Clara tahu jika ulahnya kali ini akan membuat pria yang mengaku sebagai Brandon Hover itu murka. Tadinya, dia ingin keluar lewat pintu kamar, tetapi nyatanya pintu itu dikunci. Akhirnya, mau tidak mau perempuan itu harus mengulang kembali cara pertama—melompat dari balkon.
Dia berhenti sejenak ketika dirasa langkahnya sudah cukup jauh dari mansion tersebut. Clara meringis, merasakan nyeri di bagian bawah perutnya. Cairan merah mengalir dari sana dan membasahi kedua tungkainya. Luka bekas operasinya kembali terbuka.
“Jasper, tolong aku,” desisnya.
Clara kembali melangkah terhuyung. Tangannya merambat, memegangi batang pohon di sekitar, sementara
tangannya yang lain memegangi perutnya. Dia meneguk liur, merasakan kerongkongannya tercekat seketika. Pandangannya berubah samar. Mulutnya ingin berteriak ketika mendapati sesosok pria berlari menghampirinya.
“Clara! Clara, ini aku. Jasper.”
Mata Clara kembali terbuka. Tubuhnya sudah lemas dengan pendarahannya yang makin parah. Sementara itu,
Jasper yang baru saja datang langsung menggendong tubuh istrinya.
“Jasper, sebaiknya kita bawa Clara pulang,” pinta Aiden yang mengekori sang kakak.
Jasper mendengkus kasar. Dirinya berada dalam dilema kini, antara menyelamatkan Clara atau membalaskan
dendamnya pada Black Witcher. Jaraknya sudah sangat dekat dengan markas kelompok yang dibencinya itu, tetapi melihat Clara yang makin lemah membuat dirinya mengurungkan niat.
Aiden kembali menepuk pundak pria bermata biru itu. Dia memberi kode agar mereka harus kembali. Jasper
menuruti. Dia tidak ingin memperpanjang masalah lagi dengan Black Witcher untuk hari ini.
***
Lyra segera duduk di samping Clara saat tubuh perempuan itu diletakkan Jasper di kasur. Dia meminta Jasper
dan yang lain menunggu di luar, sementara dirinya dan para pelayan mengganti pakaian Clara dan meng-healing-nya. Kedua tangan Lyra terangkat dan berhenti di atas dada serta perut Clara, lalu matanya terpejam selama beberapa detik.
Perempuan itu menghela napas pelan. Dia membuka mata. Iris putihnya nampak memesona seolah tidak menunjukkan jika usianya bahkan lebih tua ratusan tahun dibandingkan Jasper. Dia memandang Clara seraya mengusap puncak kepalanya perlahan.
“Hidupmu akan berada dalam bahaya, Clara,” bisiknya.
Satu tangannya mengusap lembut perut Clara, membiarkan sensasi kehangatan melebur di sana. Sampai beberapa jam dia berusaha untuk menstabilkan kembali energi Clara serta menutup bekas luka operasinya. Lyra teringat ketika Hendrick memanggilnya untuk membantu persalinan Clara kemarin. Namun, karena dia sedang berada jauh dari rumah, Lyra tidak bisa datang. Perempuan itu baru sadar jika tadi malam terjadi sesuatu yang rumit terjadi di sini.
Mata Clara terbuka perlahan. Mendapati sesosok healer yang tengah mengusap perutnya sejak tadi. Dia tersenyum, tahu jika perempuan itu adalah Lyra—orang yang juga membantu dia dan Jasper melakukan ritual.
“Apa masih ada yang sakit?” tanya Lyra amat lirih.
Clara menggeleng menimpali.
“Aku sudah menutup lukanya,” ucap perempuan beriris putih itu. “Kamu aman sekarang.”
“Terima kasih, Lyra.”
Clara mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan di mana hanya ada dia dan Lyra sekarang. Menyadari hal itu, Lyra menatap perempuan yang kondisinya masih lemah itu.
“Kamu ingin bertemu dengan Jasper?” tanyanya.
Clara terdiam. Sebenarnya, dia ingin mengatakan iya. Namun, sesuatu tiba-tiba merengkuh pikirannya. “Lyra, ada
yang ingin kutanyakan padamu,” ucapnya.
Lyra sedikit mengerutkan kening. Satu tangannya mengusap lembut kepala Clara. Aura bersemu keunguan
menyebar dan membuat Clara terasa tenang dan damai. “Katakanlah,” katanya kemudian.
“Menurutmu, apa yang terjadi dengan tubuh fisikku di dunia sana?” tanya wanita berambut cokelat itu. “Aku
merasa bahwa aku sebaiknya tinggal di sini saja, bersama Jasper, dan yang lain.”
“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa ada yang mengganjalmu?”
Clara hening sekejap. Sebenarnya, banyak hal cukup mengganjal dalam dirinya sekarang. Pikirannya seperti penuh seketika. Belum selesai dia berduka karena kehilangan bayinya, sekarang dia harus menyadari jika saja Brandon—suaminya—benar-benar menyusulnya dan bergabung menjadi Black Witcher.
“Kamu masih memiliki tubuh fisikmu, Clara,” ucap Lyra amat lembut. “Akan lebih baik jika kamu kembali pada
kehidupanmu yang sebenarnya.”
Perempuan berambut cokelat itu menatap Lyra dengan tatapan penuh arti. “Aku ….”
Aku hanya tidak ingin bertemu dengan Brandon, batinnya.
Rasa kesalnya pada lelaki itu membuat dirinya ingin melarikan diri sejauh mungkin. Perkelahian yang terjadi
antara keduanya sebelum kecelakaan itu terjadi bahkan masih diingat Clara. Ulah Brandon yang membuat emosinya meledak pun turut membuat dadanya bergetar hebat, dipenuhi emosi dan kebencian.
“Percayalah pada dirimu sendiri,” ucap Lyra. “Hanya kamu yang bisa menentukan jalan hidupmu sendiri.”
***
Sudah satu bulan Clara kembali ke pelukan suaminya, Jasper. Pria itu tidak membiarkan Clara keluar rumah
seorang diri meski perempuan tersebut sudah sembuh sepenuhnya. Setiap pergerakan Clara harus diikuti oleh pengawal karena jika tidak, Jasper akan marah, lalu mengurungnya selama beberapa hari. Hal itu membuat Clara bosan dan risi karena Jasper makin overprotektif padanya. Mereka bahkan tidak tinggal di rumah lagi, melainkan di mansion klan Owen.
“Aku bosan,” ucap Clara seraya meletakkan secangkir kopi di meja. “Bisa tidak kita keluar sebentar?”
Jasper yang sedang sibuk dengan gawainya langsung menoleh. “Kamu ingin keluar ke mana?” tanyanya. “Di luar sangat berbahaya, Sayang.”
“Ayolah ….” Clara merengek. “Aku ingin liburan. Jika tidak, aku akan stres dan ini akan berpengaruh pada—”
“Oke.” Jasper menyahut cepat. Dia tentu paham kelanjutan dari kalimat Clara tersebut. Jika perempuan itu stres, maka akan berpengaruh terhadap ritual yang mereka lakukan. Jasper ingin anak dari Clara dan sebisa mungkin dia harus mewujudkannya dalam waktu dekat.
Pria itu meminta Clara duduk di pangkuannya. Clara menurut, dia mendaratkan bokongnya di paha Jasper, lalu
mencium bibir pria tersebut dengan lembut. Jasper mengulurkan tangan, menyingkirkan setiap helai rambut Clara yang menutupi pandangannya.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya.
“Pantai.”
Dua pasang mata itu saling bersitatap amat lama. Sudah satu bulan mereka tidak sedekat ini karena peristiwa pelik itu. Jasper yang mendadak dingin dan makin overprotektif juga membuat Clara sedikit bosan. Permintaan perempuan itu seolah bisa melelehkan hati Jasper seketika. Pria itu mengukir ceruk manis di sudut bibirnya. Dia
mengangguk.
Seseorang bertudung tengah bertengger di dahan pohon sejak beberapa menit yang lalu. Mata merahnya menatap tajam pada sepasang suami-istri yang berada di gazebo itu. Dia menghela napas, lalu menjentikkan jemarinya ke udara hingga memercikkan sebuah bola putih transparan. Bola itu melayang menuju ke satu arah.
“Pantai, ya …,” gumamnya. Bibir merahnya tampak sangat seksi dan kontras dengan warna kulitnya yang putih
porselen itu. “Tempat yang bagus … untuk misi yang bagus ….”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments