3. Teror

Clara membuka mata perlahan. Suara berisik dari luar rumah terdengar ramai. Dia bangun dan mendapati Jasper

masih terlelap di sisinya. Pria itu seperti tidak mendengar bising di luar sana.

Perempuan itu berdiri dan menghampiri jendela. Dia menyibakkan tirai dan menengok ke luar rumah. Gelap dan hanya remang cahaya lampu jalan. Tidak ada siapa pun di sana.

Clara mengerutkan kening. Dia terdiam seraya berpikir. Sebuah suara tiba-tiba saja mengurai fokus. Clara berjalan ke luar kamar, tidak lupa menutup pintu kamar pelan-pelan agar Jasper tidak terbangun. Dia melangkah menuruni anak tangga dan mendapati bayangan seseorang dari arah dapur.

“Siapa itu?” desisnya.

Perempuan itu terus berjalan pelan. Hampir tidak membuat suara sedikit pun pada langkahnya. Sampai akhirnya, dia berhenti ketika mendapati dapur yang kosong. Lagi-lagi tidak ada siapa pun.

Clara lantas memegangi perut. Rasa nyeri kembali menyerang bagian bawahnya dan Clara tahu harus segera kembali ke kamar untuk merebahkan diri. Namun, sesuatu membuat perempuan itu terhuyung. Kakinya terpeleset air di lantai dan membuat tubuh Clara jatuh seketika.

“Argh … sakit,” desisnya sambil memegangi perutnya yang makin terasa berdenyut. “Jasper!!!”

***

Mata biru itu terbuka sekejap. Pria itu terbangun seraya menyibakkan rambut blonde yang menutupi wajahnya. Dia

menatap seorang wanita yang tengah tertidur dengan peralatan medis menjerat tubuhnya. Sebuah perban terlihat melilit bagian atas kepalanya. Pria itu mendesah, sampai akhirnya tangan seseorang mengurai kesadarannya.

“Clara akan baik-baik saja,” ucap seorang wanita paruh baya.

Pria itu mengangguk. Dia kembali menatap perempuan di ranjang di depannya.

“Kamu sudah makan, Brandon?” tanya wanita tadi.

Brandon Hover, pria berambut blonde tersebut menggeleng. “Aku tidak lapar, Bu,” ucapnya. “Aku hanya ingin menjaga Clara di sini saja.”

Wanita itu menghela napas. “Biar Ibu yang menjaganya. Clara juga menantu Ibu.”

Brandon menunduk. Dia kembali menatap wajah istrinya yang masih terpejam itu. Tangan wanita tadi kembali

mengusap tengkuk, mengalirkan energi positif padanya. Brandon berdiri dari kursi, tidak lupa menyambar ponsel di nakas.

“Aku ke kantin dulu, Bu,” lirihnya.

Sang ibu mengangguk, lantas melihat langkah gontai putranya keluar dari kamar rawat. Dia kembali menatap perempuan yang terlelap di ranjang. Helaan napas lolos dari hidungnya.

Sudah lima bulan ini, Clara dinyatakan koma setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Menurut

penuturan Brandon, dia dan istrinya itu sempat berkelahi sebelum akhirnya Clara meninggalkan rumah dengan membawa mobil. Beberapa menit kemudian, polisi tiba-tiba saja menghubungi nomor telepon rumah dan mengabarkan kejadian menyakitkan itu.

Sampai sekarang, Brandon diliputi rasa bersalah. Dia selalu menunggu Clara dan berharap jika istrinya itu cepat terbangun. Sang ibu tahu jika putranya sangat mencintai Clara meski dia tahu bagaimana masa lalu perempuan itu terlihat amat kotor menurut orang-orang di sekitarnya.

Brandon tampak memainkan sendok di mangkuk buburnya. Dia benar-benar tidak nafsu makan sekarang dan hanya memikirkan tentang Clara. Ingatannya tentang pertengkaran terakhirnya dengan sang istri menguar. Dia mendesah, memejamkan mata sejenak. Namun, saat matanya terbuka, Brandon tersentak ketika seorang ber-hoodie berdiri di dekat mejanya.

“Maaf, apa aku boleh makan di sini?” Suara seorang perempuan dengan nampan di tangannya.

Brandon mengangguk, mempersilakan perempuan itu duduk di seberangnya. Dia kembali melamun, sementara mata merah di balik hoodie itu memandangnya.

“Sesuatu yang sudah pergi mungkin tidak akan bisa kembali lagi.” Tiba-tiba perempuan itu berucap dan menarik atensi pria di depannya. “Apa kamu sedang memikirkan sesuatu yang telah pergi dari hidupmu?”

Brandon terdiam. Dia menatap mata merah yang sedikit tertutup oleh hoodie itu. “Apa maksudmu?” tanyanya.

Perempuan itu menyeringai. Dia menyibakkan sedikit tudung jaketnya, menampakkan mata merah dan rambut putihnya yang amat kontras. Wajahnya sangat cantik, bahkan lebih cantik daripada Clara. “Mata tidak pernah bisa berbohong, Tuan,” ucapnya.

Sorot mata Brandon amat sendu. Pria itu kembali tertunduk dan enggan memakan buburnya. Dia terdiam, mengunci atmosfer pada areanya sendiri.

Satu tangan perempuan itu menyentuh tangan Brandon. “Jangan terlalu dipendam,” ucapnya. “Kamu bisa bercerita padaku.”

“Bagaimana aku bisa memercayaimu?”

Perempuan itu tersenyum. “Annelise. Itu namaku,” ucapnya. “Aku kemari karena ada temanku yang sedang dirawat di rumah sakit ini. Karena aku lapar, jadi aku ke sini.”

Brandon mengangguk. Dia kembali mengutak-atik sendok di buburnya.

“Dan kamu?” Anne bertanya, membuat pria di depannya kembali mendongak.

“Brandon Hover,” jawab pria tersebut. “Istriku sedang dirawat di sini karena kecelakaan.”

Anne mengangguk. “Kecelakaan, ya?” gumamnya. “Sudah berapa lama?”

“Sekitar lima bulan,” jawab Brandon. Sebenarnya, dia enggan berkenalan dengan orang asing, apalagi itu wanita. Pria itu sepertinya benar-benar menjaga jarak kepada orang lain kecuali untuk istrinya sendiri.

“Apakah istrimu koma? Kenapa lama sekali!”

Brandon mengangguk, mengukir senyum tipis. Keduanya dikuasai hening selama beberapa saat. Anne kembali

melahap makan siangnya, sementara matanya memandangi Brandon. Pria itu mulai mengisi perut dengan satu atau dua suapan. Anne tersenyum, lalu minum sejenak.

“Aku pernah mendengar kisah tentang jiwa dari manusia yang sedang koma itu berkelana ke dunia lain,” ucap Anne, menarik perhatian Brandon. “Apa kamu tidak berpikir jika jiwa istrimu tengah berjalan-jalan di suatu tempat?”

Brandon menghentikan makannya. Dia menatap Anne. “Apa maksudmu?”

Anne membenahi posisinya. Kedua tangannya saling berlipat di atas meja. “Mungkin saja istrimu tidak benar-benar koma,” ucapnya. “Dia hanya meninggalkan tubuh fisiknya dan pergi ke dimensi lain dunia ini.”

Helaan napas lolos dari hidung dan mulut Brandon. Pria itu bersandar dengan kedua lengan berlipat di depan dada. “Aku juga pernah mendengarnya,” katanya. “Tapi aku tidak memercayainya.”

Perempuan berambut putih itu memutar bola mata. “Cukup aneh memang. Tapi, bagaimana jika kamu sendiri yang

membuktikan hal itu?” selisiknya dengan sebelah alisnya yang mengendik.

Tatapan Brandon amat lurus terarah pada Anne. Dia berusaha menebak isi pikiran wanita itu, tetapi nyatanya itu sulit dilakukan. Dia menghela napas. “Beritahu aku jika kamu tahu caranya,” ucapnya kemudian.

Seringai terukir sempurna di sudut bibir Anne, menampakkan taringnya yang tajam dan indah. Perempuan itu mengedipkan mata dan mengangguk. Dia mengulurkan tangan hingga Brandon meletakkan tangannya di atas tangan perempuan tersebut. Anne membuat kode transparan yang membuat mata biru Brandon terbelalak. Pria itu hampir beranjak dari kursi, tetapi urung saat Anne memberinya kode agar tetap duduk.

“Mari kita bertukar nomor. Malam ini, temui aku di lokasi yang kubagikan ke nomormu.”

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!