak masalah kok. Kami jamin, kalian tidak akan terluka," balasku.
"Aku tau kalian mungkin percaya diri karena merasa kuat, tapi iblis itu adalah mahluk yang sangat mengerikan," kata Om Jerni.
"Maka dari itu, aku ingin melihat secara langsung," balasku sambil menatap lembah di bawahku.
Meski hari sudah malam, ditambah hujan juga masih mengguyur deras, dari atas tebing tempatku berada, aku bisa melihat pertarungan ketiga eksekutif Guild Fairy melawan ketiga iblis bawahan Balpeghor dengan cukup jelas.
Bang Regas coba mengayunkan kapak yang sudah dilapisi dan diperkuat energinya ke tubuh Iblis Sersius dengan sekuat tenaga.
Namun, sang Iblis Sersius sanggup menangkisnya dengan tangan kosong, atau lebih tepatnya, kapak milik Bang Regas tak mampu menembus armor tebal yang menyelimuti tubuh sang Iblis Sersius.
Sang iblis Sersius pun balas mengayunkan cakarnya ke tubuh Bang Regas, berniat mencakar tubuh Bang Regas dengan kuku-kuku panjang dan tajam miliknya.
Akan tetapi, Bang Regas mampu menangkis cakaran tersebut dengan kapaknya.
Di sisi lain, Bang Khamim juga sedang terlibat pertarungan sengit melawan Iblis Galiel.
Dalam pertarungan tersebut, Bang Khamim berhasil memotong dan menebas tubuh Iblis Galiel berkali-kali dengan kedua pedangnya hingga menjadi potongan-potongan kecil.
Akan tetapi, setiap bagian yang terpotong selalu saja beregenerasi dan kembali seperti semula hanya dalam sekejap mata.
Bang Khamim mulai berancang-ancang, lalu melesat cepat dan kembali menebas tubuh Iblis Galiel menjadi potongan-potongan kecil.
Namun, lagi dan lagi Iblis Galiel sanggup meregenerasi dan menyembuhkan semua luka-lukanya hanya dalam sekejap mata.
Iblis Galiel mulai menatap tajam ke arah Bang Khamim saat tubuhnya kembali seperti semula.
Di sisi berbeda, pertarungan Bang Joshua melawan Iblis Pieron juga tidak kalah hebat.
Bang Joshua berhasil beberapa kali mendaratkan serangan telak ke tubuh Iblis Pieron. Akan tetapi, semua serangannya seolah-olah tidak berguna di hadapan mahluk yang sanggup meregenerasi seluruh bagian tubuhnya hanya dalam sekejap mata.
Pertarungan mereka pun terus berlanjut hingga membuat sebagian kecil hutan yang menutupi Lembah Yan nyaris luluh lanta dengan tanah.
Sambil menatap ke medan pertarungan yang semakin lama mulai semakin hancur, aku bergumam, "Iblis-iblis itu terus beregenerasi tiap kali mereka terluka. Kalau begitu terus, bagaimana caranya mengalahkan mereka?"
Om John yang berteduh di bawah pohon yang tidak jauh dariku tiba-tiba angkat bicara.
"Hanya ada satu cara untuk mengalahkan para iblis, yakni dengan menghancurkan inti kehidupan yang terletak di jantung mereka."
"Cuma itu?" tanyaku.
"Ya, cuma itu ... tapi itu tidak akan semudah yang kau kira. Mereka punya sebuah barier khusus yang melindungi area jantung mereka. Jika kau ingin menghancurkannya, kau harus memberikan sebuah serangan fatal yang sangat merusak." Om John memberikan sedikit penekanan pada kalimat terakhirnya.
"Oh, jadi hanya perlu menghancurkan jantung mereka, ya ...?" gumamku sambil terus menatap medan pertarungan di bawahku.
"Hoi, jangan bilang lu mau nyoba langsung," tegur Drian.
"Emang apa salahnya sih, Yan? Paling juga nggak bakalan makan waktu lama kok," balasku.
"Si Anjir ...! Serah lu dah," gerutu Drian.
"Kalau gitu aku juga ikut," kata Angel.
"Kalo gitu ayo habisi mereka," gumamku sambil mulai berdiri dari tepian jurang, tempatku duduk menonton pertarungan di dasar lembah.
"Apa kalian serius mau turun ke sana?" tanya Om Morphin.
"Ya, kami cuma mau menguji seberapa jauh kemampuan kami," balasku.
Om Morphin, Om Jerni, Om Ludensberg, Om Lucas, bahkan sampai Om John tiba-tiba terlihat cukup syok.
Aku yakin mereka pasti berpikir kalau kami sudah gila karena ingin menantang iblis kelas atas. Akan tetapi, kami, atau mungkin lebih tepatnya aku tidak terlalu memperdulikan pemikiran mereka.
Aku tidak perduli apa yang mereka pikirkan karena bagiku ini adalah pengalaman yang tidak boleh kulewatkan begitu saja. Ini adalah kesempatan terbaik untuk menguji sejauh mana hasil latihan kami selama ini.
"Aku tau kalian pasti berpikir kalau kalian itu kuat, tapi yang akan kalian hadapi adalah iblis kelas atas," kata Om John.
"Tenang saja, Om. Kalau emang kami nggak mungkin ngalahin mereka, ya, tinggal kabur," balasku.
Aku, Drian, dan Angel kemudian melompat menuruni tebing secara bersamaan.
"Vin, jangan berlebihan, ok ...? Kita cuma mau ngetes kemampuan aja," kata Drian.
"Ya, gua paham kok, Yan," balasku.
"Aku akan membantu kalian dari belakang," kata Angel.
Karena tebing tersebut cukup tinggi, kami bahkan sempat berbincang saat menjatuhkan diri.
Sesampainya di dasar lembah, aku dan Drian langsung berlari dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Angel yang sengaja tertinggal di belakang, mengingat dia ini adalah tipe support.
Saat sudah dekat, aku dan Drian langsung memukul tubuh si Iblis Sersius dan menyebabkan si Iblis Sersius terpental cukup jauh ke belakang.
"Kenapa kalian malah ke sini?" tanya Bang Regas yang sepertinya terkejut dengan kedatangan kami.
"Kami cuma mau membantu," balasku.
"Bukankah sudah kubilang ...."
Belum selesai Bang Regas berbicara, tiba-tiba ada sebatang pohon besar yang melesat ke arah kami, seperti sengaja dilemparkan ke arah kami.
"Mundurlah," kata Bang Regas sambil bersiap mengayunkan kapaknya untuk menghalau lesatan batang pohon tersebut.
Namun, sebelum batang pohon tersebut menghantam kami ...
Duar!
Batang pohon tersebut tiba-tiba terpental akibat menghantam sesuatu.
Ternyata itu adalah ulah Angel yang dengan sigap membuat barier untuk melindungi kami dari lesatan batang pohon tersebut.
"Tenang saja, kami pasti akan menjadi bantuan besar untukmu," kataku.
Bang Regas yang sebelumnya nampak ragu, kini seperti tidak lagi mempermasalahkan keberadaan kami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments