Jasper menunggu dengan cemas di depan sebuah ruangan. Sesekali dia berdiri dari bangku dan mondar-mandir seraya melihat pintu ruangan yang tertutup. Dia menghela napas, berkacak pinggang, dengan pandangan menegadah.
Suara keras dari dalam ruangan tidak bisa dihindari. Teriakan Clara membuat Jasper hendak masuk ke sana, tetapi langkahnya ditahan oleh Aiden. Pemuda berambut cokelat itu mencekal pundak Jasper dan membuat pria itu berbalik.
“Aiden! Aku harus menengok Clara!” seru Jasper dengan mata berkaca-kaca. “Dia istriku!”
“Aku tahu, Jasper.” Aiden mengusap pundak kakaknya itu hingga Jasper mendaratkan kepala di pundaknya. “Kita harus menurut pada Hendrick jika ingin Clara selamat.”
“Tapi bagaimana dengan bayinya?” Jasper menatap Aiden. Matanya sudah memerah.
Aiden tidak menjawab. Lidahnya kelu melihat kakaknya menjadi selemah itu. “Jasper!!!”
Jasper sontak berbalik dan dengan cepat mendobrak pintu kamar. Mata birunya membola melihat Clara yang tengah mengerang kesakitan dan mencoba mendorong bayinya keluar. Cairan merah telah menodai sprei dan
beberapa bak berisi air hangat. Jasper segera mendekat, tidak menghiraukan pekikan Aiden yang ikut menyusulnya tadi. Beberapa pelayan meminta Aiden agar keluar kamar, lalu menutup pintunya kembali.
“Clara! Clara! Ini aku. Jasper.” Pria itu berbisik di sebelah telinga Clara. Tangannya mengusap kening istrinya, sementara satunya mengelus lembut perut buncit Clara.
Perempuan itu tidak membalas dan sibuk menahan rasa sakit dan panas di sekujur tubuh. Napasnya tersengal. Wajahnya pucat pasi dengan peluh mengalir deras. Dia kembali mengejan dan tidak menghasilkan apa pun di bawah sana.
“Jasper,” panggil Hendrick.
Dokter kandungan yang menangani kehamilan Clara sejak awal itu menatap Jasper. Dia memberikan isyarat pada pria bermata biru tersebut agar berbicara dengannya sebentar. Jasper segera berdiri, terturut Hendrick yang menuntunnya ke sudut ruangan. Sementara itu, dua asisten Hendrick terus membantu Clara untuk melahirkan bayinya dengan segera.
“Maafkan aku, tapi ….” Hendrick menggantung ucapannya. Dia menatap Jasper.
“Apa? Kenapa?” Jasper meremas pundak Hendrick, meminta jawaban dengan cepat. “Ada apa, Hendrick?”
Hendrick meneguk liur sejenak. “Kami tidak bisa menyelamatkan bayi kalian,” ucapnya menurunkan intonasi.
Jasper sontak terdiam. “A-apa?”
“Black Witcher mungkin sebelumnya sudah menyerang bayimu sebelum Clara terjatuh,” ujar Hendrick. Dia melihat ke arah Clara yang tengah mengejan dengan keras, lalu kembali menatap Jasper. “Biarkan aku membius Clara dan mengeluarkan jasad bayinya. Ini akan memakan waktu karena keterbatasan alat medis yang kubawa, jadi—”
“Jadi, apa?” Jasper menatap Hendrick dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan. Pegangan di pundak dokter itu mengendur.
“Aku akan melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan Clara,” ucap Hendrick. “Jika aku tidak melakukannya, Clara tidak akan bisa diselamatkan.”
Mata biru Jasper sontak terarah pada Hendrick. Dia menggeleng. “Aku tidak ingin dia kembali ke sana—”
“Kamu pikir dia akan kembali ke sana jika tidak berhasil melahirkan bayinya?” sela Hendrick. “Dia akan benar-benar mati, Jasper!”
Jasper makin terdiam. Hendrick yang sudah kehabisan waktu lantas berjalan menghampiri para pelayan dan meminta mereka untuk mengantar Jasper keluar kamar agar dia bisa melakukan tindakan operasi caesar kepada Clara. Dua pelayan menuntun tubuh Jasper yang lunglai ke pintu. Mata biru pria itu melihat samar istrinya yang tengah berteriak kesakitan di atas ranjang, sebelum akhirnya pintu itu kembali tertutup.
“Jasper!”
Aiden menghampiri kakaknya. Dia menatap Jasper, meminta penjelasan pria itu tentang apa yang terjadi di dalam. Sementara itu, beberapa orang yang menunggu di sana juga menunggu pernyataan pria tersebut. Jasper meraup wajahnya, menampakkan mata birunya yang hampir menangis.
“Clara harus dioperasi,” ucapnya. “Anak kami telah mati.”
***
Hari itu seolah berakhir begitu cepat. Hendrick telah berhasil melakukan operasi pada perut Clara. Dia membutuhkan waktu sekitar lima jam karena istri Jasper itu juga mengalami pendarahan. Beruntung, Clara bisa
diselamatkan meski dia harus kehilangan bayinya.
Rintik hujan mulai menggenangi sekitar. Membasahi dedaunan dan menimbulkan aroma pentrichor yang menguar. Jasper melangkah menuju mansion setelah kembali dari memakamkan jasad putranya. Aiden dan beberapa orang terlihat mengekorinya. Mereka saling bersitatap, menyimpulkan perasaan pria bermata biru tersebut sekarang.
Langkah Jasper terhenti di persimpangan koridor. Aiden berjalan menghampirinya dengan pelan. Dia berdiri di samping kakaknya itu.
“Kumpulkan semua orang,” ucap Jasper tanpa menoleh sedikit pun. “Satu jam lagi kita bergerak.”
Setelah mengucapkan titah itu, Jasper melangkah pergi. Aiden menoleh kepada orang-orang yang menemani mereka sejak tadi. Mereka saling bersemuka. Liur Aiden terteguk seraya menatap punggung Jasper yang menghilang masuk ke koridor.
Sejak dulu, titah pria itu tidak main-main. Jasper hanya akan mengumpulkan semua orang jika ada sesuatu yang amat penting. Namun, kali ini kata ‘bergerak’ seolah menjadi titah paling serius yang pernah dia berikan sepanjang masa kepemimpinannya di Klan Owen.
Jasper menuju kamar di mana Clara masih terbaring di sana. Dia membuka pintu dengan pelan, lalu masuk. Langkahnya yang semula tegap, kini berubah lunglai. Jasper duduk di samping Clara.
Mata perempuan itu masih terpejam. Lingkaran hitam transparan terlihat jelas mengelilingi matanya. Tubuhnya masih lemah. Jasper menggenggam tangan Clara, mengalirkan sesuatu yang bercahaya kebiruan di sana
yang menyebar ke seluruh tubuh istrinya. Pria itu tertunduk. Matanya sayu memandang Clara.
“Maafkan aku, Clara,” lirihnya.
Sorot matanya seketika berubah tajam. Pikirannya terpaut pada orang-orang yang membuat kondisi Clara memburuk. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Black Witcher? Penganut ilmu sihir hitam itu telah menghancurkan hidupnya.
“Aku benar-benar tidak akan memaafkan kalian.” Jasper mendesis. Geramannya jelas terdengar sebagai telepati kepada seluruh makhluk yang berada di sekitar mansionnya. Kadar kebenciannya meningkat dengan drastis setelah dia kehilangan putranya.
***
Di tempat lain, Brandon tampak menunggu di atas pohon. Dia sengaja menyandarkan tubuh di batang pohon yang disinggahinya. Mata merahnya tampak berkilat tersorot temaram bulan. Malam ini tidak begitu cerah karena awan hitam bergumul di sekitar sang Luna. Hujan turun sekitar beberapa menit yang lalu dan membuat setiap dahan pohon menjadi licin. Brandon mendesah ketika erangan di sebuah mansion yang disambanginya telah berakhir. Dia menoleh kepada Anne dan Eden yang duduk di dahan sekitarnya. Mereka mengendikkan dagu padanya.
“Apa sudah selesai?” tanyanya.
Eden kembali memandangi mansion putih di bawah sana. “Sebentar lagi mereka akan bergerak,” timpalnya. “Apa kamu akan tetap menunggu di sini?”
Brandon mengangguk. Sinar bulan menyinari separuh wajah tampannya yang tidak tertutup tudung. “Aku harus membawa istriku kembali,” balasnya.
Eden mengembuskan napas. “Baiklah,” katanya, lalu menyiapkan sesuatu di tas pinggang. “Anne, beritahu yang lain untuk segera menyebar setelah mereka bergerak.”
Anne yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka lantas mengangguk. Perempuan itu melompat ke sisi dahan lain, menyusul rekan-rekannya yang telah bersiap di suatu tempat. Sementara itu, Eden kembali menatap pria berambut blonde di sampingnya.
Sejak pertama kali dia masuk ke dunia Immortal setelah ritual itu, Brandon sama sekali tidak mengubah raut wajahnya. Amarah dan kebencian tersirat di sana dan Eden bisa menebaknya karena dia juga memiliki perasaan yang sama kepada para Immortal. Jika saja mereka tidak membuat sang adik terpikat dengan dunia tersebut, Elana mungkin masih berada di sisinya kini.
Eden menepuk pundak Brandon, membuat pria itu menoleh. “Kamu bisa masuk setelah aku memberimu kode. Jangan sampai lengah!”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments