Brandon memarkir mobilnya di tepi hutan. Malam itu sangat gelap. Langit tertutup mendung dan rintik hujan mungkin akan turun sebentar lagi. Angin berembus lembut, menerpa kulit Brandon yang tertutup jaket.
Pria itu mengecek ponsel sejenak dan memastikan jika lokasi yang dikirim Anne adalah tempatnya berdiri sekarang. Anne mengirimkan sebuah pesan kepadanya agar segera masuk ke hutan mengikuti cahaya berkelip yang menjemputnya. Brandon melihatnya. Banyak cahaya seperti kunang-kunang tengah melayang di satu sisi hutan. Dia segera mengikutinya.
Cahaya-cahaya itu menuntunnya menuju sekumpulan orang berjubah hitam. Mata pria itu menyalang dan hendak
berbalik ke mobil. Namun, seseorang menghalangi jalannya. Anne dengan mata merahnya yang berkilat tampak tersenyum di belakang Brandon.
“Mau ke mana?” tanya perempuan itu.
Brandon terdiam. Matanya menatap ke sana kemari, termasuk kepada orang-orang berjubah yang memandang ke
arahnya sekarang.
“Kamu ingin melihat jiwa istrimu, ‘kan?” tanya Anne lagi.
Liur Brandon terteguk. Dia teringat dengan antusiasnya tadi siang saat Anne mengobrol dengannya di kantin rumah
sakit.
Anne menyentuh satu tangan Brandon yang diberikan tanda olehnya. “Ini akan menjadi milikmu kalau kamu mau
bergabung dengan kami,” ucapnya.
“Apa maksudmu?” Brandon mengerutkan kening.
“Anne!” Salah satu pria berjubah berseru. Dia menghampiri perempuan berambut putih itu, lalu menyibakkan tudungnya. Mata heterochromia-nya yang merah sebelah itu memandang pria yang bersama dengan Anne sekarang.
“Namanya Brandon Hover,” ucap Anne dan didengar oleh teman-temannya yang lain. “Dia kemari karena ingin
menjemput jiwa istrinya yang berkelana di dunia Immortal.”
Brandon tersentak. Dia menarik tangannya yang masih dipegang Anne dan memelotot ke arah perempuan tersebut.
“Apa maksudmu?” tanyanya. “Aku kemari hanya ingin tahu cara untuk membangunkan istriku kembali!”
Anne memutar bola mata dan mendesah. Dia memandang pria heterochromia di sampingnya. “Eden,” panggilnya.
Pria itu mengulurkan tangan kepada Brandon. “Namaku Eden Moriez,” ucapnya. Brandon tampak ragu membalas
jabat tangan, tetapi akhirnya pria itu melakukannya. “Aku manusia, sama sepertimu. Teman-temanku juga manusia, tetapi Anne—dia adalah Werewolf albino.”
Brandon mengernyit ke arah Anne. Perempuan itu tersenyum begitu lebar membalasnya. Dia kembali memandang
Eden.
“Awalnya, aku juga tidak berniat bergabung bersama mereka,” ucap Eden. “Tapi, aku sadar, kalau jiwa
adikku harus kujemput agar dia bisa kembali ke tubuh fisiknya. Para Immortal membuat jiwa Elana terkunci di dunia sana.”
Brandon melihat sebuah kebencian di raut wajah Eden. Dia sendiri belum paham tentang segala hal yang
mereka bicarakan. Tentang Anne yang merupakan Werewolf albino. Tentang dunia Immortal. Apalagi tentang jiwa manusia yang terkunci di dunia yang belum pernah disentuhnya itu.
“Orang-orang biasa menyebut kami Black Witcher,” ucap Eden. “Kami mempelajari sihir dan membuka portal ke
dunia Immortal demi menjemput jiwa-jiwa manusia yang terkurung di sana. Jika kamu mau, kami bisa membantumu menyelamatkan jiwa istrimu dan mengembalikannya ke tubuh fisiknya.”
Pria berambut blonde itu terdiam. Mata birunya menunjukkan kesedihan dan penyesalan secara bersamaan. Sekian detik kemudian, dia menatap Eden dengan raut wajah penuh keyakinan.
“Baiklah,” ucapnya. “Beritahu dan ajarkan aku semuanya agar aku bisa membuat istriku bangun kembali.”
***
Brandon mengernyit ketika orang-orang berjubah itu memulai sebuah ritual yang tidak dimengerti olehnya. Anne memintanya mengulurkan tangan yang telah diberi tanda transparan sebelumnya. Perempuan itu meletakkan tangannya di atas tangan Brandon hingga membuat tanda itu bercahaya seiring rasa sakit yang menjalar di sana.
Brandon menggeram, menahan gejolak perih dan sakit dari segel yang mulai terukir di punggung tangan kanannya
tersebut dan menjalar ke seluruh badannya. Erangan terdengar dari mulut Brandon karena dia tidak kuat dengan rasa sakit itu. Tubuhnya luruh dan berlutut seketika.
Darah menetes dari segelnya yang telah terbentuk dan ditaruh di sebuah cawan yang dibawa oleh Eden. Pria itu memantrainya. Satu orang pria mengiris telapak tangan Eden hingga berdarah, lalu dituangkannya ke cawan tersebut. Eden memberikannya pada Brandon.
Pria itu memelotot. Dia menggeleng. Mana mungkin dia minum darah? Dia bukan vampir!
Eden mengedipkan mata seraya menghela napas. Memberi isyarat pada Brandon jika itu adalah salah satu
syaratnya. Brandon akhirnya menerima cawan itu, lalu meneguk darah di dalamnya dalam sekejap mata. Kerongkongannya tercekat dan membuatnya hampir muntah. Namun, sebuah kehangatan dari tangan Anne yang menyentuh tengkuknya membuat energi Brandon bangkit kembali. Pria itu mengangguk, mengisyaratkan jika
dirinya baik-baik saja.
Sekian menit kemudian, Brandon berdiri. Eden menangkupkan sebuah jubah bertudung padanya. Pria berambut hitam itu tersenyum pada Brandon.
“Selamat datang di Black Witcher, Brandon Hover.”
Brandon merasa sesuatu dalam dadanya bergemuruh. Dia memandang seluruh anggota Black Witcher yang mengangkat tangan dan menciptakan serabut cahaya yang menyebar ke seluruh penjuru hutan. Pandangannya terangkat, mengikuti arah serabut aneka warna yang menyibak hutan dan mengangkasa. Kedua mata birunya berubah perlahan menjadi merah menyala. Sebuah seringai terukir di sudut bibir, menunjukkan keyakinan dalam dirinya yang kini menggebu-gebu.
***
Jasper buru-buru membuka pintu kamar dan segera menuruni anak tangga setelah mendengar teriakan Clara.
Perempuan itu tidak ada di tempat tidur dan membuatnya gelisah setengah mati. Mata biru Jasper berkelana, mencari ke seluruh ruangan. Langkahnya yang semula cepat, berhenti sekejap.
Tubuhnya kaku dalam beberapa detik sebelum akhirnya berlari menghampiri Clara yang tengah meringkuk memegangi perutnya. “Clara!!!”
“Jas-Jasper …. Tolong ….” Suara Clara telah melirih. Dia terisak merasakan nyeri yang menjalar di bagian bawah perut dan membuat kakinya nyari mati rasa.
“Kita ke rumah sakit sekarang!”
Clara menggeleng. Dia mengerang dengan suara tertahan dan tangan yang meremas kaus Jasper. Satu tangannya menunjuk ke arah jendela dapur.
Jasper yang menyadarinya segera berdiri dan mendekati jendela. Mata birunya menyalang seketika. Banyak
orang-orang berjubah tudung berdiri mengelilingi rumahnya dengan tangan yang mengeluarkan percikan cahaya aneka warna seolah bersiap membakar rumah tersebut.
Rahang Jasper menegang. Dia kembali pada Clara, lalu menggendong perempuan itu. “Kita gunakan jalan pintas,” gumamnya.
Jasper membawa Clara kembali ke kamar. Dia tidak membuka pintu kamarnya, tetapi memejamkan mata. Pada saat mata birunya terbuka, sebuah portal spiral terbentuk di pintu tersebut.
“Jasper,” lirih Clara. Tangannya meremas kaus suaminya.
Helaan napas lolos dari hidung pria berambut hitam itu. Dia mengangguk kepada Clara, menyakinkan sang istri
bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sekian detik kemudian, kakinya melangkah memasuki portal tersebut dan menghilang ditelan waktu.
“Bertahanlah, Clara.”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments