"Ini menyangkut nama baik Guil Fairy," jawab si pria ketiga.
"Menyangkut nama baik guild? Apa maksudnya?" tanya Drian.
"Kelompok Charlin adalah kelompok ekspedisi paling tersohor dan terkenal di seluruh dunia. Kalau sampai terjadi suatu hal buruk pada mereka, apalagi mereka sedang berada di bawah pengawalan Guild Fairy, nama Guild Fairy akan tercoreng. Maka dari itu, kami datang khusus ke sini untuk mengambil alih misi ini," kata si pria pertama.
"Jangan bercanda! Aku tidak perduli siapa kalian. Aku juga tidak perduli alasan kalian, tapi aku tidak akan pernah menyerahkan misi ini pada kalian!" teriakku.
Misi satu juta gale, tentu saja aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Apalagi misi ini juga sudah nyaris dipastikan selesai.
Si pria kedua tiba-tiba berjalan mendekatiku, lalu berkata, "Aku suka dengan keberanianmu, Bocah! Tapi apa kau tau siapa kami?"
"Tidak!" jawabku tanpa pikir panjang.
"Hahahahaha! Pantas kau berani berteriak seperti itu," kata si pria kedua sambil tertawa lantang.
Si pria kedua kemudian menambahkan, "Perkenalkan ... kami ini adalah eksekutif Guild Fairy."
"Eksekutif Guild Fairy?" Drian dan Angel nampak cukup terkejut mendengarnya.
Aku juga sebenarnya terkejut, tapi aku berusaha menutupinya. Malulah kalau aku juga ikut terkejut.
Eksekutif adalah jabatan untuk mereka yang berada di bawah perintah langsung Sang Guild Master. Jabatan itu biasanya dihuni oleh para komandan divisi skuad utama guild, atau orang-orang yang dipilih secara khusus.
"Kenapa tiba-tiba diam?" tanya si pria kedua, seperti ingin menggodaku, tapi aku tidak menanggapinya sama sekali.
"Kalian tidak perlu khawatir. Kami memang datang ke sini untuk mengambil alih misi ini, tapi kalian akan tetap mendapat bayaran yang sudah dijanjikan, setidaknya seperempatnya," kata si pria kedua.
Seperempat dari satu juta gale, itu jumlah yang cukup besar, tapi jika dibandingkan dengan satu juta gale, itu jumlah yang cukup kecil. Setidaknya itu yang kupikirkan.
"Kalian datang ke sini gara-gara meragukan kapasitas kami, kan? Gimana kalau kita buktikan siapa yang lebih kuat. Kalau kalian menang, kami akan dengan senang hati memberikan misi ini, tentu dengan catatan seperempat bayarannya tetap buat kami, tapi kalau kami yang menang, misi ini tetap milik kami sepenuhnya. Gimana?" Aku mencoba mencari jalan tengah.
"Apa kau serius ingin menantang kami?" tanya si pria kedua.
"Kenapa tidak?" balasku.
"Baiklah, dengan senang hati kami terima," balas si pria kedua dengan raut percaya diri.
"Woi, Vin, lu serius mau nantangin mereka?" tanya Drian.
"Masalahnya ini satu juta gale, Yan ... satu juta!" balasku.
"Serah lu aja dah!" gerutu Drian.
Sore itu, masih di bawah guyuran hujan lebat yang membasahi lembah, perwakilan kami akan melakoni duel satu lawan satu melawan perwakilan eksekutif Guild Fairy.
Dalam duel tersebut, aku memilih Drian untuk mewakili kami, sedangkan para eksekutif guild akan diwakili si pria kedua.
Drian ...? Ya, Drian.
"Kenapa jadi gua yang harus duel? Kan lu yang nantangin mereka!" gerutu Drian.
"Santai aja, Yan. Gua yakin lu pasti menang, kok," balasku.
"Hoi, Bocah! Kenapa bukan kau yang maju!" teriak si pria kedua.
"Maaf, tapi ... aku sedang kedinginan!" balasku.
"Alasan," gerutu si pria kedua, sementara kedua pria lainnya seakan-akan tak perduli.
Itu adalah duel satu lawan satu, di mana orang yang berhasil pertama kali mendaratkan serangan ke tubuh lawan akan dianggap sebagai pemenang.
"Apa kalian yakin soal ini? Yang menjadi lawannya adalah Regas, salah satu komandan divisi terkuat di Guild Fairy," kata Om John meragukan.
Bukan hanya Om John, tapi Om Jerni, Om Lucas, Om Morphin, hingga Om Ludensberg juga kelihatan ragu kami akan menang. Ya, itu bisa dimaklumi, mengingat mereka juga belum tau sekuat apa kami ini.
"Tenang saja, Om. Drian pasti menang, kok," balasku.
Aku tidak tau sehebat apa orang yang bernama Regas itu, tapi aku tetap yakin Drianlah yang akan keluar sebagai pemenang.
"Apa kalian siap?" tanya pria pertama yang menjadi wasit dalam duel tersebut.
Drian dan si pria kedua yang ternyata bernama Regas pun menganggukkan kepala.
"Kalau begitu ... mulai!" kata si pria pertama sambil mengayunkan tangannya ke bawah.
Tepat setelah duel dimulai, hanya dalam sekejap mata, Drian sudah berpindah tepat ke hadapan pria bernama Regas dan berhasil mendaratkan satu pukulan pelan ke dada pria tersebut.
Ketiga eksekutif Guild Fairy itupun langsung melebarkan mata. Aku yakin mereka pasti tidak menyangka kalau Drian akan mampu bergerak secepat itu.
"Kan, kubilang juga apa ... Drian pasti menang," kataku.
Om John, Om Lucas, Om Ludensberg, Om Morphin, hingga Om Jerni pun hanya menatap Drian dengan raut tak percaya. Sepertinya kejadian itu sulit untuk mereka percayai.
Alasan kenapa aku memilih Drian mewakili kami dalam duel tersebut karena Drian adalah petarung tercepat yang pernah kuketahui.
Aku tidak tau apakah di luar sana ada yang lebih cepat darinya, tapi sampai sejauh ini, aku belum menemukan satu pun.
Dengan penuh percaya diri, aku mulai berjalan ke depan, menghampiri ketiga eksekutif Guild Fairy.
"Kami yang menang. Itu artinya misi ini tetap jadi milik kami, kan?" tanyaku.
Bukannya mengatakan iya dan menerima kekalahan, mereka malah menatap kami dengan raut curiga.
"Siapa kalian sebenarnya? Apa kalian ini mata-mata guild lain?" tanya si pria ketiga sambil menodongkan kedua pedangnya padaku dan Drian.
"Woooo ... kalem, Bang, kalem!" kataku sambil mengangkat kedua tangan.
Awalnya, kupikir mereka akan takjub dan memuji-muji kami karena orang tak dikenal seperti kami bisa mengalahkan salah satu dari mereka dalam duel tersebut.
Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Bukannya takjub dan memuji-muji kami, mereka malah mencurigai kami sebagai mata-mata.
"Apa alasan kalian menyamar sebagai prajurit bayaran guild kami?" imbuh si pria ketiga, masih sambil menodongkan pedangnya ke arahku dan Drian.
"Kami bukan mata-mata seperti yang kalian pikir. Kami ini hanya anak desa yang ingin mencari penghasilan," jawab Drian sambil mengangkat kedua tangannya.
"Apa kalian pikir kami akan percaya? Mana mungkin anak desa punya kemampuan seperti itu," kata si pria pertama.
"Tuan Khamim, tolong turunkan pedang Anda. Saya tidak tau apakah mereka adalah mata-mata seperti yang kalian kira, tapi saya pikir mereka adalah anak-anak yang baik," kata Om John.
"Tu, denger, tu ... kami ini anak baik dan polos yang belum ternoda. Mana mungkin kami jadi mata-mata," kataku.
Pria ketiga yang ternyata bernama Khamim itupun terdiam sejenak, kemudian menyarungkan pedangnya kembali.
Sebenarnya dia menaruh kembali pedangnya ke punggungnya. Menyarungkan hanya istilah yang kugunakan.
"Aku akan tetap mengawasi kalian," kata si pria bernama Khamim.
Aku dan Drian pun akhirnya bisa bernafas lega karena kesalah pahaman dan kecurigaan mereka sudah sedikit berkurang, meski hanya sedikit.
...
Singkat cerita, berhubung hari sudah semakin gelap, ditambah cuaca juga masih hujan lebat, kami pun memutuskan berkumpul di dalam tenda.
"Jadi, kalian sudah berlatih selama delapan tahun penuh, ya?" tanya Bang Regas.
Aku sudah tau nama masing-masing dari mereka setelah berbincang cukup lama di dalam tenda. Maka dari itu, mulai sekarang aku akan menyebut mereka dengan panggilan Bang Joshua, Bang Regas, dan Bang Khamim, mengingat mereka lebih tua dari kami, dan juga mereka secara teknis adalah atasan sekaligus senior kami di guild.
"Ya, kurang lebih. Makanya kami bisa jadi sekuat ini," balasku sambil memegang segelas coklat panas dan menggunakan selimut tebal untuk menghangatkan diri.
"Maafkan kami, Tuan Khamim. Alasan kami tidak mengajukan permintaan langsung pada Guild Master karena kami tidak mau terlibat soal politik," kata Om John.
"Ya, kami mengerti soal itu, tapi bagaimanapun juga, kami tidak bisa mengabaikan soal ini begitu saja," balas Bang Khamim sambil meminum segelas coklat panasnya.
"Kami mengerti kalian mengkhawatirkan reputasi guild kalau sampai terjadi sesuatu pada Kelompok Charlin, tapi kenapa harus eksekutif seperti kalian yang datang langsung ke sini?" tanya Drian, juga sambil memegang segelas coklat panas dan menggunakan selimut tebal untuk menghangatkan diri.
"Lembah ini jauh lebih berbahaya dari apa yang kalian pikir. Itulah kenapa kami sampai diterjunkan langsung dalam misi ini," jawab Bang Regas.
"Apa maksudnya soal Si Putih?" tanya Drian.
"Si Putih ...? Dia bahkan bukan ancaman sama sekali. Yang menjadi ancaman sebenarnya di hutan ini adalah ..."
Belum selesai Bang Regas menjelaskan, tiba-tiba kami merasakan pancaran energi yang terasa sangat menekan dan mengintimidasi.
Semua orang pun sontak berdiri dan memasang kewaspadaan tinggi, kecuali aku.
Bersantai di dalam selimut tebal sambil menyeruput segelas coklat panas menurutku jauh lebih penting daripada memperdulikan hal semacam itu.
"Ma-nu-sia ... su-dah la-ma aku ti-dak me-li-hat ma-nu-sia."
Dari balik pepohonan rindang dan tanah yang sedang basah akibat guyuran hujan, tiba-tiba muncul tiga mahluk menyerupai manusia. Mahluk itu bisa berbicara bahasa manusia, namun kurang jelas.
Mahluk itu memiliki kulit berwarna merah menyala dan di beberapa bagian seperti terbakar. Mata mereka berwarna kuning terang. Mereka punya dua tanduk melingkar disertai kobaran api menyala. Selain itu, mereka juga punya ekor kecil nan panjang berujung runcing seperti ujung anak panah.
Barulah setelah melihat kedatangan ketiga mahluk tersebut, aku akhirnya ikut berdiri dan memasang kewaspadaan tinggi.
"Apa-apaan mahluk itu?" gumamku.
Bukannya apa-apa, aku ikut memasang kewaspadaan tinggi karena merasa kurang nyaman saat melihat kedatangan ketiga mahluk tersebut.
Tampang mereka memang menakutkan, tapi jika dibandingkan dengan hantu, menurutku tampang mereka lebih cenderung kelihatan aneh.
"Mereka adalah ancaman sesungguhnya yang mengintai lembah ini. Sersius, Galiel, dan Pieron. Mereka bertiga adalah bawahan langsung Sang Iblis Dosa Kemalasan, Balpeghor," jelas Bang Regas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments