11. Pemula

Decakan kasar lolos begitu saja dari mulut seorang pria. Dia menyisir rambut blondenya dengan pelan, seiring dengan embusan angin yang menerpa dirinya. Brandon menghela napas panjang. Tangannya segera merapikan buku-buku di meja.

Sudah beberapa jam pria itu duduk di sebuah gazebo dengan setumpuk buku di depannya. Dia mulai belajar

tentang segala hal di dunia yang baru saja disambanginya. Penjelasan Anne semalam terkait Black Witcher membuatnya makin paham kenapa Werewolf sangat membenci kaum tersebut. Namun, White Witcher juga tidak kalah menarik perhatian Brandon. Meski perbedaannya mencolok dari beberapa cara yang mereka gunakan, nyatanya kedua golongan itu adalah penyihir yang tidak disukai di dunia Immortal.

Tiba-tiba saja, seseorang mengibaskan jubah, lalu duduk di sebelah Brandon. Pria itu berjengit, hampir saja memelotot kepada pria bermata heterochromia yang baru saja datang itu. Pria tersebut tersenyum picik pada Brandon.

“Apa motivasimu mempelajari semuanya?” tanyanya.

Brandon menghela napas, lalu menyandarkan diri pada sandaran kursi. Dia menatap Eden. “Supaya aku bisa lebih

kuat darimu,” ledeknya.

“Wow, luar biasa.” Eden lantas bertepuk tangan. “Kamu harus melewati berbagai macam ritual untuk mencapai

keabadian, Bran.”

Pria berambut blonde itu mendesis kesal. “Ritual apalagi?” tanyanya. “Ritual menghisap darah dari bekas lukamu?” Dia mengulurkan tangan hendak menyenggol perban di lengan Eden, tetapi gagal karena pria itu buru-buru menepis tangannya.

“Ada banyak ritual, di antaranya ….”—Brandon memicing ke arah Eden, membuat pria berambut cepak itu menghela napas—“Kalau kamu disuruh menelan jantung seluruh makhluk di dunia Immortal, apa kamu mau melakukannya?”

“Aku tidak peduli,” jawab Brandon. Dia kembali menegapkan tubuh. Mata merahnya memandang ke arah setumpuk buku di depannya. “Jika saja aku bisa membawa Clara kembali ke dunia manusia, apa pun akan kulakukan.”

Sebuah suara seperti kaca pecah terdengar dari mansion Eden, tepat di lantai kedua. Dua pria itu sigap menoleh. Eden bangkit seraya menepuk pundak Brandon.

“Aku pikir dia mulai berulah lagi,” ucapnya, lalu berjalan menuju kediamannya itu.

Sementara itu, Brandon menghela napas. Suara barusan pasti sengaja dibuat oleh Clara setelah dia mengunci perempuan itu di kamar. Ingatannya menguar pada kejadian tadi pagi yang hampir saja merenggut kewarasannya.

***

Pagi tadi, Brandon segera menuju kamar Clara setelah dirinya selesai mandi dan mengganti pakaian. Anne

masih terlelap karena kelelahan akibat pergumulan dengannya semalam. Jadi, dia membiarkan perempuan itu memakai kamar yang dikhususkan untuknya hari ini.

Pria itu membuka pintu dengan pelan. Matanya menyalang ketika mendapati Clara hendak melompat dari balkon.

Dia segera berlari dan menahan tubuh perempuan tersebut.

“Clara! Apa kamu gila!” bentak pria itu. Dia menarik tubuh Clara yang hampir terjatuh,

Namun, perempuan itu justru dengan cepat melepaskan tangan Brandon dari pinggangnya. “Jangan mendekat!”

Brandon menghela napas. Dia menatap Clara dengan raut wajah khawatir. “Clara, ayolah, aku bisa jelaskan

semuanya,” ucapnya. “Jangan mempersulitku!”

“Kamu yang memulai semuanya!”

Gertakan Clara barusan membuat Brandon terdiam seketika. Dia tahu jika Clara hanya berpura-pura amnesia. “Kamu sudah ingat?” tanyanya dengan menjaga jarak.

Clara meneguk liur. Bagaimana bisa dia keceplosan barusan? Sial sekali hidupnya kali ini. Dia bahkan tidak tahu apakah pria di depannya itu adalah Brandon atau bukan.

“Tidak semuanya,” ucapnya kemudian. “Emosiku belum stabil karena bayiku meninggal dan sekarang kamu

menculikku kemari. Apa kamu tidak punya otak, huh?”

Helaan napas lolos sempurna dari hidung Brandon. “Oke, aku mengerti,” ucapnya. “Kembalilah ke kamar dan

biarkan kujelaskan semuanya dari awal.”

“Bagaimana bisa aku memercayaimu? Kamu adalah Black Witcher yang seharusnya aku jauhi!” balas perempuan tersebut.

Ya, Clara benar. Brandon Hover yang sekarang adalah anggota Black Witcher dan akan menjadi Witcher sepenuhnya jika dia berhasil mempelajari semua ilmu dan melakukan ritual. Dia mungkin tidak akan kembali menjadi manusia meski bisa membawa istrinya kembali ke dunia sana.

“Aku minta maaf,” lirih pria itu. Sorot matanya berubah sendu.

Namun, ucapan itu tidak dihiraukan oleh Clara. Dia justru kembali memanjat pagar balkon, hendak melompat. Gerakannya yang lambat karena menahan rasa sakit pada bekas operasinya, membuat Brandon bisa menarik tubuhnya dan langsung membawanya masuk ke kamar.

Brandon mengunci pintu balkon dengan sihir yang baru dipelajarinya. Cukup cepat untuk seorang pemula sepertinya. Clara yang memberontak lantas tidak sengaja dibantingnya di kasur. Pria berambut blonde itu langsung mengunci pergerakan Clara seketika.

Mereka saling bersitatap. Clara berusaha menarik tangannya, tetapi genggaman tangan Brandon jauh lebih

kuat darinya. Dia bahkan baru sadar jika kekuatan pria itu telah berubah, tidak seperti Brandon yang dikenalnya dulu.

“Maafkan aku.”

Brandon melirih sebelum akhirnya satu sentuhan darinya mendarat dengan tepat di ranum Clara. Perempuan itu tersentak dan ingin memberontak. Namun, Brandon justru merengkuhnya makin dalam.

Hati Clara berdesir aneh. Dia tidak pernah merasakan sentuhan ini sebelumnya, bahkan dari Jasper sekali pun. Namun, sisi lain dirinya tetap bersikeras untuk segera melepas meski sejujurnya dia tidak bisa menipu diri.

Satu hal yang diketahui Brandon ketika dirinya menjadi Black Witcher. Liurnya bisa dimantrai dan digunakan untuk menidurkan orang lain. Kini, dia menggunakan langkah itu supaya Clara tidak lagi mencoba kabur. Liurnya seperti nikotin yang membuat Clara candu dan terus menginginkan yang lebih darinya.

“Aku minta maaf.”

Berkali-kali pria itu meracau memohon maaf pada perempuan yang belum tentu memaafkannya.

***

“Kamu pintar sekali, Bran.” Eden berucap ketika langkah mereka berdua sampai di depan pintu kamar Clara.

Pintu itu terbuka, begitupula pintu balkon. Kaca jendela pecah dan entah sejak kapan perempuan bernama Clara itu menghilang dari sana. Tidak ada yang ditinggalkan olehnya, kecuali tetesan darah yang mengotori lantai.

Brandon menyentuh darah itu, lantas menghidunya. “Milik Clara,” ucapnya.

“Kamu yakin?” tanya Eden yang berdiri di dekat pria itu.

Brandon mengangguk, memastikan jika hasil deteksi hidungnya tidaklah salah. Dia sudah berkali-kali mencium

aroma darah Clara. Sejak pertama kali mereka berhubungan sampai ketika kecelakaan itu terjadi. Tanpa kemampuan Black Witcher pun Brandon sudah bisa menebaknya.

Mata merahnya mengarah ke balkon seiring langkahnya yang menghampiri ruangan terbuka itu. Dia mendesah

lirih, menyadari jika Clara telah berhasil kabur dari sana. Tangannya meremas kuat pagar balkon.

“Jasper ….”

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!