Brandon duduk di salah satu kursi di restoran bintang lima. Matanya sesekali mengedarkan pandangan, menelisik betapa bagusnya desain dan arsitektur rumah makan itu. Minimalis, tetapi tetap mengusung gaya klasik perpaduan baroque dan gothic. Sangat estetis.
Seorang wanita berambut blonde duduk di seberangnya. Hanya mereka berdua yang berada di bangku ini sekarang, sedangkan yang lain adalah konsumen restoran itu sendiri. Dia tersenyum. Mata hijaunya menjelajah begitu dalam melalui sorot mata merah pria di depannya.
“Bangunan yang sangat bagus, ‘kan?” tanyanya mengurai fokus pria tersebut.
Pria itu tersenyum dan mengangguk. Dia menegapkan tubuh, sedikit condong ke arah wanita di depannya. “Aku tertarik kepada orang yang bisa merancang bangunan seperti ini,” ujarnya sembari kembali menyebarkan pandangan.
“Kau bertemu orang yang tepat, Tuan Hover,” ucap wanita tersebut. “Perkenalkan, aku Luna Cestelle. Arsitek restoran ini.”
Tak ada yang keluar dari mulut Brandon, kecuali kata ‘wow’. Dia cukup terkesima mengingat sangat jarang
perempuan yang mengambil bidang arsitektur semuda Luna. Rasa-rasanya, sisi lainnya mulai tertarik pada wanita itu.
“Oh, aku mendapatkan panggilan kemari untuk bertemu denganmu,” ucap pria itu kemudian mengalihkan pembicaraan. “Apa ada hal penting yang harus kita bicarakan?”
Luna mengangguk. Dia mengeluarkan sebuah tablet dari tas dan mulai menjelajah sesuatu, lalu memberikannya pada Brandon. “Aku mengetahui kalau dirimu adalah pemegang saham terbesar di Hover Corp. Perusahaanmu masih terbilang baru, tapi aku cukup tertarik bekerja sama denganmu,” ujarnya. “Lalu, aku mendapat kabar kalau kau akan membuat sebuah apartemen baru di Zigza City. Aku ingin menawarkan beberapa desain kepadamu.”
Brandon terdiam lantas mengangguk. Dia mencoba melihat dengan seksama beberapa desain apartemen yang
diberikan Luna.
“Kalau kau tertarik, kau bisa mengijinkanku untuk menengok lahan yang akan kau gunakan nanti,” ucap Luna
sambil menggerakkan jemarinya di atas tablet. “Kita bisa mulai mengukur panjang dan lebar untuk pondasi dasarnya, lalu menentukan bahan-bahan apa saja yang akan—”
“Bagaimana dengan bagian ini?” sela Brandon.
Tangan pria itu menunjuk salah satu bagian desain. Namun, tidak terduga, dia malah menyentuh jemari Luna. Kulit putih nan lembut itu mengingatkannya pada milik Clara.
Dia menggeleng, berusaha menghempaskan ingatannya, lalu menyingkirkan tangannya. “Aku minta maaf.”
Luna tersenyum getir. “Tidak apa,” ucapnya. “Lagipula ini tidak disengaja.”
Brandon terdiam. Dia meminum jus jeruk yang dipesannya tadi sejenak untuk mengubah suasana menjadi lebih santai. Manik merahnya kembali mengedarkan pandangan.
“Aku pernah bermimpi kalau aku bisa bekerja sama dengan seseorang membangun sebuah hunian yang sangat manis,” ucap Luna.
Atensi Brandon tertarik begitu saja. Pria itu menatap wanita di depannya yang menoleh dan menaikkan sebelah alis.
“Tapi sayangnya, itu sia-sia,” ujar Luna. “Maaf, harusnya aku tidak mengatakan hal ini kepadamu.”
Senyuman Brandon terukir. “Tidak apa. Aku juga pernah punya mimpi yang sama denganmu,” balasnya. “Hanya
saja, untuk saat ini sepertinya bersamanya adalah hal yang mustahil.”
“Hm? Kenapa?” selisik Luna.
“Dia memilih bersama yang lain dan meninggalkan suaminya sendiri.”
Brandon terdiam. Jelas sekali terlihat dari sorot matanya yang berubah sendu. Ingatan lamanya menguar tentang
sosok Clara yang membuatnya dimabuk cinta. Sampai sekarang, dia tidak bisa melupakan wanita itu begitu saja.
“Lalu, dengan siapa dia sekarang?” tanya Luna melirih.
“Seorang pria, dari ras Werewolf,” jawab Brandon.
“Werewolf?”
Brandon hanya mengangguk menimpali.
“Siapa namanya?” tanya Luna. “Jasper?”
Detik ini, Brandon mengangkat pandangan hingga keduanya bersemuka. “Kau … bagaimana kau tahu?”
Luna tersenyum kecut. “Sudah kuduga,” ucapnya. “Pria itu tidak pernah berhenti berusaha.”
“Apa maksudmu?” Brandon makin mendekatkan dirinya pada Luna. Dia tidak peduli kalau orang-orang di sana akan melihatnya.
Tidak hanya pria itu, Luna pun melakukan hal yang sama. “Dia adalah musuh lama keluargaku. Dia telah membunuh ayahku,” jawabnya setengah berbisik.
Brandon kembali menegapkan diri. “Begitu ya. Kupikir dia adalah orang yang baik. Ternyata—”
“Hanya dari luarnya,” potong wanita bermabut blonde tersebut. “Kita tidak bisa menilai orang lain hanya dari luarnya saja, Tuan.”
Pria bermata merah itu mengangguk.
“Kau ingin merebut istrimu kembali?”
Brandon kembali menatap Luna, lalu mengangguk. “Aku masih mencari bagaiaman caranya aku bisa sekuat para
Witcher.”
Luna menggenggam tangan pria itu. Kasar, tetapi tampak tegas dan rupawan. Membuat setiap jengkal bulu romanya meremang seolah ingin disentuh.
“Kau sudah kuat, Tuan Hover,” bisik wanita itu. “Tapi, kau akan lebih kuat lagi kalau kita bekerja sama.”
Pria itu setengah menaikkan alis. “Bekerja sama?”
Luna mengangguk dengan senyuman penuh ambiguitas. Brandon menganggapnya sebagai … ceruk sabit penuh
nafsu.
Pria itu meneguk saliva. Bersiap mendengarkan apa pun yang keluar dari mulut wanita di depannya.
Luna pun terlihat sangat atusias menceritakan semuanya. Termasuk membicarakan soal inti dari kerjasama keduanya yang memang sangat ditunggu-tunggu olehnya selama ini.
***
Sepanjang perjalanan ke rumah, Brandon memikirkan kata-kata Luna. Perempuan itu sebenarnya menarik, tetapi
entah kenapa ketika sampai pada titik di mana pembahasan mereka mencapai intinya, Brandon rasa Luna hanya ingin memanfaatkannya. Namun, bagaimanapun, iming-iming yang diberikan Luna tidaklah main-main.
Jantung Pure Elf.
Sebuah organ yang membuat pemakannya hidup dalam keabadian dan kekuatan tanpa batas. Brandon benar-benar menginginkannya dan Luna memiliki artefak untuk mengetahui letak jantung yang dimaksud.
Helaan napas menguar begitu saja. Pria bermata merah itu menatap ke luar jendela mobilnya yang tengah melaju. Rasa-rasanya hidupnya makin berat saja di sini. Dia dihadapkan dalam dilema dan diharuskan untuk tetap berada pada jalur yang salah.
Namun, semua yang dilakukannya hanya untuk mengambil kembali hati Clara. Meski sebenarnya kesuksesan itu hanya sekitar 25%, Brandon berharap langkahnya kali ini dapat direstui oleh semesta.
“Kita langsung ke rumah, Pak?” tanya sang supir.
Brandon berdeham menimpali. Dia kembali menatap pemandangan di luar sana. Sebuah pegunungan hijau-biru
dengan hutan di sekitarnya. Suasana yang membuatnya kembali mengingat istri tercintanya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments