“Apa keinginanmu masih sama?” tanya Brandon sambil menyesap kopinya.
Sejak tadi, pria berambut cokelat itu tidak melahap apa pun di meja makan. Rasanya perutnya terisi penuh meski dirinya belum makan sejak tadi siang. Banyaknya proyek baru yang harus diselesaikannya bulan ini menyebabkan dirinya stres. Apalagi, dengan tawaran yang diberikan oleh Luna. Perempuan Wizard itu sepertinya tahu kelemahan
Brandon.
Luna tampak membaca beberapa dokumen di atas meja. Dia sudah menyelesaikan makan malamnya secara monolog dan rasanya sangat tidak enak.
“Tentu saja,” jawab wanita itu. “Aku masih ingin memberikanmu tawaran yang sama.”
Brandon menghela napas. “Apa artefak itu—”
“Kau masih tidak percaya?” sela Luna. “Harusnya memang akulah yang menjadi pemiliknya. Tapi artefak itu tersembunyi cukup lama dan hanya orang-orang tertentu yang mengetahui lokasinya. Kalau saja Jasper tahu soal ini, apa kau rela kalau harapanmu musnah? Jantung pure elf adalah incaran semua ras untuk hidup dalam keabadian dengan kekuatan tanpa batas. Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau kalau kau mendapatkannya.”
Pria itu terdiam. Kacau sudah kalau begini. Wanita itu menginginkan dirinya, sementara dia terlalu berambisi
mencapai ekspetasinya.
“Bagaimana jika aku memberikanmu apa yang kau inginkan dan kau memberikanku penawaranmu?” tawarnya lagi.
Luna tersenyum tipis. Dia menatap pria yang duduk di sofa agak jauh darinya itu. “Aku sudah berkecimpung amat lama dalam dunia ini, Bran. Jangan menganggapku remeh seperti wanita lainnya.”
Brandon mengangguk. Dia menegapkan tubuh, sedikit menyandarkan kedua tangan di atas lutut.
“Kalau kau masih ingin memikirkannya, tidak apa,” lanjut Luna. “Kita bisa bekerja sama dengan cara lain.”
Ucapan itu menarik atensi pria bermata mereha tersebut. Brandon menoleh dengan kening berkerut.
“Aku bisa mengantarmu ke sana,” ucap Luna. “Jejak potongan artefak itu masih kusimpan dan kita bisa melacak
potongan yang lain untuk menemukan lokasi jantung pure elf.”
Brandon termangu. Dalam diam, sebenarnya dia cukup setuju dengan penawaran Luna yang terakhir ini. Dia tidak
perlu susah-susah menuruti nafsu wanita itu hanya untuk memiliki keturunan, apalagi sampai menikah.
Pria itu mengangguk setuju.
***
Sementara itu, di sisi lain, Jasper juga melakukan hal yang sama. Dalam pertemuannya dengan sang adik, Aiden, Jasper mengincar jantung pure elf. Meski sebenarnya, dia sendiri tidak memiliki langkah bahkan potongan jejak artefak yang dimaksud.
“Kalau kau berhasil mendapatkannya, kau bisa menjadi penguasa dunia ini,” ucap Aiden. “Keseimbangan klan Owen juga bisa kita jaga sampai kapan pun.”
Jasper menghela napas sembari merebahkan diri pada sandaran sofa. Jemarinya memainkan jenggot tipisnya yang
belum dicukur sejak kepulangannya dengan Clara dari Pantai Morina beberapa waktu lalu. Dia berpikir cukup lama.
“Hanya ada satu klan yang memiliki potongan artefak tersebut,” imbuh Aiden.
Pria bermata biru yang duduk di seberang Aiden itu menatap lurus. “Siapa?” tanyanya.
“Ras Wizard. Pemimpinnya adalah putri dari orang yang dulu kau bunuh,” jawab Aiden.
Kedua alis Jasper sontak menyatu. “Wizard?” selisiknya.
“Luna Castelle,” ucap Aiden. “Kau ingat?”
Detik ini, Jasper mengangguk paham. Tentu saja dia mengenal wanita tersebut. Ayahnya telah mati di tangan Jasper beberapa tahun lalu karena perebutan kekuasaan.
“Sudah sedewasa apa dia sekarang?” tanya pria itu. Mata birunya tampak berkilat.
Aiden tersenyum kecut. “Mau kau apakan dia?” selisiknya.
Jasper mengendikkan sebelah alisnya, lalu duduk tegap. “Tentu saja aku harus menengok dan membuatnya berpihak padaku.”
“Tidak semudah itu, Jasper,” ucap Aiden. “Masalahnya, ketika kau ingin dia memihakmu, maka kau harus berhadapan dengan orang yang selama ini mengincar istrimu.”
Kening Jasper makin berkerut, menyatu dalam kebisuan.
“Kau sudah tahu kan siapa dia?” Aiden menelengkan kepala. Sudah tentu sang kakak tahu sosok yang dimaksud
olehnya.
Jasper mendengkus. “Dia masih di sini?” tanyanya, ditimpali anggukan oleh adiknya. “Apa yang dia lakukan?”
“Tentu saja dia ingin istrinya kembali, Jasper. Apalagi?”
Pria berambut hitam itu berdecih. “Apa dia pikir semudah itu mendapatkan Clara? Aku tidak akan melepaskannya!”
Aiden menghela napas. “Dan dia semakin kuat sekarang,” ucapnya. “Ada kemungkinan, kalau dia mengincar jantung pure elf adalah untuk hal yang sama denganmu.”
“Apa pesuruhmu bisa dipercaya?” tanya Jasper menaikkan intonasi bicaranya.
“Kau pikir, anjing mana yang tidak menurut dengan tuannya, Jasper?” Aiden menyeringai, pantas sekali jika
dirinya bisa menghasut sang kakak kini. “Anak-anakmu dari Elana benar-benar bermanfaat bagi kita.”
***
Jasper meneguk saliva. Dia berdiri di balkon sambil mengingat pertemuan singkatnya hari ini bersama sang adik. Memang, sudah sepekan dia meminta Aiden untuk meminta anak-anaknya dari Elana menjadi mata-mata. Sudah diputuskan sejak lama, bahwa memang Jasper menginginkan keturunan dari pemilik segel phoenix bukan hanya untuk dijadikan pesuruh, melainkan juga sebagai pelindung bagi klannya.
Cukup licik.
Sementara itu, Clara yang baru saja selesai mandi menghampiri pria tersebut dan memeluknya dari belakang.
Jasper berbalik ketika merasakan hangat dan lembutnya pelukan sang istri.
“Kau kenapa?” tanya Clara. “Apa yang kau bahas seharian dengan Aiden?”
Jasper meneguk liur sejenak. Dia tidak akan memberitahukan inti dari ambisinya selama ini. Wanita itu amat polos dan mudah dimanfaatkan. Apalagi dengan masa lalunya dengan Brandon Hover yang menyakitkan membuat Clara memercayai orang yang mampu membantunya melupakan masalah tersebut.
Pria itu mengusap lembut pipi Clara yang masih dingin dan sedikit basah. “Tidak ada,” jawabnya inosen. “Hanya
beberapa proyek yang harus kuselesaikan bulan ini.”
Kening Clara berkerut tipis. Kedua tangannya menangkup rahang tegas pemimpin klan Owen tersebut. “Jangan
membohongiku, Jasper,” lirihnya.
“Aku tidak berbohong, Sayang.” Jasper mendekatkan wajah Clara dan mengecup bibirnya sejenak. Energi yang biasa dialirkan oleh pasangan mate membuat wanita itu luluh begitu saja. “Aku tidak ingin membuatmu ikut stres memikirkannya,” imbuhnya kemudian.
Clara tersenyum tipis dan mengangguk. “Kau sudah mandi?”
Jasper menggeleng.
“Mandilah supaya badanmu segar kembali,” pinta perempuan itu.
Pria seperti Jasper akan menurut meski sisi lain dirinya yang busuk itu tetap bersemu dengan hebatnya. Jasper merasa ikatan mate akan membuatnya makin kuat, tetapi yang dirasakannya akhir-akhir ini, ikatan itu membuatnya menjadi lemah. Mungkin, itulah alasannya kenapa Jasper tidak ingin melepaskan Clara untuk kembali pada suami sahnya. Jasper merasa ikatan itu membelenggunya sampai dia tidak mau kehilangan Clara untuk yang ke sekian kalinya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments