“Segel di lehernya?” Brandon mengerutkan sedikit kening, terlihat antusias. Eden mengangguk menimpali. “Bukankah itu hanya segel biasa?”
“Tidak, Bran.” Eden membenahi posisinya sejenak, lalu menghela napas. “Itu adalah segel keabadian. Orang yang
minum darah dari pemilik segel ini akan hidup abadi, lebih abadi dari para Immortal di sini.”
“Maksudmu, Jasper mengincar darah Clara?”
“Tidak hanya itu saja,” jawab Eden. “Kemungkinan terbesarnya adalah dia ingin memperbanyak keturunan dengan
memanfaatkan Clara.”
Liur Brandon terteguk. Tangannya terkepal menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. “Maksudmu, dia hanya memanfaatkan istriku hanya sebagai peternakan?”
Anne menatap Brandon dengan raut wajah khawatir, lalu memandang ke arah Eden seolah memberi isyarat pada
pria tersebut. Eden yang melihat kode dari perempuan itu lantas kembali menatap pria berambut blonde yang duduk tidak jauh dari ranjangnya.
“Klan Owen adalah yang terhebat pada masanya. Mereka menguasai sepertiga wilayah Immortal dulu. Namun,
karena adanya pemberontakan dari salah seorang anggota yang bergabung dengan Black Witcher membuat tatanan mereka rusak sedikit demi sedikit dan hanya menyisakan sekitar 100 orang sampai sekarang,” ujar pria bermata heterochromia itu. “Sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mereka di masa lalu.”
Eden menatap jauh ke dalam mata Brandon. Mata merah itu tampak berkilat dan mengisyaratkan sesuatu. “Aku tahu, setiap satu pria Werewolf akan diberkahi satu mate untuknya dan itu tidak akan berubah sampai reinkarnasi selanjutnya,” lanjutnya. “Elana adalah mate Jasper terdahulu dan itulah alasan kenapa aku menjadi BlackWitcher. Menjadi Immortal dan mengawasi reinkarnasi Elana selanjutnya agar tidak mengalami hal yang sama dengan dirinya.”
“Apa adikmu juga dulu seperti istriku?”
Eden mengangguk. “Dia tergoda dengan Jasper dan akhirnya menikahi Werewolf itu, lalu melahirkan banyak anak
sampai kematian menjemputnya,” jawabnya. “Aku sudah memperingatkannya berkali-kali, tetapi dia tidak menghiraukanku.”
“Bagaimana dengan anak-anaknya sekarang?”
“Aku tidak tahu, tapi yang jelas … Jasper menyembunyikan mereka di tempat yang aman demi membentuk pasukan baru untuk melawan kita.”
Brandon menghela napas. Dia menyandarkan diri di nakas, lalu menyisir rambutnya ke belakang. “Apa mereka lebih kuat dari Jasper?” tanyanya kemudian.
“Mungkin saja begitu,” timpal Eden. “Kita tidak tahu bagaimana kombinasi dari kekuatan Klan Owen dan segel
phoenix itu, ‘kan?”
“Lebih kuat dari yang dibayangkan,” sahut Anne. “Sejak dulu, phoenix adalah lambang keabadian dan selalu digunakan para penyihir untuk meramu sesuatu, tapi tidak untuk kekuatan.”
Kedua pria di dekatnya itu saling melemparkan pandangan ke arah perempuan berambut putih tersebut. Brandon
melipat kedua tangan di depan dada. Sementara itu, Eden terdiam dan tampak berpikir.
“Pasti ada sesuatu yang tengah direncanakan Jasper yang tidak kita ketahui,” gumam Eden, menarik atensi dua
orang di dekatnya.
***
Setelah berbicara banyak soal segel phoenix, Brandon kembali ke kamar Clara. Wanita itu masih terpejam. Lingkaran hitam di matanya belum hilang sepenuhnya. Tubuhnya juga kurus seolah kehilangan banyak darah.
Brandon menggenggam tangan istrinya, berharap agar Clara cepat bangun. Pikirannya masih rumit tentang
segala hal yang baru saja diketahuinya. Terlebih, ucapan Eden terkait segel phoenix itu menambah isi otaknya makin penuh.
“Apakah kamu akan melahirkan banyak anak seperti Elana juga?” gumam pria berambut blonde tersebut.
Sekian detik kemudian, Clara bergerak. Dia membuka mata perlahan dan membuat Brandon mendekatkan diri pada wanita tersebut.
“Clara, ini aku,” ucap pria itu.
Clara mengedarkan pandangan, mendapati hal samar yang makin jelas sedikit demi sedikit. Dia mendapati seorang pria di sampingnya. Keningnya mengerut seketika.
“Siapa kamu?” tanyanya.
Brandon meneguk liur. Dia menghela napas sejenak. “Aku Brandon. Brandon Hover. Suamimu,” jawabnya lirih.
Clara tampak berpikir sejenak. Tangannya meraba pipi pria tersebut, lalu sontak wanita itu terbangun. Dia mengerang dengan tangan memegangi perut, sementara Brandon berusaha menolongnya.
“Jangan bergerak dulu,” tegur pria itu.
Wanita itu menggeleng. Dia justru memelotot kepada pria di dekatnya tersebut. “Kenapa kamu kemari?” bentaknya, membuat Brandon berhenti seketika. Clara mendesis, menahan gejolak di perutnya. “Aku pasti sedang bermimpi sekarang,” gumamnya kembali mengedarkan pandangan.
“Kamu tidak bermimpi, Clara,” ucap Brandon. “Aku menyusulmu kemari untuk membawamu kembali.”
Clara menoleh. “Kamu bukan Brandon,” ucapnya. “Brandon tidak memiliki mata Black Witcher sepertimu!”
Brandon tersentak. Dia menoleh ke arah cermin yang berdiri di dekat ranjang dan mendapati kedua matanya berwarna merah dan baru menyadari hal itu. Pria itu kembali memandang Clara. “Aku bisa jelaskan, Clara,” ucapnya.
“Tidak! Kamu bukan Brandon!” gertak perempuan itu. “Jasper! Jasper!”
Pria berambut blonde itu berdecak. Kesal ketika istrinya justru menyebut nama pria lain di depannya. “Tidak ada Jasper di sini,” ucapnya.
“Tutup mulutmu!” Clara justru menunjuk pria di dekatnya itu. Dia bangkit dari ranjang dan berjalan cepat ke balkon. “Jasper! Tolong aku!”
“Clara!” Brandon menyusul perempuan tersebut. Dia menahan kedua lengan Clara, lantas membalikkan tubuh wanita itu agar menghadapnya. “Tidak ada Jasper di sini! Ini rumah temanku!”
“Kamu berusaha membohongiku, ‘kan?”
“Aku tidak berbohong, Clara!”
Perempuan itu berhenti memberontak. Matanya masih menatap pria di depannya, meski dirinya sudah melepas paksa cekalan tangan pria tersebut. “Jangan dekati aku!”
“Tapi aku ini suamimu—”
“Kamu bukan suamiku! Suamiku hanya Jasper!”
Brandon terkejut. Bagaimana bisa Clara menyebut jika suaminya hanyalah Jasper, sedangkan dia—Brandon—adalah suaminya juga?
Sementara itu, Clara menatap aneh ke arah pria berambut blonde tersebut. Dia menatapnya dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas. “Kamu adalah Black Witcher yang menyamar, ‘kan?”
Liur Brandon tertelan seketika. Helaan napasnya lolos dari lubang hidung dan mulutnya. Dia menggeleng. “Apa kamu tidak ingat sesuatu?” tanyanya. Clara terlihat mengerutkan kening. “Asalmu bukan dari dunia ini, Clara. Kamu adalah manusia.”
Clara kini memandangi dirinya sendiri. Pakaiannya sedikit kusut karena pemberontakan yang dirinya lakukan pada Brandon tadi. Dia kembali menatap pria di hadapannya.
“Seseorang menunggumu di sana dan aku kemari menjemputmu,” lanjut Brandon. Wajahnya menatap penuh harap, jikalau perempuan di depannya itu bisa mengingatnya kembali.
“Siapa yang menungguku?” tanya Clara.
“Suamimu.”
Sungguh, Brandon berusaha menipu dirinya bahkan istrinya sendiri sekarang. Semua dilakukannya hanya agar
Clara mau menerimanya kali ini. Dia bahkan rela jika harus menjadi orang lain di hadapan istrinya kini.
“Aku ….” Clara tampak berpikir. Kepalanya terasa berdenyut saat dirinya mencoba mengingat kembali kejadian terakhir yang membawa dirinya ke dunia ini. Brandon mendekatinya, tetapi satu tangannya terulur, menahan pergerakan pria itu.
“Maaf, tapi aku tidak ingat apa pun.”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments