17 . SEBUAH PERJANJIAN

Anne yang sedang mengobrol dengan Eden tiba-tiba bangkit dari sofa ketika mendapati seorang pria masuk ke

rumah. Eden turut mengarahkan pandangan yang sama sepertinya.

“Bagaimana?” tanya perempuan Werewolf itu.

Brandon meletakkan tasnya di meja dan duduk di sofa sembari merenggangkan ikatan dasinya. “Ini merepotkan,”

jawabnya.

Anne kembali duduk. “Merepotkan bagaimana?”

“Aku tahu dia tertarik dengan proyek baru yang kukerjakan. Dia juga memberikanku desain yang memang menarik

perhatianku, tapi ….” Brandon menatap Anne dan Eden secara bergantian. “Kalian tidak sengaja mengorbankanku untuk sesuatu, ‘kan?”

Kening Eden langsung berkerut. “Apa maksudmu?”

Brandon meneguk saliva sejenak. “Luna Castelle, dia adalah pemimpin ras Wizard. Dan dia mengetahui tujuanku kemari,” jawabnya. “Dia memberikanku iming-iming berupa jantung pure Elf dan ….”

“Dan?” Anne menyahut.

“Dia meminta keturunan dariku.”

Sontak saja hal itu membuat Eden dan Anne tak mampu menahan gelak tawa. Eden menggeleng, masih berusaha

menyelesaikan tawanya.

“Tunggu-tunggu. Apa maksudmu, dia akan memberikan apa pun yang kau mau asalkan kau dan dia … menikah?” tanya pria bermata heterochromia itu.

“Well ….” Anne kembali menyahut. “Apakah ini adil, Eden? Lucu sekali dia!”

Brandon berdecak, lalu menghela napas. Dia merebahkan punggungnya di sandaran sofa. “Aku tidak boleh menawarkan hal lain. Dia menolaknya.”

Kembali, Eden dan Anne tertawa. Jelas sekali mereka sebenarnya cukup terkejut dengan penawaran yang diberikan oleh Luna. Meski keduanya tahu soal perempuan itu, baru kali ini ada seorang Wizard yang sangat menginginkan sebuah pernikahan.

“Kau harus lebih tegas, Bran,” ucap Eden sambil menyeruput tehnya sejenak. “Luna bukanlah wanita yang bisa dipermainkan begitu saja. Kalau kau menginginkan tawarannya, berikan sesuatu yang membuat dirinya merasa puas.”

Brandon terdiam, belum menyesap tehnya yang dihidangkan oleh Anne. Dia menghela napas sembari melihat ke arah cangkir teh. Perkataan Eden ada benarnya. Sebisa mungkin, jika dia ingin lebih kuat lagi, maka dia harus bisa melakukan apa pun untuk mendapatkan keinginannya.

“Kapan kau akan bertemu dengannya lagi?” tanya Anne. Dia menyibakkan sedikit helaian rambutnya yang putih dan menghalangi pandangan.

“Aku masih mengatakan padanya untuk berpikir dulu,” jawab Brandon.

“Tidak perlu terlalu dipikirkan,” sambung Eden. Dia menyilangkan kedua kakinya dan melipat kedua tangan di dada. “Kau masih bisa mendapatkan kekuatan lain selain darinya.”

“Tidak, Eden, maksudku … jantung pure Elf adalah yang paling langka. Kau pun ingin mendapatkannya juga ‘kan?

Dan Luna punya artefak untuk mengetahui lokasinya,” kata Brandon.

“Apa kau sudah seratus persen memercayainya?” tanya Anne.

Hal itu membuat Brandon kembali membisu. Dia menggeleng lemah.

“Wizard dan Witcher sejak dulu selalu bertentangan. Meski seiring berjalannya waktu, kami membuat kesepakatan

damai agar tidak ada korban berjatuhan,” ujar Eden.

“Dan Luna membenci Jasper,” sambung Brandon, menarik atensi dua orang di depannya. “Dia bercerita padaku

bahwa Jasper dan klannya pernah menyerang para Wizard hingga membunuh ayahnya.”

Eden tampak berpikir sejenak. “Jadi, itu nyata?” gumamnya.

“Hm?”

“Aku hanya pernah mendengar ceritanya saja,” timpal Eden. “Kupikir itu hanya mitos yang dibuat oleh ras Werewolf dan Wizard agar Witcher tidak terlalu ikut campur urusan mereka.”

“Aku juga baru tahu kalau cerita itu benar,” sahut Anne.

Brandon sendiri kembali berkutat dengan pikirannya. Mengingat banyak yang belum mengetahui kebenaran cerita itu, bukankah ini kesempatan yang bagus untuknya menjalin kerja sama degan Luna? Namun, dengan permintaan wanita itu, apakah dirinya bisa mengabulkannya?

Pria berambut cokelat itu menghela napas, seolah dalam tubuhnya dikuasai udara sekarang. “Kupikir aku akan menyetujuinya,” ucapnya.

“Setuju?” sahut Eden.

“Aku tidak akan menikahinya, kalau perlu,” kata Brandon seiring kernyih terukir di sudut bibir. “Aku sudah berpengalaman soal ini.”

***

Malam ini terasa sangat panjang. Brandon tampak duduk di kursi balkon sambil merasakan dersik yang menerpa tubuhnya yang setengah telanjang. Dia baru saja menyegarkan diri dan memilih untuk merasakan atmosfer musim gugur tahun ini. Daun-daun maple di depan rumah tampak berguguran dengan aroma pentrichor yang menguar sejak selesainya hujan beberapa saat yang lalu.

Brandon menatap layar ponsel di genggamannya. Sudah terpampang nama kontak Luna Castelle di sana dan entah kenapa dia belum berani menghubungi perempuan itu.

“Aku harus melakukannya,” gumamnya.

Sekian detik kemudian, pria itu menekan salah satu tombol di layar ponselnya dan menunggu. Sampai akhirnya,

panggilan diangkat.

“Hai, Bran,” sapa Luna. Dia tidak lagi menggunakan bahasa formal dengan pria berambut cokelat tersebut.

“Oh, hai,” balas Brandon sedikit kikuk.

“Bagaimana? Kau sudah memikirkannya?” tanya Luna.

Brandon terdiam sejenak. Lalu, dia berdeham. “Aku sudah memikirkannya, Luna.”

“Jadi, bagaimana?”

Helaan napas menguar sejenak dari lubang hidung dan mulut Brandon. “Aku punya penawaran yang lebih bagus.”

Tawa kecil terdengar dari seberang panggilan. “Kau tahu, Bran. Aku kan sudah bilang kalau aku tidak terima tawaran apa pun lagi darimu.”

“Kau masih ingin keturunan dariku, ‘kan?” tanya pria tersebut. “Tidak ada yang tahu sekuat apa keturunan

antara Wizard dan Witcher di masa depan. Dan aku bisa memberikanmu itu, bahkan

tanpa menikahimu, Luna.”

Luna diam selama beberapa detik. “Apa kau pikir aku wanita kotor?”

“Bukankah memang seperti itu?” sambung Brandon cepat. “Kau mungkin menginginkan kekuatanku juga, Luna. Jadi, kenapa kita tidak bekerja sama dan saling berbagi satu sama lain? Seperti simbiosis mutualisme. Tidak perlu ada ikatan, asal saling menguntungkan, itu akan membuat kita sama-sama mencapai tujuan kita.”

Perempuan di seberang panggilan kembali bungkam. Cukup lama, sampai akhirnya dia berbicara; “Baiklah. Temui aku di Yongya Real Estate dua hari lagi,” katanya. “Kita akan bahas ini jauh lebih dalam.”

Seringai lebar terukir sempurna di salah satu sudut bibir Brandon. “Dimengerti, Nona.”

***

Mendatangi apartemen seorang wanita bukanlah hal baru bagi Brandon. Pria itu tepat waktu sampai di Yongya

Real Estate. Dia cukup lihai karena kalau dilihat-lihat dunia Immortal seperti tidak ada bedanya dengan dunia manusia. Semuanya sama saja.

Brandon bergegas masuk dan langsung ke bagian lobi. Dia bertanya pada resepsionis dan dengan segera seorang petugas mengantarkannya ke unit 313, tempat di mana Luna Castelle menunggunya.

Pria itu berdiri di depan pintu unit. Dia meneguk liur sejenak, lalu mengeratkan jas hitamnya. Sekian detik kemudian, dia menekan bel pintu. Luna tampak membukanya.

“Masuklah,” pintanya.

Brandon melangkah memasuki unit apartemen wanita tersebut. Manik merahnya mengedarkan pandangan pada temaram lampu neon di tengah ruangan. Luna dengan gaun putihnya tampak sangat seksi. Sangat cantik dengan paduan rambut blonde dan mata hijau emerald-nya. Siapa pun pasti akan tergoda saat pertama kali melihatnya. Wanita itu mempersilakan Brandon untuk duduk di salah satu kursi makan.

Meja makan sudah berisi banyak sekali makanan. Brandon rasa dia tidak akan mau menghabiskan semuanya. Perutnya tidak akan cukup.

“Kau belum makan, ‘kan?” tanya Luna.

“Aku sedang tidak nafsu makan,” jawab pria tersebut.

Luna tampak mengangguk dengan bibirnya yang berlipat. “Aku sengaja memintamu kemari karena alergi dinginku mulai kambuh,” katanya. “Aku minta maaf.”

Brandon sedikit tertawa. Begitukah pemimpin ras Wizard? Lemah sekali menurutnya.

“Aku bercanda,” ucap Luna seraya menatap lurus ke arah pria di depannya. “Aku hanya ingin bersamamu malam

ini. Sesuai janjimu.”

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!