Anne menengadah, merasakan sesuatu di ceruk lehernya. Pria berambut blonde itu sukses membawanya dalam perasaan aneh bercampur bahagia sekaligus. Kedua tangan Anne meraup leher Brandon dan membuat pria itu menatap wajahnya. Dia tersenyum.
“Apa kamu merindukan hal seperti ini?” tanyanya.
Brandon meneguk liur, merasakan sensasi pada bagian bawahnya yang tiba-tiba menegang. Dia menarik napas sejenak. Satu tangannya menyentuh lembut pipi Anne, lalu menyentuh ranum yang semerah buah apel matang itu.
Anne tersenyum lebar. Membayangkan wajah Brandon yang sudah seperti anak anjing yang berdiri di atasnya itu membuat dirinya tidak ingin mengakhiri malam ini dengan cepat. “Makanlah dengan lahap,” bisiknya di telinga pria tersebut.
Pria itu menurunkan kepalanya, lantas melahap milik Anne yang bersemu merah. Sangat imut dan menggemaskan. Tidak hanya berhenti di situ. Brandon kembali meraup leher Anne, membuat perempuan itu mengeluarkan nada-nada pada setiap detik pergerakannya.
“Bran ….” Lonjakan itu membuat hasrat Anne melayang. “Jangan berhenti di situ ….”
Bagi Brandon yang sudah mahir dalam permainan ini, permintaan Anne bukanlah isyarat baru untuknya. Ingatannya
menguar tentang sosok Clara saat pertemuan pertama mereka.
Namun, saat ini dia bersama dengan Annelise. Perempuan yang baru dijumpainya tadi pagi. Brandon tahu yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Akan tetapi, siapa yang mau marah padanya sekarang? Istrinya saja sudah tidak ingat padanya lagi, ‘kan?
Anne berjengit, merasakan sesuatu yang besar menusuk dirinya. Hal itu berangsur dengan pergerakan tubuh Brandon yang pelan seolah takut jika dia kesakitan. Anne mengusap wajah pria tersebut sejenak.
“Aku tidak apa-apa,” ucapnya. “Lanjutkan sesukamu.”
Anne makin mengeratkan kedua lengannya di leher Brandon.
“Keluarkan di dalam,” pinta Anne yang sendirinya menahan gejolak.
Ucapan Anne membuat Brandon menghentikan gerakannya. Dua pasang mata merah itu saling bersitatap selama
beberapa detik. Napas pria berambut blonde itu tersengal, tetapi dia harus segera mengakhiri aktivitas ini secepatnya.
Anne memejamkan mata dan mengerutkan kening. Perasaannya berkecamuk. Terlebih ketika merasa gerakan Brandon makin cepat seolah membawa dirinya makin tenggelam. Dia merengkuh pria itu makin erat hingga pada akhirnya gejolak yang ditahannya lepas begitu saja.
***
“Aku pernah mendengar, jika seseorang telah mengalami yang namanya cinta buta, dia tidak akan tergoda dengan tubuh wanita lain,” ucap Anne lirih.
Brandon membalas tatapan perempuan itu.
Pria itu menghela napas sejenak. “Dulunya, aku tertarik dengan banyak wanita sebelum aku bertemu dengan Clara,” ucapnya seraya memandang ke luar jendela. Sinar bulan tampak menembus celah dan tirai sutra yang bergoyang dengan anggun tertiup angin malam hari.
“Clara adalah satu-satunya wanita yang mampu membuatku luluh,” lanjutnya. “Tapi, sekarang semuanya berbeda.”
“Kamu cemburu?” tanya Anne.
Brandon tidak menanggapi. Tentu saja dia cemburu. Bagaimana tidak? Dia hanya tahu jika istrinya kecelakaan dan mengalami koma. Namun sekarang, istrinya malah menikah dan hamil dengan Werewolf. Siapa yang tidak marah? Jika saja rasa cinta yang dimiliki Brandon tidak tulus, mungkin dia sudah membiarkan Clara tersiksa dengan
ketidakadilan yang disebabkan karena ulah suaminya sendiri.
Iya. Brandon-lah yang membuat Clara kehilangan bayinya.
“Kamu tahu, kamu harus lebih kuat agar bisa merebut kembali Clara sekarang,” ucap Anne mengurai lamunan pria
yang mendekap tubuhnya.
“Bagaimana? Bagaimana caranya agar aku bisa sekuat Jasper?” tanya Brandon. Dia menatap Anne yang sejak tadi tidak melepaskan sorot mata merah dari dirinya itu.
Anne tersenyum semringah. “Belajarlah pada Eden,” jawabnya. “Aku mengenalnya sangat lama dan ilmunya cukup mumpuni jika dibandingkan dengan Black Witcher lainnya.”
“Tunggu.”
“Hm?”
“Aku penasaran soal … Witcher?” Brandon menyatukan alis, menatap perempuan yang berada di atasnya itu.
Anne mengangguk. “Di dunia Immortal ada dua penyihir. Witcher dan Wizard. Witcher terbagi menjadi dua golongan. Black dan White. Yang mana yang ingin kamu tanyakan?”
Brandon terdiam sejenak. Dia memindahkan tubuh mungil Anne agar makin menimpa dirinya. “Beritahu aku soal … Black Witcher.”
“Akan kuberitahu, tapi ….”
“Tapi?”
Pria itu menaikkan satu alis. Perempuan di atasnya itu tersenyum, menunjukkan raut wajah menggodanya lagi. Hal itu bahkan bisa membuat seorang Brandon Hover kembali terhasut.
“Aku tahu apa yang kamu mau,” ucap Brandon kemudian.
“Jika Werewolf sudah menemukan incarannya, kamu tidak akan bisa mengelak sebelum dia mengatakan ‘selesai’.”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments