Luna dan Brandon muncul di tengah hutan pinus. Keduanya mengedarkan pandangan, berharap kawanan werewolf
itu tidak mengejar. Brandon kembali menarik lengan Luna dan mengajak wanita itu lari menjauh dari sana.
Hutan dengan barisan pinus yang berjejer rapat membuat sinar matahari tidak cukup menembus celah dari atas
sana. Hal ini mengakibatkan banyak sekali lumut dan paku yang tumbuh di permukaan tanah dan membuat jalur yang mereka lewati sangat licin. Luna hampir terpeleset, tetapi dengan bantuan pria Black Witcher itu, dia bisa bangkit dan kembali berlari.
“Ke arah mana kita?” tanya Brandon usai mereka berhenti setelah dirasa cukup jauh dari titik kemunculan keduanya tadi.
Luna bergegas mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Sebuah kepingan emas dengan salah satu sisinya membentuk ukiran sesuatu. Brandon mengernyit. Dia hampir menyentuh benda tersebut sebelum Luna menepis tangannya.
“Potongan artefak yang kumaksud,” ucap wanita itu. “Tidak bisa sembarangan dipegang oleh orang lain.”
Brandon mencibir menimpali. Dia melipat kedua lengan di depan dada ketika melihat Luna tengah menggerakkan telapak tangannya di atas benda itu. Sebuah sinar perlahan muncul. Luna menggerakkannya ke berbagai arah, mencari jalur di mana sinar benda itu makin terang.
“Ke utara,” ucap wanita Wizard tersebut.
Brandon tak punya pilihan lain selain mengikuti Luna. Hanya wanita itu satu-satunya harapannya saat ini karena
dia tidak mungkin kembali dan berhadapan dengan koloni hewan berbulu tadi. Sinar dari potongan artefak itu makin terang saat keduanya berjalan menuju ke arah yang dituju. Luna meletakkan benda itu ke saku jaketnya.
“Kita harus mencari tempat berteduh sebelum gelap,” ucap wanita itu.
“Apa ada apartemen di sini?”
PTAK!!!
Brandon meringis, menahan sakit pada puncak kepalanya usai wanita di dekatnya itu mendaratkan pukulan telak di sana. Dia mengaduh kesakitan.
“Apa semua manusia itu bodoh sepertimu?” tanya Luna.
Pria itu berdecak. “Sebenarnya, akulah yang paling pintar di antara mereka.” Dia menimpali lantas mendahului langkah Luna yang mencibir merespons.
“Boleh kutahu, seberapa besar rasa cintamu pada istrimu itu?” tanya Luna. “Yang aku tahu, ada banyak pria yang akan meninggalkan wanitanya ketika tahu wanita itu telah memilih yang lain.”
Brandon terdiam, menatap jalur di depannya dengan isi kepala yang mulai membumbung tinggi. “Kau mungkin akan tahu jawabannya setelah mencintai satu pria di hidupmu,” jawabnya.
Luna ber-wow lirih. “Aku tidak pernah mencintai siapa pun selain diriku sendiri,” ucapnya.
“Lalu apa alasanmu ingin keturunan dariku, huh?” sela Brandon cepat.
Wanita itu tertawa kecil. “Apa aku harus menjawabnya?” balasnya balik bertanya.
Brandon hanya menghela napas. Wanita punya pikiran yang amat rumit, sama seperti Clara. Dia bahkan tidak
pernah menyangka kalau akhirnya perempuan yang dicintainya itu kini telah memilih bersama pria lain setelah tahu soal kebusukan di dirinya. Padahal, Brandon hanya perlu meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya.
“Kau berbuat salah pada istrimu, ya?” tanya Luna lagi, memecah keheningan.
Langkah pria berambut cokelat itu terhenti. Dia mengangguk dengan sorot mata sendu. Luna hanya menggeleng
menimpali. Alasan yang konyol menurutnya. Wanita itu terus melanjutkan langkah.
“Kalau istrimu tidak memaafkanmu, berarti dia bukan orang cocok untuk aaa—”
Tiba-tiba saja kaki Luna terperosok. Wanita itu berteriak hingga gema mengejutkan Brandon sekejap. Pria itu
melompat, menyusul jalur yang membuat Luna terperosok. Dia mengulurkan tangan, menggapai satu tangan Luna sampai pada akhirnya dirinya berhasil memeluk wanita itu hingga keduanya berguling bersama.
BRUK!
Luna membuka matanya dengan pelan. Dia terbatuk dan berusaha menyingkirkan lumut dan paku yang ikut terbawa olehnya saat terperosok tadi. Namun, gerakannya terhenti ketika dirinya menyadari kalau tubuhnya sekarang berada di atas dada bidang Brandon Hover. Pria itu membuka netra merahnya yang langsung bersitatap dengan manik hijau milik Luna.
Keduanya terkunci dalam hening.
“Kenapa?” tanya Brandon.
Pria itu berusaha bangkit dengan menyingkirkan tubuh Luna dari atasnya. Namun, wanita itu seolah enggan minggir. Dia justru makin mengeratkan pelukannya di tubuh Black Witcher tersebut dan mendekatkan wajahnya hingga embusan napas yang menguar di udara bisa dirasakan hangat menerpa pori-pori kulitnya. Brandon meneguk saliva, merasa detak jantungnya seolah berhenti sekejap.
Dengan pelan, Luna bergerak makin mendekat, mendaratkan kuncup ranumnya pada bibir pria tersebut. Kedua
tangannya beralih menangkup rahang tegas Brandon, mencampakkannya bagai parasit hingga keduanya mengulum habis bersamaan.
Hawa dingin makin menusuk, merasuk melalui celah-celah pohon pinus di sekitar sana. Namun, tidak seperti
atmosfer saat ini yang membeku perlahan. Aktivitas dua insan itu terus berlanjut. Rasa-rasanya, Brandon tidak pernah mendapatkan perlakuan selembut ini meski dia sudah pernah merasakannya pada banyak wanita. Luna Castelle terlihat berbeda. Dia cantik dan polos, hampir mirip dengan Clara saat mereka bertemu pertama kalinya.
Ah, sial.
Brandon kembali teringat dengan istrinya.
***
Gelap telah menghampiri. Dua insan itu masih berada di bawah jurang landai sejak tadi. Brandon mendongak,
mengecek kalau-kalau koloni Owen sudah menyusul mereka sampai kemari. Nyatanya hanya sepi dan tidak ada kemeresak apa pun di atas sana.
“Sekarang apa?” tanyanya.
Wanita yang sejak tadi duduk di samping Brandon itu lantas mengeluarkan potongan artefak dari kantung jaketnya. Dia bersinar menyilaukan, cukup untuk menerangi keduanya meski sebenarnya takut saja kalau cahaya itu akan menuntun Jasper dan kawanannya kemari.
“Masih jauh dari sini,” ucap Luna. “Kalau kita lanjutkan, mungkin besok pagi kita akan sampai.”
Brandon mendengkus kasar. “Bagaimana kakimu?” tanyanya lagi.
Luna mengecek kakinya yang terperosok tadi. Dia terdiam. Setelah sentuhan hangat yang diberikan Brandon
padanya tadi membuat rasa sakit itu perlahan menghilang. Cukup membuatnya penasaran, apakah pria itu melakukannya karena tahu dia terluka? Tapi, ini cara yang cukup mengejutkan untuk menyembuhkan sebuah luka, ‘kan?
“Aku pikir, aku bisa berjalan setelah ini,” ucap wanita berambut blonde itu. Rambutnya sudah acak-acakan sekarang.
“Kita tidak bisa asal jalan saja,” sahut Brandon.
Pria itu bangkit dan menelisik sekitar. Aroma lembab terhidu tajam dan mereka tidak bisa terus-menerus berada
di sini kalau tak ingin mati karena sesak dari jejak fotosintesis tumbuhan di sana. Mata merahnya mengedarkan pandangan. Setidaknya, sebagai seorang Black Witcher, Eden sudah mengajarkan beberapa hal penting untuknya bertahan hidup di luar rumah.
Brandon menunjuk ke satu arah. “Ada sebuah gua,” katanya.
“Itu mungkin sarang harimau,” sahut Luna seraya berdiri dan menyampirkan tasnya di pundak. “Kau mau mengusir
mereka dari rumahnya?”
Pria berambut cokelat itu berdecak. “Setidaknya, berilah aku solusi.”
Namun, belum juga mereka berpindah dari sana, sebuah suara mengejutkan keduanya. Brandon dan Luna menoleh ke atas jurang, mendapati suara lolongan panjang yang tentu saja khas di telinga mereka.
“Lari!”
Brandon menarik lengan Luna dan serta-merta mengajak wanita itu kabur dari sana secepat yang dia bisa.
Lolongan dan aungan panjang nan keras itu makin jelas terdengar. Suara-suara yang bisa memecah keheningan hutan hanya dalam satu tarikan napas.
Jasper dan kawanannya hampir sampai di titik dua pemburu jantung pure elf tersebut.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments