“Clara, kenapa?” Brandon melangkah maju, tetapi wanita di depannya justru mundur perlahan.
“Aku sudah terikat sumpahku di sini,” jawab Clara. “Hubungan kita juga sudah berakhir sejak pertengkaran itu.”
“Tidak, Clara. Tidak. Kita akan memulai lagi dari awal.”
Clara paham bagaimana diri Brandon. Pria itu masih mencintainya. Semuanya terlihat dari sorot matanya yang
penuh ketulusan. Namun, bagaimanapun, Clara sudah menikahi Jasper dan akan mencintai pria itu sampai kapan pun.
Wanita itu menggeleng. Dia tertunduk. “Aku tidak bisa, Bran,” lirihnya.
Brandon menghela napas. Dia berjalan menghampiri wanita yang masih menjadi istrinya itu, lalu menangkup kedua pipinya seketika. Clara terdiam, terlebih ketika pria itu mengecup bibirnya. Membiarkan bibir mereka bertemu untuk pertama kalinya.
“Kembalilah,” ucap Clara setelah dia melepaskan ciumannya.
Brandon menggeleng pelan. “Aku akan tetap di sini menunggumu berubah pikiran,” balasnya.
“Tidak, Bran. Aku sudah milik orang lain. Relakan aku.”
“Fisikmu, jiwamu, masih milikku, Clara.”
Lagi-lagi Clara mendapati ketulusan di mata merah milik Brandon. Pria itu benar-benar membuat batinnya menggila hanya karena menatap matanya. Perempuan itu menggeleng. Dia tetep yakin pada pendiriannya.
“Jiwaku katamu? Lalu, bagaimana dengan sahabatku yang sudah kamu hamili, Bran?” bentaknya. “Apa kamu tidak ingat soal hal itu, huh?”
Brandon meneguk saliva. Ucapan Clara memang benar soal kehamilan itu dan itu benar-benar tidak disengaja olehnya. “Aku—”
“Apa kamu akan bilang kalau itu tidak disengaja?” sela perempuan itu. “Apa aku harus mengingatkanmu soal
perselingkuhan dengannya juga?”
Brandon terdiam. Rahangnya menegang seketika. Dia menghela napas, lalu mengangguk. “Baiklah kalau itu maumu,” ucapnya. “Aku akan tetap di sini.”
“Terserah apa katamu, Bran. Biarkan fisikku membusuk dan relakan aku pergi.”
Entah setan apa yang sudah merasuki Clara sekarang. Separuh dirinya sudah membenci pria di hadapannya
tersebut. Namun, pria berambut blonde itu benar-benar serius dengan ucapannya. Dia merengkuh tubuh Clara dan membawanya menghilang dari sana. Mereka muncul di salah satu sisi kolam renang di vila milik Jasper. Clara tertegun. Dia kembali menatap Brandon dengan pandangan seribu arti.
Brandon mengangguk. Dia mengibaskan jubahnya ke depan sejenak, sebelum dirinya melebur bersama embusan
angin. Clara menghela napas. Dia pikir, Brandon akan kembali menculiknya seperti yang lalu.
“Sayang?”
Clara tersentak, lalu berbalik. Jasper telah berdiri di pintu villa.
“Kamu dari mana?” tanya pria itu.
Clara menghela napas. Dia berjalan menghampiri pria tersebut. “Aku tidak bisa tidur,” jawabnya. “Jadi, aku keluar sebentar untuk mencari udara segar.”
Jasper terdiam sejenak, lalu mengangguk. Dipeluknya istrinya itu. Mata birunya memicing. Energi asing menempel di diri Clara sekarang dan dia tahu benar itu milik siapa.
Black Witcher.
Clara mungkin berusaha menipunya kali ini. Namun, dengan siapa wanita itu bertemu malam-malam begini? Jasper bahkan sudah memasang barier agar tidak ada yang bisa masuk ke wilayahnya, tetapi entah kenapa bisa menembus kali ini. Energinya sangat kuat dan dia belum pernah mendapati energi Witcher selevel ini sebelumnya.
“Ayo, masuk,” ajaknya kemudian. “Aku tidak ingin calon ibu dari anak-anakku sakit nanti.”
***
Brandon melihat dengan jelas bagaimana perlakuan Jasper pada Clara. Sangat halus, lembut, dan penuh nafsu.
Sorot mata biru pria itu tidak bisa menipunya sekarang. Menjadi Black Witcher memberikan Brandon banyak sekali bakat, salah satunya bisa membaca pikiran orang lain hanya melalui tatapan matanya.
Pria itu mendengkus pelan. Semilir angin laut mengempaskan helaian rambut blondenya yang sedikit tertutup
tudung. Mata merahnya tampak berkilat. Beberpa menit menunggu hingga Clara masuk villa, Brandon akhirnya menghilang dari sana.
Dia muncul tepat di depan Annelise yang masih setia menunggunya di tepi pantai. Pasir di sana sangat halus dan bisa menenangkan segala emosi. Anne sangat menyukai tempat ini karena selain karena pasirnya, dia juga bisa melihat keindahan yang tidak pernah didapatkannya saat hidup di hutan dan perkotaan.
“Bagaimana?” selisiknya dengan kedua tangan berlipat di depan dada. Brandon menggeleng menimpali. Dia
mendengkus, lantas menangkup pipi pria malang itu. “Aku sudah bilang, cinta itu buta dan hanya nafsu yang bisa membutakan cinta.”
Brandon sedikit tertunduk. Dia melepaskan tangan Anne dari wajahnya dan berjalan ke arah lain. “Aku akan tetap
menunggunya, Anne,” ucapnya.
Anne terdiam, lalu mengendikkan bahu. “Hanya menunggu saja?” tanyanya.
“Tidak.”
Debur ombak seolah meleburkan jawaban pria tersebut. Matanya yang menatap cakrawala di ujung sana seolah
menyiratkan keseriusan. Anne menatap pria tersebut lamat-lamat.
“Aku akan menjadi lebih kuat, untuk membawa istriku kembali.”
***
Sulit memang untuk melupakan cinta pertama. Meskipun banyak sekali rintangan, tetap saja cinta pertama harus
diperjuangkan. Begitulah yang dirasakan Brandon saat ini. Bukan perkara bagaimana dirinya menjadi kuat untuk menyaingi Jasper. Namun, bagaimana dia bisa menjadi kuat untuk merebut istrinya kembali.
Dia tahu cara halus tidak akan bekerja. Jadi, Brandon harus menggunakan cara lain yang lebih licik tentunya.
Beruntung, Eden dan Anne mau membantunya karena mereka memiliki misi yang sama. Menghancurkan klan Owen.
Seekor serigala melompat dan langsung terjerembab seketika ketika sesuatu memelesat dan membelah kepalanya.
Darah mengucur deras dan membanjiri sekitar hingga menggenang di dekat tungkai seorang pria.
Itu hanya serigala biasa dan ukurannya cukup kecil sebagai korban buruan kali ini. Brandon menghela napas. Dia mengibaskan tangannya yang memercikkan api biru hingga api itu menghilang. Decakan kasar lolos dari mulutnya.
“Bran.” Seseorang memanggil pria itu hingga dia menoleh.
“Ada apa?” tanyanya.
Brandon mendapati Anne berdiri tidak jauh di belakangnya. Dia menghampiri wanita itu, lantas mengecup bibirnya
yang merona merah. Kontras sekali dengan kulitnya yang seputih porselen. Namun, bagi Brandon, Anne hanyalah sekadar teman baik dan pemuas nafsunya. Sama seperti kebanyakan wanita di luar sana yang menjadi selingkuhannya saat dia masih di dunia manusia. Meski begitu, Anne tidak sakit hati sama sekali. Perempuan itu justru menikmati posisinya sekarang.
“Ada yang ingin bertemu denganmu,” ucap Anne.
Pria itu mengerutkan kening. “Hm? Siapa?” selisiknya.
“Seorang pesuruh,” jawab Anne. “Atasannya akan membantu bisnis kita besok.”
Ah, ya, Brandon ingat sekali. Tidak berapa lama setelah Clara menolak ajakannya untuk kembali, dia memutuskan
untuk menetap di sana dan memulai hidup baru. Brandon mendirikan sebuah bisnis cabang dari perusahaan milik Eden dan kini sudah cukup berkembang. Bukan hanya untuk menopang hidupnya selama di sana, tetapi juga dimanfaatkan Brandon untuk memperluas jaringan dan juga kekuasaannya sekarang.
Siapa pun yang mengenal pria itu akan tahu jika Brandon Hover telah berubah menjadi sosok yang ambisius detik ini.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments