14. PANTAI MOIRA

“Sumpah! Ini keren, Jasper!”

Clara menghirup dalam-dalam udara di tempat yang barusan didatanginya. Kedua tangannya terentang, merasakan

embusan angin yang menerpa tubuhnya. Jasper tersenyum melihat betapa bahagia istrinya itu. Dia berjalan mendekati Clara usai meletakkan koper-koper mereka di kamar.

“Apa kamu senang?” tanyanya sembari mengaitkan kedua lengannya di pinggang Clara.

Clara mengangguk. “Terima kasih,” ucapnya.

Entah kenapa Jasper mengajak Clara kemari. Dia pikir perempuan itu mungkin akan sedikit bisa menenangkan diri di sini. Pantai Moira adalah miliknya dan dia bisa dengan bebas berada di sana karena villa yang mereka tempati adalah miliknya juga. Perlu diketahui, selama beratus tahun, Jasper menginvestasikan sebagian harta miliknya hanya untuk membuat reinakarnasi mate-nya merasa bahagia bersamanya, terlepas bagaimana ambisi dirinya untuk menjadi yang paling berkuasa di dunia Immortal.

“Kamu tahu, aku bahagia jika melihatmu sebahagia ini, Clara,” bisik Jasper tepat di samping telinga perempuan itu hingga membuat hati Clara berdesir. “Aku bahkan rela melakukan apa pun untuk membuatmu bahagia, sekali pun itu mempertaruhkan nyawaku.”

“Hm? Benarkah?” Clara mengernyit, ditimpali anggukan oleh pria berambut hitam tersebut. “Berarti, jika dia menculikku kembali, kamu akan melindungiku?”

Jasper terdiam. Tentu saja, dia yang dimaksud oleh Clara adalah Brandon Hover, si Black Witcher yang mengaku sebagai suami Clara itu. Jasper meneguk liur. Batinnya geram kala mengingat pria tersebut.

“Aku tentu akan melindungimu,” ucapnya tegas.

“Jasper,” panggil perempuan berambut cokelat itu. “Bagaimana jika dia kemari? Aku takut.”

Mata biru Jasper mengedarkan pandangan sejenak. “Aku sudah meminta anak buahku untuk berjaga di sekitar

tempat ini. Kamu tenang saja. Pantai ini milik kita, jadi tidak mungkin ada yang bisa menerobos kemari meski itu kecoa sekali pun.”

Clara tertawa kecil. Bagaimana bisa suaminya itu menyamakan orang jahat dengan kecoa? Lucu sekali!

Perempuan itu berbalik dan membingkai rahang tegas Jasper dengan kedua tangannya. “Berjanjilah padaku,” ucapnya.

Jasper mengecup satu telapak tangan Clara sejenak. “Aku berjanji.”

Keduanya menghabiskan liburan di sana selama beberapa hari. Rasa-rasanya, tubuh Jasper menjadi lebih sering

bergairah karena emosinya juga stabil.  Begitupun dengan Clara. Emosinya memang membaik, tetapi tubuhnya seperti dihantam habis-habisan.  Sebenarnya, Clara ingin tahu tujuan Jasper mencintai dan menikahinya selain hanya untuk melindunginya dan memiliki keturunan darinya. Namun, Jasper selalu menolak menjawab pertanyaan yang menyangkut hal itu.

“Jasper … stop …,” lirih Clara.

Jasper segera menghentikan gerakan pinggulnya. Dia tahu perempuan itu sudah kelelahan meski dengan posisi

ternyaman sekali pun. Pria itu berbaring di belakang Clara dan memeluk tubuh istrinya itu.

“Kamu baik-baik saja?” bisiknya kemudian.

Clara mengangguk. Dia membiarkan Jasper terlelap memeluknya. Sementara itu, matanya menatap ke arah jendela yang sedikit terbuka. Tirai putih tipis yang menutupinya tampak berkibar anggun tertiup angin malam. Di luar sana, air kolam renang di villa mereka tampak sangat memesona tersorot temaram sang Luna.

Namun, tiba-tiba saja sekelebat bayangan dilihat oleh Clara. Matanya membola seketika. Dia sedikit melepaskan diri dari pelukan Jasper. Pria itu menggeliat sejenak sebelum akhirnya kembali pulas. Clara memakai piyama sejenak, lalu berjalan mendekati jendela.

Tidak ada siapa pun di luar. Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Clara melirik Jasper sebentar, lalu memutukan untuk ke luar sejenak. Jika memang benar ucapan Jasper yang mengatakan kalau tidak ada yang kemari, maka dia bisa bernapas lega. Mungkin saja itu salah satu penjaga yang sedang berkeliling di malam hari.

Clara mencari hingga menyebarkan pandangannya ke seluruh arah. Angin malam dari laut yang dingin membuatnya bergidik. Dia berkali-kali mengusap kedua lengan untuk menghangatkan tubuh. Tiba-tiba saja, sebuah tangan membekap mulut, sementara satu tangan lain merengkuh tubuhnya dan membawanya kabur dari sana.

***

Clara tahu ini bukanlah pertanda baik. Dia mendapati sorot mata merah dari sosok yang membawanya ke sebuah hutan di tepi pantai, tidak jauh dari villa mereka. Pria itu melepaskan cekalannya dan membiarkan Clara berbalik melihatnya.

“Siapa kamu?” hardik perempuan itu. Mata cokelatnya menyalang pada sosok di depannya.

Pria itu menyibakkan tudung, menampakkan wajahnya yang tampan dan simetris. Mata merahnya tampak berkilat.

“K-kau ….” Clara hendak kabur, tetapi niatnya gagal setelah pria itu kembali mencekal lengannya. “Lepaskan aku!”

Brandon Hover—pria itu—melepas cekalannnya. Dia menghela napas sembari menatap Clara. “Aku ingin bicara

padamu,” ucapnya.

Raut wajah pria itu tampak serius dan itu membuat Clara sedikit bergidik. Bagaimanapun, dia merasa curiga kenapa pria itu tahu jika dirinya ada di sini. Jasper bilang kalau tidak ada yang tahu soal tempat ini, ‘kan?

“Kamu ingin bicara apa?” tanya perempuan itu kemudian. “Bicaralah sekarang! Aku tidak punya banyak waktu!”

Brandon menghela napas. Dia mengangguk. “Pulanglah,” ucapnya amat lembut. Deru ombak menyertai perkataannya tersembut. “Pulanglah, Clara, kembali bersamaku.”

Clara terdiam. Dia memandangi pria itu dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas. Dia menggeleng, masih tidak

percaya jika yang ada di hadapannya kini adalah suaminya yang berasal dari dunia manusia. Namun, Brandon menjadi Black Wicher? Clara bahkan tidak menyangka jika pria itu ternyata adalah musuh suami Werewolf-nya di sini.

“Clara, aku tahu kamu pasti tidak menyangka aku kemari,” ujar Brandon. “Aku … aku minta maaf soal pertengkaran kita yang terakhir kali. Aku minta maaf soal kesalahanku.”

Clara meneguk saliva. Pria itu juga masih mengingat soal pertengkaran yang akhirnya menyebabkan dirinya kecelakaan.

“Aku kemari menyusulmu … karena ingin agar kamu kembali. Aku ingin kita mengulang kembali hubungan kita

seperti dulu,” lanjut pria tersebut. “Aku tahu, kamu pasti akan terkejut dengan penampilanku yang sekarang, Clara. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya bisa menjadi seperti ini agar bisa menyusulmu dan membawamu pulang.”

Degup jantung Clara seolah berhenti mendadak. Ucapan Brandon barusan terdengar tulus dan dia tidak pernah

melihat pria itu selemah ini sebelumnya. Salivanya terteguk sempurna, berusaha mencerna segala tindakan dan keputusan yang nantinya akan keluar dari mulutnya.

“Clara.” Brandon melangkah menghampiri perempuan itu, tetapi urung karena Clara justru beringsut mundur. Dia mengangguk. “Aku minta maaf karena sudah menakutimu,” ucapnya kemudian.

“Aku ….” Clara menggantungkan ucapannya. “Aku tidak bisa pergi, Brandon.”

Brandon menegapkan diri dan menatap lurus ke arah perempuan di depannya. Relung hatinya tercekat. “Kenapa?

Kenapa, Clara?”

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!