Sebenarnya, Clara mengingat setiap detail hal yang terjadi. Tentang pertengkarannya dengan Brandon dan kecelakaan itu. Namun, kepalanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi sekarang. Dia harus mencari alasan agar pria di depannya itu tidak terlalu mendekatinya. Clara tidak tahu dan tidak ingin percaya jika pria itu adalah Brandon Hover, suami manusianya.
“Sudah kubilang, aku tidak ingat apa pun,” ucapnya lagi.
Brandon menghela napas. Dia ingat jika ekspresi yang ditunjukkan Clara saat baru bangun sekian menit yang lalu sangat berbeda dengan yang sekarang. Namun, karena rasa cintanya pada perempuan itu, akhirnya dia mengalah. Brandon hanya tidak ingin Clara terluka atau kesakitan lagi. Kehilangan bayinya juga pasti membuat dirinya terpukul sekarang.
“Baiklah,” ucap pria itu. “Tidak apa-apa.”
Brandon meminta Clara agar kembali ke ranjangnya. Dia menutup pintu balkon yang terbuka sekaligus tirainya. Sementara itu, Clara yang sudah duduk di kasur terus memandangi pria berambut blonde tersebut. Keraguannya berperang dalam batin. Pria itu memang mirip suaminya di dunia manusia, tetapi Brandon tidak memiliki kedua mata merah yang menjadi ciri khas para Black Witcher.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Brandon, membuat Clara tersentak. “Malam ini, istirahatlah. Kamu aman di
sini. Jika kamu memaksakan diri untuk kabur seperti tadi, akan ada banyak Immortal yang lebih buas dari suamimu di luar sana.”
“Bagaimana dengan Jasper?” Pertanyaan Clara menghentikan langkah Brandon yang hendak keluar kamar. “Apa
dia akan kemari?”
Brandon menoleh. “Menurutmu?” balasnya. “Jika dia pintar, dia akan kemari secepatnya.”
Setelah mengatakan hal itu, Brandon keluar kamar dan segera menutup pintu. Dia menghela napas. Ingatannya
menguar saat dia dan Clara berkelahi sebelum kecelakaan itu terjadi. Mungkin saja, Clara tidak ingin bertemu dengannya lagi sampai harus memanipulasi reaksinya saat bertemu dengan suaminya sendiri.
Pria itu berjalan meninggalkan kamar Clara, menelusuri lorong mansion seorang diri. Langkahnya menuju ke luar
bangunan, terturut di koridor yang menghubungkan bangunan satu dengan yang lain. Tangannya menyentuh tiang pondasi yang dingin. Mata merahnya menatap langit. Sang luna tampak bersinar dengan temaram, memunculkan harapan dan hidup baru bagi seorang Brandon Hover. Satu tangannya menyentuh dada, teringat dengan
hantaman dari dalam dirinya ketika Clara pertama kali membuka mata. Dia mengernyit, berpikir apakah rasa itu juga akan menjadi masalah untuk mereka di kemudian hari nantinya.
“Kamu belum tidur?” Suara dari seorang perempuan yang dikenal Brandon. Dia tersenyum saat pria berambut blonde itu menoleh ke arahnya, lalu berjalan mendekat.
“Kepalaku penuh rasanya,” timpal Brandon sembari menghela napas.
Namun, tangan perempuan itu menangkup kedua pipi Brandon, membuat pria tersebut sontak meneguk liur. “Ini pengalaman baru bagimu, ‘kan?” tanyanya. “Pasti ada banyak hal yang tidak kamu mengerti.”
Brandon mengangguk. Matanya memandang perempuan di depannya. Rambut Annelise yang tergerai sepinggang
tampak memesona saat sinar bulan menyinarinya. Kedua matanya yang merah, lain dengan milik Brandon. Penampilannya benar-benar khas dan langka dan itu justru membuat Annelise tampak cantik.
Jemari Anne yang menyentuh pipi Brandon terasa dingin. Suhu malam merasuk ke pori-pori kulit pria itu dan membuat kulit beige-nya tampak bersemu merah. Tanpa sadar, Anne mendekatkan wajah mereka dan menyatukannya dalam sebuah kecupan manis.
Mata Brandon melebar. Sentuhan itu adalah hal yang tidak pernah didapatkannya setelah dia berkelahi dengan
Clara dan kejadihan pahit itu terjadi. Kini, dia mendapatkannya dari seorang wanita Immortal dan itu sangat lembut, juga manis.
Tangan pria itu terangkat, meraup wajah Anne dan membawanya dalam rengkuhan sang bulan. Malam seolah
terasa panjang pagi keduanya. Membawa kembali hal yang amat sulit diraih dengan semua harapan yang terpendam dalam diri masing-masing.
Anne melepas kecupannya di bibir pria tersebut. Matanya memandang Brandon amat lekat. “Jangan berusaha
menipu perasaanmu sendiri,” lirihnya.
Brandon tentu tahu maksud dari perkataan perempuan tersebut. Dia mengangguk. “Aku berpura-pura karena dia juga sepertinya pura-pura tidak mengingatku,” balasnya.
“Clara?”
Pria itu kembali mengangguk. “Dia sudah bangun tadi,” ucapnya. “Awalnya, dia terlihat mengenalku sampai ingin
melarikan diri, tapi kemudian dia tidak mengenalku dan mengatakan jika dia tidak ingat apa pun.”
Anne mengernyit. “Dia tiba-tiba amnesia?” gumamnya. “Mungkin dia masih ingat soal pertengkaran kalian.”
“Mungkin iya.” Brandon menghela napas. Mata merahnya memandang ke arah langit malam. “Apa yang harus aku lakukan, Anne?”
Wanita berambut putih itu terdiam. Matanya menatap raut wajah Brandon yang terlihat khawatir. Jelas sekali kecemasan teraut di sana dan Anne bisa merasakannya. “Rebut dia kembali,” ucapnya.
Brandon memandang Anne dengan alisnya yang hampir menyatu. “Maksudmu? Aku sudah merebutnya dari Jasper.”
“Maksudku, rebut kembali hatinya.” Satu alis Anne terangkat, memberi isyarat pada pria di depannya. “Dengan penampilanmu yang seseksi ini, mana mungkin wanita sepertinya menolak? Kamu harus ingat bagaimana dulu kamu mendapatkannya sampai bisa menikahinya, Bran.”
Pria itu menghela napas, lantas melipat tangan di depan dada. Dia terdiam. Sejenak, dirinya menatap sosok perempuan di depannya saat ini. Perkataan Anne ada benarnya dan mungkin kali ini adalah waktu di mana Brandon harus kembali berusaha mendapatkan hati Clara kembali, seperti sebelum mereka menikah dulu.
Namun, sosok di depannya kini seolah menghipnotis Brandon. Anne tampak cantik dalam balutan dress putih yang
dikenakannya sekarang. Cocok sekali dengan kulitnya yang seputih porselen. Brandon seperti melihat seorang dewi sedang berdiri di hadapannya. Tanpa sadar, pria berambut blonde itu meneguk liur dan menghela napas yang nyaris bisa dilihat oleh perempuan tersebut.
“Temani aku malam ini,” ucapnya kemudian.
Anne yang semula menatap bulan, langsung menoleh ke arah Brandon. Ceruk tipis terukir di sudut bibirnya. Dia mengangguk mengiyakan permintaan pria berbibir seksi tersebut.
***
Jasper meninju sebuah pohon di dekatnya hingga dedaunan kering berguguran menghujaninya. Malam ini membuatnya amat gusar, bahkan setelah dirinya telah berubah menjadi manusia. Hal terakhir yang dia ingat hanya kilatan merah yang membuat pandangannya kabur dan mengakibatkan dirinya kehilangan kontrol. Darah pada kuku jemarinya yang sudah mengering dibiarkannya.
Sementara itu, Aiden menghampiri kakaknya yang tengah kesal setengah mati itu. Dia menyentuh pelan pundak
Jasper, tetapi hampir saja pria itu menerkamnya sebelum akhirnya sadar jika yang mendekatinya adalah adiknya sendiri. Napas Jasper masih tampak tersengal dengan amarahnya yang meluap-luap.
“Mereka benar-benar kabur dan tidak meninggalkan jejak sama sekali,” ucap Aiden.
Jasper mengerang. Teriakannya menggema di kedalaman hutan, menyeruak hingga ke langit malam. Burung-burung dibuat beterbangan olehnya. Mata biru Jasper tampak berkilat saat dirinya menoleh ke arah Aiden.
“Bagaimana dengan portalnya?” tanyanya.
Aiden menggeleng. “Mereka cukup pintar—”
“Mereka bodoh!” potong pria itu cepat. “Aku pasti akan mendapatkan istriku kembali.”
Aiden terdiam memandang sang kakak. Dia menghela napas, lantas menatap yang lain dan meminta mereka untuk
segera kembali ke mansion. “Kita kembali sekarang,” ajaknya pada pria berambut hitam di dekatnya itu.
Jasper tidak menimpali. Dia masih sibuk dengan kekesalannya sendiri karena tidak bisa merebut istrinya kembali.
“Jasper.” Aiden memanggil dengan nada datar, membuat pria itu akhirnya menurut.
“Aku akan membunuhnya besok.”
Aiden hanya mengangguk menimpali. Dia tahu, Jasper hanya menggertak. Pria itu punya satu kelemahan yang tidak diketahui oleh siapa pun selain adiknya. Ketika kelemahannya itu hilang, Jasper akan kehilangan kontrol dirinya seperti Lycan dan itu membuat Aiden harus berpikir berkali lipat agar kakaknya tidak menyerang secara
sembarangan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments