Benar saja, Brandon akhirnya menuruti tawaran terakhir dari Luna Castelle. Ini adalah ssatu-satunya keputusan baginya yang tidak bisa ditolak. Brandon harus mendapatkan jantung pure elf untuk kekuatan yang diidam-idamkannya.
Hari yang ditunggu pun tiba. Pria itu telah bersiap dengan ransel yang baru saja disambarnya dari atas ranjang. Dia ke luar kamar dan menuruni anak tangga. Netranya mendapati Eden dan Annelise tengah berdiri menunggunya tidak jauh di bawah anak tangga terakhir. Pria itu berdecak. Dia sudah seperti anak kecil di sini karena setelah keputusannya untuk tinggal di sini sudah bulat, Anne dan Eden memperlakukannya seperti seorang anak remaja yang baru saja diadopsi.
“Aku tidak percaya kau benar-benar melakukannya,” ucap Eden sembari mengulurkan tangan hendak mengacak-acak rambut Brandon.
Pria berambut cokelat itu menghindar seraya mengibaskan tangannya dari keusilan Eden. “Apa kau akan melarangku?” tanyanya sambil berjalan menuju sofa ruang tamu. Dia memeriksa kembali isi tas.
“Tentu saja tidak. Iya kan, Anne?” Eden menoleh ke arah Anne yang berdiri di dekatnya.
Anne mengangguk. “Jangan lupa untuk selalu mengabarkan kami kapan pun itu,” ucapnya.
Brandon mendengkus. “Ayolah, aku bukan anak kalian!”
Eden dan Anne tergelak. Mereka pun sadar dengan perlakuan mereka kepada pria tersebut. Yah, meski sebenarnya tetap saja usia Brandon-lah yang lebih muda ketimbang keduanya.
“Biarkan aku yang mengurus proyekmu dan fokuslah pada misimu,” ucap Eden.
Brandon berdeham. “Hanya tinggal beberapa saja termasuk proyek pembangunan apartemen hasil kerja samaku
dengan Luna,” katanya. “Kalau misi ini berhasil, aku juga telah berjanji padanya untuk membagikan 50 persen saham proyek itu padanya nanti.”
“Wow, kau perhatian sekali padanya,” celetuk Eden.
Pria bermata merah itu mendesah. “Daripada aku harus menikahinya,” sahutnya.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti di pelataran kediaman Eden. Brandon bergegas ke luar rumah
setelah memastikan jika tidak ada yang tertinggal. Dia masuk ke mobil di mana sudah ada Luna yang menyetir. Kedua matanya menyalang.
“Kau tidak membawa sopir?” tanya pria itu.
Luna menoleh ke jok belakang di mana tidak ada siapa pun di sana, lalu menatap pria yang baru saja masuk itu. “Untuk apa?” tanyanya. “Hanya akan merepotkan saja.”
Brandon mendengkus. Dia membenahi posisi dan mengenak seatbelt. Mobil melaju sekian detik kemudian, meninggalkan kediaman Eden.
“Kau tampak akrab sekali dengan mereka,” ucap Luna sembari fokus menyetir.
“Mereka sudah banyak membantuku selama di sini,” timpal pria berambut cokelat itu. Mata merahnya yang memesona melihat ke luar kaca mobil ketika Luna membawa kendaraan itu memasuki area hutan. “Kita akan lewat hutan?” tanyanya.
Luna berdeham. “Mobil ini akan kutitipkan di rumah temanku,” katanya. “Jalur masuknya sangat sempit dan tidak
bisa dilewati mobil. Tepat ke arah utara di pegunungan itu.”
Tidak pernah terpikirkan oleh Brandon kalau dirinya akan menghadapi situasi seperti ini. Dia hanya ingin berburu jantung pure elf dengan mengikuti jejak dari potongan artefak yang kemungkinan dibawa oleh Luna saat ini. Namun, kenapa sekarang dia seperti seorang pecinta alam? Apakah nanti dia akan mendaki gunung dan melewati lembah?
Monster-monster di dalam kepalanya tertawa puas.
“Kau membawa artefaknya?” tanya Brandon.
“Tentu saja.” Luna membelokkan arah mobil ketika sampai di ujung persimpangan. “Ada di tasku.”
Brandon tidak menanggapi lagi. Dia lebih memilih diam dan menenangkan dirinya sekarang. Degup jantungnya
terasa memburu tanpa alasan. Sebuah kondisi di mana rasa takut itu mulai merengkuh ambisi dan berusaha melenyapkannya. Pria itu meneguk saliva dan menarik atensi wanita di sampingnya.
Luna menoleh sesekali. Rambut blondenya yang dikuncir kuda membuatnya terlihat sangat cantik alami detik ini. Siapa pun pasti akan tergoda dengan rupanya.
“Kau kenapa?” tanyanya.
Pria itu menggeleng. “Bukan apa-apa,” jawabnya singkat. Dia memilih untuk mengalihkan pandangan ke luar jendela di mana pepohonan pinus tampak makin rapat.
Luna cukup tahu bagaimana perasaan pria itu saat ini. Dia mempercepat laju mobilnya, menuju ke sebuah cottage yang terletak tidak jauh dari jalan utama. Rumah kayu itu milik temannya. Dia menghentikan mobil tepat di depan garasi dan segera turun, disusul Brandon.
Sementara itu, Brandon mengedarkan pandangan ke segala arah. Hutan-hutan pinus dengan aroma lembab musim
gugur membuat dirinya menjadi tenang. Aroma pentrichor tidak pernah gagal membuat emosinya mereda. Dia melihat Luna menyampirkan tas di pundak dan menelisik cottage tersebut. Wanita itu mengerutkan kening seolah ada yang salah dengan rumah kayu milik temannya itu. Brandon buru-buru menghampiri.
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku sudah bilang pada Henry kalau aku kemari hari ini,” jawabnya seraya mengecek ponsel dan menghubungi
nomor temannya itu. “Kenapa tidak diangkat?” gumamnya.
“Kau sudah memastikan bahwa ini rumahnya?” selisik Brandon.
Luna mengangguk. Panggilannya tidak diangkat dan membuatnya makin cemas. “Kalau dia tidak kemari, lebih baik
kita segera bergegas saja,” ucapnya.
“Apa tidak apa meninggalkan mobilmu di sini?” tanya Brandon.
“Bukan masalah,” timpal perempuan Wizard itu. “Henry sudah hafal mobilku.”
Namun, wanita itu tetap saja merasa ada yang aneh dengan temannya. Tidak biasanya Henry tidak kemari ketika
dia mengatakan kalau akan menitipkan mobil padanya. Henry hanyalah pengusaha kayu dan Luna sering mampir ke cottage-nya hanya untuk menenangkan diri. Pria itu bahkan tidak pernah meninggalkan rumah kayunya selama ini.
Luna sedikit menggigit bibir. Dia hendak melangkahkan kaki ke anak tangga kayu sebelum akhirnya suara kemeresak menarik perhatian dirinya dan Brandon. Keduanya sontak berbalik. Netra mereka membola.
“Henry!” pekik Luna. Belum sempat dirinya berlari menghampiri temannya itu, sebuah kilatan biru dengan cepat
menyambar.
“Luna!!!”
Brandon dengan cepat menyambar tubuh perempuan itu dan serta-merta membuat keduanya terguling ke satu arah. Bau gosong menguar ke udara, bercampur dengan aroma hujan. Luna bangkit dan terkejut ketika mendapati Henry sudah terkapar dengan separuh badannya hangus.
“HENRY!!!”
Sementara itu, Brandon langsung menarik lengan Luna dan mengajaknya lari. Wanita itu masih berteriak histeris, bahkan meminta Brandon melepaskan cekalan pada tangannya.
“Owen,” bisik pria bermata merah itu ketika keduanya bersembunyi di balik sebuah pohon pinus.
Luna mendadak terdiam. Dia menatap dalam-dalam sorot mata pria di dekatnya itu. Cukup menyakinkan.
Suara beberapa langkah kaki mendekati cottage. Orang-orang berpakaian hitam dengan bau khas hewan berbulu tampak mengitari jasad Henry. Sebagian yang lain mendekati mobil Luna.
“Tidak ada siapa pun,” ucap salah satunya.
Jasper tampak menghela napas. Kedua tangannya sengaja dimasukkan ke kantong jaketnya, menghalau udara dingin detik ini. Hidungnya mengendus tipis.
“Dia masih ada di sekitar sini,” ucapnya. “Cari dia dan tarik dia ke hadapanku!”
Liur Brandon terteguk sempurna. Dia berdecih, menyesal karena tidak mempersiapkan rencana cadangan karena dirinya tidak tahu kalau pria itu dan anak buahnya tahu soal misi yang dilakukannya sekarang.
Luna mendongak, menatap sirat kebencian di wajah pria itu. Dia tidak punya pilihan lain karena tidak mungkin dirinya kembali dan menangisi jasad Henry.
“Ayo, pergi!” bisiknya pada Brandon. “Semakin lama kita di sini, maka kita akan mudah tertangkap mereka.”
Brandon mengangguk. “Biar aku saja.”
“Mereka sudah mencium aroma kita, biar aku saja,” ucap Luna.
Wanita bermata hijau itu menjentikkan jemarinya. Dalam sekejap mata, sebuah sinar keemasan bersemu temaram dan melenyapkan keduanya, sebelum akhirnya seorang anak buah Jasper melihat hal tersebut.
“Mereka kabur!” serunya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments