Clara mendesis dengan tangan memegangi perutnya. Jasper yang melihat ke depan, kini menoleh dengan raut cemas. Tangannya ikut menyentuh perut Clara.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Perempuan itu mengangguk. “Hanya sedikit kencang,” jawabnya.
Dia melihat ke jalanan depan yang tengah ditutup dan dikerumuni oleh banyak orang termasuk polisi. Salah seorang polisi menghampiri mobil mereka dan menyapa Jasper. Pria itu segera membuka kaca jendela mobil dan membalasnya.
“Kami mohon maaf sebelumnya karena Anda tidak bisa melewati jalur ini sekarang,” ucap polisi itu. “Anda bisa lewat jalur alternatif yang sudah disediakan, Pak.”
Jasper mengangguk, lalu berterimakasih kepada polisi itu sebelum menutup kaca jendela mobil. Dia kembali menatap Clara dan mengusap lembut perut istrinya itu. Sebuah kecupan mendarat manis di sana.
“Kali ini, Papa akan berhati-hati,” ucapnya, lalu mendongak dan mendapati Clara tersenyum menatapnya.
***
Mobil mereka berhenti di sebuah parkiran rumah sakit. Jasper turun lebih dahulu, lalu membuka pintu mobil di samping Clara supaya istrinya itu bisa keluar. Mata Clara mengedarkan pandangan dan mendapati sebuah keramaian di salah satu sisi rumah sakit. Jasper ikut mengarahkan pandangan ke arah yang sama.
“Korban kecelakaan tadi mungkin,” ucapnya. Dia mengeratkan lengan di pinggang Clara dan membawa perempuan itu masuk ke rumah sakit.
Sebuah alat tampak berjalan dengan lembut di permukaan perut Clara yang tampak membesar hingga menampakkan sebuah gambar 3D. Clara dan Jasper mendapat antrean ke-5 setelah masuk ke rumah sakit di bagian dokter kandungan tadi dan tidak butuh waktu lama untuk antre. Sampai akhirnya, mereka bertemu dengan Hendrick, dokter kandungan yang menangani kehamilan Clara sekaligus teman dekat Jasper. Pria itu sedang menggerakkan alat pendeteksi di perut Clara sekarang. Matanya melihat ke arah monitor.
“Kalian lihat, ketampanannya sudah terlihat sejak berada di kandungan,” candanya, membuat Jasper dan Clara
tertawa kecil. “Semuanya terlihat sehat, tidak kurang suatu apa pun.”
Clara melihat ke arah monitor di mana sebuah wajah bayi terlihat begitu jelas di sana. Kadang bergerak dan kadang diam, membuat Clara gemas dan ingin segera menimangnya. Dia melihat Jasper sangat antusias. Sejak tadi, matanya tidak lepas dari layar monitor di depan sana.
“Jasper,” panggil Hendrick sampai pria itu—dan Clara—menoleh. “Apa kalian benar-benar melakukan ritual itu?” tanyanya.
Jasper menatap Clara sejenak, lalu mengangguk. “Ritual ini bukan sekadar pernyatuan darah dan jiwa, tetapi juga menjaga stabilitasi kekuatan kami,” ucap pria tersebut.
Hendrick mengangguk, lalu menyelesaikan pemeriksaannya. Dia tahu jika Jasper dan Clara melakukan ritual yang memang terdengar agak aneh menurutnya. Dia tahu jika keluarga Jasper adalah yang terkuat dari para Werewolf dan memungkinkan mereka untuk melestarikan keturunan dan menjaga kekuatan rasnya, tetapi dia tidak yakin jika
Clara bisa menanggung semuanya sendirian. Clara hanyalah jiwa manusia yang pindah dimensi karena sebuah kecelakaan dan Hendrick ragu jika perempuan itu bisa melakukan ritualnya, sementara dia tidak tahu bagaimana kondisi tubuh fisiknya di dunia manusia.
Hendrick menghela napas dan kembali menatap lurus kepada Jasper. “Kehamilan antara Werewolf dan manusia
biasanya berkisar 2-3 bulan saja. Sangat cepat,” ucapnya, ditimpali anggukan oleh suami-istri itu. “Butuh energi yang besar selama masa kehamilan dan mungkin kamu akan sering kelelahan, Clara.”
Clara mengangguk. Dia begitu antusias dengan kehamilannya dan menyimak penjelasan Hendrick sejak tadi.
“Aku ingin kamu berada di sisi Clara hingga hari kelahiran tiba,” ucap Hendrick. “Jangan sekali pun pergi meski itu adalah hal tidak penting sekali pun.”
Jasper meneguk liur. “Kenapa?” selisiknya.
“Aku tahu soal Black Witcher. Pergerakan mereka makin membabi buta sampai hari ini. Pagi tadi, aku melihat berita soal kecelakaan beruntun di tol yang menuju kemari,” ujar dokter tersebut.
Jasper mengerutkan kening. Dia membenahi posisi duduknya dan menatap Hendrick dengan seksama. Tidak berbeda dengannya, Clara yang masih terbaring di brankar ikut menatap Hendrick. Keduanya teringat dengan kecelakaan yang mereka lihat saat menuju rumah sakit tadi.
“Apa kecelakaan itu karena ulah mereka?” tanya Jasper.
Hendrick mengangguk. “Dugaan sementara seperti itu,” jawabnya. “Tapi, polisi belum punya cukup bukti untuk
menyakinkan masyarakat. CCTV yang dipasang di sana mendadak hilang begitu saja.”
“Apa?” Jasper dan Clara menyahut serentak. Mereka saling berpandangan.
“Aku hanya mengingatkan kalian,” ucap Hendrick. “Bisa jadi, Black Witcher tengah mencari kalian saat ini.”
Jasper meneguk liur. Dia mengangguk. “Aku mengerti,” katanya.
“Pastikan untuk selalu memeriksakan kehamilanmu kemari atau ….” Hendrick menggantungkan ucapannya. “Jika situasi tidak memungkinkan, hubungi aku agar aku ke rumah kalian.”
Jasper dan Clara saling bersitatap, lalu tersenyum dan mengangguk kepada dokter tersebut. “Terima kasih, Hendrick,” ucap Jasper.
***
Beberapa saat kemudian, Jasper dan Clara menuju kantin rumah sakit untuk makan di sana. Clara sudah mengeluh
lapar sejak mereka keluar dari ruangan Hendrick tadi. Padahal, Jasper ingin mengajaknya pulang karena cemas dengan kondisi saat ini. Jika memang yang dikatakan Hendrick benar, maka keberadaan Clara dan bayinya akan sangat berbahaya. Jasper harus mulai overprotektif menjaga dan melindungi keluarga kecilnya itu.
Clara melahap steak di depannya, lalu menatap sang suami. Jasper sejak tadi memandang ke arah lain di mana orang berlalu-lalang di luar kantin. Perempuan itu meletakkan pisau, lalu menepuk lengan Jasper hingga pria itu menoleh padanya.
“Kamu tidak lapar?” tanyanya.
Jasper meneguk liur, lalu mengangguk. Dia mulai memotong steak di depannya dan melahapnya sejenak. Sesekali pandangannya mengedar, mengawasi sekitar.
“Mereka sangat berbahaya, huh?” tanya Clara.
Pria itu mengangguk. “Sebenarnya, mereka berbahaya bagi Immortal. Kamu tahu kalau sejak dulu manusia selalu berambisi untuk menguasai apa pun yang bisa mereka raih,” ujarnya sesekali menyuap potongan steak ke mulut. “Jika mereka sudah bisa menembus batas dimensi dengan portal dari sihir yang mereka buat, itu akan sangat
berbahaya bagi Immortal. Keberadaan Immortal akan terancam oleh eksploitasi dan—”
“Tapi, aku juga manusia, Jasper,” sela Clara.
“Aku tahu, tapi kamu berbeda dengan mereka, Clara,” balas Jasper. Satu tangannya menyentuh tangan istrinya itu dan mengusapnya pelan. “Kita bertemu dan saling mengenal sebelum akhirnya kamu pindah kemari. Kepindahanmu mendadak dan itu adalah sebuah keajaiban. Tidak seperti mereka yang memang berpindah karena ambisi dan ulah mereka.”
Clara terdiam, lalu mengangguk. Dia menatap Jasper. “Apa kamu tidak akan pergi lagi setelah ini?”
Jasper menggeleng. “Aku berjanji akan selalu di sampingmu. Jika itu penting, maka aku akan membawamu ke manapun aku pergi,” ucapnya yakin.
Perempuan di depan Jasper tertawa kecil. “Kamu jadi makin overportektif, ya?”
Jasper tersenyum menimpali. “Tentu saja. Kepada siapa lagi aku begini selain padamu?”
Clara menggeleng. Dia tertawa geli melihat tingkah Jasper sekarang. Sesekali dia melihat pria itu menghabisi
potongan steak, menyadari jika pernikahan mereka sudah berjalan sekitar lima bulan.
Keduanya melakukan pernikahan itu dua hari ketika jiwa Clara berpindah karena kecelakaan tersebut. Clara
tercenung. Sampai sekarang, dia tidak tahu bagaimana kondisi tubuh fisiknya. Apakah benar-benar meninggal atau masih hidup. Jika dirinya sudah meninggal, tidak mungkin dia berada di sini sekarang, kan?
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments