"Apa kalian ini benar-benar Kelompok Charlin?" tanyaku yang masih belum percaya.
Aku memang mengetahui hampir segudang prestasi besar yang telah mereka torehkan, tapi aku tidak pernah tau seperti apa rupa dan nama asli mereka karena wajah dan nama asli mereka tidak pernah dipublikasikan. Yang kami dan dunia kenal hanyalah nama kelompok dan julukan setiap dari mereka.
"Apa kalian tidak percaya?" tanya Om Ludensberg.
"Nggak gitu ... aku cuma tidak mengerti ... kenapa kelompok seterkenal dan sehebat kalian minta pengawalan kami," kataku.
"Sebenarnya kami tidak membutuhkan pengawalan sama sekali," kata Om Ludensberg.
"Kami ini kuat lo," imbuh Om Morphin.
"Kami meminta kalian mengawal kami hanya sebagai penunjuk jalan karena ini adalah pertama kalinya kami berkunjung ke Negara Tenes," lanjut Om Ludensberg.
"Oh, jadi gitu, ya," gumamku.
"Kalau cuma itu, kenapa harus kami? Maksudku kan banyak kelompok yang lebih baik dari kami. Lagi pula, ini juga pertama kalinya kami datang ke sini," tanya Drian.
"Itu karena kami mendapat rekomendasi langsung dari Pak Kepala Cabang," jawab Om John.
"Kepala Cabang ...? Maksudnya Pak Warto?" tanyaku.
Pak Warto adalah orang yang bertanggung jawab atas Guild Fairy cabang Borneo. Dengan kata lain, dia adalah kepala cabang Borneo.
"Iya, beliau bilang kalau kalian berhasil mendapat nilai sempurna saat tes masuk. Tes fisik kalian bahkan melampaui rekor yang pernah ada," jawab Om John.
"Dia juga bilang kalau kalian adalah kelompok terbaik dan kelompok paling efisien dalam menjalankan misi. Maka dari itu, kami memutuskan memilih kalian," imbuh Om Lucas.
"Terima kasih, Pak! Kau memang yang terbaik!" pikirku sambil membayangkan wajah Pak Warto.
Aku sangat senang karena Pak Warto merekomendasikan misi ini pada kami. Misi satu juta gale, itu bukanlah misi yang murah, setidaknya itu setara dengan misi rank S.
"Kalau dipikir-pikir lagi, masuk akal juga sih. Memangnya kelompok gila mana yang ingin menantang Lembah Yan kecuali Kelompok Charlin?" gumamku.
"Aku juga baru ingat. Semua anggota Kelompok Charlin itu kan berasal dari Sweden. Kenapa kita nggak sadar dari awal, ya," gumam Angel.
Kami pun terus berbincang-bincang dengan mereka di dekat api unggun sampai larut malam.
Kami menanyakan apa saja yang sudah mereka lalui, dan mereka pun menjelaskan dan menceritakan pengalaman mereka dalam menaklukkan wilayah-wilayah paling ekstrim di seluruh belahan dunia.
Puas berbincang, Om John, Om Lucas, Om Morphin, Om Ludensberg, Om Jerni, dan juga Angel, mereka kemudian tidur di dalam tenda masing-masing, sedangkan aku dan Drian yang akan berjaga malam ini.
"Gilak sih, Yan ... gua masih nggak percaya kita bisa ketemu mereka secara langsung," kataku yang sedang duduk di dekat api unggun bersama Drian.
"Gua juga ... awalnya gua kira mereka itu cuma sekelompok orang nekat yang mau coba-coba, tapi nggak taunya kalau mereka adalah kelompok Charlin," balas Drian.
Malam itu sangat dingin dan agak berkabut.
Di saat aku dan Drian asik berbincang saat berjaga di depan tenda, tiba-tiba ...
Cemplung ... cemplung ... cemplung ...
Kami mendengar suara gemericik air sungai yang berada tidak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Suaranya mirip seperti batu yang dilemparkan ke dalam air.
Aku dan Drian pun saling pandang untuk beberapa saat.
"Itu apaan, Yan?"
"Periksa sono."
"Nggak ... lu aja sono yang periksa."
"Lu aja lah ...."
"Lu aja ...."
"Lu ...."
Aku dan Drian pun terus berdebat untuk menentukan siapa yang harus memeriksa suara tersebut, tapi pada akhirnya kami memutuskan untuk memeriksanya bersama-sama.
Kami menyalakan lampu senter dan berjalan perlahan mendekati sungai.
"Lu napa dah ... nempel mulu kayak cicek," kata Drian.
"Gua trauma ama yang beginian, Yan," kataku yang terus menempel di balik punggung Drian.
"Cih ... penakut amat sih lu," gumam Drian.
Masih ingat soal kejadian yang kualami kemarin-kemarin? Karena kejadian itu, aku jadi benar-benar trauma dengan hal semacam ini.
Aku mungkin bisa berdiri tegak tanpa rasa takut di hadapan orang terkuat di dunia, tapi di hadapan yang beginian ... itu persoalan lain.
Cemplung ... cemplung ... cemplung ...
Suara yang sama masih terus terdengar.
"Buruan, Yan," kataku, masih sambil menempel dan bersembunyi di balik punggung Drian.
"Buruan, buruan ... lu aja sono," balas Drian.
Karena sama-sama takut, aku dan Drian pun berjalan menuju sungai dengan sangat pelan. Kaki kami bahkan terasa sangat berat untuk melangkah.
"Nggak ada apa-apa," kata Drian.
"Coba arahin ke sana," kataku sambil menunjuk ke suatu arah.
Benar saja, saat Drian mengarahkan lampu senter di tangannya ke arah yang kuminta ...
Tau apa yang terjadi?
Huanjir!
Ada sesosok perempuan berbaju putih dan berambut panjang yang terkena lampu sorot kami.
Perempuan itu sedang duduk di tepian seberang sungai sambil menundukkan kepala dan sesekali melemparkan bebatuan di dekatnya ke sungai.
Bulu kudukku pun seketika berdiri tegak saat melihat sosok itu. Kupikir Drian juga sama.
"Itu apaan, Yan?" Perasaanku mulai tidak enak saat melihat sosok itu.
"Ini di hutan kan, ya ...?" tanya Drian yang juga nampak gugup bercampur takut. Tangannya bahkan sampai gemetar hingga membuat sorot lampu senter yang dia pegang tak bisa berhenti bergerak.
Tau apa yang terjadi selanjutnya?
Perempuan itu tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menghadap kami.
Kami sebelumnya tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut, tapi kini kami bisa melihatnya dengan jelas.
Dia menatap kami sambil tersenyum lebar, saking lebarnya sampai membuat hampir semua giginya kelihatan.
Aku dan Drian pun langsung menelan ludah dan mematung untuk beberapa saat sewaktu melihat senyum menakutkan perempuan itu.
"Yan, cantik, ya?"
"Cantik palalu pitak! Itu setan goblok!"
"Hihihihihihi!" Perempuan itu tiba-tiba tertawa cekikikan, masih sambil tersenyum lebar.
"Hiaaaaaaaaaaa!"
Tanpa pikir panjang, aku dan Drian langsung berlari sekencang-kencangnya dengan dua tangan terangkat.
...
Apes bener dah! Baru malem pertama aja udah ketemu ama yang begituan. Gimana ntar malem-malem selanjutnya?
Sial ... sial ... kalau tau bakalan gini mah ... gua pasti nggak bakalan nerima misi ini.
...
Keesokan harinya.
"Pagi, Vin, Yan." Angel menyapa kami sambil menguap.
Aku dan Drian tidak merespon sama sekali. Kami hanya termenung dengan mata menghitam akibat kurang tidur bercampur stres.
"Kalian kenapa?" tanya Angel.
"Nggak ... nggak kenapa-napa," balasku, masih sambil termenung dengan mata menghitam akibat kurang tidur.
Angel terlihat keheranan sewaktu melihat tampang kami, tapi kami juga tidak berniat menceritakan apa yang sudah kami alami semalam padanya.
Pengalaman itu terlalu menakutkan untuk diceritakan, saking menakutkannya, kami bahkan terus terbayang sosok yang kami lihat semalam setiap kami memejamkan mata.
"Yan, apa kita batalin aja misi ini?" tanyaku.
"Satu juta bego ... satu juta ... kita musti bertahan," balas Drian.
...
Siangnya, Om John dan kelompoknya mengajak kami pergi ke sungai untuk menambang emas.
Mereka mengajari kami bagaimana cara menambang emas di sungai.
Caranya cukup mudah. Kami hanya tinggal mengeruk tanah di dasar sungai menggunakan alat bantu tambang sederhana berbentuk bulat pipih, lalu memutar-mutarnya di dalam air dan membuang lumpur, pasir, batu, hingga tanah yang ada sampai menemukan emas.
Itu terdengar sangat mudah. Pada kenyataannya itu benar-benar susah.
"Gimana? Dapet nggak?" tanya Om John.
"Dapet, Om ... dapet capek," balasku.
Om John tersenyum sambil berkata, "Kalian harus lebih sabar."
Sampai dua jam menambang, aku dan Drian belum juga menemukan sebiji pun emas. Padahal Om John dan kelompoknya sudah dapat banyak. Entah kami yang payah atau memang mereka yang hebat.
"Gua ngantuk banget gilak!" gumamku sambil terus memutar-mutar alat bantu tambangku.
"Gua juga," balas Drian yang berada tepat di sampingku.
Sejak semalam, kami belum tidur sama sekali. Kami tidak bisa tidur karena setiap memejamkan mata, sosok semalam terus terbayang-bayang di kepala.
"Vin, Yan, kalau capek istirahat aja dulu!" teriak Angel dari tepian sungai.
Angel tidak ikut menambang emas bersama kami di tengah sungai dan hanya duduk-duduk di tepian sungai.
Sungai ini tidak terlalu dalam. Maka dari itu, kami bisa menambang di tengah-tengah sungai.
"Istirahat bentaran yuk, Yan," kataku.
"Ayok," balas Drian.
Saat ingin mentas dari sungai, tiba-tiba aku menginjak sesuatu. Rasanya seperti bongkahan batu.
"Kenapa, Vin?" tanya Drian.
"Nggak tau, Yan," jawabku sambil merogoh ke bawah, berniat mengambil benda yang tidak sengaja kuinjak.
Ternyata, benda yang tidak sengaja kuinjak adalah bongkahan emas sebesar gabungan dua atau mungkin tiga kepalan tangan orang dewasa.
"Yan ... Yan ... ini ... ini gua nggak salah liat, kan? Ini beneran emas apa tai, Yan?" tanyaku sambil memegang bongkahan emas besar di tanganku.
"Itu emas bego!" balas Drian.
Aku kemudian memanggil Om John dan kelompoknya untuk memastikan apakah yang kutemukan benar-benar emas atau bukan.
"Wah ... kamu beruntung banget. Ini beneran emas," kata Om John.
Aku pun langsung full senyum mendengarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments